Sinopsis The Sand Princess Episode 8 - 2

 Sinopsis The Sand Princess Episode 8 - 2

Ki berusaha membuat Moji memakai obat tetes mata biar kelihatan kayak nangis lalu merekamnya dan mengirimnya ke Kot, menyuruh Kot untuk cepat pulang dengan alasan Moji membutuhkan ibunya. Tapi Kot mengabaikannya dan memutuskan pergi ke rumah Chot.


Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Mengira Kot pulang, Ki langsung semangat buka pintu... tapi malah mendapati Ji yang datang. Dia cari Kot? Kot lagi nggak ada di rumah. Ji menyangkal, dia justru datang untuk menemui Ki, ada yang mau dia katakan.


"Apa?"

"Aku akan mendapatkan wanitaku kembali. Aku sudah putus sama Aff."

Ki tahu itu. Semalam Aff datang padanya dan memberitahu segalanya. Dia bertengkar hebat dengan ayahnya gara-gara Aff berusaha melindungi dan membela Ji.

"Terus kau mau aku bagaimana? Aku tetap harus putus dengannya suatu hari nanti, kenapa tidak sekarang saja? Kau dan Kot juga suatu hari nanti akan cerai."

Tujuannya datang kemari adalah karena dia ingin mendapatkan istri dan anaknya kembali. Ki tampak jelas tak senang, tapi dia mengklaim kalau dia bukan rival cintanya Ji, yang seharusnya Ji khawatirkan adalah Wanchot.

Ji jadi khawatir, di mana Kot? Jangan bilang kalau Kot sedang bersama Wanchot? Ki juga tidak tahu dan langsung mengusir Ji dengan alasan ada kerjaan yang harus dilakukannya.


Chon langsung memeluk Kot begitu mereka bertemu saking senangnya, Kot tambah cantik sekarang. Katanya Kot sudah nikah yah. Awalnya dia sulit percaya loh. Dia pikir, siapa juga yang mau sama Kot? Pfft! Kot langsung kesal menendangnya.

Kot tanya bagaimana kabar kedua orang tua mereka. Chot berkata kalau mereka akan berkunjung ke Bangkok bulan depan, dia ingin membawa mereka bertemu Chot dan putrinya. Kot setuju, dia akan memasak untuk mereka.

"Sudah lama kita bertiga tidak bersama, bagaimana kalau kita buat sukiyaki seperti dulu?" Usul Chon.

Chot sudah antusias saja, tapi kemudian dia memperhatikan Kot tampak agak ragu-ragu. Apa Kot mau makan malam dengan Ki? Kot menyangkal, ada seseorang yang menemani Ki kok.


Ki mulai bingung sekarang, kenapa Kot belu pulang juga. Moji juga mulai gelisah menginginkan ibunya. Ki mendadak punya ide untuk menelepon sekretarisnya, tapi dia bingung bagaimana cara mengutarakannya.

Untungnya sekretarisnya cepat tanggap dengan keragu-raguannya, apa Ki sedang ada masalah dengan Kot? Ki menyangkal.... tapi kemudian dia tanya apakah sekretaris pernah marah sama pacarnya, apa yang harus pacarnya lakukan untuk meredakan kemarahan sekretaris?

"Anda ingin berbaikan dengan Khun Kot." Sekretaris mengerti. "Kalau saya, saya akan traktir dia makanan enak. Malah jauh lebih baik kalau anda memasaknya sendiri untuk dia. Dia pasti suka. Bagaimana kalau anda memasak untuknya?"


Ide yang bagus. Ki langsung semangat masuk dapur dan mulai memasak dengan ditemani Moji. Sayangnya, bahkan sampai petang tiba, Kot tetap saja belum pulang-pulang. Moji juga sudah mengeluh lapar. Ki akhirnya berinisiatif menelepon Kot.


Kot sendiri sedang asyik makan sukiyaki bersama Chot dan Chon. Teleponnya berbunyi saat itu, tapi bukan Ki, melainkan Ji yang menelepon dan menanyakan keberadaannya. Jangan bilang kalau Kot sedang bersama Wanchot.

"Iya. Kenapa?"

"Pulang sekarang juga. Bagaimana bisa kau meninggalkan putri kita?"

"Kakakmu bersamanya. Aku lagi makan sekarang. Dah!"


Belum juga satu menit, kali ini Ki yang menelepon dan menyuruhnya pulang. Dia dan Ji sudah menunggu Kot untuk makan malam bersama. Tapi Kot mengaku kalau dia tidak akan pulang cepat, jadi Ki makan saja duluan.

Parahnya lagi, Ki tiba-tiba mendengar suara Chot dan Chon. Wah! Ki langsung kesal, dia sedang bersama Chot? Dia makan malam bersama Chot?

"Iya. Kenapa?"

"Kenapa? Aku sedang menunggumu untuk makan malam bersamaku. Seharusnya kau bilang-bilang dulu kalau kau tidak akan pulang untuk makan malam."

"Kukira kau mau makan malam berduaan saja dengan Aff."

"Bukan itu intinya! Seharusnya kau tetap beritahu aku dulu. Aku sakit perut gara-gara menunggumu."

"Kau makan saja tanpa aku. Kenapa juga kau marah-marah padaku?"

"Aku... lapar. Udahlah, dadah!"


Kot jadi kesal banget sama kedua kakak-beradik itu. Chot dan Chon cemas mendengar pertengkaran mereka barusan. Apa Kot baik-baik saja? Sepertinya suaminya menginginkannya pulang.

"Dia bahkan tidak bisa makan tanpa aku. Dia lapar."

"Lapar atau cemburu?"

"Dia tidak mungkin cemburu."

Chot jadi semakin penasaaran, apa mereka punya masalah? Kot berbohong menyangkal. Maka Chot menyemangati Kot untuk bilang saja padanya kalu dia ada masalah apapun. Dia pasti akan membantu Kot.


Usai makan malam, Chot mengantarkan Kot pulang... tepat saat Ki baru turun ke lobi. Jelas saja dia langsung kesal tapi tetap berusaha bersikap ramah, dan jadilah dia menanggapi sapaan Chot dengan singkat dan dingin.

Begitu sampai rumah, Ki tanya di mana Kot makan malam tadi. Kot mengaku di rumah Chot, adiknya Chot juga ada di sana tadi, mereka ngobrolin kenangan masa kecil mereka.

Ki tak percaya mendengarnya, tidak sepantasnya seorang wanita datang ke rumah seorang pria. Kot kesal mau nyolot, tapi terpaksa dia menahan diri karena tak ingin bertengkar di hadapan Moji.

"Sudah kubilang kan, jangan keras-keras kalau lagi tengkar. Putri kita akan mengingatnya." Desis Kot.

Ki berusaha menahan diri, tapi ujung-ujungnya tetap saja mereka terbawa emosi. Ki menolak melepaskan masalah ini begitu saja, tidak seharusnya Kot datang ke rumah seorang pria, hormati dia dikit dong.

"Bagaimana denganmu sendiri? Kau membiarkan mantanmu menginap di rumah ini."

"Kau ingin balas dendam padaku?"

"Aku cuma mengutarakan fakta."

"Dia cuma seorang mantan."

"Mantan? Aku melihat kalian bersama."

"Apa yang kau bicarakan? Jangan mengalihkan topik. Kau yang salah."

"Bagaimana bisa aku salah? Aku bukan istri sungguhanmu."

"Tapi orang lain pikir kau istri sungguhanku. Kuperingatkan kau. Mulai sekarang, jangan pergi ke mana pun dengan pria lain. Mengerti?"


Kot males ngomong sama dia lagi dan langsung mengalihkan perhatiannya ke Moji. Ki kesal, tersera Kot deh, pooknya dia tidak akan memohon-mohon pada Kot. Kot mendadak muncul di kamarnya, Ki senang mengira Kot mengalah.

Tapi nggak tuh, Kot ternyata cuma mau mengambil bantalnya Moji lalu langsung pergi lagi dengan kepala terangkat tinggi-tinggi. Huft! Menyebalkan. Ki lagi menopause atau gimana, marah-marah cuma gara-gara hal kecil.


Aff baru pulang ke rumah tapi malah diberitahu pembantunya kalau ayahnya sudah pergi ke Perancis. Aff sinis mendengarnya, ayahnya pasti sedang bersama gundiknya.


Keesokan harinya, Kot menelepon dan curhat sama Maew. Ini pertengkaran pertamanya dengan Ki. Dia bingung bagaimana harus menghadapi Ki sekarang.

Maew mengingatkan bahwa Kot tidak mungkin menghindari Ki dan bersembunyi di kamar selamanya karena mereka tinggal satu atap. Dan yang paling penting, Kot tetap harus melaksanakan kewajibannya, Ki kan sudah membayar Kot.

Benar juga sih. Kot akhirnya keluar kamar lalu masak sarapan untuk Ki. Dia berusaha memanggil Ki untuk sarapan, tapi malah tak mendapat jawaban. Waktu dia masuk kamar juga kamarnya kosong. Kot jadi mengira kalau Ki sudah berangkat ke kantor.


Tapi di kantor, Sekretarisnya Ki malah bingung mendapati kantornya Ki kosong. Tumben, biasanya Ki tidak pernah telat. Teleponnya juga tidak diangkat. Aneh.

Sekretaris akhirnya menelepon Kot dan menanyakan keberadaan Ki. Soalnya dia jadwal meeting tapi belum datang juga, teleponnya juga tidak bisa dihubungi.


Cemas, Kot langsung masuk lagi ke kamarnya Ki dan menemukan tas kerjanya masih ada di sana. Berarti Ki masih ada di sini, di mana dia? Dia lalu mencoba mencari di kamar mandi, tapi malah mendapati Ki pingsan di lantai yang jelas saja membuat Kot makin panik. Ki sempat tersadar sebentar sebelum kemudian pingsan lagi.

Bersambung ke episode 9

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam