Sinopsis My Secret Bride Episode 1 - 3

Sinopsis My Secret Bride Episode 1 - 3

Suam bersedia melakukannya. Bukankah Aik juga menginginkan ini? Aik mengakuinya, tapi dia tidak suka Suam menyebut dirinya sebagai simpanan. Dia tidak pernah berpikir seperti itu.


"Seseorang seperti E-Suam tidak memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Cuma punya sesuap nasi untuk bertahan hidup hari ini. Aku bahkan tidak mampu membayar hutang budiku pada Khun Aik dan Khun Neung. Aku tahu apa yang kau inginkan dariku."

"Tapi setidaknya, kau memiliki cukup kebanggaan yang belum pernah kau berikan padaku. Lalu kenpa hari ini kau sampai sejauh ini..."

"Aku sangat menyayangi dan menghormatimu. Jika kau mau, aku bersedia. Ini cuma tubuh seorang gadis dari perkampungan kumuh. Mungkin nilainya tidak begitu berharga. Tapi jika aku memberikannya, aku mungkin tidak akan kembali dan tidak akan menemuimu lagi."


Rut penasaran siapa nama wanita itu? Da memberitahu bahwa namanya Suam. Jelek banget namanya. Namanya saja jelek dan menjijikkan, kepribadiannya mungkin jauh lebih buruk. Da tidak mau tahu, pokoknya Rut harus membantunya, tersrah dengan cara apa saja.

Rut mulai menyadari Da bukan lagi meminta bantuannya, melainkan memerintahnya. Baiklah, Rut akan membantunya... karena keluarganya Da sudah sangat baik terhadapnya.

"P'Rut, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kau membantuku. Itu saja. Tolong yah?"


Aik pamit dan menyuruh Suam untuk pulang dan istirahat saja, sepertinya dia benar-benar kelelahan hari ini. Dia langsung menggenggam tangan Suam dan meyakinkan Suam bahwa satu-satunya yang dia inginkan hanyalah melihat Suam hidup dengan nyaman.

Tapi Suam dengan cepat menarik batas di antara mereka dengan berterima kasih atas jasa dan kebaikan Aik padanya, dia bisa hidup seperti sekarang ini berkat kebaikan Aik dan dia tidak akan melupakan itu.

Aik tak senang mendengarnya. "Suam, tidak bisakah rasa terima kasihmu... berubah menjadi cinta."


Tapi alih-alih romantis, Suam malah merasa mau muntah mendengar kata-kata gombal itu. Heran dia, apa orang kaya suka mengucap hal-hal yang bikin orang mau muntah?

"Rasa terima kasih... bagaimana pun aku membayarnya, tidak akan pernah lunas!" Suam sebal.

 

Keesokan harinya, Suam sarapan sambil ngerumpi bersama ibu-ibu tetangga di warung terdekat. Alih-alih berterima kasih pada Suam yang telah mengeluarkan mereka dari kantor polisi, para ibu-ibu itu malah menyalahkan Suam dan menuduh Suam-lah yang membuat mereka berakhir di kantor polisi.

Way, si banci heboh yang menggelandoti Rut kemarin, muncul dan langsung ikutan ngerumpi, memberitahu semua orang kalau dia sedang jatuh cinta sama deputi polisi yang baru pindah ke sini itu. Wkwkwk!

Duh, tuh cowok cakep banget. Tinggi, tampan, jabatannya tinggi lagi. Walaupun ada yang bilang kalau dia mendapatkan jabatannya karena punya koneksi dengan orang dalam, tapi dia tuh s~~si.


Nenek dukun muncul saat itu dan keponakan kecilnya Suam - Nat, tak sengaja menyenggolnya saat mereka jalan bersamaan. Nenek dukun sontak heboh merutuki Nat dan mengatainya anak tak punya ayah.

Jelas saja rutukannya itu sontak memicu kekesalan Suam. Dia tidak terima dan langsung melabrak Nenek dukun. Canggung, Nenek dukun mengklaim kalau dia cuma asal bicara saja kok, dia cuma bercanda.

"Jika aku tidak sengaja menampar orang tua, apakah itu juga cuma bercanda?" Balas Suam.


Oil, kakaknya Suam, buru-buru menyela dan mengajak Suam pergi mengantarkan Nat ke sekolah. Kejadian barusan membuat Oil merasa tak enak pada Suam, dia sudah membuat Suam malu karena punya anak tanpa suami.

Suam menegaskan kalau dia tidak malu dan tidak seharusnya Oil merasa malu juga. Dia hanya seorang wanita yang menjadi korban pria jahat, jadi dia tidak bersalah.

Oil jadi semakin sedih mendengarnya. Berusaha menyemangati Oil, Suam langsung mentraktirnya kopi mahal. Dia lagi kaya, kemarin dia dikasih bonus sama bosnya berkat mencuci piring banyak banget.


Tiba-tiba Oil mulai membahas tentang deputi polisi yang baru pindah itu. Suam langsung kesal mendengarnya. Heran dia, semua orang membicarakan polisi itu. Kenapa juga Oil tertarik pada deputi polisi itu? Mau menjadikannya ayahnya Nat?

Tidaklah. Dia cuma mendengarnya dari Ibu bahwa kemarin si deputi itu sendiri yang mendatangi kelompok main kartu mereka. Mungkin karena deputi itu tampan, makanya Ibu jadi tidak berhenti memujinya.

"Ibu itu aneh. Menyukai pria tampan, tapi suaminya sendiri kayak maling."

"Berarti dia benar-benar tampan."

"Cih! Tampan apanya, P'? Menurutku tidak tampan sama sekali."

"Apa dia setampan suami khayalanmu?"

Suam langsung canggung mendengarnya dan mengklaim kalau dia sudah lupa sama si suami khayalan itu. Tapi Oil jelas tak percaya dan bertanya-tanya apakah Suam ingin bertemu lagi dengan suami khayalannya itu?

"Bertemu di mana, P'? Kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan menangkapnya dan menjadikannya suamiku!"


Suam lalu pergi ke warungnya Bibi Jiab untuk makan siang. Nenek dukun dan Lamyai (Istrinya pak polisi yang lagi hamil) datang tak lama kemudian. Nenek dukun heran melihat Suam duduk sendirian, dia lagi cari suami yah?

Suam jelas kesal dan langsung ceplas-ceplos melabraknya, dia masih kesal sama Nenek dukun atas kejadian tadi dan sekarang Nenek dukun cari perkara lagi dengannya. Nenek dukun sudah bosan hidup karena sudah tua yah?

Nenek dukun mengklaim kalau dia bicara begini karena dia peduli dengan Suam. Suam tuh cantik, dia ingin melihat Suam punya suami. Kalau Suam tidak segera menikah, dia tidak bakalan bisa melihat anak-anaknya tumbuh besar loh.

Suam menyuruh Nenek dukun memikirkan putrinya sendiri saja dan tidak usah mengurusi dirinya. Tapi Nenek dukun tak peduli dan langsung penasaran bertanya apakah Suam sudah tidak perawan lagi. Pfft!


Suam tambah kesal mendengarnya. "Kenapa mulut Nenek tidak digunakan untuk makan saja?"

"E-Suam! Dia ibuku!" Protes Lamyai.

"Kalau begitu ajari dia dengan benar. Suruh dia jangan usil."

Nenek menjelaskan bahwa tuannya di kuil menyebut-nyebut tentang Suam. Beliau ingin Suam membantu pekerjaannya. Tuannya itu bisa melihat Suam memiliki sesuatu dalam dirinya.

Mendengar itu, Suam dengan sengaja pura-pura kerasukan untuk menakut-nakuti Nenek dukun... dan menyuruhnya berhenti usil. Urusi saja diri mereka sendiri. Nenek dukun nyerah deh, susah ngomong sama Suam.


Seorang paman pemulung yang sedari tadi mendengarkan mereka, tersenyum geli melihat tingkah Suam. Suam penasaran dengannya, apa Paman baru pindah kemari? Soalnya dia belum pernah melihat Paman sebelumnya.

Paman pemulung menyangkal, dia sudah beberapa lama tinggal di dekat pabrik yang di sana itu. Suam kaget mendengarnya, Paman pemulung tinggal di dekat pabrik neraka itu?

"Kenapa kau menyebutnya begitu. Kudengar pemilik pabriknya orang baik."

"Aku tidak tahu itu. Terserah siapapun pemiliknya. Yang pasti aku tidak menyukainya. Entah pabrik gila macam apa itu, pokoknya menakutkan."

"Apa yang kau tahu?"

"Entahlah, Paman. Tapi... itu... seolah ada energi... seperti ada hantu yang mati dan terlahir kembali setiap hari."

Nasi pesanannya datang saat itu, Suam langsung mengajak Paman pemulung makan bersamanya sambil kenalan. Paman pemulung memperkenalkan namanya adalah Thuan.
Rut akhirnya pindah ke rumah barunya bersama seorang pembantu lamanya yang bernama Teerak. Sepertinya Teerak sudah lama berpisah dengan Rut, makanya sekarang Rut bahagia banget Teerak kembali bekerja padanya.

Tak lama kemudian, Teerak ngobrol dengan tetangga baru mereka yang ternyata Pade. Dia cuma mau minta gula dari Teerak, tapi Teerak malah nyerocos panjang lebar dengan penuh semangat. Dengan gaya melambainya dia memperkenalkan namanya adalah Suteerak, biasanya dipanggil Teerak (yang artinya Sayang).

Mungkin awalnya Padet tidak akan merasa nyaman memanggil namanya, tapi lama-lama dia pasti akan terbiasa... hingga akhirnya dia akan jatuh cinta padanya. Pfft! Padet, tampak jelas tidak nyaman dengan kecerewetan Teerak dan to the point meminta gulanya. Tapi Teerak penasaran, apa pekerjaan Padet?


Tak lama kemudian, Teerak memberitahu Rut bahwa tetangga mereka itu ternyata polisi dan dia juga sudah mengundang tetangga mereka itu untuk makan malam bersama malam ini, biar mereka bisa akrab. Rut langsung antusias mendengar dirinya punya tetangga polisi... sampai saat dia mendengar nama si polisi itu adalah Inspektur Padet.

"Kalau begitu tidak perlu menyiapkan makanan untuknya. Dia tidak akan datang." Rut yakin itu.

Bersambung ke part 4

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam