Sinopsis Lucky's First Love Episode 3 - 1

Sinopsis Lucky's First Love Episode 3 - 1

Xing Yun berusaha keras menahan tawa gelinya mendengar pengakuan Xia Ke itu. Kesal, Xia Ke memperingatkannya untuk merahasiakannya dari siapapun atau bonus akhir tahunnya Xing Yun akan dicabut. Xing Yun penasaran, apa Xia Ke bisa kendo?


"Bisa sedikit."

Kalau begitu, apa dia tahu gerakan-gerakan untuk menghajar orang jahat? Gampang, Xing Yun tendang saja anunya dulu, yang lain dipikir belakangan. Pfft! Xing Yun canggung mendengarnya... oke deh.

Tapi tiba-tiba Xia Ke jijik sendiri saat dia mendapati sesuatu selama memijat kaki Xing Yun. Apa dia sudah mandi? Kenapa dakinya banyak amat? Canggung, Xing Yun mengklaim kalau itu cuma keringat, dia selalu mandi tiap hari kok. Mana mungkin seseorang tidak berkeringat setelah berlarian di lumpur dan berjuang untuk tetap hidup.


Tapi ada hal lain yang lebih menarik perhatian Xia Ke, gelang gioknya Xing Yun. Hadiah dari orang tua pacarnya? Xing Yun membenarkan. Berdasarkan pengamatan Xia Ke, menurutnya gelang giok ini mahal atau tidak?

"Tidak seberapa mahal, paling seharga sebuah skuter."

"Benarkah?!" Xing Yun kaget.


Xia Ke lalu melakukan berbagai upaya untuk membantu Xing Yun melepaskan gelang itu. Tapi bahkan sampai tangan Xing Yun kesakitan, tetap saja gelang itu tidak mau terlepas. Ujung-ujungnya Xing Yun malah kejedot tembok. Ah sudahlah. Karena tidak bisa dilepas, Xing Yun memutuskan untuk tetap memakainya saja.

Saat Xing Yun mau mandi, Xia Ke memberinya baju ganti wanita. Xing Yun jadi penasaran, apa baju ini milik pacarnya Xia Ke.

"Bukan urusanmu. Cepat mandi dan pakai saja, dan berhati-hatilah selama mandi. Kalau kau terjatuh gara-gara kakimu yang keseleo, aku tidak akan bisa masuk untuk menolongmu."


Usai mandi, Xia Ke malah mengantarkan Xing Yun untuk tidur di kamarnya. Xing Yun jelas tak enak, mending dia tidur di kamar tamu saja. Tapi saat dia ke kamar tamu, kamar itu malah kosong melompong. Ini beneran kamar tidur? Kenapa tidak ada apa-apa di sini?

"Karena aku tidak suka orang lain tidur di rumahku."

"Lalu anda mau tidur di mana?"

"Sofa."

"Aduh, saya sajalah yang tidur di sofa."

Baiklah, terserah Xing Yun saja. Tapi kemudian dia sengaja menakut-nakuti Xing Yun bahwa biasanya dia akan terbangun tengah malam lalu berjalan dalam tidur. Hati-hati loh, pastikan Xing Yun pakai selimut rapat-rapat.

Ketakutan karena mempercayai omongannya, Xing Yun akhirnya setuju untuk tidur di kamarnya Xia Ke. Met malam. Tapi Xia Ke belum selesai, dengan manisnya dia memberitahu Xing Yun ada segelas susu hangat di kamar, minumlah sebelum tidur.


Tak lama kemudian, Yi Yi akhirnya membalas chatnya. Dia tadi kencan sama suaminya, makanya dia baru mengecek ponselnya. Apa Xing Yun baik-baik saja? Bagaimana kabar seharian ini?

"Ceritanya panjang."

"Oh-ho, sepertinya terjadi sesuatu yang besar nih. BTW, aku mengirimi artikel tentang tips-tips menjalin hubungan. Itu bisa sangat berguna untukmu agar kau bisa mengenalnya dengan lebih baik. Besok aja kita bicarain detilnya di kantor. Met malam."

Penasaran, Xing Yun pun meng-klik link itu. Artikel itu berkata bahwa kamar cowok bisa mengungkapkan kepribadian asli si pemilik kamar. Tiba-tiba dia membayangkan Yi Yi ada di sana dan memberitahu nasehat tentang cowok.

"Saat kau berkunjung ke kamar cowokmu, kau bisa menyimpulkan jalan hidupnya seperti apa hanya dari tempat tidurnya." Ujar Yi Yi bayangan.

"Lalu, apakah ranjang pria adalah refleksi dari kualitas moralnya?"

Betul sekali. Manusia biasanya menghabiskan 1/3 hidupnya di tempat tidur. Makanya struktur ranjangnya bisa menjadi gambaran dari kualitas moralnya, dan pola ranjangnya adalah gambaran seleranya.

Xing Yun jadi penasaran, bagaimana dengan ranjangnya Xia Ke yang spreinya pakai warna polos dan terbuat dari katun ini? Menurut Yi Yi, itu menunjukkan kalau Xia Ke adalah tipe pria yang simple, punya selera dan kualitas yang tinggi.

"Selamat. Kau telah memilih pria yang tepat!"

"Dia bukan orang yang kupilih!"


Selanjutnya adalah lemari. Lemari adalah tempat di mana pria menyimpan rahasia terbesar hidupnya. Sebelum ceweknya datang, cowok biasanya akan bersih-bersih dulu. Makanya dengan melihat kebersihan lemarinya, dia bisa mengetahui aslinya cowok itu.

Pilihan baju juga bisa jadi penentu. Jika lemarinya lumayan kosong, maka itu menunjukkan bahwa pria itu kaku dan membosankan. Tapi jika baju-bajunya seperti fashion week, maka Xing Yun harus lebih berhati-hati. Karena itu artinya dia sangat memperhatikan penampilannya dan itu jelas bukan hanya akan dia tunjukkan pada Xing Yun seorang.

"Pak Xia benar-benar menderita OCD akut. Lemarinya sangat sesuatu dengan seleranya." Nyinyir Xing Yun.

"Biapun pakaiannya tidak banyak model, tapi semuanya adalah barang-barang high-end. Selamat! Kau memilih orang yang tepat!"

Iiih! Ngeri! Selanjutnya adalah buku-buku di atas nakas. Tapi jangan keburu terkagum-kagum dulu. Cek dulu apakah buku-buku itu cuma untuk pameran atau benar-benar dia baca.


Xing Yun membuka buku itu. Ada beberapa coretan yang jelas menunjukkan kalau buku itu beneran dibaca. Tapi di atas semua hal ini, ada satu hal yang paling penting yang bisa saja menghapus semua kesempurnaan yang pria itu miliki.

Yaitu mengecek apakah di kamarnya ada barang-barang wanita lain atau tidak. Bahkan sehelai rambut panjang saja bisa menghancurkan segala kelebihan yang pria itu miliki. Kalau itu terjadi, tendang pria itu jauh-jauh dari dunianya.

"Tidak perlu dicari, lihatlah apa yang kupakai ini."

"Kalau begitu, kusarankan kau untuk segera minggat sekarang juga. Jika tidak, Xing Yun bakalan terlibat dalam perang berdarah." Saran Yi Yi bayangan sebelum kemudian menghilang.


Xing Yun jadi galau gara-gara itu, ponselnya lowbet lagi. Rasanya aneh sekali tidur di ranjang bosnya. Ah sudahlah, tidak usah dipikirin. Dia akan langsung pergi setelah bangun besok.


Di tempat lain, He Yu sedang merayu cewek baru dengan sebuah pertanyaan. Pada suatu hari, ada seorang pria membaca buku di taman. Lalu tiba-tiba dia menutup bukunya. Kira-kira kenapa? Karena mau hujan atau karena dia mau tidur atau karena karena dia ingin membaca buku lain? Si wanita menjawab pilihan kedua tanpa ragu.

Betul sekali. He Yu berkata bahwa pria itu bagaikan sebuah buku yang tidak bisa memahami dirinya sendiri, hanya wanita yang bisa memahaminya.

"Jangan cepat menyerah untuk membacanya hanya karena kata pengantarnya tidak jelas. Bacalah berulang kali, mungkin kau akan menemukan hal berharga. Jangan terlalu menghayatinya jika ceritanya penuh liku, karena biasanya akan berakhir buruk."

"Wanita yang pintar harus tahu bagaimana memilih buku yang sesuai kebijaksaanya agar dia tidak akan menyia-nyiakan waktu atau masa mudanya. Jika ada seorang wanita yang kebetulan membaca bukuku, maka aku takkan melepaskannya dan membuatnya terus membaca hingga aku tertambat di dalam hatinya. Apa yang akan dia dapatkan dari buku ini, itu tergantung dirinya sendiri."


Keesokan harinya, Xing Yun masih enak-enaknya tidur nyenyak saat tiba-tiba saja Xia Ke menggotongnya lalu menyembunyikan mereka berdua di dalam lemari, bahkan membungkam mulut Xing Yun dengan tangannya.

Xing Yun jelas bingung dan mulai berpikir yang aneh-aneh. Jangan-jangan Xia Ke sedang menyembunyikan diri dari rentenir. Tapi kan Xia Ke kaya raya, sungguh tak terbayangkan kalau dia punya banyak hutang. Aduh! Bagaimana kalau tiba-tiba ada gangster kejam yang tiba-tiba saja mengapak pintu lemari ini? Sial banget sih dia! Baru juga dia selamat dari penculik, sekarang malah mau dibunuh penagih hutang.


Lama-lama mereka jadi tegang sendiri karena kedekatan mereka. Xing Yun tidak tahan dan berusaha protes, tapi Xia Ke ngotot menyuruhnya bertahan... saat tiba-tiba saja pintu lemari terbuka dan seorang anak laki-laki memergoki mereka. Ngapain mereka berdua bersembunyi di situ?

Shen Qing muncul saat itu juga, dan anak itu ternyata putranya Shen Qing. Dia menyuruh anaknya yang bernama Xiao Xi itu keluar sebelum kemudian mulai menggodai kedua orang itu.

Xing Yun mengenalinya sebagai kekasihnya Xia Ke yang dia lihat di toko daleman waktu itu dan langsung cemas, takut Shen Qing salah paham pada mereka. Ini tidak seperti yang Shen Qing pikirkan kok. Dan saat itu juga Shen Qing mengenali Xing Yun.

Bersambung ke part 2

1 komentar: