Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 9 - 2

 Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 9 - 2

Setibanya dirumah sakit jiwa, Jeong Hoon langsung menuntut Seung Hoo untuk mengungkapkan apa saja yang dia ketahui dan siapa penguntitnya Ha Jin.


Seung Ho mengklaim tak tahu, mereka hanya berkirim surat beberapa kali. Orang itu duluan yang mengiriminya surat. Dia cuma menjawab beberapa pertanyaannya, dan dia juga punya beberapa foto.

"Jadi, apa yang kalian bicarakan? Jwab aku sekarang!"

Seung Ho ngakak melihat kemarahan Jeong Hoon, dia beneran serius sama Ha Jin? Dia benar-benar menyukai wanita itu? Tapi dengan cepat dia berubah emosi dan marah. Apa Jeong Hoon bahkan tidak merasa bersalah pada Seo Yeon?

"Seandainya kau tidak terlibat, kami pasti sudah bahagia. tapi kau membunuhnya. Dan sekarang apa yang kau lakukan dengan temannya? Seo Yeon yang malang. Jika dia melihatmu seperti ini, kira-kira bagaimana perasaan Seo Yeon." (Wong gendeng! Dia yang bunuh, dia yang nyuruh orang lain ngerasa bersalah)


Bu Park langsung datang begitu mendengar apa yang terjadi pada Ha Kyung. Ia benar-benar khawatir dan ketakutan sekarang, sebaiknya mereka melapor ke polisi saja. Entah apa lagi yang akan dilakukan bajingan itu.

Ia juga sudah bicara dengan pengacara mereka dan pengacara juga menyarankan agara mereka melaporkan masalah ini ke polisi. Tentang surat-surat yang dikirim ke Pewarta Lee, kemungkinan tidak bisa dianggap kasus pidana, mungkin hanya akan membuat orang lain penasaran.

Karena itulah pengacara tidak menyarankan mereka untuk mengungkapkan masalah itu, dan Bu Park setuju. Ia akan merasa bersalah jika ini memengaruhi Pewarta Lee. Baiklah, Ha Jin setuju.

"Mari kita laporkan secepatnya dan tangkap si penguntit itu dulu. Begitu kita mengangkap penguntit itu, akan kupatahkan tangannya biar dia tidak bisa mengulanginya."

"Bu Park, sarahkan saja itu padaku." Ujar Ha Kyung.

"Ha Jin-ah, jangan mencemaskan ahal ini. Jaga dirimu dan percayalah pada kami. Mengerti?"

"Baik."


Memikirkan ucapan Seung Ho tadi, Jeong Hoon jadi gelisah sepanjang perjalanan pulang hingga dia harus berhenti di tengah jalan untuk menenangkan diri. Ha Jin menelepon saat itu, memberitahunya bahwa Bu park sudah melaporkan masalah ini ke polisi.

Jeong Hoon setuju. Itu memang yang terbaik yang harus mereka lakukan dalam situasi ini. Ha Jin harus lebih berhati-hati sekarang. Minta polisi dan bodyguard untuk mengawalnya.

"Maaf karena aku tidak bisa banyak membantumu."

"Kau snagat membantu. Aku serius. Berhentilah mengatakan hal seperti itu. Bukan cuma aku yang dalam bahaya. Kau juga dalam bahaya. Jadi berhti-hatilah."

Tapi, Jeong Hoon kedengaran kurang sehat, apa dia sedang sakit? Jeong Hoon menyangkal lalu cepat-cepat pamit dan menutup teleponnya.


Keesokan harinya, polisi mulai memeriksa rumahnya Ha Jin dan para awak media heboh menunggu di luar rumah. Menurut penylidikan awal, polisi menyimpulkan orang itu sudah pernah masuk ke rumah ini beberapa kali.

Apa mungkin mereka memikirkan seseorang sebagai tersangka? Seseorang yang akrab dengan rumah ini dan mengetahui jadwalnya Ha Jin. Dalam kasus seperti ini, biasanya pelakunya adalah orang dekat.

"Ada seseorang yang sudah saya curigai." Ujar Ha Kyung.


Direktur Choi tercengang membaca berita kasusnya Ha Jin itu. Dia benar-benar khawatir, Ha Jin pasti sangat terkejut. Semoga saja bedebah itu segera tertangkap.

Direktur Choi usul agar Jeong Hoon menyiarkan kasus ini saja. Menguntit adalah kejahatan, tapi menangkapnya cukup sulit dan biarpun tertangkap juga hukumannya tidak akan berat.

Jadi sebaiknya mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mengubah gagasan orang tentang pengintaian dan penguntit. Itu juga pasti bisa membantu Ha Jin.

Tapi Jeong Hoon kurang setuju. Dia mengerti niat baik Direktur Choi, tapi jika dia mengungkit kasus ini dalam berita, takutnya itu malah akan semakin memprovokasi orang itu.

"Sekarang ini yang paling penting adalah menjaga Ha Jin tetap aman dan bukannya mencemaskan hukuman penguntit."

Baiklah, Direktur Choi mengerti. Kalau Jeong Hoon butuh bantuan apapun, katakan saja padanya. Tapi setelah Jeong Hoon pergi, Direktur Chpi mulai merasa aneh dengan mereka. Sepertinya ada sesuatu di antara kedua orang itu. Tapi tentu saja Jeong Hoon tidak tinggal diam begitu saja dan langsung melakukan sesuatu.


Terungkapnya kasus ini kontan membuat Reporter Park panik bukan main. Dia buru-buru memindahkan semua file-nya dan chat-nya, dan berniat kabur. Tapi tiba-tiba pintu rumahnya diketuk polisi yang pura-pura jadi petugas pemeriksa pipa gas.

Tapi setelah beberapa lama, tak ada jawaban dari dalam. Polisi sontak mendobrak masuk, tapi malah mendapati Reporter Park sudah kabur lewat jendela.

Reporter Park buru-buru naik taksi. Tapi baru juga dia merasa aman, tiba-tiba dia mendapat email dari Jeong Hoon yang mengancamnya untuk segera menyerahkan diri ke polisi.

Jika tidak, Jeong Hoon akan menyiarkan tentang keterlibatan Reporter Park dalam kasus ini. Serahkan diri dan jaga martabatnya atau jadi sampah masyarakat. Dia cuma punya waktu 4 jam untuk memutuskan.

Jeong Hoon bahkan punya bukti kuat, rekaman audio saat Reporter Park mengaku kalau dia mendapat uang dari penguntit itu. Aish! Reporter Park kesal.


Dalam siaran radionya hari itu, DJ radio membacakan banyak sekali pesan-pesan dukungan dari para netizen untuk Ha Jin. Snenag, Ha Jin meyakinkan para penggemarnya bahwa dia baik-baik saja sekarang dan terima kasih sudah mendukungnya.

"Aku akan bersemangat dengan dukungan kalian. Terima kasih."

Bahkan saat dia keluar tak lama kemudian, banyak sekali penggemar yang datang untuk memberinya semangat dan dukungan. Tersentuh karena itu, Ha Jin dengan senang hati berfoto bersama mereka. Dia benar-benar ramah pada mereka.


Tepat saat itu juga, PD Kim baru datang bersama dengan rekannya. Si rekan mendadak heboh begitu melihat Ha Jin dan langsung menerobos kerumunan fans itu untuk menyapa Ha Jin, dia pengarah suara di program acara Lee Jeong Hoon's News Live.

Dia senang banget waktu Ha Jin mengenali wajahnya dan mengajaknya salaman. Dia langsung minta foto bareng, Ha Jin tentu saja tidak keberatan. Pengarah suara langsung semangat mengajak PD Kim ikutan berfoto.

PD Kim sok jaim banget, padahal begitu Ha Jin mulai memotret mereka, dia langsung menyodorkan wajahnya ke depan kamera dengan antusias. Bahkan setelah itu, dia yang paling semangat menyeret Jeong Hoon ke rooftop untuk menemui Ha Jin.


Dia bahkan sengaja tidak segera pergi dan menemani Ha Kyung mengawasi kedua orang itu. Ha Kyung sampai heran, ngapain PD Kim masih di sini.

"Kau tidak pernah tahu. Aku menjodohkan mereka seperti ini. Jangan sampai terjadi masalah."

"Tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kami bisa mengatasinya."

"Ayolah, aku dulu atlet yang hebat. Ha Jin sepertinya punya banyak penggemar. Aku salah satunya."

"Ah, tentu. Terima kasih."

Bersambung ke part 3

1 komentar: