Sinopsis My Girlfriend is an Alien Episode 9 - 1

Sinopsis My Girlfriend is an Alien Episode 9 - 1

Ibu Tiri langsung pura-pura lagi sakit kepala begitu Lie tiba di rumah. Lie benar-benar cemas dan berniat mau memanggil dokter saja, tapi tentu saja Ibu Tiri langsung mencegahnya dan menklaim kalau dia cuma pusing. Lie heran mendengarnya, memangnya siapa yang membuat Ibu marah?


"Ayahmu. Dia bilang kalau kau tidak berguna dan tidak bisa melakukan apapun selain melukis beberapa lukisan. Dia tidak akan membiarkanmu bekerja di perusahaan. Nak, kau tidak bisa mengandalkan Ibu lagi sekarang."

Ibu Tiri mengira kalau Lie bakalan marah, tapi yang tak disangkanya, Lie malah senang banget. Pfft! Jadi Ibu memanggilnya pulang cuma karena masalah ini? Lie justru merasa kalau Ayah masuk akal. Kalau tidak ada masalah lagi, Lie pergi sekarang deh.

Tunggu dulu! Ibu Tiri heran melihat reaksinya itu. Apa Lie tidak ingin diakui oleh ayahnya sekali saja? Berusaha keras menahan emosinya, Lie tak menjawabnya dan langsung pergi.


Tapi saat itu juga dia baru mendapat kabar dari Asisten Han tentang kebakaran itu dan Xiao Qi yang menembus api demi mencari Lie. Dia mengklaim bahwa mereka masih belum menemukan keberadaan Xiao Qi sampai sekarang.

Lie sontak panik dan pergi mencari Xiao Qi ke rumah Leng. Leng santai memberitahunya kalau Xiao Qi sudah aman dan sekarang sedang istirahat, tapi Lie terlalu cemas untuk mendengarkannya dan langsung lari mencari Xiao Qi di kamar tamu dan mendapatinya sudah tidur.

Lie benar-benar terharu. "Sungguh tak kusangka kau satu-satunya orang yang peduli tentangku."


Leng dengan cepat menyela dan mengingatkan kalau Xiao Qi adalah pacarnya, jadi bisa dibilang mereka adalah keluarga.

"Biarpun mereka keluarga, tapi mereka tak ingin mati demi aku. Hanya dia satu-satunya orang yang rela melakukan hal sebodoh ini."

"Di dalam hatimu, dia lebih penting daripada keluargamu?"

"Bukan begitu, hanya saja... sejak aku mengenal Xiao Qi, dia selalu membantuku. Membantuku mencari inspirasi dan keluar bersamaku. Saat aku sedih, dia akan membuatku bahagia. Saat aku dalam bahaya, dia lari menembus api demi aku. Kak, apa kau tahu, hanya saat aku bersama Xiao Qi aku bisa merasa kalau aku penting."

"Sebenarnya dia hanya menganggapmu sebagai teman. Dia peduli terhadap semua orang. Dia sangat bodoh."


"Benar. Aku beruntung memiliki teman seperti dia. Kak, bukankah kau masih ada kerjaan. Malam ini, biarkan aku yang menjaga Xiao Qi."

Tidak perlu. Leng sudah mengatur jadwalnya. Xiao Qi pacarnya, dia bisa mengurus Xiao Qi sendiri. Baiklah, kalau begitu, Lie pamit. Eh tapi, kenapa galerinya tiba-tiba kebakaran?

Leng juga merasa kejadian itu aneh, tapi kebakaran itu cuma membakar beberapa karyanya Leng dan menghancurkan pameran itu, tidak ada kerugian yang berarti.


Xiao Qi terbangun keesokan harinya dan samar-samar melihat sosok Lie di jendela. Xiao Qi langsung memanggilnya, bayangan Lie pun perlahan berbalik... dan berubah jadi Leng. Pfft! Xiao Qi kecewa.

"Kau ternyata."

"Apa aku mengecewakanmu?"

"Tidak sama sekali. Terima kasih karena telah menyelamatkanku kemarin."

Leng sok jaim mengklaim kalau dia hanya tidak ingin ada orang yang mati di hadapannya. Dia hanya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan pegawainya. Anggap saja ini jaminan kecelakaan kerja.

Xiao Qi kesal mendengarnya. Kalau begitu dia mau pulang saja. Tapi Leng langsung mendorongnya kembali dan mengingatkan kalau Xiao Qi belum pulih sepenuhnya, dia istirahat saja.


"Aku lebih kuat daripada orang biasa. Api tidak akan bisa menyakitiku sama sekali."

"Apa kau tahu betapa berbahayanya kemarin? Entah apa yang akan terjadi kalau aku tidak menyelamatkanmu? Kalau tidak mempedulikan dirimu sendiri, setidaknya pikirkanlah aku!"

Err... Leng buru-buru meralat, maksudnya, pikirkanlah orang lain dan jangan buat orang lain mengkhawatirkan Xiao Qi.

"Tapi kau tetap datang menyelamatkanku. Karena kau sudah menyelamatkanku, kenapa kau mengomeliku?"

"Pokoknya kau harus tetap di sini dan istirahat. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana."

Baiklah. Tapi di mana Lie? Apa dia terluka? Leng cemburu, Xiao Qi terluka seperti ini tapi masih saja mengkhawatirkan Lie? Xiao Qi sinis mendengarnya, Lie kan temannya Xiao Qi... tidak seperti 'seseorang' yang berpikir bahwa mengkhawatirkannya hanya sebagai tanggung jawab kerja.

"Kau sungguh menganggapnya hanya sebagai teman?"


Tentu saja. "Walaupun dia sangat tampan bak pangeran di negeri dongeng. Walaupun dia sering membantuku. Walaupun dia ditaksir banyak gadis..."

"CUKUP!" Bentak Leng cemburu. "Aku mau berangkat kerja. Kau urus dirimu sendiri."


Leng langsung pergi padahal Xiao Qi sebenarnya belum selesai bicara. "Walaupun dia sangat baik... tapi aku tidak akan menyukainya, terutama saat kau begitu putus asa saat menyelamatkanku kemarin."


Xiao Qi bahagia banget. Tapi... alat komunikasinya! Xiao Qi bergegas pergi ke TKP untuk mencari benda itu, tapi dia mencarinya asal-asalan saja, petugas sekuriti juga berkata bahwa semuanya terbakar tak bersisa dan belum dibersihkan sama sekali. Xiao Qi jadi mengira kalau benda itu sudah tak ada di sana dan akhirnya pergi dengan kecewa.


Tapi tepat setelah dia pergi, Allen muncul di sana untuk mencari benda yang sama. Allen beralasan kalau dia mau mencari barang miliknya yang ketinggalan di dalam.

Si sekuriti jadi kesal mendengarnya, dia kan sudah bilang bahwa hanya polisi dan karyawan yang boleh masuk. Mereka semua bilang kalau mereka kehilangan sesuatu, semuanya sudah terbakar, tak bersisa.

Allen heran mendengar kata jamak itu, jadi ada orang lain selain dirinya? Apa ada seorang gadis yang datang kemari sebelumnya? Si sekuriti membenarkan. Allen langsung tahu kalau Xiao Qi lah orangnya.


Si sekuriti ngotot melarangnya masuk. Tapi kemudian dia asal saja menutup pintunya tanpa menguncinya lalu pergi begitu saja. Terang saja kesempatan itu langsung dimanfaatkan Allen untuk masuk ke dalam... hingga dia menemukan batu safir yang terkubur di antara abu.

Tapi saat dia mencoba membandingkannya dengan gambar batu safir yang sebelumnya, dia menyadari bentuknya agak berbeda. Yang sebelumnya berbentuk lebih lonjong, sedangkan yang ini lebih bulat. Aneh!


Di kantor, Leng menginstruksikan Asisten Han untuk tidak melibatkan polisi dalam kasus batu safir itu, mereka akan menyelidikinya sendiri. Kenapa? Apa Leng takut kalau kasus ini akan membuat Xiao Qi dalam masalah?

Leng menyangkal. Kasus ini tidak ada hubungannya dengannya. Hanya Leng, Asisten Han, Allen, dan beberapa anggota inti yang mengetahui kasus ini. Jadi pelakunya pastilah orang dalam. Jika polisi sampai terlibat, maka kehidupan si pelaku pasti akan hancur.

"Bagaimanapun, dia adalah anggota perusahaan ini, aku ingin memberinya kesempatan untuk mengakui kesalahannya."


Tapi mereka tidak tahu kalau Allen saat itu sedang menemui partner-nya yang tak lain adalah Jiang Xue. Yups, dialah di pengkhianat yang memberikan informasi tentang bank memorinya Leng pada Jiang Xue. Sekarang dia memanggil Jiang Xue kemari karena dia butuh bantuan Jiang Xue. 

Jiang Xue sinis mendengarnya, dia tidak terima diperintah-perintah sama Allen. Jangan lupa, berkat dialah Allen bisa masuk ke Group F dan dia pula yang membiayai labnya Allen yang merugi. Jika tidak, Leng pasti akan mengetahuinya.

Yah, Allen mengakui bahwa Jiang Xue banyak berjasa untuknya. Tapi jangan lupa, dialah yang membantu Jiang Xue mencari tahu tentang amnesia dan bank memori-nya Leng. Dia juga selalu melaporkan segala pergerakan Leng pada Jiang Xue. Jadi bisa dibilang, dia adalah sekutu dan bukan bawahannya Jiang Xue.

"Baiklah. Aku mau dengar sekutuku menginginkanku untuk melakukan apa?"


Selidiki tentang Chai Xiao Qi. Dialah orang yang mencuri batu safir itu. Dia langsung membuktikannya dengan menunjukkan rekaman CCTV saat Xiao Qi di labnya. Memang aksinya Xiao Qi tidak kelihatan, tapi video itu bisa jadi bukti kuat kalau Xiao Qi lah tersangkanya.

Dan setelah mencuri batu safir itu, Xiao Qi langsung pergi ke galeri. Pasti ada bukti tak terbantahkan di sana. Dia tidak bisa mengakses rekaman CCTV di sana karena dia orang luar, jadi hanya Jiang Xue yang bisa melakukannya karena dia adalah kurator di galeri itu. Baiklah. Jiang Xue dengan senang hati setuju untuk membantunya. Dia bahkan langsung beraksi saat itu juga.

Bersambung ke part 2

1 komentar: