Sinopsis Rookie Historian Goo Hae Ryung Episode 12

Sinopsis Rookie Historian Goo Hae Ryung Episode 12

Hae Ryung berniat mengantarkan Rim kembali ke istana, tapi langkah mereka terhalang oleh para peronda di segala arah. Terpaksa Hae Ryung harus membawa Rim bersembunyi.


Parahnya lagi, Rim tak mengenal pejabat manapun di istana yang mungkin bisa membantu mereka. Ditambah lagi dengan fakta kalau dia tidak punya kartu identitas, dia mungkin akan mendapat hukuman yang lebih berat.

Hae Ryung berniat mau mengalihkan perhatian para peronda itu biar Rim ada kesempatan balik ke istana, tapi Rim tiba-tiba punya ide untuk memakai cara yang pernah dia tulis di novelnya.


Hae Ryung mengerti maksudnya. Tiba-tiba dia membuang bukunya, meminta maaf atas kelancangannya... lalu melingkarkan tangan Rim padanya dan memeluk Rim yang kontan membuat Rim jadi gugup bukan main.

Awalnya dia ragu, tapi pada akhirnya dia benar-benar memeluk Hae Ryung... tepat saat para peronda muncul dan mengira mereka sepasang kekasih yang lagi bermesraan. Jadi para peronda itu cuma menegur mereka lalu pergi sambil menggosipkan anak-anak muda jaman sekarang yang sangat berani.


Rencana mereka sukses, Hae Ryung pun lega. Tapi Rim masih gugup banget sampai-sampai dia malah keenakan memeluk Hae Ryung. Baru saat Hae Ryung minta dilepasin, Rim akhirnya sadar dan buru-buru melepaskan pelukannya.

Mereka jadi canggung gara-gara itu. Dan karena tidak mungkin kembali ke istana sekarang, Hae Ryung akhirnya berinisiatif membawa Rim pulang ke rumahnya.


Mereka berusaha mengendap sepelan mungkin, tapi Seol Geum mendadak muncul sambil mengomeli Hae Ryung... dan langsung heboh melihat Hae Ryung membawa pulang si ganteng sampai Hae Ryung harus cepat-cepat menutup mulutnya biar mereka tidak ketahuan Jae Kyung.

Tapi tentu saja Seol Geum tidak bisa dan tidak mau diam dan menuntut kenapa pria ini pulang bersama Hae Ryung. Dan bahkan sebelum He Ryung bisa menjawabnya, Seol Geum langsung menduga yang tidak-tidak tentang hubungan mereka.

Pasti karena pria ini, Hae Ryung tidak pulang semalam. Hae Ryung berusaha menjelaskan kalau pria ini hanya koleganya dan dia membawa pria ini pulang cuma karena sekarang sudah larut malam setelah seharian bekerja di luar istana. Rumah pria ini jauh dari sini.

Seol Geum jelas tak percaya dan langsung saja menilai penampilan Rim hingga akhirnya dia memutuskan kalau Rim ini ganteng banget. Hae Ryung beruntung bisa menemukan wajah seganteng ini dari tujuh juta orang di negeri ini. Kalau ada kontes pria tertampan, pria ini bakalan jadi nomor satu.

Jadi sebaiknya Hae Ryung segera mendapatkan pria ini sebelum didahului wanita lain. Hae Ryung sampai malu mendengar cerocosannya.

Bahkan saat Hae Ryung berniat mau tidur di kamar lain, Seol Geum sengaja mengklaim bahwa semua kamar di rumah ini sedang penuh terisi oleh labu-labu yang dikeringkan. Cuma kamarnya Hae Ryung yang masih kosong. Jadi bagaimana kalau mereka berbagi selimut?


Sementara itu, Jae Kyung melampiaskan frustasinya dengan terus minum-minum. dalam ingatan masa lalunya 20 tahun yang lalu, di sebuah tempat bernama Seoraewon di mana dia dan beberapa orang lainnya menyaksikan Mo Hwa berhasil melakukan operasi menjahit luka seseorang.

Entah itu tempat apa, bahkan tampak ada seorang bule di sana. Mungkin dia dokter dunia barat yang memperkenalkan teknik pengobatan ala barat itu pada mereka.


Hae Ryung dan Rim akhirnya tidur sekamar tapi dihalangi oleh penyekat ruangan. Tapi tak ada seorangpun yang bisa tidur. Bahkan Hae Ryung terus bergerak-gerak dengan gelisah sampai membuat penyekatnya hampir roboh.

Tiba-tiba Rim membuka penyekatnya buat ambil air minum, Hae Ryung jadi tambah gugup dibuatnya. Tidak bisa tenang, Hae Ryung memutuskana mau tidur di luar saja. Rim tidur saja di sini dengan nyaman.

Rim tak setuju, di luar dingin, tak ada kamar kosong juga. Hae Ryung meyakinkan kalau dia bisa tidur di mana saja asal ada tempat untuk berbaring. Lagian kebiasaan tidurnya sangat buruk, dia suka mendengkur sangat keras dan melempar benda atau bahkan mengumpat saat tidur. Rim pasti akan kesulitan tidur karenanya.


Rim tersenyum mendengarnya. "Aku senang kau merasa aku tidak nyaman. Aku tidur di luar saja. Tidak akan ada yang bisa tidur kalau begini."

"Jangan. Saya tidak bisa membiarkan Yang Mulia..."

"Ini keinginan angsa liar. Tidak usah dipikirkan."

Saat itulah Hae Ryung baru ingat dengan percakapan mereka saat mereka pertama kali bertemu dulu, saat Rim menyebut dirinya sendiri sebagai angsa liar dan Hae Ryung sebagai burung pipit. Dia jadi sadar siapa orang yang menulis burung pipit di pipinya waktu itu.


Tidur di luar pastinya tidak nyaman, tapi tidak masalah. Rim bahagia. Hae Ryung pun sedang bahagia dan tersipu malu memikirkan saat mereka berpelukan tadi. Dia bahkan sampai harus menampari dirinya sendiri untuk sadar... lalu mengubur dirinya sendiri di dalam selimut dengan kegirangan.


Keesokan harinya, Seol Geum dengan antusias mendatangi kamarnya Hae Ryung sambil bawa sarapan untuk kedua orang itu. Tapi anehnya, tidak ada jawaban dari dalam. Dan saat Seol Geum membuka pintu, kamar itu ternyata sudah kosong dan kedua kasur mereka sudah tertata rapi. Seol Geum kecewa.


Rim sudah tiba kembali ke Neokseodang dan sekarang sedang mencuci mukanya. Tapi Kasim Heo lagi sebal banget sama dia. Gara-gara Rim tidak pulang semalaman, dia jadi tidak bisa tidur nungguin Rim.

"Ada bekas bantal tuh di pipimu," santai Rim.

Kasim Heo pantang menyerah dan terus mengomeli Rim. Bisa-bisanya Rim menghilang setelah keluar dari istana bersama sejarawan waanita. Rim tidak bisa berpikir gara-gara jatuh cinta pada wanita itu atau dia memang selalu tidak bertanggung jawab seperti ini?

Rim memang masih muda dan penuh gairah, tapi tetap saja seharusnya dia menjaga martabatnya sebagai seorang pangeran. Bagaimana bisa dia lepas kendali seperti ini dalam waktu sehari?

Rim menyangkal, jangan berpikiran aneh-aneh. Tidak terjadi apapun antara dia dan Hae Ryung. Kasim Heo tak percaya. Dua muda-mudi bermalam bersama, mana mungkin tidak terjadi apapun.

"Mungkin saja, karena akua pangeran dan dia sejarawan."

Kasim Heo penasaran. "Dia sungguh hanya sejarawan bagi anda, Yang Mulia?"


Petugas Yang kembali dengan membawa lebih banyak pekerjaan untuk para anak buahnya. Petugas Hwang tidak tahan lagi dan langsung menuntut Petugas Yangaa untuk menyelesaikan masalah dengan para juru tulis ini. Jika tidak, maka dia juga akan ambil cuti.

Para sejarawan lain langsung mengikuti jejaknya. Mereka tidak terima diperlakukan bak sapi perah dan diremehkan seperti ini. Petugas Son menuntut Petugas Yang untuk meminta maaf pada para juru tulis itu.

Mereka menggunakan petisi itu untuk menjaga harga diri mereka. Jadi sebagai pimpinan sejarawan, Petugas Yang sebaiknya meminta maaf pada para juru tulis itu biar mereka senang.


Petugas Yang tampak jelas keberatan jika harus merendahkan dirinya di hadapan para juru tulis itu. Maka U Won lah yang akhirnya menawarkan diri untuk melakukan itu dan Petugas Yang langsung setuju dengan senang hati.

Kalau begitu, Hae Ryung juga menyatakan diri mau ikut. Dia harus bertanggung jawab karena dialah yang memulai masalah ini. Petugas Yang setuju.


Tak lama kemudian, U Won dan Hae Ryung menjamu para juru tulis itu dengan berbagai hidangan mewah di rumah gisaeng. Para juru tulis itu sudah semangat saja mau menikmati semua itu, tapi tiba-tiba Juru Tulis Park menyela dan dengan penuh harga diri menyatakan bahwa semua ini tidak cukup.

"Terus kalian biasanya makan apa? Serasa kalian biasanya makan emas saja." Sinis Hae Ryung.

U Won berbaik hati mau memesankan lebih banyak lagi. Tapi para juru tulis itu mendadak berubah pikiran dan akhirnya mau makan juga. U Won tanya kapan mereka akan kembali bekerja?

"Enatahlah. Kami sangat lelah melakukan pekerjaan yang kami lakukan. Kami tahu seharusnya kami kembali, tapi sulit sekali melakukannya." Nyinyir Juru Tulis Park.

"Sepertinya kalian menginginkan sesuatu?"

Juru Tulis Park pura-pura tersinggung. Untuk apa juga mereka menginginkan apapun dari U Won. Mereka hanya ingin U Won menunjukkan kepeduliannya pada mereka... dan ajari wanita arogan ini sopan santun. Cepat berlutut!


Parahnya lagi, U Won juga diam saja tidak membelanya. Tapi saat Hae Ryung hendak melakukan perintah mereka, U Won tiba-tiba saja membentaknya untuk duduk kembali dan menegaskan bahwa Hae Ryung tidak melakukan kesalahan apapun, jadi dia tidak perlu minta maaf.

Para juru tlis itu jadi kesal dan kompak mau pergi, tapi U Won tiba-tiba membanting sebuah buku yang dia klaim sebagai buku catatan kejanggalan para tulis dan itu sukses membuat para juru tulis itu tegang ketakutan.

Kejanggalan apa yang U Won maksud? Omong kosong! Tidak mungkin! U Won pasti cuma membual. Mereka cuma juru tulis, buat apa U Won mengawasi kami?

Sepertinya sih emang bohong dan Hae Ryung menyadari itu. Maka saat Juru Tulis Park mau mengambil buku itu, Hae Ryung secepat kilat menyambarnya dan langsung membuka-buka buku itu dengan heboh. Jadi karena inikah U Won menyuruhnya mengawasi Juru Tulis Park? Biar dia bisa mencatat berapa banyak suap yang diterima Juru Tulis Park? 

Aktingnya Hae Ryung sukses membuat para juru tulis itu percaya dan ketakutan karenanya. Tak lama kemudian, mereka akhirnya sepakat untuk membakar buku itu dan tidak mengungkit-ungkit masalah ini. Dan sebagai gantinya, para juru tulis mau kembali bekerja.


Tapi setelah mereka pergi, Hae Ryung langsung mengonfrontasi U Won. Tak disangka kalau ternyata U Won pandai membual. Buku itu kan sebenarnya kosong, bagaimana bisa U Won berbohong tanpa berkedip sedikitpun.

U Won meralat. Dia benar-benar mengetahui kejanggalan para juu tulis itu. Hanya saja dia tidak pernah menulisnya. Dia hanya mengingatnya.

"Tapi, yang anda katakan pada saya tadi, apa anda sungguh-sungguh? Apa anda sungguh berpikir kalau saya tidak melakukan kesalahan?"

"Kau hanya berusaha memperbaiki apa yang salah. Itu tidak salah. Menurutku tidak salah."

Tapi Hae ryung tidak mengerti. Kenapa waktu itu U Won malah berkata sebaliknya? U Won menegaskan bahwa dia menyuruh Hae Ryung untuk bertanggung jawab bukan karena dia salah, tapi karena dia melakukan kebenaran. Dan juga karena dia ingin Hae Ryung elajar sendiri bahwa dia bukanlah wanita yang hanya bisa membuat onar.


Senang karena akhirnya beban pekerjaan mereka lebih ringan sekarang, para sejrawan langsung memutuskan untuk merayakannya dengan minum-minum.

Magang Heo dan Magang Oh kepedean mengira mereka bakalan diajak, tapi Petugas Hyeon dengan dinginnya berkata kalau mereka tidak diajak, mereka teruskan saja pekerjaan mereka.


Rim sedang bermain-main sendiri saat Hae Ryung datang yang sontak membuatnya semangat. Tumben Hae Ryung datang.

Hae Ryung mengklaim kalau dia datang untuk menemui Juru Tulis Yi dan bukannya Pangeran Dowon. Dia ingin berterima kasih sekaligus mengucap perpisahan. terima kasih karena Rim telah membantunya kemarin. Tapi sekarang semua juru tulis sudah kembali bekerja, jadi Rim tidak perlu lagi datang ke Kantor Titah Kerajaan.

Tapi Rim malah jadi sedih mendengarnya. Hae Ryung bingung, kenapa dia malah sedih? Rim mengaku kalau dia sebenarnya senang bekerja di Kantor Titah Kerajaan dan dikelilingi orang-orang yang memanggil namanya. Dia belum pernah mengalami semua itu.

Hae Ryung mengingatkan kalau Rim bisa menulis novel lagi. Sekarang kan larangan buku sudah diangkat, dia bahkan melihat ada banyak novel-novel roman di toko buku. Sudah saatnya Maehwa kembali.

"Jangan menunggu. Maehwa tidak akan menulis novel lagi."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mau... bercanda kok. Aku juga ingin tahu kenapa aku tidak boleh menulis novel lagi."

"Mungkinkah, itu titah Raja?"


"Kau tidak senang? Bukankah kau membenci novelku? Tapi jangan terlalu senang, aku mulai kesal."

Justru Hae Ryung merasa tidak senang sama sekali. Sekarang dia mengerti apa arti menulis bagi Rim. Bagaimana bisa dia senang saat Rim kehilangan sesuatu yanag sangat berharga baginya? Tulisan tangan Rim sangat indah.

Hae Ryung bahkan langsung memberikan kuas padanya dan meminta Rim untuk menulis sesuatu untuknya. Dia ingin mendapat hadiah dari pangeran.


Rim pun menulis sesuatu untuk Hae Rung, tapi dia sengaja menutupinya dengan tangan biar Hae Ryung tidak bisa mengintipnya. Dia mengaku kalau dia menulis sebuah puisi yang dia sukai sejak lama. Menurutnya, ini bisa jadi hadiah yang bagus.

Hae Ryung jadi penasaran mau lihat, tapi Rim menolak. Malu, soalnya puisi yang dia tulis adalah: Semoga kau hidup lama dan menjadi pemilik hatiku.

"Kau jangan salah paham. Puisi ini kutulis untukmua karena aku menyukai puisinya. Tak ada makna lain. Aku hanya suka puisi ini."

Jelas saja Hae Ryung jadi tamah penasaran dan terus menuntut mau melihat puisi ini. Tapi Rim ngotot menolak dan jadilah mereka rebutan saat tiba-tiba saja Kasim Heo muncul sambil teriak-teriak panik... karena Raja mendadak datang dan melihat mereka dalam posisi yang terlalu dekat. OMG! Hae Ryung dan Rim shock.

Bersambung ke episode 13

Post a Comment

6 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam