Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 14 - 2

 Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 14 - 2

Ha Kyung di-chat Il Kwon yang mengklai dirinya demam. Ha Kyung pun bergegas pergi ke rumahnya. Tapi saat dia mengecek dahinya, dia tidak merasa Il Kwon sedang demam.


Il Kwon ngotot kalau dia demam, tapi demamnya tidak bisa dirasakan dengan hanya menyentuh pakai tangan. Hah? Il Kwon tiba-tia bangkit lalu menempelkan kedua dahi mereka. Pfft! Cheesy banget.

Ha Kyung langsung kesal mendorongnya, dia tidak sakit kau sebenarnya? Il Kwon ngotot kalau dia sakit. Tapi dia langsung sembuh waktu Ha Kyung bilang mau datang kemari. 

Dia bahkan langsung manja membujuk Ha Kyung untuk tinggal lebih lama, dua jam saja, satu jam juga tidak apa-apa. Jadilah mereka menghabiskan waktu dengan gembira, main game lalu makan ramyeon pedas.
 

Ha Kyung usul untuk main game tanya jawab dulu sebelum makan. Il Kwon setuju. Ha Kyung duluan yang tanya, sejak kapan Il Kwon mulai suka sama dia?

"Sejak aku pertama kali belajar Jujitsu darimu. Kau sangat keren. Bagaimana denganmu?"

"Waktu kau menguncir rambutku di rumah sakit."

"Sebentar. Berarti kau yang lebih dulu menyukaiku."

"Bukan begitu. Maksudku setelah itu."

"Kurasa tidak."

"Setelah itu. Setelah berolahraga bersama."

"Kau menyukaiku sebelumnya, kan?"

"Kubilang tidak! Setelah itu!"

Il Kwon iyain aja deh daripada ribut terus. Sekarang giliran dia yang tanya, berapa banyak pria yang pernah Ha Kyung kencani sebelum dia? Ha Kyung tak nyaman dengan pertanyaan itu.

Tapi waktu dia mencoba membalikkan pertanyaan itu ke Il Kwon, Il Kwon sendiri menolak menjawab dan mendadak mengalihkan topik, ayo makan saja. Mereka pede banget mengklaim ramyeonnya tidak pedas. Tapi sedetik kemudian, rasa pedasnya langsung nendang dan mereka berdua sontak berlomba mengambil air.

 

Ha Jin tengah sibuk membaca naskah-naskahnya saat Jeong Hoon mengiriminya foto-foto Ha Jin bersama Coco. Dia mengklaim kalau dia cuma memotret Coco, tapi Ha Jin kelihatan cantik juga, makanya dia kirimin foto itu ke Ha Jin. Ha Jin jadi makin galau memikirkan ucapan Jeong Hoon tadi siang.


Jeong Hoon akhirnya mendapat petunjuk keberadaan Seung Ho. Seseorang mengiriminya foto candid Seung Ho di sebuah apartemen dan Jeong Hoon langsung meneruskan email itu ke polisi lalu mengajak Il Kwon ke TKP untuk melakukan peliputan.

Polisi sudah tiba duluan di sana saat mereka baru tiba, tapi malah diberitahu bahwa Seung Ho sudah berhasil melarikan diri. Seentara Il Kwon mulai meliput berita ini, polisi memberitahu Jeong Hoon barangnya Seung Ho yang ketinggalan, sebuah buku jurnal yang didalamnya tertulis kata-kata tentang balas dendam.


Tae Eun mengunjungi kantor ayahnya tapi malah diberitahu oleh sekretaris Tuan Yoo bahwa Tuan Yoo sedang menulis sebuah buku. Tae Eun langsung curiga dan mumpung Tuan Yoo sedang keluar, dia langsung memanfaatkan saat itu untuk mencari naskah buku itu.

Hanya dari membaca judulnya saja Tae Eun langsung tahu buku itu tentang Jeong Hoon. Jelas saja saat Tuan Yoo kembali, dia langsung kesal melabrak ayahnya itu.

Sekarang dia mengerti kenapa Tuan Yoo memata-matai Jeong Hoon, bahkan sampai mendatangi si pembunuh itu untuk menanyai Jeong Hoon. Ternyata semuanya dia lakukan demi buku ini. Tuan Yoo tidak terima dimarahi anaknya dan mengklaim kalau ini adalah penelitian dan prestasinya.

"Ini hidup Jeong Hoon! Walaupun Ayah dokternya, Ayah tidak berhak mengungkap semua tentangnya pada dunia!"

Tuan Yoo dengan sombongnya sumbar tentang jasa-jasanya pada Jeong Hoon. Kalau bukan karena dia, Jeong Hoon tidak mungkin bisa menjalani hidup normal sekarang, mungkin juga dia sudah mati karena tidak bisa menahan beban ingatannya.

Jeong Hoon bisa menikmati hidupnya yang sekarang berkat hasil penelitiannya. Kalau terus seperti ini, Jeong Hoon hanya akan membuat hidup semua orang menderita. Ha Jin sudah tahu semuanya, jadi dia akan menjauhi Jeong Hoon.


Tae Eun tercengang mendengarnya, apa maksudnya? Tuan Yoo mengaku kalau dia memberitahu Ha Jin tentang kondisi Jeong Hoon dan bahwa dia tidak akan pernah bisa melupakan Seo Yeon seumur hidupnya. Tidak ada gunanya bertahan demi cinta, itulah penyakitnya Jeong Hoon dan takdir hidupnya.

Tae Eun benar-benar murka sekarang. Sungguh tak pernah dia menyangka kalau ayahnya ternyata orang yang serendah ini. Begitu buku itu diterbitkan, semua orang tahu Tuan Yoo ternyata seorang cendekiawan tak bermoral yang memperlakukan pasiennya seperti hewan lab untuk penelitian.

Dia sontak menyobek-nyobek naskah itu dan memperingatkan Tuan Yoo untuk berhenti sampai di sini. Jika tidak, Tae Eun sendiri yang akan membuatnya berhenti. Lihat saja nanti.

Tae Eun langsung pergi menemui pihak penerbit dan mengancamnya untuk tidak menerbitkan buku itu atau dia akan membawa perkara ini ke rana hukum.


Ha Jin tidak bisa tidur saat Jeong Hoon mengiriminya pesan ucapan selamat malam dan semoga mimpi indah. Sayangnya dia tidak tahu kalau Jeong Hoon sebenarnya ada di depan rumahnya, menatap kamarnya dengan sedih.


Keesokan harinya, Ayahnya Jeong Hoon mendatangi rumahnya Jeong Hoon dengan membawa sebuah kursi buatannya sendiri. Ini hadiah untuk Jeong Hoon.

"Kenapa Ayah tiba-tiba membawa hadiah? Terima kasih."

Tapi Jeong Hoon penasaran, apa semuanya baik-baik saja? Ayah tiba-tiba membahas perbuatannya yang dulu pernah mengurung Jeong Hoon di dalam lemari waktu Jeong Hoon masih kecil. Ayah setulus hati meminta maaf untuk itu.

"Ayah tahu ayah sangat menyakitimu dan kau tidak akan bisa lupa. Ayah benar-benar menyesal."


Canggung, Ayah pun bergegas pamit. Tapi yang tak disangkanya, Jeong Hoon setulus hati berkata bahwa dia menyukai kursi pemberian Ayah ini, secara tak langsung dia telah memaafkan ayahnya.

"Mulai hari ini, kursi ini akan menjadi kenanganku tentang Ayah. Akua akan mencoba melupakan masa laluku mulai sekarang." Ujar Jeong Hoon. Ayah terharu mendengarnya.


Tapi tak lama setelah Ayah pergi, Jeong Hoon tiba-tiba ditelepon oleh Seung Ho yang berkata kalau dia mau membuktikan cinta sejatinya pada Seo Yeon pada Jeong Hoon. Jeong Hoon pun langsung menghubungi polisi agar mereka melacak nomor yang dipakai Seung Ho barusan.


Pembuktian yang dimaksud Seung Ho ternyata mendatangi rumah duka tempat abu Seo Yeon bersemayam lalu terisak minta maaf pada abunya Seo Yeon seolah arwah Seo Yeon pasti sedih banget dia tinggalin selama ini. Dia lalu memecah kaca kotaknya dan mencuri abunya Seo Yeon.


Setelah beberapa lama, Jeong Hoon akhirnya mendapat kabar dari polisi tentang lokasi ponselnya Seong Ho, dia berada di Inho-dong, Paju - tempat rumah duka itu berada.

Jeong Hoon sontak pergi ke sana, tapi sudah terlambat. Seung Ho sudah pergi dan abu Seo Yeon sudah menghilang. Seung Ho menelepon saat itu sambil sinis memuji Jeong Hoon yang bisa cepat memahami petunjuknya. Kalau dia terlambat sedetik saja, dia pasti akan gagal membawa abunya Seo Yeon.

"Kenapa kau melakukan ini? Bukankah aku yang ingin kau singkirkan?"

"Kau benar."

"Aku akan mendatangimu. Katakan di mana tempatnya. Aku akan segera ke sana."

"Kau khawatir? Kau pikir aku akan mencelakai Yeo Ha Jin?"

"Tutup mulutmu dan beri tahu aku lokasimu."

"Kau tunggu saja, nanti kutelepon lagi."


Cemas, Jeong Hoon langsung menelepon Ha Kyung untuk menanyakan keberadaan mereka. Ha Kyung mengaku mereka sedang berada di stasiun TV saat ini untuk rapat tentang drama baru.

Mendengar mereka aman di dalam gedung itu, Jeong Hoon menginstruksikan Ha Kyung untuk tetap di sana biarpun rapatnya sudah usai nanti. Pokoknya mereka jangan keluar dari gedung itu. Tapi karena tak ingin membuatnya cemas, jadi Jeong Hoon hanya beralasan bahwa ada sesuatu yang perlu dia katakan pada Ha Jin.


Seung Ho ternyata pergi ke rooftop tempat dia mendorong Seo Yeon ke kematiannya dulu lalu mencium guci abunya Seo Yeon (Orang sinting beneran). Dia lalu menggunakan tali sepatu baletnya Seo Yeon untuk mengikat sebilah pisau ke tangannya dan menunggu kedatangan Jeong Hoon.

Jeong Hoon tiba tak lama kemudian lalu disusul rombongan polisi. Polisi berusaha menyuruhnya menunggu di sini, tapi Jeong Hoon menolak. Seung Ho mencuri abu Seo Yeon untuk memancingnya. Kalau dia tidak datang, Seung Ho hanya akan bersembunyi lagi.

Polisi ngotot melarang karena itu berbahaya dan langsung berpencar mencari keberadaan Seung Ho. Tapi tepat saat itu juga, Jeong Hoon mendapat pesan dari Seung Ho. Dia bahkan sengaja menampakkan dirinya yang berada di atap.


Jeong Hoon mengirim pesan ke polisi, tapi dia sendiri langsung naik ke atap tanpa menunggu polisi. Begitu dia tiba di sana, Seung Ho tiba-tiba menyerangnya dari belakang dan menusuk perutnya.

Bersambung ke part 3

0 komentar

Post a Comment