Sinopsis Before We Get Married Episode 9 - 2

Sinopsis Before We Get Married Episode 9 - 2

Tapi Wei Wei tetap bersikeras kalau mereka hanya bisa jadi teman, hanya teman. Ke Huan tak percaya mendengarnya. Tapi baiklah, kalau begitu, bisakah mereka menjadi teman baik?

Wei Wei pun menjawabnya dengan mengambil tangan Ke Huan dan menjabatnya. "Teman baik."


Dia bergegas pergi setelahnaya. Ke Huan dengan cepat mendekapnya, tapi Wei Wei dengan cepat melepaskannya. "Maaf, teman."


Wei Wei akhirnya kembali ke kamarnya sendiri dan langsung membaringkan dirinya. Heran dan curiga melihat penampilan Wei Wei yang rada kacau, Ke Fei langsung mendekat dan mengendus-endus baunya. "Baumu seperti baunya Chu Ke Huan. Apa kalian melakukannya tadi?"

"Nggak!"

"Apa maksudmu tidak? Kalian melakukannya atau tidak?"

"Tidak! Aku sudah memperjelas segalanya dengannya."

"Apa yang kau katakan?"

"Teman. Teman baik. Kami menyepakatinya bersama."

"Jadi, kau merasa sedih? Kecewa?"

Wei Wei menyangkal dan mengklaim kalau dia justru merasa lebih tenang padahal jelas-jelas wajahnya sedih. Baiklah, karena itu keputusan Wei Wei, Ke Fei tidak akan ikut campur.


Karena pamannya Da Wei masih tidak bisa meninggalkan Jepang gara-gara kekacauan di bandara Jepang, Da Wei akhirnya mengantarkan para tamunya pulang.

Wei Wei dan Ke Huan benar-benar berteman baik sekarang. Wei Wei bahkan tidak menolak saat Ke Huan menawarinya headphone untuk mendengarkan lagu bersama-sama.

 

Karena Wei Wei sekarang sendirian di rumah, jadi Ke Fei sekarang dipaksa untuk menemani Wei Wei. Dia langsung mengeluh panjang lebar, tapi Wei Wei malas menanggapinya dan santai saja menyajika semangkok mie untuknya.

Tapi Ke Fei masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Wei Wei dan Ke Huan malam itu di Yilan? Wei Wei sekali lagi menegasnya, tidak terjadi apapun antara dia dan Ke Huan. Mereka berdua sudah sepakat untuk jadi teman saja, hanya teman.

"Berteman juga butuh kesepakatan? Itu aneh sekali. Kenapa nggak sekalian aja kalian sepakat jadi musuh atau orang asing? Jujur aja deh!"

Baiklah. Wei Wei mengakui bahwa sebelumnya, dia pernah menyukai Ke Huan. Tapi benar-benar tidak terjadi apapun malam itu. Pokoknya mereka sudah sepakat jadi teman.

Dengan menjadi teman, mereka bisa berteman selamanya. Menjadi kekasih artinya bahwa mereka tidak akan pernah bisa jadia teman lagi di masa depan nanti. Jadia mereka hanya teman!

"Alesan! Sebenarnya kau bisa mencari cara lain..."

"Kau mau makan atau tidak?"

"Iya deh, aku makan. Tapi aku tetap tidak mempercayaimu. Aku tidak mempercayaimu!"

"Bodo amat."


Keesokan harinya di kantor, Ke Huan mendapati Wei Wei sudah sibuk di ruang rapat. Dia masih sedih melihat Wei Wei, tapi dia cepat-cepat menguasai diri dan bersikap biasa saja. Dia bahkan memberikan segelas kopi untuk Wei Wei yang disertai dengan sebuah pesan manis: Only for you, my friend.

"Terima kasih, my friend."


Yang lain datang tak lama kemudian dan langsung senang melihat sudah ada kudapan dari Ke Huan. Tapi kenapa cuma Wei Wei yang dapat kopi? Mei Ling langsung tertarik melihat pesan di gelas kopi itu, siapa yang menulisnya?

Untung saja Ke Fei segera datang dan menyela ke-kepo-annya Mei Ling dan bersikap seolah dialah yang memberikan kopi ini untuk Wei Wei. Ayo mulai rapatnya.


Usai rapat. Ke Huan benar-benar khawatir karena pertemuannya dengan Ketua Wang terus tertunda gara-gara jadwalnya Ketua Wang berubah-ubah terus. Entah karena dia benar-benar sibuk atau ada alasan lain.

Apalagi mereka hanya bisa berkomuniksi lewat sekretarisnya sehingga sulit menebak apa yang dipikirkan Ketua Wang sebenarnya. Tidak bagus kalau situasinya terus berlanjut seperti ini.

"Aku tidak suka. Aku harus mencari cara untuk menemuinya."

"Kau perlu seseorang yang untuk menemui Ketua Wang secara langsung? Liu Da Wei orangnya." Usul Ke Fei.

"Aku juga berpikir dia. Aku harus mencari waktu untuk bicara dengannya."

"Kau dan Da Wei tidak dekat. Apalagi kau membuatnya diomeli Jessica. Kalau aku jadi Da Wei, aku tidak akan mempedulikanmu."

 

Kalau begitu, Wei Wei menwarkan diri untuk bicara dengan Da Wei. Tapi Ke Fei lagi-lagi tak setuju. Satu kantor sudah tahu kalau Da Wei tuh benci banget sama Wei Wei.

"Sepertinya satu-satunya orang di dalam grup ini yang paling layak bicara dengan Liu Da Wei hanya aku!"

"Bukankah cuma perlu menghubunginya?"

Tentu saja bukan hanya begitu. Ke Fei berniat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, mendapatkan keuntungan dalam pekerjaannya sekaligus kehidupan pribadinya dengan kemampuannya sendiri.

Ke Huan setuju-setuju saja. "Kalau Kau bersedia berkorban, maka kami harus merepotkanmu untuk menghadapi Liu Da Wei."

"Jangan khawatir. Aku, Han Ke Feu, kekuatanku adalah menjalankan misi untuk menaklukkannya. Aku pasti akan memakan Liu Da Wei. Aku pergi dulu yah."

 

Wei Wei juga mau balik kerja, tapi Ke Huan tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama pulang kerja nani. Saat Wei Wei ragu-ragu, Ke Huan meyakinkan kalau ini hanya makan malam antar teman baik untuk mendiskusikan masalah pekerjaan sambil makan. Baiklah, Wei Wei setuju.


Ke Fei pun mulai menjalankan rencana merayu Da Wei dengan mengajaknya makan malam bersma, bahkan berbagi makanan yang sama. Da Wei protes, katanya Ke Fei traktiran, tapi kok malah mereka berbagi seperti ini?

Ke Fei beralasan karena ini porsinya besar, dia kan wanita, mana bisa dia menghabiskan semua ini sendirian. Jadi nggak masalah dong sepiring berdua. Nih sup hangat, untuk menghanatkan jiwa dan raga. Da Wei curiga, apa sebenarnya maunya Ke Fei dengan mentraktirnya makan malam? Katakan saja!

"Kau selalu suka berterus terang, yah? Kebetulan sekali. Aku suka pria yang terus terang sepertimu. Sup pangsit ini bisa menjadi langkah pertama rekonsiliasi kita dan melupakan semua hutang mereka pada satu sama lain."

"Memangnya dalam masa lalu kita ada kebaikan apa? Yang ada cuma kebencian, kan?"

"Kenapa kau bersikap begini? Apa kau tidak merasa kita seperti anak gadis dan jejaka? Aanak jejaka suka mengusuli anak gadis dengan menarik roknya atau kepangnya."

"Aku tidak pernah menarik rokmu dan kau tidak punya kepang rambut."

Ke Fei beralasan bahwa pamannya Da Wei yang kemungkinan akan berinvestasi di Hualai. Mereka semua kan bagian dari Hualai. Hubungan mereka semakin lama semakin dekat, masa mereka mau perang terus?


BRAK! Da Wei mendadak menggebrak meja dan mengagetkan satu restoran. Dia sudah tahu kalau inilah tujuan Ke Fei yang sebenarnya. Ke Fei menyangkal, pamannya Da Wei cuma alasan, tujuannya yang sebenarnya adalah Da Wei. Lupakan saja semua yang terjadi di masa lalu, yah?

Ke Fei langsung nempel-nempel ke Da Wei dan berusaha menggodanya yang jelas saja membuat Da Wei jadi ngeri dan langsung mundur menjauhinya. Tapi reaksinya malah membuat Ke Fei jadi tambah agresif.


Di restoran lain, Wei Wei mulai memesan beberapa menu dan dari situlah dia mulai mengetahui beberapa makanan yang disukai dan tidak disukai Ke Huan. Mereka makan sambil bercanda tawa gembira, benar-benar seperti makan dengan teman biasa.

Wei Wei seperti biasanya, ngotot agar mereka BDD, dia selalu melakukan ini bersama teman-temannya. Ke Huan tampak kurang suka dengan ide itu, tapi akhirnya dia menyetujuinya saja.


Ke Huan lalu mengundangnya menghadiri acara Money Control Circle akhir pekan nanti. Wei Wei menolak, dia tidak suka menghadiri acara perkumpulan kelas atas. lagian kalau dia datang bersama Ke Huan, dia harus datang sebagai apa?

"Manajer proyeknya Hualai. Aku ingin membawamu agar kau mengenal lebih banyak oang dari Money Control Circle. Itu nantinya akan sangat membantu untuk mendapatkan investasi."

Tapi tetap saja Wei Wei ragu dan menolak, dan buru-buru mengalihkan topik ke makanan lagi.


Kesokan harinya, Wei Wei hendak berangkat saat Hao Yi menelepon... lagi-lagi untuk mengabarkan bahwa dia tidak bisa pulang karena ada masalah dengan pekerjaannya. Apa Wei Wei marah?

Mungkin karena sudah terbiasa menghadapi janjinya Hao Yi yang tak pernah ditepati, Wei Wei biasa saja menanggapinya. Tapi dia mau tanya, selama dia mengikuti rencananya Hao Yi, terbiasa dengan perubahan-perubahannya, apakah semua itu adalah sebagian dari tanggung jawabnya?

"Tentu saja! Memangnya apa lagi? Aku senang kau juga bekerja keras."

Wei Wei kecewa mendengarnya. "Baiklah. Aku bisa terlambat nanti."

 

Di kantor, semua orang di departemennya Da Wei pada heboh karena Ke Fei lagi-lagi mentraktir mereka. Ke Fei terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Da Wei, bahkan sengaja nempel-nempel dan berkata bahwa mereka bisa menikmati itu semua berkat Da Wei. Dia akan mentraktir mereka semua setiap hari. Jelas saja Da Wei jadi semakin tak nyaman dan buru-buru menghindar dengan alasan ada meeting.


Ke Fei agak kecewa dengan reaksinya, tapi dia yakin belahan d~~anya ini pasti akan bisa menjerat Da Wei. Wei Wei tak yakin, sepertinya Da Wei bukan jenis pria yang akan tergoda oleh taktik semacam itu.

"Tidak mungkin. Aku, Han Ke Fei, tidak pernah bertemu pria yang kalau sudah masuk (ke dalam d~~anya), akan bisa keluar."

"Han Ke Fei, sepasang 'seniormu' itu bukan satu-satunya yang ada di tubuhmu. Kau pasti punya sesuatu yang lain, kan?"

"Kalau tidak pakai bagian atas, lalu apa aku harus pakai bagian bawah?"

"Bukan! Ada yang itu tuh..."

"Maksudmu... pakai perasaan?"

"He-eh!"

Bersambung ke part 3

4 komentar: