Sinopsis Lucky's First Love Episode 4 - 1

Sinopsis Lucky's First Love Episode 4 - 1

Chu Nan menebak dengan tepat, masalah ini takkan terjadi jika saja bosnya tidak menyuruhnya lembur. Jadi sudah pasti bosnya Xing Yun tidak mungkin meninggalkannya sendirian, kan?


"Benar. Tapi bosku tuh cowok. Aku sebenarnya ingin memberitahumu, tapi aku takut tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Dan karena waktu itu sudah larut malam, jadi aku terpaksa harus tinggal di rumahnya. Tapi sungguh tidak terjadi apapun antara aku dan dia!"

Alih-alih cemburu atau cemas, Chu Nan apa geli mendengarnya, apa Xing Yun takut dia salah paham? Xing Yun bingung melihat reaksinya, bukankah biasanya begitu.

"Jangan khawatir, aku tidak akan salah paham. Kalau kau punya hubungan dengan bosmu, kau tidak akan mau kencan buta."

Xing Yun senang mendengarnya, terima kasih sudah mempercayainya. Canggung, Chu Nan cepat-cepat pamit dengan alasan sudah larut malam.


Setelah Chu Nan pergi, Xing Yun akhirnya mengangkat ponselnya... dan langsung kaget menydari Xia Ke masih ada di sana sedari tadi. Aduh, maaf sudah membuat Xia Ke menunggu selama dua jam. Xia Ke pasti merasa bosan.

"Tidak sama sekali. Aku makan malam sambil mendengarkan percakapan bodohmu dengan pacarmu."

"Apa?! Bagaimana bisa anda menguping kami?!"

"Yang kapan hari itu juga kau menggosipkan kehidupan pribadiku di grup chat."

"Jadi anda balas dendam?" Gumam Xing Yun kesal.

Tapi Xia Ke sungguh tak menyangka kalau Chu Nan sangat percaya pada Xing Yun. Yang itu artinya, Chu Nan berpikir bahwa takkan ada seorang pria pun yang akan tertarik pada Xing Yun.

Xing Yun kesal mendengarnya. Ini pasti sulit dipahami oleh Xia Ke, tapi orang dewasa tuh memang begitu. Mereka sama-sama menghormati kehidupan pribadi satu sama lain dan saling mempercayai. Ini namanya cinta dewasa. Jika saja Xia Ke belajar dari pacarnya, maka Shen Qing tidak akan salah paham terhadap mereka.

Xia Ke emosi. "Belajar dari dia? Aku tidak bodoh sepertimu!"

Terserahlah, lagian Xing Yun sama sekali tidak punya kewajiban untuk menjelaskan tentang kehidupan pribadinya pada Xia Ke lalu mematikan sambungan mereka sebelum Xia Ke sempat ngomong lebih lanjut.


Xing Yun langsung ngantor begitu kakinya sudah mulai agak sembuh. Hari itu, Chu Nan datang menjemputnya dan dengan lembut membantu memapahnya ke mobil.

Kebetulan mereka berhenti di lampu merah yang berada tepat di depan tokonya Shen Qing. Chu Nan sontak menatap toko itu dengan sedih. Xing Yun salah paham mengira Chu Nan mau makan kue, apa dia mau mampir sebentar ke toko itu?

"Tidak."

"Apa begitu memalukan bagimu untuk mengakui bahwa kau suka makan kue?"

Tepat saat itu juga, Chu Nan melihat Shen Qing keluar dijemput oleh seorang pria. Teringat ucapan Xiao Xi tentang ayahnya Nina yang katanya ingin menikahi Shen Qing, Chu Nan sontak jadi emosi dan tanpa pikir panjang, langsung ngebut mengejar mobil itu.



Xing Yun sampai ketakutan, tapi Chu Nan terlalu fokus dengan targetnya sampai dia mengabaikan Xing Yun. Tapi tiba-tiba dia terhalang lampu merah, dia sontak mengerem mendadak hingga membuat Xing Yun tersentak ke depan dan gelang gioknya patah terbentur dasbor.

Xing Yun jadi merasa bersalah karenanya. Tapi Chu Nan bahkan tidak mepedulikan gelang itu... dan saking emosinya, tiba-tiba saja berkata tanpa pikir panjang. "Xing Yun... ayo kita menikah." (Hah?!)


Gara-gara lamaran dadakan itu, mereka jadi saling terdiam canggung sekarang. Chu Nan. Apa Xing Yun ketakutan karena lamaran dadakannya tadi? Tapi XIng Yun malah menghindarinya dengan mengalihkan topik ke masalah gelangnya yang patah, dia ingin mengganti rugi gelang ini.

"Apa kau menolak lamaranku?"

"Bu-bukan! Err... iya... eh, bukan... maksudku, aku belum berpikir untuk menikah sekarang mengingat kita baru saling mengenal sebulan yang lalu. Kurasa gelang ini mahal. Jika aku tidak sanggup membayarnya, aku akan bayar dengan cicilan bulanan! Aku juga bersedia menulis surat hutang kok."

Chu Nan geli mendengarnya. Biarpun Xing Yun tidak mau menikah dengannya, tapi jangan anggap dia cowok pelit lah. Bagaimanapun Chu Nan minta maaf, belakangan ini dia benar-benar merasa tertekan. Jadi lupakan saja lamarannya tadi.

Xing Yun khawatir, dia ada masalah apa? Apa masalah pekerjaannya? Tapi Chu Nan menolak menjawab dan menyuruhnya masuk saja, takutnya orang tuanya Xing Yun cemas lagi. Xing Yun pun pergi, dan baru saat itulah Chu Nan menyesali perbuatannya sendiri.
 

Keesokan harinya, Xing Yun menemui sepupunya yang sekaligus mak comblangnya mereka di sebuah toko bridal karena si Sepupu mau menikah. Saat menceritakan lamarannya Chu Nan kemarin, terang saja si Sepupu senang, mengira perjodohannya berhasil.

Terus mana cincin berliannya? Kapan mereka nikah? Di mana mereka akan mengadakan upacara pernikahan? Bagaimana kalau Xing Yun mencoba gaun pengantin juga? Dia mau tanya Chu Nan saja!

Xing Yun sontak menghentikannya dan mengaku kalau dia tidak bilang iya. Mendengar itu, si Sepupu langsung ceramah panjang lebar menasehati Xing Yun untuk menjadi seperti dirinya yang hobi gonta-ganti suami, biar dia punya seseorang yang bisa diandalkan dan merasa aman karena sifat alami wanita tuh seperti binatang yang mencari sarang dan pernikahan itu adalah sarangnya. Malas mendengarkan ocehan gajenya, Xing Yun sontak menarik tali korsetnya kencang-kencang untuk membungkam mulut si Sepupu.


Para investor kurang setuju dengan pilihan perencana proyek yang dipilih Xia Ke untuk proyek game terbaru mereka mengingat orang ini sama sekali tidak punya pengalaman dalam bidang perencanaan.

Wanita itu bahkan tidak punya pengalaman dan bukan lulusan universitas ternama. Bagaimana kalau mereka sendiri yang memilihkan perencana lain yang lebih ahli dan handal?

Xia Ke menolak, dia percaya pada pilihannya. Lagipula yang paling penting bukannya kualifikasi tapi kemampuan. Banyak orang yang menyelesaikan pekerjaan mereka dengan menggunakan karya orang lain sebagai referensi, beberapa bahkan ada yang menjiplak. Yang mereka butuhkan adalah seseoranag yang punya semangat tinggi dalam pekerjaannya dan punya pikiran kreatif.

 

Xing Yun mencoba gaun pendamping wanita, dan tampak begitu cantik sampai si Sepupu iri. Dia lalu memotretnya... lalu berniat mau mengirimnya ke Chu Nan.

Kaget, Xing Yun sontak berusaha merebut ponseln kembali. Tapi si Sepupu langsung menjauhkan tangannya dan secepat kilat mengetik 'Chu Nan, cepat nikahi aku' lalu asal saja mengirim ke kontak yang berada paling atas.


Yang tidak dia ketahui, pesannya itu malah terkirim ke Xia Ke (Pfft!) Xia Ke sampai hampir kehilangan konsen dengan meeting-nya gara-gara foto dan pesan itu.

Si investor tetap kurang setuju dengan pilihan Xia Ke. Mengalihkan perhatiannya dari foto itu, Xia Ke mengingatkan si investor bahwa dia juga kan berinvestasi dalam 3 game lain.

Proses produksi dan update ketiga game lain itu memang lebih cepat daripada game mereka, tapi bukankah hanya game mereka yang menghasilkan untung paling besar?

Dia lalu buru-buru menyudahi meeting ini dengan alasan biar dia bisa mengawasi dan mendorong perkembangan proyek ini agar lebih efektif.


Dari toko bridal, Xing Yun makan ramen di mini market. Yi Yi menelepon dan menyuruhnya untuk cepat balik, Amy tadi sudah menelepon dan bilang kalau Xia Ke sedang dalam perjalanan kembali sekarang.

"Bukankah dia ada meeting dengan para investor? Kenapa dia kembali begitu cepat? Apa dia menyinggung para investor lagi?"

"Kau mengenalku dengan baik," sahut Xia Ke yang mendadak muncul dari belakangnya.

Xing Yun sampai terbatuk-batuk saking kagetnya. Dia berusaha menghindar dengan alasan balik ke kantor, tapi Xia Ke dengan cepat memanggilnya kembali dan menyuruhnya untuk menghabiskan ramennya.


"Apa kau tahu hal paling sensitif dalam sebuah hubungan?"

"Tentu saja putus."

"Pernikahan."

"Kenapa? Bukankah menikah adalah happy ending bagi semua orang?"

"Tapi itu juga berarti game over," ujar Xia Ke lalu menunjukkan foto Xing Yun yang diterimanya tadi dan sontak membuat Xing Yun tercengang. Baru tahu kalau foto itu ternyata terkirim ke Xia Ke.

"Kau absen kerja untuk foto-foto?"


Panik, Xing Yun menjelaskan kalau ini sepupunya yang foto. Mungkin dia salah kirim karena dia menaruh kontaknya Xia Ke di daftar paling atas. Maaf, tidak seharusnya dia absen hanya demi menemani sepupunya.

"Jadi kau sangat ingin menikah?"

"Tidak! Tidak! Saya tidak bilang iya kok." (Oops! Keceplosan)

Xia Ke tercengang mendengarnya, jadi Chu Nan beneran melamarnya? Pffffft!Saking kagetnya, Xing Yun sontak menyemburkan ramen yang dimakannya tepat mengotori bajunya Xia Ke.

Bersambung ke part 2

2 komentar: