Sinopsis Before We Get Married Episode 1 - 2

 Sinopsis Before We Get Married Episode 1 - 2


Wei Wei mulai terpengaruh ide-idenya Hao Yi dan akhirnya dia jadi ikutan semangat mengecek semua tiket-tiket lotre mereka... hingga akhirnya, mereka sukses memenangkan 4.000 dolar Taiwan.


Saking senangnya, Wei Wei sontak melemparkan dirinya ke pelukan Hao Yi dan mengusulkan agar mereka menabung semua uang itu buat rencana pensiun mereka.

Dalam flashback, kita bisa melihat kenapa Hao Yi tertarik pada Wei Wei. Dia tipe wanita yang kalau kencan, BDD (Bayar dewe dewe/bayar sendiri-sendiri).

Dan Hao Yi terang-terangan mengakui kalau dia mengejar Wei Wei karena itu. Wanita seperti Wei Wei itu sangat langka. (Err, aku curiga kalau dia sebenarnya mengejar Wei Wei bukan karena dia benar-benar suka sama Wei Wei sebagai wanita, tapi lebih karena Wei Wei bisa dijadikan partner untuk mencapai rencana masa depannya)


Dia memang punya hadiah sih untuk Wei Wei. Tapi dia mengaku kalau hadiah itu dia beli dari hasil perjuangannya ngumpulin poin. (Pfft!)

Wei Wei berterima kasih padanya dan langsung menc~~mnya. Tapi saat suasana mulai jadi semakin romantis, Hao Yi mendadak menolak Wei Wei... dengan alasan kalau sekarang bukan weekend dan dia tidak mau melanggar yang sudah mereka sepakati bersama.

Karena kalau aturan itu dilanggar sekali saja, maka mereka akana terus melakukannya. Dan pada akhirnya, rencna hidup mereka akan berantakan. Wei Wei kecewa sebenarnya, tapi akhirnya dia menurutinya dan pergi.


Ke Huan baru beli kopi saat dia melihat Wei Wei masuk ke coco bar (semacam karaoke box pinggir jalan gitu).

Wei Wei hendak memasukkan uang koin ke mesin karaokenya tapi malah tak sengaja menjatuhkannya. Seperti biasanya, Wei Wei langsung mengejar uang koin yang menggelinding itu, tapi malah mendapati Ke Huan sedang berdiri di luar pintu.

Wei Wei langsung kesal melihatnya. Parahnya lagi, Ke Huan tiba-tiba saja nyelonong masuk lalu membayari karaokenya Wei Wei.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Kesal Wei Wei.

"Selain berhutang mentraktirku kopi, kau juga berhutang 50 dolar padaku (buat karaokenya)."

Wei Wei langsung membanting uang koin itu ke meja. "Nih, 50 dolarmu. Dan berhati-hatilah, aku akan menuntutmu!"

"Zhou Wei Wei, kita sudah bertemu 3 kali selama satu hari ini. Apa kau tidak merasa kalau ini takdir?" (Pfft!)


Wei Wei ilfil beneran sama nih cowok. Dia mau pergi, tapi Ke Huan tiba-tiba menghadangnya dengan menunjukkan kartu namanya. Wei Wei kan mau menuntutnya, bagaimana bisa Wei Wei menuntut kalau Wei Wei tidak tahu nama dan kontak informasinya.

"Chu Ke Huan?"

"Benar. Kau mengingatnya."

"Aku membaca kartunya!"


Wei Wei langsung menampik tangan Ke Huan dan pindah ke box sebelah lalu menutup tirainya. Dia sedang menghitung uangnya saat tiba-tiba saja Ke Huan muncul lagi dan lagi-lagi embayari karaokenya sambil berkomentar kalau Wei Wei memang ditakdirkan untuk berhutang 50 dolar padanya.

Wei Wei mau pergi lagi, tapi Ke Huan dengan cepat mengingatkannya bahwa tempat ini area terbuka, kacanya saja tembus pandang, apa yang dia takutkan.

Baiklah, Wei Wei akhirnya duduk di sebelahnya dan memilih lagu. Tapi alih-alih nyanyi, dia cuma mendengarkan lagunya saja. Ke Huan bingung, kenapa dia nggak nyanyi? Apa Wei Wei tidak mau nyanyi karena ada dia di sini? Kan sayang udah dibayar tapi nggak nyanyi.

Wei Wei mengacuhkannya dan terus mendengarkan lagunya saja. Tapi Ke Huan malah tiba-tiba mengubah topik membahas tentang jatah makannya Wei Wei yang cuma 150 dolar sehari.

"Kalau kau membaca buku jurnalku sampai sedetil itu, itu namanya melanggar privasiku."

"Kan sudah kubilang bahwa jika aku tidak membacanya, lalu bagaimana bisa aku mengembalikannya padamu? Aku sungguh penasaran dengan 150 dolar untuk makan 3 kali sehari itu. Bagaimana bisa kau melakukannya?"


"Sarapan: sandwich 25 dolar. Makan siang: kotak makan siang 50 dolar. Makan malam: prasmanan 75 dolar. Dua jenis sayur dan satu daging plus sup gratis. Kenapa tidak mungkin?"

"Kau puas dengan gaya hidup seperti itu?"

"Kenapa tidak?"

"Biar kau bisa menabung 20 ribu dolar setiap bulan untuk membayar uang muka (rumah)? Sudah berapa lama kau melakukannya?"

"Akan selesai akhir tahun ini."

"Berarti pacarmu menyumbang beberapa juta dolar, yah?"

Wei Wei benar-benar kesal padanya. "Kau membaca rencana pensiun kami. Apa kau tidak merasa itu sudah kelewatan?"


Wei Wei langsung pergi, tapi Ke Huan terus saja mengejarnya dan mengomentari rencana mereka untuk membeli rumah seharga 20 juta. Dia rasa mereka hanya bisa membeli rumah berhantu dengan uang segitu. Wei Wei ngotot kalau pacarnya pasti akan menemukan rumah layak huni dengan harga segitu.

"Kalau pacarmu sehebat itu, maka dia tidak akan butuh rencana sedetil ini untuk pensiun di usia 65 tahun."

"Apa salahnya merencanakan lebih dulu?"

"Ini hidupmu atau hidup pacarmu?"

"Ini hidup KAMI!"

"Tapi hidup penuh dengan ketidakpastian. Bagaimana kalau kau mati sebelum kau berusia 65 tahun?"

"Aku sangat sehat. Aku menyeberang jalan dengan hati-hati. Aku tidak akan mati secepat itu! Berhenti mengikutiku!"


Tapi tentu saja Ke Huan tak peduli dan terus membuntutinya sambil mengomentari rencana Wei Wei lainnya yang berencana melahirkan dua anak sebelum dia berusia 35 tahun. Bukankah itu agak sulit.

"Kenapa jadi masalah berapa anak yang mau kulahirkan?!"

"Kenapa gadis cantik sepertimu bicara dengan nada sekasar ini? Aku cuma mengingatkanmu dengan cara baik-baik. Bagaimana kalau kau tidak sengaja hamil anak ketiga?"

"Yah akan kulahirkan juga."

"Berarti rencanamu akan berubah dong."

"Memangnya kenapa kalau berubah? Bisa kuatasi kok. Ngapain juga memberitahumu sebanyak ini?"

"Kedengarannya kau bisa mengontrol semuanya."

"Kalau kau tidak percaya diri, maka kau tidak akan bisa melakukan apapun."

"Kalau begitu, semoga kau berhasil. Tapi bagaimana kalau suamimu selingkuh dan menghamili selingkuhannya?"


Wei Wei benar-benar emosi sekarang. Dia sontak mendorong Ke Huan dengan kasar dan sekali lagi menyatakan kalau dia akan menuntut Ke Huan. Dia pasti akan menuntut Ke Huan!

"Silahkan. Dengan begitu, kita bisa lebih sering bertemu. Dan aku pasti akan hadir setiap saat."

"Sinting!"

Wei Wei langsung berbalik pergi dan BRET! Kemejanya tak sengaja kena kawat dan robek tepat di bagian d~~anya. Wei Wei kontan panik menutupi dirinya.


Dan walaupun seharian ini Ke Huan bersikap kayak playboy, tapi begitu melihat keadaan Wei Wei, tiba-tiba saja dengan manisnya dia menutupi Wei Wei dengan jaketya... dan tak lupa dia memberikan kartu namanya biar Wei Wei tahu ke mana harus mencarinya untuk mengembalikan jaketnya kapan-kapan.


Ke Fei langsung heboh begitu mendengar cerita Wei Wei tentang kemejanya yang robek. Wei Wei pakai daleman apa?

"Tank top wasna pastel."

"Apa kau nenek-nenek? Ngapain juga kau pakai tank top warna pastel? Kenapa tidak pakai berenda hitam?"

"Mana kutahu kalau dia akan muncul?!"

"Benar juga, aku tidak bisa menyalahkanmu. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"


Wei Wei menyangkal, tapi Ke Fei tak percaya. Dengan lebaynya dia mengomentari kejadian yang menipa Wei Wei itu sampai membelai jaketnya Ke Huan. Wei Wei sampai jijik melihat kelakuan temannya yang satu ini.

"Katakan padaku. Apa dia ganteng? Kalau dia ganteng, rayu dia."

"Apa kau gila? Aku sudah..." Dia hampir saja keceplosan mau bilang kalau dia sudah punya pacar, tapi untunglah dia berhasil menahan diri dan cuma beralasan kalau dia tidak kenal pria itu.


Ke Fei heran sama dia. 3 tahun mereka tinggal bersama, tapi tidak pernah satu kalipun dia melihat Wei Wei punya pacar atau membawa pulang seorang pria. Apa Wei Wei menyembunyikan sesuatu?

Alih-alih menjawabnya, Wei Wei balas memprotes kelakuan Ke Fei yang justru keseringan bawa pulang berbagai macam pria. Mereka kan sudah sepakat kalau pria tidak boleh menginap tapi Ke Fei sudah sering melanggar kesepakatan mereka. Wei Wei malas meladeninya lagi, dia mau mandi aja.


Tapi di kamar mandi, Wei Wei mendadak galau teringat ucapan Ke Huan tadi. Ucapan Ke Huan ada benarnya sih, hidup itu nggak pasti. Tapi Wei Wei ngotot pada dirinya sendiri bahwa hidupnya akan berjalan sesuai rencananya. Dia pasti bisa melakukannya! Harus!


Keesokan harinya di kantor, Ke Huan senyam-senyum sendiri setiap kali teringat Wei Wei. Tiba-tiba dia ingat dia menyimpan kartu namanya Wei Wei lalu mencoba menghubunginya.

Tapi begitu mendengar namanya, Wei Wei langsung memutus sambungan. Ke Huan pantang menyerah, dia terus berusaha menghubungi Wei Wei berulang kali sampai Wei Wei kesal memperingatkannya untuk tidak menghubunginya lagi.


Masih belum menyerah juga, Ke Huan mendadak punya ide bagus. Dia melempar kartu nama itu ke Bai Yang dan menyuruh Bai Yang untuk membuat Wei Wei menghadiri pestanya nanti malam.

Bai Yang jelas langsung protes, dia bahkan tidak kenal orang ini, bagaimana bisa dia mengundangnya? Tapi kemudian dia melihat nomor saham perusahaannya Wei Wei yang kontan membuatnya teringat pertemuannya dengan Ke Fei.


Suatu malam, dia melihat Ke Fei masuk ke sebuah bar dan Bai Yang langsung terpesona. Dia mencoba mengajak kenalan, tapi alih-alih saling berkenalan dengan saling menyebutkan nama asing-masing, mereka berkenalan dengan saling menyebutkan nomor saham perusahaan masing-masing. Dan pastinya nomor saham perusahaannya Ke Fei sama dengan nomor saham perusahaannya Wei Wei.


Sekarang Bai Yang tahu apa yang harus di lakukannya untuk membuat Wei Wei hadir di pesta itu. Dia langsung mengajak Ke Fei ketemuan dan mengundangnya ke pesta itu.

Dia memberitahu kalau itu memang pesta promosi bosnya, tapi sudah menjadi tradisi bahwa semua pesta akan berakhir jadi pesta perjodohan. Dijamin pestanya bakalan meriah. Tapi dia juga ingin Ke Fei mengajak Wei Wei juga, kabarnya dia sangat cantik.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang dia? Kuperingatkan kau, dia tidak seperti kita, aku tidak akan menyakitinya."

"Tidak. Siapa bilang dia akan terluka? Dia tidak punya pacar, kan? Wanita single harus datang. Akan ada banyak pria sukses untuk dia pilih."
 

Maka kemudian, Ke Fei berusaha membujuk Wei Wei untuk makan malam dengannya. Dia sengaja tidak memberitahukan detilnya dan hanya bilang kalau ini cuma makan malam dan tidak akan membuat Wei Wei kehilangan banyak uang kok. Wei Wei agak ragu walnya, tapi akhirnya dia setuju.

Bersambung ke part 3

0 komentar

Post a Comment