Sinopsis My Secret Bride Episode 11 - 1

Chana yang menyamar jadi supirnya Cuchai melihat Cuchai sakit kepala lagi, dan langsung meminum obatnya. Chana mencoba menyarankannya untuk periksa ke dokter, tapi Cuchai ngotot menolak, bahkan melarang Chana untuk memberitahu siapapun tentang penyakitnya.


Saat Cuchai hendak membuang bungkus obatnya, Chana langsung menawarkan diri untuk membuangkannya. Tapi tentu saja dia tidak membuangnya begitu saja dan diam-diam memotretnya.


Di markas Snow White keesokan harinya, Songkram sudah berhasil mendapatkan 3 jenis obat yang digunakan Cuchai dan mempresentasikannya pada rekan-rekannya. Obat pertama adalah penghilang rasa sakit, obat kedua adalah obat anti epilepsi dan obat ketiga adalah obat untuk mengurangi pembengkakan otak. Jelas dari ketiga obat ini, Cuchai menderita kanker otak.

Chana memberitahu bahwa terkadang Cuchai juga berhalusinasi karena meminum terlalu banyak obat. Dia bahkan curiga kalau Cuchai mungkin akan mati bukan karena kanker-nya, tapi karena kebanyakan minum obat.

Tapi anehnya, dia tidak pernah pergi ke rumah sakit manapun, dia tidak pernah menemui dokter mana pun dan tidak pernah pula pergi ke apotek. Entah dari mana dia mendapatkan obat-obatan itu.


"Itu berarti dia ingin merahasiakan penyakitnya, tapi kenapa?" Suk tidak mengerti.

"Demi kekuatan. Jika Sia Ha tahu kalau tangan kanannya sakit parah, dia pasti tidak akan memberikan apapun pada Cuchai." Duga Thuan.

"Tapi dia sakit sampai hampir mati, Pak. Kenapa dia melakukan itu?"

"Karena ketamakan. Ketamakan lebih menakutkan daripada penyakitnya."

Padet menyimpulkan. "Ada orang luar yang membelikan obat untuknya."


Dari vila, Rut membawa Suam ke sebuah tanah lapang yang tidak ada apa-apanya. Hanya tanah kosong sejauh mata memandang, bahkan tidak ada pemandangan menarik yang bisa dilihat. Suam jelas bingung kenapa Rut membawanya ke sini? Rut mau beli tanah di sini?

Tapi Rut tak menjawabnya dan terus sibuk memotret sana-sini. Suam mengedarkan pandangannya saat tiba-tiba saja dia melihat penampakan roh pria yang menyelamatkannya waktu itu.

Suam sontak tersenyum melihat roh itu dan langsung berjalan mendekatinya. Roh itu pun tersenyum hangat padanya. Tapi tiba-tiba dia menghilang. Suam refleks berteriak memanggilnya.

Rut jelas kaget, mengira Suam memanggilnya tapi malah tambah bingung mendapati Suam sedang menatap tumpukan kayu di hadapan mereka. Dia sedang melihat apa? Apa dia melihat penampakan lagi? Tapi Suam berbohong menyangkal.


Su menunjukkan gambar-gambar desain terbarunya pada papanya. Su mengaku akan mengadakan peragaan busananya minggu depan.

Sia Ha tidak banyak berkomentar dan hanya memuji kerja bagusnya Su. Tapi... dia penasaran kapan Su akan memberikan Deputi Danurut kepadanya?

"Segera." Ujar Su lalu pergi.

 

Di kampung Sumsukrarn, Way melihat Lamyai dan Letnan Kom sedang makan bersama di warung dan langsung menggodai mereka. Tiba-tiba bayinya Lamyai menangis. Sementara dia mengurus bayinya, Letnan Kom mendapat telepon mencurigakan. Entah apa, dia hanya berkata pada orang diseberang bahwa dia akan mengurusnya besok.

Tapi saat dia selesai dengan teleponnya, dia hampir saja jantungan melihat Way mendadak sudah ada di belakangnya. Way jelas penasaran dengan telepon misteriusnya barusan. Membereskan apa yang dia maksud?

Letnan Kom sontak heboh mengusirnya dan menolak menjawab. Way menegaskan kalau dia hanya peduli. Dia benar-benar penasaran dengan obat yang Letnan Kom beli waktu itu, dia beli buat siapa?

Letnan Kom terdiam tak bisa menjawab, Lamyai mendadak muncul mengomeli Way. Way jadi berpikir kalau Letnan Kom pasti membelikan obat itu untuk Lamyai. Dia yah yang hampir mau mati? Jelas saja Lamyai jadi tambah kesal dan mengusir Way.

Suam dan Rut baru tiba di rumah dan langsung ribut rebutan untuk mengangkat barang-barang mereka. Tapi tiba-tiba Teerak muncul memberitahu Rut bahwa Direk sudah menunggu di dalam rumah.

Rut langsung masuk menemui pamannya dan jelas saja Suam langsung penasaran. Direk langsung cemas saat Rut mengaku membawa Suam main ke Suan Phueng, apa Rut baik-baik saja?

"Tentu saja. Masalah ini sudah berlalu. Aku hanya ingin mengingat tempat di mana ayah dan ibuku saling mencintai. Itu saja."

"Kalau kau bisa melupakan masalah ini, aku juga lega."


Teerak dan Suam masuk saat itu. Direk menyapanya dengan ramah dan menanyakan bagaimana liburannya.

Bahkan saat Suam memanggilnya sebagai 'Tuan', Direk dengan ramah meyakinkan Suam untuk memanggilnya 'Paman' saja. Suam sekarang istrinya Rut, jadi Suam juga keponakannya.

"Baik... Paman. Err... apa Paman mau makan bersama? Saya akan menyiapkannya."

Rut dan Teerak langsung tak setuju. Mending Teerak saja yang menyiapkan makanan. Direk menolak dengan sopan, dia datang hanya untuk bicara bisnis dengan Rut.

Mendengar itu, Suam langsung mendesak Rut untuk membawa pamannya bicara di ruang kerjanya saja. Dia akan mengatur barang-barang mereka lalu membantu Teerak menyiapkan makanan.


Begitu semua orang pergi dari ruang tamu, Suam langsung menelepon Thuan untuk mengabarkan masalah ini. Thuan cs langsung berkumpul di depan komputer, mendengarkan pembicaraan Rut dan Direk melalui alat sadap mereka.

Direk tanya apakah kasusnya Bee sudah beres? Rut berterima kasih pada Direk atas bantuannya waktu di kantor polisi, tapi sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Direk karena menurutnya, suatu kebenaran pasti akan tetap benar sampai kapanpun.

"Kalau aku tidak membantumu, lalu siapa yang harus kubantu. Aku tahu kau tidak melakukannya. Hanya saja aku ini masalah ini cepat selesai dan tidak buang-buang waktu."

"Terima kasih."


Mengalihkan topik ke masalah Da, Direk sekali lagi meminta Rut untuk membantunya menjaga Da. Bukankah Suam juga tidak mempermasalahkannya? Direk tahu kalau Da memang salah, tapi Direk tidak ingin ini menjadi berita besar. Sisanya biar Aik yang menanganinya.

Rut benar-benar kecewa dan harus berusaha bersabar menghadapinya. "Paman benar-benar akan masuk politik?"

Direk mengaku kalau dia masih belum memutuskannya. Dia hanya didatangi orang-orang dari partai untuk berdiskusi. Kenapa? Rut tidak setuju.

Rut menyangkal. "Aku hanya tidak ingin Paman pergi ke arah ini."

"Sebenarnya aku belum membuat keputusan apapun, tapi ini baik untuk negara dan aku juga melihat ini tidak merusak sama sekali."

Direk lalu pamit, tapi terlebih dulu dia mengingat Rut bahwa minggu depan adalah peringatan kematian kakek. Apa Rut akan pergi ke kuil bersamanya seperti biasanya, sekaligus mewakili mendiang ayahnya? Tentu saja.


Suam sedang mengurus baju-baju kotor mereka. Padet baru datang bersamaan dengan Direk dan Rut yang baru turun. Direk langsung penasaran dengan kedatangan Padet. Mereka mau membicarakan pekerjaan di hari libur begini?

Melihat kedua pemuda itu membuat Direk jadi ingat masa mudanya. Dulu dia juga punya teman baik. Mereka bekerja sama dengan baik. Tapi sayangnya, temannya itu tiba-tiba menghilang setelah kasus tertangkapnya Kunwei. Dia sama sekali tidak bisa dihubungi lagi setelah itu.

Flashback.


Waktu itu, Direk dan Thuan sudah merencanakan penangkapannya Sia Ha. Thuan benar-benar yakin akan bisa menangkap Sia Ha kali ini. Direk bahkan tampak jauh lebih antusias daripada Thuan.

Thuan sampai heran melihatnya begitu bersemangat. Kalau mereka berhasil menutup kasus ini, Thuan yakin Ayahnya Direk pasti akan bangga pada putranya. Tapi entah kenapa ucapan Thuan malah membuat Direk tampak aneh.

Namun alih-alih menangkap Sia Ha, Direk justru menangkap Kunwei dan itu sontak membuat Thuan marah besar padanya. Dia sontak menuntut penjelasan Direk.

Direk santai mengklaim bahwa menurut mata-matanya, penyelundupan narkobanya Kunwei adalah yang terbesar. Tidak mungkin kan dia mengabaikan informasi baru itu.

Thuan jelas tak percaya begitu saja. Lalu bagaimana dengan penyelundupan yang dilakukan Sia Ha? Dia mau membiarkan Sia Ha bebas? Bertahun-tahun mereka menyelidiki kasus ini, apa Direk mau membiarkannya lepas begitu saja?


Direk malah jadi kesal dan mengancam tidak akan mengikutsertakan Thuan dalam tim kalau Thuan terus emosi seperti ini. Thuan benar-benar kecewa padanya.

"Kuharap ayahmu bangga dengan keputusanmu ini." Geram Thuan.

Flashback end.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

0 Comments