Sinopsis Leh Nangfah Episode 24 - 2

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 24 - 2


Beauty terkejut mendengarnya, "Kau punya orang lain yang kau cintai?"

"Yah... apa yang dikatakan Pat benar."

Mendengar itu, Beauty berkaca-kaca penuh haru. Tee pun langsung menarik Beauty ke dalam pelukannya.

"Jadi, kau sudah tidak marah padaku lagi, kan? Kau percaya kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan Jadecharn, kan?"

"Iya."


Perlahan Tee mendekat untuk menci~m Beauty. Lalita dan Dewi pun antusias menanti ci~man Tee agar kutukan Beauty bisa terpatahkan.

Tee semakin mendekat... saat tiba-tiba Somcheng menjerit kencang memanggil Beauty. (Wkwkwk! Penonton kecewa. Dasar Somcheng)


Beauty dan Tee sontak menjauh dengan canggung. Menyadari kesalahannya, Somcheng mau pergi saja. Tapi Beauty dan Tee menghentikannya, katakan saja apa yang perlu dia katakan.

"Saya sudah menyiapkan design yang akan kita diskusikan di Jade Garment. Mobil juga sudah siap."

Oke, kalau begitu ayo pergi. Tapi Tee menghentikan mereka. Beauty tidak perlu lagi pergi ke Jade Garment. Beauty tidak mengerti kenapa, masalah design-nya yang dicuri kan belum terselesaikan. Dia juga belum menemukan pelaku yang menjual karyanya ke Jade Garment.


"Tidak perlu. Aku sudah mengirim pengacara untuk mengambil tindakan hukum. Mulai sekarang, kau tidak perlu berjuang atau melakukan apapun sendirian. Kau selalu memiliki aku." Ujar Tee sambil menarik Beauty lebih dekat dan menatapnya dengan penuh cinta.


Tapi tetap saja Lalita tak bisa tenang. Apa yang harus mereka lakukan agar Beauty bisa segera mematahkan kutukannya. Dewi santai, biarkan saja segalanya mengalir sesuai arus. Mereka tidak perlu mempercepatnya.

"Tapi sekarang cuma tinggal 20 hari lagi."

"Baik itu kurang 20 hari, satu hari, maupun satu menit, segalanya tetap harus sesuai waktunya. Kita tidak boleh memaksanya. Apa kau masih belum belajar dari masa lalu? Apa kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau memaksakan takdir?"

Menyadari kesalahannya, Lalita akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memaksakan takdirnya Beauty.


Mami benar-benar cemas melihat putrinya yang masih sedih dan berusaha menyemangatinya untuk melupakan segalanya.

Tepat saat itu juga Jade datang berkunjung. Mami langsung antusias meninggalkan mereka berduaan. Jade datang untuk mengundang Orn sebagai model kehormatan dalam fashion show-nya nanti.

Orn menolak dan mengingatkan Jade tentang insiden saat pertama kalinya dia jadi model dulu. Jika dia jadi modelnya, Jade bakalan harus membuang runway khusus agar dia tidak terjatuh.

"Kau masih ingat itu?"

"Tentu saja. Kau bicara buruk padaku padahal kau bahkan tidak mengenalku."

"Itu karena aku melihatmu hampir menangis. Jadi aku bercanda untuk membuatmu marah padaku. Dan berhasil kan?"

"Yah, berhasil dengan baik. Dan aku jadi tidak menyukaimu sejak saat itu. Jadi aku tidak mau jadi modelmu."

"Kenapa? Apa kau takut Khun Teepob akan cemburu? Kurasa tidak. Kalian berdua kan akan menikah. Jika dia tidak bisa memahamimu akan masalah kecil ini, kurasa kalian tidak cocok."


Mendengar nama Tee, sontak memancing emosi Orn. Dia langsung melempar bunga-bunganya ke Jade sambil menangis kalau dia tidak akan bertunangan dengan Tee. Jade jadi merasa bersalah mendengarnya dan meminta maaf berulang kali atas ucapannya barusan.


Tee menggandeng tangan Beauty sampai mereka tiba kembali ke kantor. Beauty mau pulang sekarang, tapi Tee cepat menghentikannya dan menariknya mendekat.

Pertama-tama, Tee menuntut Beauty untuk berjanji dulu padanya bahwa dia tidak akan lagi menemui Jade sendirian. Baiklah, Beauty berjanji.

Dia lalu meminta Beauty untuk memberitahunya tentang informasi apa yang tidak dia ketahui. Saat Beauty ragu, Tee menegaskan kalau dia harus tahu agar dia bisa membantu Beauty.


"Kurasa Jade bekerja sama dengan Paman Korn dan Pat. Sekarang Paman Korn berencana untuk menguasai Thanabavorn dan Pat mungkin membantunya."

Tapi menurut Tee, Beauty sepertinya cuma salah paham. Pat melakukan ini mungkin hanya karena emosi, dan Korn tidak mungkin melakukan hal semacam itu pada Thanabavorn.

"Kau pasti terkejut kan? Aku juga merasakan perasaan yang sama saat pertama kali aku tahu kalau Paman Korn mengkhianatiku."

Tapi Tee tetap bersikeras tak mempercayai dugaan Beauty. Korn itu pamananya Beauty. Kenapa juga dia mengkhianati Beauty. Dan yang paling penting, Korn sangat menyayangi Beauty.


"Sayang? Tidak! Paman Korn tidak menyayangiku. Dia ingin merampas Thanabavorn dariku dan darimu juga."

Korn bahkan pernah mencacinya bahwa dia tidak mengerti apapun tentang perusahaan dan tidak akan pernah bisa mengurus Thanabavorn. Dia bahkan mendengar Korn membangun pabrik baru di Jalan Bangna-Trad. Dia bahkan sudah melihat pabrik itu dengan mata kepalanya sendiri.

Beauty sangat yakin Korn lah yang mencuri design-nya, menyalinnya lalu menjualnya dengan harga rendah. Dia tahu karena mendengar sendiri Korn bicara dengan seseorang di telepon tentang masalah ini. Beauty yakin kalau orang itu pasti Jade. Dia tahu kalau Korn dan Jade berhubungan dekat.

"Jadi karena ini kau tidak menyukai Paman Korn dan ingin aku melatihmu?"


Tapi Tee tetap bersikeras menasehati Beauty untuk tidak terlalu mempercayai apa yang didengar dan dilihatnya itu. Lebih baik sekarang dia fokus saja mempresentasikan design-nya pada Grace.

"Masalah lainnya, aku yang akan menangani mereka."

"Kau harus membantuku melawan Paman Korn dan Jade, yah? Kedua ayah kita membangun perusahaan ini dengan tangan mereka sendiri. Kau tidak boleh membiarkan siapapuan menhancurkannya dengan mudah."

"Jangan khawatir. Kita akan menjaga Thanabavorn bersama-sama dan kita tidak akana membiarkan siapapun menghancurkannya." Janji Tee sembari menenangkan Beauty dalam pelukannya.

Tapi tepat saat itu juga, matahari mulai terbenam. Beauty sontak panik melepaskan diri dari Tee dan buru-buru pamit. "Sampai jumpa nanti malam... maksudku, sampai jumpa besok."


Beauty langsung bergegas ke toilet dan begitu berubah jadi burung, dia berniat mau mencari lebih banyak bukti. Tempat pertama yang ditujunya adalah kantornya Korn. Tapi pintunya tertutup rapat.

Akhirnya dia memutuskan terbang ke kantornya Pat lagi. Anehnya, kali ini pintu kantornya Pat terbuka lebar-lebar, bahkan lampunya masih menyala padahal tidak ada orang. Hmm... kayaknya ada jebakan nih.

Tapi Beauty tidak curiga apapun dan langsung saja terbang menuju laptopnya Pat. Beauty bisa menyalakannya dengan mudah, tapi laptop itu butuh password.

 

Dia terlalu fokus berusaha menebak password-nya sampai dia tidak menyadari kedatangan Pat cs yang sudah bersiap dengan jala dan kandang untuk menangkapnya.

"Tangkap dia!" Teriak Pat.

Beauty panik berusaha terbang menghindari mereka, tapi akhirnya ketangkap juga. Lalita jelas cemas, tapi Dewi santai saja. Ini sudah takdirnya Beauty.

Pat yakin burung inilah yang memberitahu Beauty tentang segala hal. Dia bahkan menyuruh kedua temannya untuk mengecek apakah di burung itu ada kameranya atau tidak.

Beauty jelas protes heboh saat Kratua meraba-rabanya. Tapi Kratua tidak menemukan apapun. Pat akhirnya menyuruhnya untuk memasukkan si burung ke dalam kandang saja.

Pokoknya Pat tidak akan membiarkan si burung berkeliaran lagi. Piwara kaget, apa Pat mau membunuhnya? Jangan! Kasihan burung itu.


"Kau mau membunuhku? Hei, cewek kuno! Aku Beauty! Aku bukan burung biasa! Aku manusia! Apa kau akan membunuh manusia?!"

Kratua juga tidak setuju kalau burung ini dibunuh. Membunuh binatang itu dosa besar. Kratua tidak akan sanggup menanggungnya.

"Kalian gila, yah? Aku tidak sejahat itu! Tapi aku juga tidak sebodoh itu untuk membiarkan burung ini terus berkeliaran dan menghancurkanku di kemudian hari."

"Kau mau apa?"

"Aku punya caraku sendiri. Masukkan ke kandang, Kratua. Cepetan!"


Sesampainya di rumah, Pat langsung memasukkan burung Beauty ke dalam kandang burung. "Tinggallah di sini dengan nyaman dan jangan ganggu aku lagi! Aku tidak akan menyia-nyiakan tenagaku untuk membunuhmu. Mengejekmu seperti ini setiap hari, jauh lebih memuaskan."

Baru beberapa langkah meninggalkan kandang burung, Pat bertemu ayahnya yang langsung mengomelinya gara-gara perbuatannya pada Beauty. Korn sungguh tidak mengerti, kenapa Pat begitu membenci Beauty dan memulai pertengkaran dengannya?

"Apa yang kulakukan pada Beauty tidak sebanding dengan apa yang telah Beauty lakukan padaku!"

"Kau seperti orang dewasa kekanakan yang mudah marah hanya karena masa lalu. Aku sama sekali tak bisa melihat apa yang telah Beauty lakukan padamu, selalu kau yang membulinya! Kapan kau akan dewasa?"

Lihatlah Beauty. Dia belajar untuk berubah dan sekarang dia bekerja dengan baik dan semua orang memujinya. Sementara Pat, dia bekerja lebih lama dari Beauty, tapi pencapaiannya bahkan belum mencapai setengahnya pencapaian Beauty.


"Ya, aku memang tidak berguna. Tak ada apapun dariku yang baik di mata ayah. Aku tidak bisa dibandingkan dengan Beauty sama sekali. Kalau ayah begitu menyayanginya, kenapa ayah tidak mengadopsinya saja biar ayah tidak perlu mengganggu anak jahat sepertiku!"

"Pikiranmu picik sekali. Sia-sia usahaku membesarkanmu."

"Ayah tidak pernah membesarkanku. Ayah cuma membesarkan Beauty. Aku tumbuh seorang diri! Ayah tidak pernah memandangku karena di mata ayah hanya ada Beauty. Tapi tidak masalah, aku tidak peduli. Karena ayah tidak mencintaiku, kenapa juga aku harus mencintai ayah?"


Beauty jelas heran mendengar pertengkaran mereka. Kenapa Pat bicara begitu? Kenapa dari percakapan mereka, Korn sepertinya memang sangat menyayanginya? Lalu bagaimana dengan saat dia mendengar Korn bicara pada Jade? Yang mana yang benar?


Thana langsung marah-marah begitu mendengar Tee sudah putus dengan Orn tanpa sepengetahuannya. Apa Tee tahu berapa banyak kerugian yang bisa diakibatkannya dari perbuatannya itu? Bagaimana kalau Falcon menarik produk-produk mereka?

Tee mengaku kalau dia sudah memikirkan masalah itu, dia bahkan selalu memikirkannya. Tapi dia merasa bahwa jika mereka mencampuradukkan masalah pribadi dengan bisnis, justru hanya akan mendatangkan lebih banyak masalah.


Nee bertanya-tanya, apa mungkin Tee sebenarnya tidak mencintai Orn? Tee mengakuinya. Dia sudah berusaha untuk mencintai Orn. Tapi tetap saja dia hanya bisa menganggap Orn sebagai adik. Tidak adil bagi Orn jika dia terus mengencaninya.

"Cinta dan keuntungan yang kita dapat dari bisnis adalah masalah yang berbeda, ayah."

"Maksudmu kau mencintai orang lain, kan?"

"Ya."

"Siapa?"

"Aku mencintai Beauty."

"Kau yakin?"

"Iya."

Seua patah hati. "Tuanku merebut pacarku dariku."


Beauty ribut bertengkar dengan burung-burung jantan yang menggangguinya. Dia bahkan bersumpah akan mematahkan leher mereka dan memasak mereka semua begitu dia berubah jadi manusia besok.

Burung-burung jantan itu jadi tambah getol menggangguinya sampai Beauty ketakutan dan berusaha membuka kandang itu dengan paruhnya tanpa hasil.


Di kamarnya, Tee sedang menunggu kedatangan burung Beauty. Tapi tentu saja Beauty tidak bisa datang. Tak ada burung, Tee berpaling ke Seua yang lagi sibuk bergulingan di kasur sambil mengeong-ngeong. Lagi ngambek sama Tee sebenarnya, tapi Tee tidak tahu dan santai saja curhat.

"Tidak seharusnya aku menamainya sebagai Beauty. Baik yang burung maupun yang manusia sama-sama aneh. Tapi mereka tetap manis biarpun aneh."


Tee tidak tahu kalau Beauty lagi ketakutan setengah mati gara-gara burung-burung jantan yang terus menerus mendekatinya sampai wajahnya Beauty lebam-lebam gara-gara terantuk terali kandang.

Untunglah matahari sudah terbit saat itu dan Beauty langsung bersinar terang menjadi manusia kembali dan membuat burung-burung jantan itu kebingungan.

Bersambung ke episode 25

1 komentar: