Sinopsis Lucky's First Love Episode 8 - 2

Sinopsis Lucky's First Love Episode 8 - 2

Setibanya di alamat itu, dia mendapati orang itu benar-benar Ling Shan yang menyapanya seolah tak pernah ada masalah apapun di antara mereka. Dia berniat ingin menjelaskan alasannya menghilang dulu, tapi Shen Qing tidak mau dengar apapun dan menegaskan bahwa kedatangannya hari ini hanya karena dia ingin menguji dirinya sendiri tentang apakah dia sudah merelakan masa lalu atau tidak.


Dia lega saat melihat Ling Shan berdiri di hadapannya tanpa cacat. Kesalahpahaman, kekecewaan, dan dendam sudah hilang seiring berlalunya waktu. Dan roti pesanan Ling Shan itu belum bisa mereka produksi sekarang... Karena dia sudah lupa cara membuatnya. Tapi saat dia beranjak pergi, Ling Shan tiba-tiba minta bertemu dengan anak mereka.


He Yu menolak bicara dengan manager proyek-nya TIG, malah menuntut Xia Ke untuk memerintahkan Xing Yun saja untuk berkomunikasi langsung dengannya terkait proyek mereka dengan alasan biar tidak kebanyakan kemunikasi dengan berbagai macam orang yang mungkin bisa menyebabkan kesalahpahaman. Lagipula, Xing Yun lebih menarik daripada si manager proyek yang membosankan itu.


Di kantor, seorang bapak bermarga Lin tiba-tiba datang mencari Xing Yun. Karena Xing Yun sendiri memang sudah menunggunya, dia pun menyambut Pak Lin dengan ramah. Pak Lin tampak langsung suka sama Xing Yun, bahkan menyuruh Xing Yun untuk memanggilnya 'Paman Lin'.

Mereka lalu memutuskan untuk bicara lebih lanjut di cafe terdekat. Kebetulan saat itu, Xia Ke baru datang untuk beli kopi dan langsung penasaran melihat Xing Yun bicara sama si bapak.

Maka pelan-pelan dia mendekati meja mereka untuk nguping. Xing Yun mengaku pada Pak Lin bahwa dia selalu menyukai hewan dan selalu membantu hewan-hewan liar yang butuh pertolongan.

Pak Lin pun mulai tanya-tanya ini-itu tentang Xing Yun. Tentang apakah dia sehat, apakah pekerjaannya sangat sibuk, apa hobi Xing Yun lainnya selain suka menolong hewan liar, dll.

Percakapan mereka benar-benar terdengar seperti sedang kencan buta yang jelas saja membuat Xia Ke cemburu. Pak Lin bahkan tanya apakah Xing Yun bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Dan begitu Xing Yun bilang iya, Pak Lin tiba-tiba saja menyatakan kalau dia suka sama Xing Yun dan mengundang Xing Yun untuk datang ke rumahnya... bagaimana kalau malam ini?


Tidak tahan lagi, Xia Ke langsung menyela mereka dan menolak undangan Pak Lin dengan menyatakan bahwa Xing Yun tidak ada waktu kapanpun. Heran dia, apa Xing Yun tidak punya pilihan lain apa? Xing Yun bingung apa maksudnya?

Kesal, Xia Ke langsung menarik paksa Xing Yun, tapi Xing Yun langsung melawan dan menegaskan kalau dia sedang membicarakan masalah penting.

"Dia lebih cocok jadi ayahmu!" Xia Ke emosi.


Mulai paham jalan pikiran Xia Ke, Xing Yun mencoba menjelaskan, tapi Pak Lin mendadak menyela dan mengklaim kalau dia memang ingin menjadi ayahnya Xing Yun... atau lebih tepatnya ayah mertua. Dia ingin menjodohkan Xing Yun sama putranya.

Xing Yun kaget. Sebentar, jadi dia bukan Lin Yang - penanggung jawab rumah kucing liar? Xing Yun kira kalau dia adalah Pak Lin yang itu. Pfft! Ternyata semua orang salah paham. Pak Lin bahkan tidak mengerti apa maksud Xing Yun.

Mulai memahami situasi ini, Xia Ke penasaran dari mana Pak Lin mendapatkan cara untuk menghubungi Xing Yun kalau dia bahkan tidak mengenal Xing Yun?

 

Tak lama kemudian, mereka berdua tercengang mendapati biodatanya Xing Yun dipajang sembarangan di taman buat siapapun yang tertarik untuk cari jodoh... dan pastinya pelakunya adalah Xing Cheng. Xing Yun kesal.

"Xing Cheng sepupumu?"

"Iya. Sejak aku putus sama Chu Nan, dia selalu bilang kalau dia berhutang pacar padaku dan mencoba menjodohkanku dengan berbagai pria. Dan sekarang dia bahkan menyebarkan biodata pribadiku di sini."


Maka untuk menyelesaikan masalahnya, Xia Ke pun mencopot biodatanya Xing Yun itu. Tapi saat mereka hendak pergi, beberapa ibu-ibu mendadak mengerubungi Xia Ke sambil heboh meminta biodatanya Xia Ke buat dijodohin sama putri-putri mereka. Pfft!
 

Kembali ke kantor, Xia Ke memberitahu bahwa dia harus dinas ke Shanghai minggu depan dan mengingatkan Xing Yun untuk mengerjakan apa yang sudah dia instruksikan.

Dan juga, jika sepupunya mengatur suatu 'aktivitas' untuknya, sebaiknya dia tolak saja karena proyek Jiawo akan diserahkan pada Xing Yun mulai sekarang.

"Anda menyuruh saya bekerja sama dengan Manajer He? Tapi kan saya pernah memukul dia sebelumnya."

"Makanya kau harus harus memperbaikinya. Atau kau pikir, banyaknya pekerjaan bisa memengaruhi kencan butamu?"

"Err, tidak, tidak. Akan saya siapkan sekarang juga!"


Shen Qing benar-benar membawa Ling Shan untuk menemui Xiao Xi di sekolahnya. Tapi alih-alih mendekatinya pelan-pelan, Ling Shan langsung agresif menarik Xiao Xi mendekat sambil menyatakan dirinya adalah adalah ayahnya Xiao Xi.

Terang saja Xiao Xi langsung menampik tangannya dan tegas menyatakan kalau dia tidak punya ayah. Shen Qing dengan lembut membenarkan kalau dia memang ayahnya Xiao Xi.

Tapi tetap saja Xiao Xi tidak bisa menerimanya begitu saja. Bahkan saat mereka pindah ke restoran dan Ling Shan mencoba menawarkan kue untuknya, Xiao Xi menolaknya. Tidak ada kue apapun yang seenak kue buatan ibunya.

Tapi Ling Shan tak gentar dan terus mencoba menawarkan dessert lain. Dia tampak benar-benar antusias melihat putranya, terlalu antusias malah, terkesan seperti terobsesi.


Malam harinya, Xiao Xi menelepon Chu Nan dan menyuruh Chu Nan untuk segera datang menemui ibunya. Kalau tidak, ibunya akan menyukai pria lain.

Chu Nan geli mendengarnya, sama sekali tak menganggap serius peringatan Xiao Xi, malah mengingatkan Xiao Xi bahwa ibunya bebas berteman dengan siapa saja.

"Tapi musuh itu sangat kuat. Lebih menakutkan daripada monster yang paling mengerikan. Dia ayahku. Ayah kandungku."

Chu Nan shock mendengarnya. "Kau bilang apa?"

"Aku bilang, ayahku kembali. Ayah kandungku."


Sebelum pergi ke bandara Xia Ke memberikan berbagai pengarahan tentang apa-apa saja yang perlu Xing Yun lakukan dalam menangani proyek Jiawo. Tak lupa dia juga mengingatkan Xing Yun untuk membatalkan segala kegiatan tidak penting.

"Pak Xia, saya pasti akan mengingat pengajaran anda. Anda bisa pergi dengan tenang."

"Kau sangat ingin aku pergi?"

"Mana mungkin." Sangkal Xing Yun dengan canggung.


Padahal saat dia makan malam bersama kedua temannya, dia mengaku kalau dia memang mengharap Xia Ke pergi secepatnya. Dan demi merayakan kebebasannya hari ini, Xing Yun pun menyatakan dia yang traktir hari ini, mereka boleh makan apa saja.

Amy penasaran apakah Pak Xia menyuruh Xing Yun melakukan itu lagi? Xing Yun membenarkan, dia begadang semalam suntuk hanya demi mengerjakan itu.

"Melakukan apa?" Tanya Yi Yi.

"Biasanya kalau seorang presdir dinas ke luar kota, dpartemen administratid-lah yang mengurus kebutuhan hidupnya. Tapi Pak Xia lebih memilih Xing Yun untuk melakukan itu."

"Xing Yun memang berbakat dalam mengurus Pak Xia. Katakan, apa saja tips-tips dalam mengurus jadwal perjalanan dinasnya Pak Xia?"


Gampang saja sebenarnya. Yang dia inginkan sebenarnya bukanlah jadwal, tapi panduan hidup. Segala hal mesti diperhitungkan. Mulai dari pemilihan waktu pembelian tiket pesawat, dan juga pemilihan kursi di pesawat.

Jangan cuma mementingkan kursi kelas bisnis saja. Karena Xia Ke tidak suka diganggu saat sedang bekerja, jadi dia harus duduk di dekat jendela biar tidak terganggu orang-orang yang hilir-mudik.

Lokasi hotel juga harus tenang. Tidak boleh ada bunga di kamar hotel karena Xia Ke alergi, jadi harus diganti lemon. Pemandangan di luar jendela harus bagus, tapi tirainya harus benar-benar tidak tembus cahaya biar Xia Ke bisa tidur tenang. Bantal juga tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu empuk.

Dan segala fasilitas lain di sekitar hotel juga harus diperhitungkan seperti misalnya: Tempat yang bagus dan tenang untuk joging malam, mini market, apotik, bioskop, restoran, bar, pusat perbelanjaan, stasiun subway, dll.

"Sekarang aku mengerti bahwa detil bisa menentukan nasib seseorang."

"Ah sudahlah. Hentikan topik ini sampai di sini. Aku akhirnya bisa mengerjakan pekerjaanku tanpa terganggu selama beberapa hari."

Tapi Yi Yi rasa Xing Yun tidak akan bisa tenang juga. Soalnya Manajer He dari Jiawo akan segera datang. Orang itu bagaimana?

"Aku hampir lupa sama orang itu. Dia... sudahlah, makan saja hotpot kalian."

Bersambung ke part 3

0 komentar

Post a Comment