Sinopsis Lucky's First Love Episode 5 - 2

Sinopsis Lucky's First Love Episode 5 - 2

Setelah beberapa lama, operasi akhirnya selesai. Chu Nan berterima kasih dengan canggung pada ibunya. Tapi Ibu tetap bersikeras menolak menyetujui hubungan mereka.


"Percayalah pada saya, saya tidak akan menganggu anda lagi." Janji Shen Qing. "Kami akan pindah ke rumah sakit swasta setelah putra saya bangun nanti."

Chu Nan tidak setuju, Xiao Xi masih butuh perawatan lanjutan dan rumah sakit ini adalah rumah sakit terbaik, jadi lebih baik Xiao Xi tetap dirawat di sini.

Salah satu perawat setuju dengan Chu Nan, rumah sakit swasta sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rumah sakit mereka. Sebaiknya dia jangan melakukan hal bodoh, kalau kaki Xiao Xi cacat, nanti Shen Qing menyesal loh.

Ibu dengan cepat menyuruh perawat untuk membawa Xiao Xi ke kamar rawat lalu nyinyir mengomeli kedua orang itu. "Kalau kalian benar-benar peduli pada Xiao Xi, pikirkan ke mana kalian pergi saat Xiao Xi terluka."


Xing Yun terbangun gara-gara suara ribut kedua temannya di luar, galau ingin membangunkan Xing Yun tapi ada tanda 'Don't Disturb' di depan pintu, takutnya mereka mengganggu Xing Yun dan Chu Nan. Sepertinya mereka berdua belum bangun dan terjaga sepanjang malam, hihihi.

Tapi Amy ngotot mau membangunkan Xing Yun, takutnya dia dikira mangkir kerja. Mereka santai saja menempelkan kuping-kuping mereka di pintu... tepat saat Xing Yun mendadak membukakan pintu untuk mereka.

"Ngapain kalian di sini?"

"Kami tidak mengganggu kalian kan? Kami cuma mau mengajak kalian sarapan. Di mana Chu Nan?"

"Terjadi situasi darurat dan dia pergi semalam."

Amy dan Yi Yi tak percaya mendengarnya, jadi semalam Xing Yun tidur sendirian? Sia-sia dong usaha mereka. Dasar Xing Yun! Eh, tapi Yi Yi dengar kalau Shen Qing juga balik semalam.

Xing Yun membenarkan, putranya Shen Qing terluka, makanya dia harus balik semalam. Dia dan Chu Nan pulang bareng, satu mobil.

"Ternyata dia tidak sesederhana yang kita pikirkan. Dia single mother, menjalankan toko bakery sendiri. Pun begitu, dia tetap memiliki kehidupan yang indah." Komentar Amy.

"Terus kenapa? Kalau aku seorang cowok, aku pasti akan jatuh cinta sama Xing Yun."

"Jangan terlalu dipikirkanlah."

Xing Yun yakin kalau apa yang dialami kedua orang itu murni cuma kebetulan saja. Mereka lalu buru-buru keluar untuk menjalankan kegiatan outing selanjutnya.


Xing Yun ketiduran sepanjang perjalanan, Amy usil memotretnya. Parahnya lagi, Dong Dong tiba-tiba heboh menunjukkan sesuatu pada rekan-rekan lainnya, ternyata Amy mengunggah video Xing Yun saat dia pakai baju tidur s~~si dan sekarang postingan itu jadi viral dengan cepat.

Terang saja Xing Yun jadi kesal dan berusaha merebut ponselnya Amy. Panik, Amy berusaha menjauhkan ponselnya, tapi Xia Ke dengan santainya mengambil ponsel itu lalu men-delete postingan. Syukurlah! Xing Yun benar-benar berterima kasih padanya.

"Dasar memalukan," rutuk Xia Ke sambil tersenyum manis.

Tapi senyumnya menghilang dengan cepat saat pegawai lain mulai menanyakan alasan Chu Nan mendadak pergi. Dong Dong bahkan agak curiga dengan perginya Chu Nan dan Shen Qing yang menurutnya terlalu kebetulan.

"Dong Dong, apa kau berusaha membuat masalah? Nyebelin, tahu nggak." Sebal Yi Yi.

"Kau itu tidak tahu apa-apa, dia tidak punya pengalaman bertempur sama sekali. Sebagai orang yang lebih berpengalaman, aku harus memberinya nasehat."

Terima kasih atas nasehatnya, tapi Xing Yun percaya kalau Chu Nan bukan orang semacam itu. Xia Ke sontak memutar matanya dengan sinis.

"Dan tentang pengalaman bertempurku, kau akan mengetahuinya saat kita main Paintball nanti. Weeeek!"

Mendengar itu, Xia Ke tiba-tiba mengumumkan bahwa siapapun pemenang Paintball nanti, akan mendapatkan cuti 3 hari digaji plus bonus uang. Jelas saja semua orang sontak bersorak heboh.


Setibanya di arena Paintball, semua orang dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari dua orang dengan cara mengambil stik warna-warni. Siapa saja yang memiliki warna stik yang sama, jadi satu kelompok.

Saat tengah mencari partnernya, Amy yang mendapat stik warna hijau, malah ngeri sendiri saat mendapati Xia Ke lah yang memiliki stik berwarna sama dengannya.

Maka dengan cepat dia mendekati Xing Yun yang mendapat stik merah dan beralasan bahwa hari ini ramalan zodiak bilang bahwa warna keberuntungannya adalah merah. Dan bahkan meminta persetujuan Xing Yun, dia langsung saja menukar stik mereka lalu pergi.

Xing Yun jelas kesal sama Amy begitu mengetahui siapa rekan timnya. Tapi terpaksalah mau tak mau, dia harus satu tim dengan Xia Ke.

"Kau mau dapat dicuti ditanggung?"

"Tentu saja. Anda yakin kita bisa melakukannya?"

"Kalau begitu pintarlah dan jangan bergantung padaku."

"Semua orang sama di medan perang. Orang-orang itu pasti akan mengambil keuntungan dari kesempatan ini untuk melampiaskan amarah mereka. Kurasa andalah yang akan bergantung padaku," gumam sinis Xing Yun.

"Kau bilang apa?"

"Saya bilang saya akan melindungi anda!"


Xing Yun benar-benar bermain dengan serius, tapi Xia Ke malah santai-santai saja. Xing Yun sampai gregetan dibuatnya, serius dikit napa?

"Apa kau tahu apa rahasia memenangkan sebuah game?" Santai Xia Ke.

"Lari cepat, tepat dan akurat, dan respon cepat."

Tepat sata itu juga, Xia Ke melihat target di depan dan langsung mengoreksi Xing Yun. Pertama, jangan asal menembak sembarangan, amati dengan seksama lalu bidik. Dia langsung mengangkat senjatanya dan membidik Amy tepat sasaran. Wah! Xing Yun kagum padanya.

Game berlangsung dengan seru, yang lain heboh tembak-tembakan, tapi Xia Ke santai menuntun Xing Yun untuk mendekati musuh secara diam-diam sambil terus mengajarinya cara-cara memenangkan game.

Cara kedua, kita harus bisa mengenali mana rekan dan mana musuh. Melihat dua target di hadapannya, Xia Ke tiba-tiba melempar batu ke tengah-tengah mereka. Dan itu sukses membuat mereka kaget sehingga mereka salah mengira ada musuh dan refleks keduanya saling menembak satu sama lain padahal mereka rekan satu tim.

"Ketiga, jangan bingung dengan apa yang kau dengar dan kau lihat." Ujar Xia Ke lalu membidik satu target lagi dengan mudah.


Tiba-tiba dia melihat musuh muncul mendadak dari belakangnya Xing Yun. Xing Yun sontak menjerit heboh sambil menembakkan pistolnya asal-asalan, tapi sukses menjatuhkan lawan.

"Xing Yun, kau bahkan bisa menembakku dengan cara seperti itu. Kau benar-benar beruntung." Kesal si lawan.

Xing Yun jadi sombong gara-gara itu, dia rasa teknik-teknik rahasianya Xia Ke itu hanya akan berguna bagi orang-orang yang kurang beruntung.

Tapi mereka agak kesulitan menghadapi Dong Dong dan Yi Yi yang menyerang mereka dengan ganas. Berpikir cepat, Xia Ke dengan liciknya mengorbankan Xing Yun dan mendorongnya dari persembunyian.

Idenya sukses membuat Yi Yi terpancing untuk keluar dari persembunyiannya juga dan Xia Ke secepat kilat menembak Yi Yi sebelum Yi Yi sempat menembak Xing Yun.

Xing Yun kesal, "bisa tidak anda bilang-bilang dulu sebelum menjadikanku sebagai umpan? Bagaimana kalau aku kena tembak?"


Mengabaikan protesnya, Xia Ke menyuruhnya berpencar dan menarget Dong Dong. Xing Yun dengan cepat menangkap Dong Dong. Tapi alih-alih langsung menembaknya, Xing Yun malah santai-santai mengancam Dong Dong untuk tidak bicara buruk tentang pacarnya, bahkan menyuruh Dong Dong untuk menjilatnya.

Maka Dong Dong pun langsung mengucap berbagai kata-kata gombal sambil diam-diam mengambil pistolnya. Tapi Xia Ke yang sedari tadi sudah tidak sabaran mendengarkan percakapan mereka, langsung menembak Dong Dong tanpa ampun.


Sekarang hanya tinggal dua tim yang tersisa dan keduanya saling menembak dengan seru. Xing Yun tiba-tiba menyatakan mau mengorbankan dirinya jadi umpan. Tapi dia tidak lihat jalan, dan jadilah dia tersandung ban hingga dia oleng.

Xia Ke refleks melemparkan dirinya untuk melindungi Xing Yun hingga kepalanya terantuk tanah. Sebenarnya dia baik-baik saja tapi dia pura-pura pingsan. Tim lawan berniat mau menembaknya saja mumpung ada kesempatan, tapi Xing Yun yang yakin Xia Ke terluka, jadi panik sendiri menyuruh mereka memanggil dokter.

Tim lawan akhirnya memutuskan untuk pergi memanggil dokter, tapi Xia Ke mendadak bangkit dan langsung menembak mereka dari belakang. Dan karena mereka tidak berani marah-marah pada Xia Ke, akhirnya Xing Yun yang dijadikan kambing hitam dan diprotes habis-habisan dan dituduh menipu mereka.


Xing Yun tidak terima, tega sekali Xia Ke memenangkan pertandingan ini dengan memanfaatkan kepeduliannya pada Xia Ke. Xia Ke santai beralasan kalau dia hanya membantu Xing Yun, bukankah Xing Yun berniat menggunakannya sebagai umpan?

"Tidak! Saya benar-benar mengkhawatirkan anda!"

Xia Ke senang. "Kau sungguh-sungguh mengkhawatirkanku?"

"Tentu saja! Anda terluka karena menolongku. Kalau sampai terjadi sesuatu pada anda... saya tidak akan sanggup menanggung biaya medisnya." Kesal Xing Yun lalu pergi.

Bersambung ke part 3

1 komentar: