Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 19 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 19 - 1

Karena Mo Mo sudah lelap tidur, Wei Yi akhirnya menyelimutinya lalu membaringkan dirinya di samping Mo Mo sembari mengagumi wajah damai Mo Mo dalam tidurnya.


Tapi saat Wei Yi terbangun keesokan harinya, dia malah mendapati kepala Mo Mo entah bagaimana pindah posisi terbaring di kakinya. Wkwkwk! Wei Yi berusaha sepelan mungkin menarik kakinya, tapi malah membuat Mo Mo terbangun.


"Mo Mo!" Tiba-tiba terdengar suara Ibunya Mo Mo. OMG! Parahnya lagi, tiba-tiba saja terdengar pula suara Ibunya Wei Yi, lalu Ayahnya Mo Mo, dan terakhir suara Ayahnya Wei Yi. Gawat!

Wei Yi tanpa pikir panjang, melompati balkon lalu masuk ke kamar sebelah tanpa mempedulikan protesnya Mo Mo. Niatnya biar mereka seolah keluar dari kamar masing-masing gitu. Tapi saking paniknya tadi, Wei Yi tidak sadar kalau dia salah kamar.


Dan jelas saja Ibunya Mo Mo bingung melihat mereka keluar dari kamar yang salah. "Sejak kapan kalian tukar kamar?"


Semua orang akhirnya duduk bersama sambil saling berdiam diri dengan canggung. Setelah beberapa lama, Tuan Gu yang akhirnya buka suara duluan, meminta maaf pada orang tua Mo Mo karena tidak mendidik putranya dengan benar hingga terjadilah kejadian ini.

Nyonya Gu tak setuju dengan ucapan suaminya. Kedua anak muda ini kan cuma sedang jatuh cinta, itu kan bukan sesuatu yang buruk. Tujuan mereka datang kemari memang untuk membicarakan hubungan kedua anak mereka ini. Siapa sangka kalau ternyata mereka sudah sangat dekat.


Ujung-ujungnya, kedua ibu jadi semangat ngobrol sendiri tanpa mempedulikan yang lain. Sungguh tak disangka kalau kedua anak mereka ternyata berjodoh... jadi, lebih baik sekarang mereka mulai membicarakan pernikahan kedua anak mereka. Mereka kan sudah mau lulus. Dengan begitu, mereka akan jadi satu keluarga.

Mereka bahkan langsung memutuskan untuk mencari hari baik sekarang juga. Nanti setelah mereka menikah, biarkan saja mereka tinggal di rumah ini. Terus nanti belikan mobil buat mereka.

Tapi kemudian Mo Mo menyela dan saat itulah Nyonya Gu mulai sadar bahwa mereka seharusnya menanyakan pendapat anak-anak juga. Bagaimana pendapat Wei Yi?


Wei Yi menegaskan bahwa dia dan Mo Mo sama-sama sudah dewasa. Mereka bisa membuat keputusan sendiri. Dia tidak mau ada mobil, tanggal baik, dan segala macamnya.

Nyonya Si Tu jadi bingung. "Lalu kapan kalian akan menikah?"

"Saat ini kami tidak ada rencana untuk itu."

OMO! Mo Mo kecewa mendengarnya. Tuan Si Tu yang juga tampak jelas kecewa dengan jawabannya, memutuskan untuk mengakhiri masalah ini sampai di sini lalu mengajak istrinya pulang sekarang juga.


Mo Mo benar-benar gelisah dengan masalah ini. Saat mereka menunggu kedatangan bis di halte, dia langsung menanyakan masalah ini ke Wei Yi. Apa mereka akan menikah nanti?

"Kenapa tidak?"

"Aku cuma tanya. Kau bilang..."

"Kau berpikir berlebihan."


Ibu Mo Mo kecewa dengan sikap Ayah tadi. Mereka jauh-jauh datang kemari untuk membicarakan masalah ini, tapi Ayah malah pergi. Wei Yi itu sangat hebat, sayang sekali kalau dia sampai dilepaskan.

"Dia hebat? Putri kita juga hebat! Kenapa juga kita harus menyenangkannya?" (Ayah Mo Mo so sweet ^^)

"Apa kau tidak lihat kalau mereka sangat dekat? Lagipula putrimu itu suka sekali pakai baju kotor sampai seminggu tidak dicuci."

Ayah tidak terima putrinya dihina. "Itu namanya go-green." (Wkwkwk!)

"Seharusnya kau kirim otakmu ke tong sampah!"

"Apa kau tidak dengar apa yang Xiao Gu bilang? Dia tidak berencana untuk menikah. Itu artinya, dia tidak mau menikahi putri kita. Saat kaua membuat segala rencana untuk mereka, kau itu sedang berusaha menyenangkannya."


Ibu yakin kalau Wei Yi tidak bermaksud seperti itu. Ayah tidak mengerti pikiran seorang ilmuwan sih. Maksudnya Xiao Gu adalah dia belum ada rencana SAAT INI saja.

Wei Yi beda dari orang seperti Ayah yang tidak punya sense tentang waktu, Wei Yi selalu merencanakan segalanya dengan akurat.


Di rumah, Ibu Wei Yi mondar-mandir tak tenang memikirkan kejadian ini. Apalagi tadi Ayah Mo Mo kelihatan marah. Ini salah Ayah, dia terlalu memanjakan Wei Yi! Dia persis seperti Ayah!

Ayah jadi merasa bersalah juga. Dia memang terlalu keras kepala dan memandang segalanya dari permukaan saja. Tapi Ayah bisa melihat dengan jelas kalau putra mereka sangat menyukai Mo Mo. Caranya memandang Mo Mo sama seperti bagaimana dia memandang porselen yang bagus.

"Tuan Gu, kau benar-benar sesuatu. Kalau begitu, aku mau tanya. Kenapa Xiao Yi bilang bahwa pernikahan tidak ada dalam rencananya?"

"Kenapa tanya aku? Tanya saja pada putra kita."


Setibanya di lab, Wei Yi mendapati Zhou Lei ketiduran di sana setelah belajar semalaman. Wei Yi heran mendengarnya belajar di lab, memangnya dia ada ujian di fakultasnya?

Tapi ternyata yang Zhou Lei maksud adalah belajar untuk ujian pertukaran pelajar ke Jerman. Karena dia beda jurusan dengan mereka, jadi dia harus belajar lebih keras.

"Jadi karena itu kau minta catatanku?"

"Iya. Apa kau memberiku semua catatanmu? Apa ada bagian yang kau sembunyikan?"

Wei Yi santai saja berkata kalau dia akan memberinya catatan yang lebih detil lagi nanti. Bagus! Zhou Lei yakin kalau dia pasti bisa mengalahkan Wei Yi.

"Baiklah." Santai Wei Yi.

"Hei! Sikap macam apa itu? Tunggu dan lihat saja. Aku pasti mengalahkanmu!"

"Jangan membuat prediksi tanpa dasar ilmiah."


Fu Pei membangunkan si gendut lalu mengusirnya paksa dari asrama soalnya Shan Shan hari ini mau datang. Dia bahkan langsung semangat membersihan seluruh kamar untuk menyambut kedatangan Shan Shan.

Tak lama kemudian, mereka sama-sama duduk berdiam diri dengan gugup lalu mulai membicarakan sesuatu yang terkesan err... menjurus? (Pfft!) Fu Pei galau, apa yang harus mereka lakukan sekarang? Shan Shan juga gugup dan ragu, bagaimana kalau ditunda lain kali kali saja?

"Tidak mau. Aku sudah menunggumu cukup lama."

"Aku tidak melakukannya dengan benar."

"Ayolah." (Ngomongin apaan sih?)


Mereka akhirnya memantapkan diri untuk melakukannya. Shan Shan tiba-tiba menutup matanya saking gugupnya... dan Fu Pei langsung mengecek hasil ujian Shan Shan. (Pfft! Ternyata itu toh)

Fu Pei kaget begitu melihat hasilnya. "Shan Shan... kau mendapat skor 31 poin lebih tinggi daripada nilai terbaik tahun kemarin."


Shan Shan jejeritan saking senangnya dan refleks memeluk Fu Pei. "Aku terlalu sibuk jatuh cinta padamu sebelum ujian, tapi ternyata aku tetap berhasil. Aku memang pintar!"

Tapi sedetik kemudian, dia baru menyadari perbuatannya dan bergegas menjauh. Tapi Fu Pei tiba-tiba mencegahnya lalu menarik Shan Shan ke dalam pelukannya.


Jian Shi memberitahu para juniornya bahwa Prof Jiang tidak bisa datang karena harus membaca kucing peliharaannya ke klinik. Jadi mereka hanya perlu menyelesaikan tugas mereka dan tidak perlu masuk siang nanti.

Sayang sekali, padahal Fu Pei mau tanya banyak hal sama Prof Jiang. Terus dia harus bagaimana sekarang? Eh, apa Jian Shi ada waktu luang hari ini.

"Tidak ada."

Maka Zhou Lei langsung berpaling ke Wei Yi, mencoba membujuk Wei Yi untuk menemaninya. Lagian kan Wei Yi mau ngasih catatannya padanya. Jadi sekalian Wei Yi bisa menjelaskan catatannya padanya.

"Aku tidak ada waktu." Tolak Wei Yi,

"Kau kan sudah tidak ada kuliah, lalu kenapa tidak ada waktu?"

"Aku harus menjemput Si Tu Mo."

Yu Yin kontan sedih mendengarnya. Zhou Lei masih saja belum menyerah dan sekarang beralih ke Yu Yin. Tapi Yu Yian juga menolaknya dengan alasan sibuk dengan thesis S2-nya.

Saat Shan Shan fokus nunggu loading hasil ujian CET4-nya Fu Pei, Fu Pei berusaha cari-cari kesempatan untuk merangkul Shan Shan... tapi gagal. Hehe. Shan Shan heran melihatnya santai banget, apa dia tidak cemas sama sekali?

"Pacarku kan pintar, kita pasti punya kesamaan lah."

Dia benar-benar tidak peduli sama sekali dengan hasil ujiannya saking fokusnya mengagumi sang pacar tercinta. Malah Shan Shan yang paling antusias saat akhirnya hasil ujiannya Fu Pei keluar dan ternyata dia lulus. Karena sekarang dia lulus, Fu Pei langsung menuntut Shan Shan untuk memberinya hadiah.

"Nanti kutraktir makan."

"Nggak mau. Aku mau hadiahku sekarang juga."

"Tapi aku tidak punya apapun sekarang..." Cup~~~ Fu Pei tiba-tiba mengejutkannya dengan pipinya. "Apa yang kau lakukan?"

"Mengambil hadiahku."

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment