Sinopsis My Secret Bride Episode 11 - 4

Tepat setelah Sia Ha memberikan penghormatannya pada mendiang, Suam melihat arwahnya Letnan Kom menatap Sia Ha dengan penuh amarah dan dendam.


Tepat saat itu juga, Direk baru datang dan sontak bersitatap dengan Sia Ha. Suk diam-diam merekam kejadian itu untuk ditunjukkan pada Thuan cs. Walaupun cuma dari video, Songkram bisa merasakan ketegangan situasi di dalam, itu pemakaman atau apa?

Sia Ha menyapa Direk dengan sopan, tapi Direk hanya tersenyum tipis padanya tanpa menjawab sapaannya dan langsung ke altar untuk memberikan penghormatan terakhirnya pada mendiang.

Sia Ha langsung saja duduk di samping Rut, tapi Rut langsung beranjak bangkit. Suam pun langsung pindah duduk menemani Lamyai yang masih melamun sedih, tidak mau makan, tidak mau minum.


Melihat arwah Letnan Kom sedih melihat istrinya, Suam langsung berusaha membujuk Lamyai untuk makan dan bertahan hidup agar mendiang suaminya tidak khawatir. Para tetangga juga berusaha membujuknya. Tapi Lamyai sama sekali tak mendengarkan mereka.

Tapi, Suk heran. Pangkat suaminya Lamyai itu apa sih? Kolonel? Kok rata-rata para pelayat yang datang orang-orang terhormat?

Way malah sibuk sendiri mengagumi para pria tampan berseragam itu. Mengalihkan perhatiannya ke Suam, Way heran sama dia. Penampilan Suam sama sekali tidak menghormati suaminya. Waktu mereka berjalan bersama tadi, mereka malah terlihat seperti majikan dan pembantu. Para tetangga lain setuju.

Suam tidak terima dan sontak membela diri. Jangan menilai orang dari penampilan luar saja. Lihatlah kepribadiannya. Kepribadiannya sangat bagus, tahu! Suk cepat-cepat menengahi mereka dan menyuruh Suam untuk duduk menemani suaminya. Tapi Suam malah tidak mau.


Akhirnya muncullah seseorang yang menggantikan posisi Suam duduk di samping Rut, Su yang baru datang langsung duduk di samping Rut, bahkan bersikap sok mesra padanya. Suam jadi cemburu.


Mumpung Cuchai masih tidur, Chana memanfaatkan kesempatan untuk menemui geng Snow White dan pesan makanan ke mereka sambil memberitahu mereka tentang keadaan Cuchai yang sepertinya mulai berhalusinasi sekarang.

Setelah mendapatkan makanannya, dia santai saja mau pergi. Tapi Thuan dan Songkram mendadak menuntutnya untuk bayar, mahal lagi harganya. Duitnya Chana kurang, tapi Thuan bahkan tidak mau terima retur, pokoknya harus bayar. Terpaksa Chana kudu ngutang dulu.


Cuchai memimpikan masa remajanya, saat pertama kalinya dia bertemu Sia Ha. Dulu, Cuchai begitu miskin sehingga satu-satunya cara yang bisa dia pikirkan untuk mendapatkan uang hanya mencuri kalung emas seorang Nyonya.

Dalam usahanya melarikan diri, Sia Ha tiba-tiba menghadangnya. Bukan untuk menangkapnya, melainkan membantunya bersembunyi. Cuchai mengaku terpaksa melakukannya demi memberi makan adiknya yang kelaparan, mereka sudah tidak punya orang tua.

Karena itulah Cuchai memohon-mohon pada Sia Ha untuk menolongnya. Dia tidak boleh tertangkap, adiknya sendirian dan kelaparan di rumah.

Prihatin, Sia Ha akhirnya menolongnya. Tapi terlebih dulu dia memperingatkan Cuchai untuk tidak berbohong tentang keluarganya. Dia langsung memberikan sedikit uang untuk Cuchai lalu mengambil kalung itu dari Cuchai dan keluar dari persembunyian dan membiarkan semua orang berpikir dialah pencuri kalung itu.


Jadilah Sia Ha yang ditangkap dan masuk penjara. Sepertinya dia sudah langganan keluar-masuk penjara, bahkan Letnan yang menangani kasusnya mengenalnya dan sontak kesal mengeplak kepalanya. Sia Ha diam saja, tapi jelas dia marah besar dan berusaha keras untuk menyembunyikan kebenciannya


Setelah beberapa lama, Cuchai datang mengunjunginya dengan membawa makanan dan minuman untuknya. Dia mengaku adiknya sudah makan.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku baik-baik saja. Kau makan saja."

Tapi Sia Ha berbaik hati membagi bakpao-nya untuk mereka berdua. Cuchai benar-benar berterima kasih padanya. Tapi kenapa Sia Ha menolongnya?

"Anjing jalanan seperti kita, kalaupun tidak dipukuli sampai mati, kita akan ditangkap. Iya, kan? Kita harus bersatu, maka kita akan selamat."

"Apa kita bisa selamat?"

"Tentu saja. Suatu hari nanti, aku akan membuat mereka jadi seperti anjing yang menjilat kakiku. Apa kau mau ikut denganku, Chai? Ikut dan jadilah adikku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apa kau percaya padaku?"

Cuchai tersentak bangun dari mimpi itu. Tapi sepertinya mimpi itu berubah jadi halusinasi, Cuchai mengira kalau mereka masih remaja dan langsung mengulang apa yang pernah Sia Ha ucapkan dulu. Dia memohon-mohon pada Sia Ha untuk menjadikannya adiknya dan bersumpah mereka akan menjadikan para polisi itu anjing yang menjilat kaki mereka.


Su benar-benar bersikap seolah dia istrinya Rut saat para pelayat mulai pamit satu per satu. Setelah itu, Su juga pamit dan berusaha mengajak Rut pergi bersamanya. Tapi Rut tegas mengucap selamat tinggal padanya. Suam kesal banget, tapi saat mereka berpaling padanya, dia langsung pura-pura sibuk.

Direk juga pamit. Melihat Rut sedang menatap Suam yang bekerja keras mengurus pemakaman, Direk pun langsung memuji-muji Suam. Tapi apa mereka sudah tahu kenapa Letnan Kom bunuh diri? Sayangnya Rut tak bisa menjawabnya karena dia juga tidak tahu.


Tak lama kemudian, Rut mengantarkan Direk keluar. Tapi Direk tiba-tiba melihat para penjual makanan di depan yang kontan menarik perhatiannya dan langsung berjalan ke stan-nya Thuan. OMG! Dia mengenali Thuan?

Padet dan Suam sontak panik mengejarnya dan berusaha mengalihkan perhatiannya. Tapi Direk mengabaikan mereka dan terus berjalan mendekat stan-nya Thuan.

"Sudah lama aku tidak melihatnya." Ujar Direk. Semua orang jelas tegang mendengarnya. Thuan pun berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik topinya.


Tapi tiba-tiba Direk berkata. "Kedai cumi bakar seperti ini, sudah lama aku tidak melihatnya."

Fiuh! Syukurlah. Semua orang akhirnya bisa lega. Direk langsung memesan 3 porsi. Thuan pura-pura batuk untuk menyembunyikan dirinya dan menyuruh Songkram untuk menggantikannya.


Direk meyakinkan Suam dan Padet untuk tidak perlu repot mengurusnya, ada Rut yang menjaganya. Suam dan Padet pun terpaksa masuk ke rumah duka kembali.

Direk langsung membahas kabar tentang Sia Ha dan Letnan Kom yang katanya saudara jauh. Apa Rut sudah mengetahuinya? Apa kabar itu benar?

"Sekarang ini aku tidak yakin dengan apapun. Tunggu sampai pemakaman selesai dulu, lalu akan bicara dengan keluarganya sekali lagi."

"Itu berarti, kau percaya kalau dia benar-benar bunuh diri?"


Rut yakin begitu. Dia orang terakhir yang bersama Letnan Kom, dan tidak ada seorang pun juga di lantai atas saat kejadian itu terjadi. Jadi itu pasti keputusan Letnan Kom sendiri. Tapi apa alasannya, Rut masih belum yakin.

"Tidak yakin... atau kau tidak mau mengatakannya padaku?" Curiga Direk.

Tapi saat Rut tanya kenapa Direk bertanya begitu padanya, Direk mengklaim kalau dia hanya bercanda. Dia tahu Rut sedang stres sekarang. Dia yakin Rut tidak mungkin menyembunyikannya darinya jika Rut mengetahui sesuatu. Iya kan? Direk pun langsung pergi setelah cumi bakarnya matang.

Geng Snow White langsung heboh menyadari kedua paman dan keponakan itu saling main rahasia-rahasiaan sekarang.

 

Saat hendak pulang, Letnan Cha dan Sersan malah mendapati Sersan Dan sedang menangis di depan peti mati Letnan Kom. Tangis Letnan Cha dan Sersan pun pecah seketika, meratapi rekan mereka yang telah tiada.


Padet pulang dengan langkah lesu dan mendapati Neung ada di rumah. Neung menyambutnya dengan ceria, tapi malah bingung saat melihat wajah sedih Padet. Dia kenapa? Padet sontak menyandarkan kepalanya di bahu Neung dan menangis dalam pelukannya.


Suam juga sama. Saat sedang mencari Rut, dia malah mendapati Rut menangis diam-diam di teras. Prihatin, Suam pun menyentuh lengannya. Rut sontak menariknya mendekat dan menangis dalam pelukan Suam.

Bersambung ke episode 12

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam