Sinopsis Lucky's First Love Episode 7 - 1

Sinopsis Lucky's First Love Episode 7 - 1

Xing Yun masih marah sama Xia Ke. Bahkan saat Xia Ke memanggilnya ke ruangannya, Xing Yun bersikap dengan sangat formal. Bahkan saat Xie Ke memarahinya karena mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan, Xing Yun dengan dinginnya berkata kalau dia akan mempelajari lagi buku panduan karyawan lalu pergi.


Xia Ke jadi kesal sendiri diperlakukan seperti itu. Bahkan saat Xing Yun menolak naik satu lift bersamanya, Xia Ke sama sekali tak peduli dan jadilah mereka perang dingin selama beberapa hari.


Suatu hari, Xia Ke menyuruh Amy untuk membawakannya kopi. Tapi kemudian dia melihat Xing Yun cs masuk ke dapur, maka mendadak dia membatalkan perintahnya dan memutuskan datang sendiri ke dapur.

Amy langsung berbisik panik meminta bantuan Xing Yun, soalnya Xia Ke tidak puas dengan hasil seduhan kopinya. Xing Yun maklum, selera tuh orang memang tidak normal.

"Dia membuat americano dengan 4 gelas air dan 6 sendok biji kopi. Kalau kau memakai rasio biasa, dia tidak akan merasa cukup pahit."

"Cepetan buatin!"

Xie Ke masuk saat Amy mendorong Xing Yun ke mesin kopi dan memberitahu Xia Ke bahwa Xing Yun lah yang akan membuatkannya kopi. Xia Ke senang. Tapi Xing Yun mendadak punya ide nakal untuk mengerjai Xia Ke lalu menambahkan beberapa sendok garam ke dalam kopi itu.

Amy dan Yi Yi panik berusaha mencegahnya, tapi Xing Yun tak peduli lalu menghidangkan kopi itu ke Xia Ke. Dan jelas saja Xia Ke kesal begitu mencicipinya.

Xing Yun santai saja meminta maaf setengah hati sambil beralasan bahwa di dapur sedang tidak ada gula, makanya dia terpaksa menambahkan sedikit garam ke kopi itu. Dia melakukannya demi kebaikan Xia Ke kok, dia harap Xia Ke bisa memahami niat baiknya. Dia langsung pergi dengan cuek.


Amy dan Yi Yi buru-buru membujuk Xia Ke untuk tidak marah pada Xing Yun. Dia sungguh tidak bermaksud jahataa. Ini pasti karena tekanan pekerjaan belakangan ini.

Xie Ke juga tahu kalau ini pertama kalinya Xing Yun memimpin sebuah proyek. Selama seminggu ini, dia terus bekerja siang-malam dan hanya punya waktu untuk tidur selama 3-4 jam. Dia memang mudah marah jika kurang tidur.

Xie Ke penasaran kapan demo seminarnya? Yi Yi berkata hari jumat. Mendengar itu, Xia Ke tampak memikirkan sesuatu lalu pergi.
 

Suatu hari, timnya Xing Yun (tim perencanaan) ribut berdebat dengan tim desain terkait desain proyek itu. Xing Yun dengan cepat menyela. Dia sebenarnya setuju dengan tim desain dan usul agar tim perencanaan melakukan revisi lagi dan memberi mereka versi yang lebih spesifik.

Rekannya jadi kesal. Xing Yun sendiri memang awalnya dari tim desain, pantas saja Xing Yun lebih memihak tim desain. Kalau dia mau revisi, maka Xing Yun revisi saja sendiri.

Parahnya lagi, benar-benar tak ada satupun yang menghormati Xing Yun. Saat dia meminta UI (User Interface) untuk depratemen programming, tim desain dengan ketus mengingatkan bahwa tim programming tidak ada satupun yang datang untuk rapat, jadi ngapain juga dia harus ngasih UI ke mereka? Mereka bahkan langsung pergi meninggalkan Xing Yun begitu saja.

Xing Yun benar-benar kesulitan menghadapi semua orang yang menentangnya dan mengkritik pekerjaannya. Xing Yun terpaksa harus bekerja keras seorang diri sampai tengah malam.


Xia Ke hendak pulang saat dia melihat Xing Yun juga hendak pulang, tampak begitu lelah sampai dia tidak lihat jalan dan menubruk pintu kaca.

Xia Ke jadi khawatir, apalagi di luar gerimis. Tapi saat dia mencoba menawarkan tumpangan pulang, Xing Yun ngotot menolak dan langsung naik bus.

Xia Ke tidak bisa tenang begitu saja dan langsung membuntuti bus itu dan melihat Xing Yun ketiduran sepanjang jalan. Dia bahkan hampir melewatkan tempat pemberhentiannya jika saja Xia Ke tidak meneleponnya.


Tanpa menyadari Xia Ke ada di belakangnya, Xing Yun menjawab teleponnya Xia Ke dengan ketus. Xia Ke mau apa telepon malam-malam begini? Perlu sesuatu? Canggaung, Xia Ke buru-buru ngomel-ngomel tentang perkembangan demo gamenya yang sangat lambat, besok atur meeting untuk membahasnya.

Kesal, Xing Yun mengiyakannya dengan sopan. Tapi begitu menutup telepon, dia langsung ngamuk-ngamuk mengutuki Xia Ke dengan segala macam kata cacian tanpa menyadari Xia Ke bisa mendengar caciannya.

Xia Ke jelas kesal mendengarna. "Seharusnya kubiarkan saja kau tersesat di jalan!"


Keesokan harinya, Xing Yun mencoba lagi bicara dengan tim programming. Tapi si programmer terus saja mempersulit Xing Yun dan menyuruhnya revisi lagi. Xing Yun dengan lugunya menurutinya, tanpa menyadari kalau si programmer memang sengaja mempersulitnya.

Tak lama setelah dia pergi, Xia Ke mendatangi tim programming untuk melihat laporan perencanaan proyek itu, dan seketika itu pula dia punya ide. Dia lalu memanggil Xing Yun ke kantornya dan menyuruh Xing Yun untuk menggantikannya main game tembak-tembakan. Soalnya dia mau mengembangkan game jenis ini untuk proyek selanjutnya.

Xing Yun menolak. Pertama, dia sibuk banget. Kedua, dia tidak tahu bagaimana memainkan game itu. Ketiga, mending Xia Ke cari teman cowok saja untuk menemaninya main. Keempat...

"Keempat, aku adalah orang yang menggajimu."

Tak bisa melawan lagi, terpaksa Xing Yun menurutinya dan mulai bermain biarpun dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
 

Ibunya Chu Nan mendapati Xiao Xi lagi-lagi sendirian gara-gara ibunya harus kerja. Bahkan saking sibuknya, Xiao Xi cuma dibelikan junk food, itupun sudah dingin dan tidak enak.

Ibu sontak kesal merutuki Shen qing karena meninggalkan anaknya sendirian. Tapi Xiao Xi dengan bijak meminta Ibu untuk tidak menyalahkan ibunya. Bagaimanapun, ibunya sudah bekerja keras untuk membesarkannya.

"Kau dewasa juga." Kagum Ibu. Ia lalu memberikan bekal makan siangnya untuk Xiao Xi. Dan Xiao Xi benar-benar sanat menikmatinya, Ibu pun senang, tampak jelas ia menyukai Xiao Xi.


Xing Yun masih terus main dengan arahan dari Xia Ke sampai petang. Saat dia kebingungan mencari utem, Xia Ke yang tidak sabaran, tiba-tiba saja mendekat dan menempelkan tangannya ke Xing Yun, menuntun tangan Xing Yun dalam memainkan gamenya.

Xing Yun jadi gugup gara-gara itu. Tapi saat pihak lawan melancarkan serangan, Xing Yun mendadak heboh melepaskan tangannya dan jadilah dia kalah. Berusaha membela diri, Xing Yun mengingatkan kalau dia memang tidak pandai dalam game tembak-tembakan semacam ini. Dia tuh cewek.

"Ini bukan masalah gender, tapi masalah IQ!" Kesal Xia Ke. Pokoknya mulai sekarang, setiap hari selama jam makan siang dan sepulang kerja, Xing Yun wajib datang kemari untuk latihan selama satu jam. Dia harus latihan sampai dia jadi ahli.


Gara-gara kebanyakan main game, tangan Xing Yun jadi bengkak sekarang. Xing Yun benar-benar heran dengan bosnya itu, seharian cuma main game, apa dia tidak melakukan hal lainnya? Yi Yi mengiangatkan bahwa bos perusahaan game memang harus pintar main game.

mengalihkan topik ke masalah proyeknya, Xing Yun langsung curhat tentang semua orang yang menyerangnya dari segala sudut dan meremehkannya. Tiba-tiba Amy datang memberitahu mereka bahwa Xing Yun akan makan besar nanti malam, Xia Ke akan mentraktir semua orang di proyeknya Xing Yun untuk makan malam bersama nanti malam.

Xing Yun jelas heran mendengarnya, proyek mereka bahkan belum ada perkembangan, kenapa tiba-tiba makan malam bersama? Mencurigakan, Xing Yun tidak mau ikut saja. Tapi Amy memberitahu bahwa Xia Ke menuntut semua orang untuk datang, tidak boleh ada alasan.


Yang tak disangkanya, Xia Ke dengan sengaja membuat semua orang berpikir bahwa acara traktiran makan malam ini adalah idenya Xing Yun. Semua orang jadi merasa tak enak dengan sikap mereka terhadap Xing Yun selama ini, mereka semua sontak mengangkat gelas dan berterima kasih pada Xing Yun. Xing Yun bingung, tapi dia mengiyakannya saja.

Usai makan, para pria memutuskan untuk tanding main game tembak-tembakan.  Mereka mencoba mengajak Xia Ke, tapi Xia Ke dengan sengaja menyuruh mereka untuk tanding sama Xing Yun saja. Dia mengklaim kalau Xing Yun sangat hebat dalam game ini.

Para pria langsung setuju. Jarang-jarang mereka melihat cewek main game beginian. Tak bisa melawan, terpaksa Xing Yun menurut. Dan ternyata latihannya selama ini tidak sia-sia, Xing Yun dengan mudah mengalahkan para pria itu sampai membuat mereka semua kagum padanya, termasuk tim programming yang selama ini selalu meremehkannya.

Bersambung ke part 2

1 komentar: