Sinopsis MARS: But I Love You Episode 3

Sinopsis MARS: But I Love You Episode 3


Rei menemui Harumi, tapi Harumi bersikeras tak mau meminta maaf. Melihat Kira saja dia sebal banget. Lagipula, Kira itu tidak selemah yang dia kira. Dia punya tekad kuat apalagi saat dia merasa terpojok.

"Kurasa begitu. Mengingat kau tidak macam-macam dengannya."

"Jangan meremehkanku. Kali ini aku cuma mengancamnya, entah apa yang akan kulakukan selanjutnya."

"Lakukan apapun yang kau suka. Tapi aku akan membunuhmu."

"Kau tidak akan melakukan itu."

"Kenapa?"

"Karena itu pembunuhan, kau akan menjadi penjahat."

"Jadi?"

Harumi tercengang mendengarnya. "Rei, kau serius?"

"Apa susahnya? Hal-hal itu selalu jadi berita setiap hari. Jika kau berani melakukannya, kita lihat saja seberapa jauh kita akan melangkah."


Tepat setelah Rei pergi, gantian Makio yang menghampiri Harumi dan memintanya untuk tidak mengganggu Kira lagi. Harumi sinis mendengarnya, semua orang memihak Kira. Makio heran, kenapa Harumi melakukan itu pada Kira?

Karena Kira menghalangi jalannya. Dia sudah lama menunggu Rei untuk melihatnya, tapi tiba-tiba Kira muncul di antara mereka. Tapi menurut Makio, Rei lah yang mendekati Kira.


Memang, tapi kali ini berbeda. Harumi tahu karena dia selalu memperhatikan Rei. Baru kali ini dia melihat Rei memiliki tatapan selembut itu, bahkan terkadang dia melihat Kira dengan sedih, dan itu membuat hatinya terluka. Kira juga, saat dia mengancam mau menghancurkan tangannya, Kira malah lebih memikirkan Rei alih-alih dirinya sendiri.

"Mereka terikat pada satu sama lain, hanya saja mereka belum menyadarinya."

"Sugihara-san. Kurasa kaulah yang akan berakhir menyedihkan alih-alih Aso-san kalau kau seperti ini."


Kira tengah memandangi lukisan ibu dan anak itu saat tiba-tiba dia mendengar suara deru motor. Rei datang, Kira sontak melesat keluar untuk menemuinya.

Rei memberitahunya kalau dia sudah bicara dengan Harumi, dia tidak akan lagi menganggu Kira sekarang. Tapi Kira meminta Rei untuk tidak terlalu keras pada Harumi. Dia sangat mencintai Rei.

"Tapi aku tidak merasakan apapun padanya."

"Kenapa? Dia serius padamu."

"Memangnya bagian mana dariku yang membuatnya serius padaku?"

Mantannya malah pernah memberitahunya kalau dia itu cuma aksesoris buat pamer. Dia tidak masalah sih selama dia bisa bersenang-senang, dia malas berpikir terlalu dalam. Dia itu tipe orang yang kosong.

Kira tidak setuju. "Kau tidak kosong karena aku merasakan banyak sekali warna dari dirimu."

"Warna seperti apa?"

"Warna-warna yang cerah, kuat dan sangat indah. Dan juga... warna yang menyedihkan."


Mendengar itu, Rei tiba-tiba mendekat dan mengec~p lembut bibir Kira. Kaget dan canggung, Kira buru-buru kabur kembali ke rumahnya.


Rei masih canggung saat Kira menyapanya keesokan harinya, bingung bagaimana harus menjelaskan tentang ci~man semalam.

Kira mengerti. "Kau hanya terbawa suasana, kan? Tapi tidak masalah, karena itu kau."


Saat dia hendak ke kelas, Harumi sudah menunggunya di tengah jalan dan memperingatkannya untuk tidak serius dengan Rei demi kebaikannya sendiri.

"Jika kalian semakin dekat lebih daripada sekarang, akan kubunuh kau."


Rei lagi-lagi ngantuk saat Kira sedang melukisnya. Kira jadi merasa tidak enak karena sudah membuat Rei melakukan sesuatu yang membosankan. Rasanya dia seperti sedang mengikat Rei.

"Tidak apa-apa. Jika aku bosan, aku tidak akan datang lagi." Ujar Rei sambil menggeliatkan tubuhnya.

"Jangan bergerak. Bisakah kau kembali ke pose yang tadi?" Pinta seseorang.


Pria itu, Kurasawa, ternyata diam-diam sedang melukis Rei tanpa izin sedari tadi. Rei tidak suka dan langsung merobek kertas gambarnya.

"Apa yang kau lakukan? Tidak sopan!"

"Kaulah yang tidak sopan!" Kesal Rei lalu pergi.


Kira buru-buru mengejarnya dan meminta maaf atas kejadian tadi. Makio heran, apa terjadi sesuatu?

Saat mereka berjalan kembali ke ruang seni, Makio memberitahunya bahwa setiap manusia itu punya banyak wajah. Kira misalnya, dia memiliki wajah yang lugu tapi juga keras kepala. Rei punya wajah yang lembut sekaligus menyeramkan.

"Walaupun aku mengerti perasaanmu, tapi kau harus berhati-hati. Kau harus berhati-hati terhadap hubungan antar manusia. Bahkan akupun memiliki banyak wajah. Seperti pura-pura jadi orang baik padahal sebenarnya aku menipumu."

Kira langsung tegang mendengarnya. Geli melihat reaksi Kira, Makio mengklaim kalau dia cuma bercanda.


Kira lalu pergi menemui Rei untuk menjelaskan tentang Kurasawa. Menurutnya, Kurasawa hanya bermaksud mencari subyek untuk dipajang di Museum Seni Tokyo.

"Dia sehebat itu?"

Kurasawa itu putra seorang pelukis terkenal. Dia bahkan pernah memenangkan penghargaan seni pada tahun pertamanya. Di lobi juga ada lukisannya.


Kira lalu membawa Rei untuk melihat lukisan karyanya Kurasawa. Kira benar-benar kagum dengan lukisan itu, tapi Rei kurang sependapat. Bagus sih, tapi...


"Apa yang tidak kau sukai?" Tanya Kurasawa. "Katakan apa yang tidak kau sukai dari lukisan itu. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan."

Menurut Rei, lukisan itu bagus, cantik dan sangat rapi. Tapi... "Aku tidak merasakan apapun. Rasanya... kosong."

Kurasawa tersinggung mendengarnya. "Tentu saja kau tidak bisa merasakan apapun. Manusia tidak sensitif sepertimu. Aku tidak melukis untuk orang idiot sepertimu."

"Yah, benar. Lupakan saja apapun yang dikatakan orang sepertiku."


Tak enak pada Rei, Kira buru-buru mengejarnya dan meminta maaf atas ucapan Kurasawa yang kelewatan tadi. Rei tersenyum mendengarnya lalu membelai lembut kepala Kira.


Di ruang seni, Kurasawa menatap lukisan Rei dengan penuh kebencian. Saking kesalnya, dia langsung membanting buku gambarnya Kira. Tapi kemudian dia melihat lukisan ibu dan anak milik Kira.


Tak lama kemudian, dia keluar dari ruang seni dengan menentang sebuah buku gambar dan sikapnya agak mencurigakan. Kebetulan Makio berjalan melewatinya dan melihatnya membawa buku gambar mencurigakan itu.

Saat Kira kembali ke ruang seni, dia mendapati buku gambarnya tergeletak di lantai, tapi sketsa ibu dan anak itu menghilang entah ke mana.


Kira dan Rei terlibat percakapan mencurigakan. Rei terdengar ngotot memaksa Kira melakukan sesuatu, tapi Kira tidak mau karena takut dilihat orang. Waduh, percakapan mereka kok menjurus yah? Wkwkwk.

Tapi nggak ding, ternyata Rei cuma mau mencontek jawabannya Kira dan mereka sedang rebutan kertas jawaban ujiannya Kira, tapi akhirnya malah membuat kertas ujian itu robek. Jadilah mereka disuruh ujian ulang.


Rei sebel banget tapi tetap berniat bermain curang. Dia tidak akan bisa lulus dengan otak bodohnya. Kira tidak setuju, Rei tidak bodoh, dia malah sangat pintar. Dia sama sekali bukan orang bodoh ataupun tidak sensitif seperti yang dikatakan Kurasawa.

"Kau malah sangat sensitif dan bisa berpikir cepat. Kadang kau sangat menakutkan."

Saat Rei mengancam si Guru Bahasa Inggris dengan cutter di ruang seni waktu itu, Kira merasa Rei sangat pintar mengontrolnya secara psikologi.

"Aku tidak mengancamnya. Aku serius. Jika dia mendekatiku, aku pasti akan menyayatnya. Si bodoh itu tidak punya keberanian." Ujar Rei santai yang jelas saja membuat Kira tercegang mendengarnya.


Makio sedang membaca sebuah buku diary saat guru seni masuk sambil bicara di telepon dengan seseorang, mendiskusikan lukisan seseorang yang diikutsertakan dalam lomba dan kemungkinan besar akan menang.

Makio penasaran dan langsung menanyakan lukisan siapa yang akan menang lomba. Sensei dengan antusias memperlihatkan lukisannya Kurasawa, lukisan ibu dan anak yang dicurinya dari Kira.


Makio mengenali lukisan itu dan langsung memperlihatkannya pada Kira. Itu lukisannya Kira, bukan? Kira membenarkannya. Kalau begitu, mereka harus segera menemui Kurasawa. Ini namanya plagiat.

Tapi tentu saja saat mereka mengkonfrontasi Kurasawa, dia mengklaim itu lukisannya sendiri, malah menuduh mereka memfitnahnya. Mungkin gambarnya Kira saja yang kebetulan mirip dengannya.

"Kalau begitu, perlihatkan sketsamu." Tuntut Makio. "Saat tak ada siapapun di ruang seni waktu itu, kau membawa buku gambar milik seseorang. Buku gambar milik Aso juga ada di sana, kan?"

Kurasawa ngotot menyangkalnya dan mengingatkan mereka bahwa kalau sampai tuduhan mereka itu didengar orang lain, maka klub seni sudah pasti akan ditutup. Dia memperingatkan mereka untuk berhenti menuduhya lalu pergi.


Kira akhirnya hanya bisa menatap foto lukisan itu dengan sedih. Itu gambar pertama yang Rei puji, dia bahkan berniat memberikannya pada Rei sebagai hadiah setelah dia menyelesaikannya nanti.

Baru dibicarakan, Rei datang tepat saat itu juga dan tanya apa yang terjadi sebenarnya. Saat Kira tak menjawabnya, Rei langsung merebut ponselnya dan melihat lukisan itu.


Menyadari perbuatan Kurasawa, ekspresi Rei mengeras seketika dan saat itu juga dia langsung pergi ke kelasnya Kurasawa. Tanpa ba-bi-bu dia menampar keras Kurasawa sampai dia terjatuh dari kursinya.

"Pencuri!"

"Ini kesalahpahaman! Aku tidak mencurinya. Aso saja yang meyakini (kalau dia mencuri lukisannya)."

"Itu lukisannya Kira. Kau tidak bisa menggambar. Mengaku saja, kau meng-copy-nya."

Saat Kurasawa masih saja bersikeras mengklaim dirinya tidak bersalah, Rei dengan dinginnya mencengkeram erat tangan kanan Kurasawa.

"Kau pengguna tangan kanan, kan? Apa kau pernah dengar suara tulang patah? Akan kutunjukkan padamu."

Kurasawa sontak panik dan berusaha memohon-mohon. Tapi Rei sama sekali tak peduli dan mulai meremas erat jari-jarinya Kurasawa. Makio berusaha menghentikannya, tapi gagal.


Tapi begitu Rei mendengar suara Kira dan melihat ketakutan di wajahnya, Rei akhirnya berhenti dan ekspresinya berubah melembut.

Teringat akan ucapan Kira malam itu, bahwa dia juga memiliki warna menyedihkan dalam dirinya, Rei bergegas pergi.

Bersambung ke episode 4

Post a Comment

0 Comments