Sinopsis My Secret Bride Episode 2 - 5

Sinopsis My Secret Bride Episode 2 - 5

Tak lama kemudian, Psikolog dan Padet akhirnya berhasil menidurkan Atom. Psikolog yakin Nai pasti sangat memercayai Atom, karena itulah Nai memberitahukan masalahnya pada Atom.


Anak yang mengalami depresi biasanya akan memberikan sinyal. Tapi pada akhirnya, semua itu bergantung apakah orang-orang di sekitar mereka mengerti atau tidak bahwa itu adalah sinyal meminta bantuan. Suam yang sedari tadi ikut mendengarkan, sontak tertarik untuk mendengar lebih banyak.

Dalam flashback, Atom sebenarnya sudah berusaha menghentikan Nai dan menasehatinya untuk pergi ke dokter. Tapi Nai tak pernah melakukannya.

Masalahnya, Atom sendiri juga menderita depresi dan gangguan kepribadian. Bahkan di sekujur tangannya Atom, tampak banyak sekali bekas-bekas sayatan menyiksa diri sendiri.

Hingga akhirnya setahun yang lalu, Atom mulai berubah dan percakapan mereka pun mulai berubah dan Atom justru mulai mendorong Nai untuk mati saja. Bahkan saat Nai mulai berubah pikiran karena takut mati, Atom malah terus mendesaknya untuk mati saja.

Dan begitulah bagaimana akhirnya Nai mantap memutuskan mati dengan terjun dari balkon apartemennya. Dan baru saat itulah Atom menyesal.


Rut yakin Nai tidak menemui ke dokter karena takut mengecewakan ayahnya. Setiap anak pasti ingin menjadi anak yang baik dan sehat untuk orang tuanya.

Suam bertanya-tanya apakah itu artinya Atom akan didakwa sebagai pembunuh? Padet memberitahunya untuk menyerahkan urusan itu pada pengacaranya Atom. Tugas polisi hanyalah menulis pernyataan sesuai dengan kebenaran yang terjadi.

"Kit hidup di mana kata-kata lebih menakutkan daripada senjata. Dan orang tua membiarkan anak-anak menyelesaikan sendiri masalah mereka. Terkadang mereka tidak bisa mengatasi masalah. Atom juga tidak bahagia." Ujar Psikolog.

Suam prihatin melihat rohnya Nai yang masih berada di dekat Atom, menatap Atom dengan sedih. Kedua orang tua Nai pun tak kuasa menahan air mata mereka, menyesal tak pernah mengetahui penderitaan anak mereka.


Tak lama kemudian, mereka semua berkumpul di pemakamannya Nai. Tampak jelas hubungan Phawinee dan Bos bar mulai berubah sekarang. Rut mengaku sudah bicara dengan teman-temannya Nai, mereka bilang bahwa Nai adalah anak yang baik. Bahkan guru-gurunya Nai juga berkata seperti itu.

"Kurasa, anda dan Khun Pha sudah melakukan yang terbaik sebagai orang tua."

"Pha adalah ibu yang baik. Tapi aku... aku adalah ayah yang buruk. Jika aku ayah yang baik, putraku tidak harus meninggalkan dunia yang jahat ini. Jika aku ayah yang baik, Pha mungkin tidak akan minta cerai dariku."

Selama ini istri dan putranya tak pernah menyukai apa yang dia lakukan. Pha takut jika apa yang dia lakukan, suatu hari nanti akan berbalik menyakiti putra mereka. Dan ternyata sekarang benar-benar terjadi.


"Lalu kenapa anda tidak berhenti?" Tanya Rut.

Bos bar tersenyum miris mendengarnya. Dunia ini tidaklah indah. Dia berani bicara dengan Rut karena dia menghargai Rut. Dia menghargai orang yang bertekad dalam melakukan pekerjaannya.

Dia sungguh berharap Rut akan bekerja sepenuh hati di dunia ini. Dan semoga dia tidak akan pernah melihat Rut ada di dunianya suatu hari nanti. Dia hanya berharap mereka menjalani hidup masing-masing.



Rut lalu mendatangi butik bridal untuk melihat gaun pengantinnya Da. Su nyerocos panjang lebar memberikan berbagai nasehat dan instruksi tentang gaun pengantin itu.

Tiba-tiba ponselnya Da berbunyi dari Aik dan Su langsung memanfaatkan saat itu untuk mencoba merayu Rut. Rut datang kemari karena dia adalah kakak yang manis... atau Rut datang kemari karena ingin melihatnya?

Da tiba-tiba kembali sambil menggerutu sebal. Aik akan menjemputnya, tapi dia masih marah sama Aik dan tidak ingin bertemu dengannya. Rut tidak setuju dengan sikapnya ini, sebaiknya dia baikan sama Aik.

Kalau mereka terus marahan, mending mereka tidak usah menikah sekalian. Jika Aik tidak cukup baik, Rut juga tidak rela menyerahkan adiknya pada Aik. Tapi jika Da tetap ingin menikah, maka dia harus mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Jadilah anak yang manis dan jangan terlalu egois.

Da akhirnya luluh juga dan langsung manja memeluk Rut. "Terima kasih, P'Rut. Terima kasih."


Rut masih ngopi bersama Su setelah Da pergi. Mendengar percakapan mereka tadi, Su merasa sepertinya Rut tidak terlalu menyukai adik iparnya itu. Kalau Rut mengkhawatirkan sesuatu, katakan saja padanya.

Rut menyangkal, dia hanya mengkhawatirkan Da. Su tiba-tiba saja agresif mengelus kaki Rut dan berusaha menggodanya. Tungu saja sampai Rut percaya padanya lagi. Dia juga sudah dengar tentang Rut dari ayahnya.

Ayahnya bilang bahwa deputi yang baru itu sangat hebat, masyarakat pasti akan merasa aman. Apa Rut sudah bertemu dengannya? Rut mengakuinya, Sia Ha bahkan mengundangnya makan bersama.

Su langsung antusias, kalau mereka makan bersama nanti, jangan lupa bilang padanya, dia akan juga akan datang. Tak nyaman dengan percakapan ini, Rut mau pergi saja.

Tapi Su dengan cepat memintanya untuk mengantarkannya ke pabriknya ayahnya soalnya dia meninggalkan mobilnya di sana. Rut tak senang, tapi dia tidak enak menolaknya.

 Temannya Suam memberitahu bahwa beasiswanya Suam benar-benar tidak disetujui sama Bu Dekan. Lalu apa yang akan Suam lakukan sekarang? Suam bingung, tentu saja dia harus cari uang sendiri sekarang. Tapi dari mana dia bisa mendapatkannya?

Saat dia keluar kampus, dia melihat Thuan yang baru datang untuk memulung sampah di sekitar pabriknya Sia Ha. Suam benar-benar masih sulit percaya, polisi bisa yah menyamar jadi seperti ini?

Thuan memberitahu bahwa orang-orang melakukan kejahatan setiap waktu, tugas polisi dan tentara adalah menangkap orang-orang itu. Jadi mereka harus membuat rencana dan berpikir lebih daripada para penjahat.

Tapi Suam tidak yakin bisa melakukannya. Apalagi sekarang namanya sudah dihapus dari daftar penerima beasiswa, sekarang ini adalah tahun terakhirnya tapi dia bahkan tidak tahu harus mencari uang dari mana untuk membayar kuliahnya.

"Kalau kau membantu pekerjaanku, aku akan memberimu uang untuk jajan. Lebih baik daripada mencuci piring sepanjang malam."


"Benarkah? Eh tapi Paman, dari mana Paman tahu kalau aku mencuci piring? Oh-ho, banyak hal yang Paman tahu yah?"

"Aku tahu lebih banyak. Dan jika kau ingin tahu siapa ayahmu, aku bisa membantumu menyelidikinya."

Tapi Suam tetap ragu untuk menerima pekerjaan ini. Ini pekerjaan yang harus dirahasiakan dengan baik, Suam tidak suka main rahasia-rahasiaan. Bagaimana bisa dia melakukannya?

"Menjaga rahasia dianggap kesetiaan untuk seorang mata-mata. Tugas kita adalah membuat orang baik dapat terus melanjutkan hidup mereka."

Suam penasaran, Thuan bilang bahwa musuh mereka ada di tempat yang sama dengan mereka. Bukankah itu artinya, Thuan juga mencurigai polisi? Terus siapa polisi yang Thuan curigai satu grup dengan Sia Ha? Seberapa besar pangkatnya? Tapi Thuan malah diam saja.

"Ayolah, Paman. Sejujurnya kalau Paman menginginkan bantuanku, Paman harus memberiku informasi untuk membantuku membuat keputusan."


Tepat saat itu juga, mereka melihat Su datang bersama Rut ke pabriknya Sia Ha itu. Suam langsung kagum melihat wanita cantik itu, siapa dia? Suam yakin tidak pernah melihat wanita itu di sekitar sini sebelumnya.

"Suchawadee, putri tunggalnya Sia Ha." Ujar Thuan. Shock, Suam langsung mengerti. Jadi polisi yang Thuan curigai adalah Rut.

Bersambung ke episode 3

Post a Comment

2 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam