Sinopsis Lucky's First Love Episode 6 - 1

Sinopsis Lucky's First Love Episode 6 - 1

Chu Nan dan Xia Ke terburu-buru datang ke kamar rawatnya Xiao Xi dan mendapati Xiao Xi demam tinggi. Ibunya Chu Nan datang saat itu juga dan langsung mengecek keadaannya.


Luka kakinya tidak kenapa-kenapa, jadi ibu menyimpulkan kalau ini hanya demam pasca operasi, itu hal yang wajar jadi mereka tidak perlu terlalu khawatir. Yang penting mereka harus mengawasi kondisinya dengan hati-hati.

Xia Ke menyuruh Shen Qing pulang saja dan istirahat, biar dia yang menjaga Xiao Xi. Chu Nan pun langsung menawarkan diri menjaga Xiao Xi, tapi Shen Qing dengan tegas menarik batas di antara mereka dan mengingatkan Chu Nan bahwa ini bukan urusannnya. Jadi Chu Nan sebaiknya pergi saja.


Karena harus menjaga Xiao Xi di rumah sakit, Xia Ke menelepon Amy dan memberinya beberapa instruksi terkait beberapa meeting dan meminta Amy untuk mengantarkan laptopnya ke rumah sakit.

Tapi saat dia hendak pergi ke rumah sakit, Xing Yun mendadak menghentikannya karena roknya kena noda darah bulanannya. Terpaksalah Amy meminta Xing Yun untuk menggantikannya mengantarkan laptopnya Xia Ke ke rumah sakit.

Dia langsung mencoba menghubungi Xia Ke sesampainya di rumah sakit, tapi teleponnya tidak diangkat. Karena saat itu, Xia Ke sedang sibuk berdiskusi dengan Ibunya Chu Nan tentang kondisinya Xiao Xi.

Xing Yun jadi bingung, apa mungkin Xiao Xi yang dirawat di sini... atau mungkin Xia Ke yang justru dirawat gara-gara kepalanya kena benturan saat main Paintball waktu itu. Gawat! Kalau beneran begitu, Xing Yun bakalan kena masalah besar.

Dengan pikiran itu, Xing Yun langsung memutuskan untuk mendatangi departemen otak. Tapi berhubung nunggu lift kelamaan, Xing Yun akhirnya memutuskan naik tangga.


Xia Ke sendiri baru melihat ponselnya dan mendapati misscall dari Xing Yun dan Amy. Dia langsung menelepon Amy yang memberitahunya bahwa Xing Yun-lah yang pergi ke rumah sakit mengantarkan laptopnya Xia Ke.

Xia Ke mendadak cemas kalau-kalau Xing Yun ketemu sama Chu Nan. Dia langsung bergegas keluar mencari Xing Yun sambil meneleponnya.

Xing Yun hendak mengambil ponselnya saat tak sengaja dia bertubrukan dengan seorang pria. Hmm, entah siapa pria itu. Tapi sepertinya dia akan mencurigakan. Saat Xing Yun menyebut nama Xia Ke, seketika itu pula nama itu menarik perhatian pria misterius itu.

Tak sengaja mereka bertemu di tangga itu, dan seketika itu pula si pria misterius langsung pergi. Xing Yun cemas, apa Xia Ke di sini karena kepalanya terluka gara-gara kejadian waktu itu? Xia Ke menyangkal.

"Terus kenapa anda ada di sini? Apa Xiao Xi dirawat di sini?"

"Betul."


Xing Yun langsung menyerahkan laptopnya dan pamit soalnya dia masih ada meeting sore nanti. Titip salam sama Xiao Xi, kapan-kapan dia akan datang menjenguknya.

Tapi Xia Ke ngotot mau mengantarkannya keluar dan buru-buru membalik Xing Yun secara paksa untuk menghalangi pandangan Xing Yun saat ada Chu Nan yang lewat di depan.

Tanpa mereka ketahui si pria misterius itu diam-diam mengintip ke dalam kamar rawatnya Xiao Xi, dan dia bergegas pergi saat perawat keluar.

Karena Chu Nan keluar pintu timur, Xia Ke langsung mendorong Xing Yun keluar lewat pintu selatan dengan alasan macet di jalur pintu timur itu.
 

Tapi saat Xing Yun naik taksi, dia malah mendapati pak supir membawanya melewati area pintu timur yang katanya Xia Ke tadi lagi macet. Pak supir memberitahunya bahwa jam segini area ini justru tidak macet, malah ini jalur terbaik di jam segini. Xing Yun jelas bingung mendengarnya.

Tak sengaja dia melihat Chu Nan lewat di depan rumah sakit. Xing Yun langsung berhenti di sana dan bergegas menghampiri Chu Nan, dia sedang apa di sini? Apa ada anggota keluarganya yang dirawat di rumah sakit ini?

Chu Nan yang jelas-jelas sedang berusaha menghindari Xing Yun, kontan panik bertemu dengannya di sini. Dengan canggung dia beralasan kalau adiknya sakit, dia baru saja datang menjenguknya.

Ada masalah sama jantung adiknya, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok. Terus Xing Yun sendiri sedang apa di sini?

"Aku baru saja mengantarkan laptopnya Pak Xia. Putranya Shen Qing juga dirawat di sini."

"Oh, benarkah?" Chu Nan pura-pura bodoh.


Dan Xing Yun dengan polosnya mempercayainya dan bingung sendiri, masa Chu Nan tidak tahu? Katanya Xia Ke, Chu Nan menurunkan Shen Qing di rumah sakit ini waktu itu?

Chu Nan mengklaim bahwa beberapa hari ini begitu banyak hal yang terjadi, dia jadi tidak mengingat tentang itu. Xing Yun jadi cemas, apa Chu Nan baik-baik saja? Sepertinya dia agak pucat.

"Aku baik-baik saja. Maaf, aku tidak ada waktu untuk membalas pesanmu."

"Tidak masalah kok, lagipula tidak ada yang penting."

Canggung melihat wajah sendu Chu Nan, Xing Yun buru-buru pamit balik ke kantor dan menyarankan Chu Nan untuk segera pulang dan istirahat. Tapi Chu Nan tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama nanti malam.


Di restoran, mereka tak sengaja bertemu dengan kenalannya Chu Nan yang penasaran dengan Xing Yun. Chu Nan dengan canggung memperkenalkan Xing Yun sebagai pacarnya.

Tapi si kenalan yang seperti sudah mabuk, mendadak nyerocos meminta Xing Yun untuk membantu Chu Nan keluar dari hubungannya yang buruk. Untung saja pacarnya pria itu buru-buru mendorongnya pergi.

Xing Yun penasaran, apa maksudnya dengan hubungan buruk tadi? Chu Nan berbohong kalau pria itu tadi cuma bercanda. Tapi sepanjang makan malam, Chu Nan terus minum-minum sampai mabuk tanpa memedulikan Xing Yun. Bahkan setelah selesai, dia pergi begitu saja meninggalkan Xing Yun.

"Kenapa pacaran rasanya jauh lebih melelahkan daripada bekerja?" Gerutu Xing Yun.


Gara-gara itu, keesokan harinya di kantor, Xing Yun jadi melamun menatap hadiah yang ingin dia berikan pada Chu Nan. Tepat saat itu juga, Xia Ke lewat dengan ditemani Amy yang nyerocos melaporkan semua schedule-nya Xia Ke sepanjang hari ini yang rata-rata adalah jadi pembicara di beberapa seminar.

Amy berkata bahwa Xia Ke diperbolehkan membawa satu orang bersamanya. Mendengar itu, Xia Ke langsung mengajak Xing Yun pergi bersamanya. Amy pun menyemangati Xing Yun untuk ikut saja soalnya ini seminar tahunan bagi para pengembang game.


Xing Yun pun langsung semangat mengikuti Xia Ke. Apa mereka juga akan ikut dinner party nanti malam? Xia Ke membenarkan, dia akan memberikan pidato nanti. Kenapa? Xing Yun lapar?

Tidak, dia cuma tanya kok. Tapi agenda acara ini menyebutkan ada banyak orang ebrbakat di industri ini yang akan ikut bergabung di sesi paralel, apa dia boleh ikut ke sana? Dia pasti akan segera balik ke aula utama untuk mendengarkan ceramahnya Xia Ke kok. Tapi Xia Ke cuma menjawabnya dengan muka datar.

"Saya cuma ingin mengumpulkan informasi-informasi yang bisa membantu saya dalam proyek."

"Pergilah," Xia Ke akhirnya mengizinkan. Xing Yun pun langsung semangat pergi ke sana.


Sementara Xia Ke memulai pidatonya, Xing Yun sibuk sendiri mencoba sebuah VR game. Tapi Xing Yun merasa VR ini kurang cocok game tembak-tembakan, dia merasa pusing saat mencobanya.

Si sales sontak menentang pendapat itu. Dengan penuh percaya diri dia meyakinkan Ming Yue bahwa game VR akan menjadi sangat terkenal di masa depan nanti.

Dan segala masalah teknis akan segera terselesaikan, termasuk masalah bikin pusing yang Xing Yun sebutkan itu. Yang penting sekarang adalah menjadi yang pertama dulu, nanti pasti akan jadi semakin populer begitu ODT (Omnidirectional Treadmills) turun harga.

Xing Yun sinis, menurutnya alat itu terlalu makan tempat. Biarpun sempat laris manis sampai dapat penghargaan, tapi nyatanya lima tahun kemudian alat itu sudah tidak diproduksi lagi karena butuh tempat yang besar dan sistem operasinya yang aneh.

Si sales tidak terima, dia tuh cewek dan nggak ngerti apa-apa tentang beginian. Lagian dia dari perusahaan mana sih?

"Aku dari TIG."

"Bukankah perusahaan itu lebih fokus ke mobile games? Berhentilah berkomentar di sini dan pergilah," usir si sales kesal.

Bersambung ke part 2

1 komentar: