Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 8 - 2

Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 8 - 2

Malam harinya, Ming Yue curhat sedih pada kuda kesayangannya. Dia sungguh tidak ingin mengecewakan kakak keduanya, tapi dia takut tidak akan bisa mempertahankan posisi ini.


Tepat saat itu juga, dia melihat Li Qian datang. Dia langsung menyembunyikan diri sebelum Li Qian melihatnya. Melihat kuda itu, Li Qian juga langsung ngobrol sama dia dan tanya. "Kau kan dari Xiyue. Katakan padaku, perasaan pasca hipnotis, mana yang nyata dan mana yang palsu?"

Tapi tentu saja dia tidak bisa mendapatkan jawaban apapun. "Apa yang kau tahu? Makan. Setelah makan, kau akan kuat dan bertenaga dan mampu pergi ratusan mil setiap hari."

Li Qian akhirnya pergi tanpa menyadari bahwa kata-katanya yang ambigu itu membuat Ming Yue jadi semakin sedih, berpikir kalau Li Qian benar-benar akan menceraikannya lalu mengirimnya kembali ke Xiyue.


Cheng datang tak lama kemudian dengan keheranan, kenapa Ming Yue tidak kembali ke kamar untuk istirahat, ini kan sudah tengah malam?

"Mana bisa aku tidak, Pangeranmu mungkin akan menceraikanku."

"Putri, anda khawatir terlalu berlebihan."

"Kenapa begitu susah baginya untuk tidaka membenciku?"

Berusaha menghiburnya, Cheng membeberkan rahasia bahwa Pangeran sebenarnya menghabiskan semua kue osmanthus buatan Ming Yue kemarin. Jika Li Qian benar-benar membenci Ming Yue, kenapa juga dia repot-repot menghargai masakan buatan Ming Yue.

Ming Yue tak percaya. "Bahkan kau pun mempermainkanku."

"Itu karena Pangeran tidak memakannya dia hadapan Putri."

"Maksudmu... kue osmanthus-nya benar-benar menaklukkan perutnya? Kau tidak bohong, kan? Sungguh?"

"Saya benar-benar jujur."

Mood Ming Yue membaik seketika dan akhirnya dia mau juga kembali ke kamarnya.


Keesokan harinya, Li Qian sedang latihan panahan saat Ming Yue datang dengan membawakan kue osmanthus lagi. Tapi Li Qian masih marah padanya dan mengabaikannya.

Tidak terima dicuekin, Ming Yue langsung menempatkan dirinya sendiri di depan papan target, secara tak langsung menantang Li Qian untuk menembaknya. Tapi yang tak disangkanya, Li Qian tanpa ragu mengambil anak panahnya lalu mengarahkannya padanya.

Ming Yue tak gentar. Li Qian galau, tapi akhirnya, dia tetap menembakkan panahnya... tepat melewati sisi Ming Yue dan menancap di papan target. Fiuh! Li Qian langsung pergi setelah itu, meninggalkan Ming Yue yang terdiam di tempat dengan berlinang air mata.


Li Qian baru kembali malam harinya untuk mengambili anak-anak panahnya kembali. Tapi tangannya membeku saat hendak mengambil panah yang hampir mengenai Ming Yue tadi.

"Pangeran, apa anda mengkhawatirkan Putri?" Tanya Que Yan.

Dia menawarkan diri untuk mengecek keadaan Ming Yue demi Li Qian, tapi Li Qian ketus menyangkal dan bersikeras kalau dia tidak mengkhawatirkan seorang pembohong. Dia bahkan menyatakan tidak mau melihat Ming Yue selama beberapa hari ke depan. Suruh Ming Yue untuk tidak muncul di hadapannya.
 

Tapi terlepas dari sikap sok jaimnya, nyatanya waktu tengah malam, Li Qian mendadak bangkit lagi dari tidurnya dalam keadaan tak sadar, dia mengambil obat dan perban lalu berjalan ke papan target... lalu memeluk papan target itu dengan sayang dan mengoleskan obatnya ke anak panah itu dan memperbannya. Pfft!

Dia lalu mengambil anak panah itu, memeluknya, lalu membawanya kembali ke kamarnya. Dia bahkan mengecupnya, menyelimuti anak panah itu lalu tidur bergulingan bersamanya seolah anak panah itu istrinya.


Keesokan harinya, Que Yan datang melayaninya seperti biasanya sambil melaporkan keanehan di papan target. Kemarin jelas-jelas anak panahnya masih menancap di sana, tapi pagi ini anak panah itu mendadak hilang. Anehnya lagi, papan targetnya diolesi obat oleh seseorang.

Tiba-tiba dia mengendus-endus karena mencium bau obat yang sama. Canggung, Li Qian langsung melindungi selimutnya dan mengklaim kalau itu mungkin karena Que Yan belakangan ini pergi ke toko obat, makanya hidungnya Que Yan mencium bau obat di mana-mana. Keluarlah!

Begitu aman sendirian, Li Qian langsung mengeluarkan anak panah itu dari selimutnya. Dia pernah dengar bahwa beberapa tahun yang lalu ada sebuah penyakit aneh di mana para penderitanya terbangun dalam mimpinya di tengah malam. Apa mungkin dia menderita penyakit aneh itu sekarang?

Tapi sebelumnya dia tidak pernah mengalami penyakit aneh ini. Ini pasti ada hubungannya dengan hipnotisnya Ming Yue.


Hui Xin termenung memikirkan keanehan sikap Li Qian kemarin yang tampak jelas abnormal dan tidak sepertinya biasanya.

"Siapa yang abnormal?" Tanya Li Xun yang tiba-tiba datang.

Tapi dia bisa menduga dengan tepat kalau orang yang dimaksud Hui Xin pasti Li Qian. Tapi apa maksudnya Li Qian abnormal? Hui Xin menyangkal, mungkin dia hanya berpikir berlebihan.

"Kalau kau tidak mau bilang, aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau curiga tentang bagaimana adik ke-9 abnormal, maka kuberitahu kau, aku juga punya keraguan yang sama. Kurasa alasannya adalah Li Ming Yue."

Mendengar itu, Hui Xin jadi teringat berbagai kepanikan Ming Yue kemarin dan saat Li Qian mencengkeram erat tangan Ming Yue yang memakai gelang. Ingatan itu membuat Hui Xin jadi kehilangan fokus sampai dia tidak sadar sudah menumpahkan tehnya.

"Kenapa? Apa kau memikirkan apa masalahnya?"

"Aku khawatir kalau Li Ming Yue menggunakan sihir untuk menggoda orang. Bagaimana Pangeran bisa mengetahui keanehannya (Li Qian)? Dan bagaimana Pangeran menyimpulkan kalau itu berhubungan dengan Li Ming Yue? Apa Pangeran mengetahui sesuatu?"


Maka Li Xun memanfaatkan hal itu untuk menuduh Li Qian rela ditipu oleh Ming Yue dan membantu Ming Yue mendapatkan rahasia yang bisa menguntungkan Kerajaan Xiyue.

Hui Xin jelas tak percaya, dia tahu betul bagaimana Li Qian. Li Qian tidak akan pernah mengkhianati negaranya demi apapun atau siapapun.

Li Xun memberitahu Hui Xin bahwa beberapa hari yang lalu, Ming Yue dicurigai berkomplot dengan pemberontak, tapi Li Qian melindunginya di hadapan Kaisar. Dia bahkan mengklaim kalau Li Qian dan Ming Yue tidur bersama setiap malam, adiknya itu sudah sangat teracuni. Hui Xin tetap tak percaya dan menolak mendengarkan apapun lagi.


Li Xun sebenarnya benar-benar cemas kalau-kalau Li Qian benar-benar mengingat masa lalunya. Sepertinya sihirnya Ming Yue benar-benar ampuh mengembalikan ingatan Li Qian.

Pengawalnya datang saat itu, mengabarkan bahwa Kaisar memanggilnya untuk mendiskusikan perburuan. Mendengar itu, Li Xun mendadak punya ide licik untuk membuat Ming Yue ikut berburu bersama mereka. Dia lalu memberi perintah rahasia pada pengawalnya dan menegaskan bahwa kali ini tak boleh ada kesalahan apapun.


Begitu tiba di istana, Li Xun langsung mengusulkan ide untuk mengajak Ming Yue. Ming Yue kan pintar berkuda dan memanah, dia yakin kalau Kaisar juga pasti ingin melihat keahlian menunggang kudanya Ming Yue. Li Qian jelas tidak setuju, arena berburu penuh dengan pria, terlalu merepotkan jika Ming Yue ikut.

Pantang menyerah, Li Xun mengusulkan agar mereka mengajak Hui Xin juga mengingat dia adalah putri seorang komandan militer. Jadi Hui Xin bisa menemani Ming Yue. Atau jangan-jangan ada alasan lain terkait Ming Yue yang tidak bisa Li Qian katakan pada Kaisar?

Mengabaikannya, Li Qian ngotot memohon Kaisar untuk memikirkan ulang masalah ini. Dia hanya tidak ingin Ming Yue melanggar aturan. Tapi sayangnya, Kaisar memutuskan untuk menuruti Li Xun dan memerintahkan Ming Yue untuk ikut berburu karena Kaisar ingin menunjukkan kehebatan keluarga kerajaan Beixuan pada Ming Yue.

Dengan begitu, jika Ming Yue memberitahukan hal ini pada orang-orang Xiyue, mereka akan terkagum-kagum dan setia pada kerajaan mereka. Tak punya pilihan, terpaksa Li Qian harus menerima perintah itu.

Bersambung ke episode 9

1 komentar: