Sinopsis Kiss -The Series Episode 3

Sinopsis Kiss -The Series Episode 3


 

Sandee marah besar pada Thada gara-gara ci~mannya sampai-sampai dia tidak sadar kalau dia terus berjalan melewati teman-temannya dan Fahsai yang saat itu tengah menunggu Thada untuk mengajak Thada makan bersama.

Dia baru sadar saat mereka menyapanya dan dia pura-pura menampilkan senyum cerianya di hadapan mereka. Dia menolak undangan makan bersama mereka dengan alasan harus pulang sekarang.

Thada muncul tak lama kemudian dan dari cara mereka saling memandang, teman-teman mereka langsung tahu ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua. Thada berbohong mengatakan tak ada apa-apa, dan beralasan kalau dia hanya menanyakan sesuatu pada Sandee.


Sandee pulang dalam keadaan tidak mood dan Sanrak pun demikian setelah melihat pacarnya bersama wanita lain. Sandee lalu bertanya apakah Sanrak pernah merasa dikhianati? 

Tentu saja Sanrak mengetahuinya, barusan. Malah dia merasa dikhianati oleh orang yang awalnya benar-benar dia percayai sepenuh hati.

"Kau sangat mempercayai orang itu. Tapi orang itu masih saja melakukan itu padamu, iya kan?" tanya Sandee.

"Mungkin terkadang dia berpikir kalau kita tidak akan pernah mengetahuinya"

"Atau mungkin dia melakukannya tanpa memikirkan apapun sama sekali"

"Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya"

"Semua ini karena malam itu. Segalanya jadi berubah"

Sanrak akhirnya menyadari kalau mereka sedang membicarakan dua orang dan dua situasi yang berbeda. Dan langsung penasaran apa maksud Sandee tentang malam itu? Memangnya apa yang terjadi malam itu? 

Panik, Sandee cepat-cepat menyangkalnya tapi dia tidak bisa tenang sedikitpun bahkan sampai tengah malam.

Flashback,


Thada tiba-tiba menci~mnya. Shock, Sandee langsung mendorongnya dan menonjoknya. Dia semakin marah saat Thada mengklaim kalau c~~man itu adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya.

"Kau sebut ini tanggung jawab? Kau itu cuma egois!"

"Lalu kau ingin aku bagaimana?"

"Tidak ada yang perlu kau lakukan. Tidak ada"

"Tapi..."

"Cukup Thada"

Kembali ke masa kini,


Chattingan dari Thew dan Thada berdatangan. Dia ingin membalas chatinggannya Thada dan meminta agar mereka saling menjauh untuk sementara waktu, tapi pada akhirnya dia berubah pikiran.


Noina menelepon Sanrak dan menasehatinya tentang apa saja yang harus dilakukannya untuk mengkonfrontasi First dengan cara mengirim video rekamannya terlebih dulu. 

Sanrak bimbang dan akhirnya memutuskan untuk mengirim beberapa pesan saja menanyai First tentang dimana dia makan malam dan dengan siapa. Tapi tidak dibalas.

Noina menelepon lagi semenit kemudian, karena dia tahu kalau Sanrak pasti tidak sanggup untuk mengkonfrontasi First. Dia tahu betul sifat Sanrak, dia pasti ragu mengirimkan video itu karena takut First akan marah padanya.

Dia terus nyerocos memerintahkan Sanrak untuk mengirim video itu sekarang juga tapi Sanrak malah mengacuhkannya dan tidur. Dan First masih belum membalas pesan-pesannya bahkan sampai keesokan paginya.


Tapi saat dia turun tak lama kemudian, First sudah ada dibawah sedang menunggunya dengan sebuket bunga yang tentu saja membuat Sanrak bahagia tapi dia cepat-cepat menyembunyikan kebahagiaannya dengan menunjukkan wajah ngambeknya.

First langsung merayu sambil meminta maaf karena tidak memenuhi janjinya mengantarkan Sanrak ke tempat kerjanya. Dia beralasan kalau dia tidak membalas pesan Sanrak karena baru membacanya pagi ini saking sibuknya.


Dan karena itulah, dia datang sekarang untuk mengantarkan Sanrak ke tempat kerjanya. Seketika itu pula, Sanrak berhenti ngambek, menerima bunganya lalu mengajak First selfie sementara di latar belakang, Chacha ikut-ikutan pose gila.


Diam-diam, Chacha berusaha memberitahu Sanrak tentang keanehan sikap First yang selama beberapa hari menghilang tapi tiba-tiba sekarang datang dengan membawa sebuket bunga, biasanya kalau cowok melakukan itu pasti untuk menutupi sesuatu. Tapi Sanrak tidak percaya dan bersikeras kalau First tidak melakukan sesuatu yang salah.


Sadar kalau Chacha pasti sedang menghasut Sanrak, First cepat-cepat membawa Sanrak pergi. Dia tidak sadar kalau waktu itu Na berada di belakangnya, dia tampak gelisah saat melihat mereka pergi bersama, apalagi saat dia mendengar Sandee dan Chacha menggosipkan kebodohan Sanrak.


Noina sedang asyik bergosip dengan teman-teman ceweknya tentang kenalan barunya di IG. Dia lalu mengecek IG-nya tapi malah mendapati Sanrak barusan mengupload foto mesranya bersama First. Noina langsung kesal melihatnya "Dasar bego!"


Sanrak dan First terjebak macet di tengah jalan. Setelah ragu sesaat, Sanrak akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mengkonfrontasi First bahwa kemarin dia melihat First di restoran bersama wanita lain dan tampaknya mereka sangat dekat.

Jelas-jelas First sudah mulai gelisah saat itu. Tapi kemudian, Sanrak malah merusak konfrontasinya dengan berkata bahwa dia berpikir kalau wanita itu adalah salah satu model di perusahaan majalahnya dan First cuma sekedar mentraktirnya makan malam. 

Jelas saja First lega dan langsung mengiyakan dugaan Sanrak lalu mengakhirinya dengan mengumbar kata-kata gombal dan kecupan di kening.


Sesampainya di kantor, Sanrak bertemu dengan Na yang mengaku kalau tadi dia lewat di rumah Sanrak dan melihat Sanrak pergi bersama pacarnya. 

Saat Sanrak mengaku kalau dia tidak sadar kalau Na ke rumahnya tadi, Na langsung menasehatinya untuk lebih jeli dalam memperhatikan sesuatu karena hal itu sangat penting dalam pekerjaan. Hmm... kurasa yang dimaksudnya bukan cuma jeli dalam masalah pekerjaan.


Hari ini di kelasnya Sandee, lagi-lagi mereka diajar oleh dosen yang sama padahal mata kuliahnya beda. Saat June bertanya kenapa dia terus yang ngajar, Pak Dosen mengklaim kalau dirinya itu pintar dan berbakat dan dia ingin kaya jadi dia mengajar banyak.

Sandee tidak mau duduk jejer dengan Thada dan meminta temannya June untuk duduk ditengah-tengah dia dan Thada. 

Dosen mereka lalu mengakhiri kelas dengan menyuruh para mahasiswanya untuk membentuk grup yang terdiri dari 2-3 orang untuk mengerjakan tugas yang diperintahkannya.


Ketiga teman Sandee langsung membagi kelompok mereka, mereka bertiga satu grup, sementara Sandee akan satu grup bersama Thada, tapi Sandee tidak setuju dan bersikeras ingin satu grup bersama June saja. Dia lalu pergi sementara Pete mulai menulis nama kedua grup mereka.


Pete dan Kao lalu menyerahkan laporan nama-nama grup ke kantor dosen. Tapi saat mereka datang, Pak Dosen sedang tidur. Tapi Kao melihat Pete salah menulis nama Thada dalam grupnya Sandee. 

Pete berkata kalau dia tidak salah tulis, dia memang sengaja menjadikan Sandee dan Thada satu grup.

Kao tidak setuju, takutnya Sandee nanti marah-marah pada mereka. Tapi Pete meyakinkannya untuk tidak cemas, dia yakin dia melakukan hal yang benar. Lagipula kalau Sandee marah padanya, dia akan beralasan kalau ini perintah dosen.


Saat Sandee dan teman-temannya turun untuk makan siang, mereka mendapati Thew sudah menunggu Sandee untuk mengajaknya makan siang bareng. 

Thada kesal dan langsung mengusir Thew dengan alasan kalau Sandee tidak akan makan bersamanya. Tapi kata-katanya memprovokasi Sandee. Kesal pada Thada, Sandee langsung menerima ajakan Thew.

Mereka berdua pun pergi dan Thew diam-diam tersenyum licik pada Thada. Sekarang bukan cuma Thada yang kesal pada Thew. Ketiga temannya juga langsung menyerukan berbagai gerutuan pada Thew dan selera anehnya karena menyukai cewek tomboy seperti Sandee. 

Jelas saja gerutuan mereka akan Sandee malah membuat Thada jadi marah. Teman-temannya heran kenapa Thada malah marah-marah.

Berhubung Sandee dan Thew makan di kantin fakultas ekonomi, mereka memutuskan untuk makan di kantin fakultas lain juga. Thada setuju tapi dia malah membawa mereka ke kantin fakultas ekonomi tempat Sandee makan siang dengan Thew. Thada beralasan kalau kantin fakultas lain sedang tutup makanya dia membawa mereka kemari tapi tentu saja tidak ada yang percaya.


Tepat saat itu juga, mereka melihat Sandee duduk berdua dengan Thew. Mereka berdua sedang bersenda gurau saat tiba-tiba saja Sandee melihat teman-temannya di meja ujung, Thew tidak tahu karena dia duduk membelakangi mereka. 

Sandee kesal tapi dia tidak ingin Thew tahu jadi dia tidak memberitahunya sementara teman-temannya terus saja menggodainya dari meja seberang.

"Biasanya apa yang kau lakukan di waktu luang?" tanya Thew

"Sial*an lo!!!" maki Sandee pada teman-temannya.

"Apa?" Thew bingung

"Maksudku, waktu luang yah? Biasanya aku suka nonton film, mendengarkan lagu dan semacamnya"

Mendengar itu, Thew langsung mengajak Sandee nonton bareng kapan-kapan. Tapi Sandee dengan sengaja menghindari pertanyaan itu dengan cara mencari-cari alasan untuk bisa pergi secepatnya. 

Saat Sandee pergi, barulah Thew menyadari kehadiran teman-temannya Sandee, pasti merekalah alasan ketidaknyaman Sandee.


Kesal, dia langsung melabrak mereka. Thada langsung maju menghadapinya dan menekankan padanya bahwa mereka tidak melakukan apapun dan mereka kemari cuma untuk makan siang.


Siang harinya, Sanrak sibuk membagi-bagikan beberapa dokumen sambil memotreti para pegawai yang dia beri dokumen. 

Setelah itu, dia langsung mengirimkan semua hasil foto-foto itu pada seseorang sambil senyam-senyum. Dia masih berkutat dengan hapenya saat dia berpapasan dengan Na lagi.

Melihat Sanrak mainan hape di tempat kerja, Na lagi-lagi langsung mengomelinya karena dia mengira kalau Sanrak sedang chattingan dengan pacarnya di jam kerja.

Sanrak berusaha menjelaskan kalau dia tidak sedang chatting dengan pacarnya tapi dengan Jane karena Jane sendiri yang menyuruhnya untuk memotret semua pegawai.


Na tidak percaya dan yakin sekali kalau Sanrak cuma membuat-buat alasan lalu menyuruhnya masuk ke ruangannya untuk dia marahi lebih lanjut. 

Sanrak terus berusaha menjelaskan kalau dia sungguh-sungguh bekerja melakukan perintah Jane dan bukannya chatting dengan pacarnya. Tapi Na masih ngotot dengan keyakinannya karena jelas-jelas Sanrak mainan hape sambil senyam-senyum sendiri, itu saja sudah membuktikan kalau Sanrak sedang ngobrol dengan pacarnya.

"Aku tidak sedang ngobrol dengan P'First. Kalau kau tidak percaya, lihat saja hapeku"

"Aku tidak mau melihat hapemu"

Untunglah Jane masuk ke ruangan Na saat itu gara-gara mendengar pertengkaran mereka yang cukup sengit dari luar. 

Jane mengkonformasi kalau Sanrak memang chatting dengannya. Na langsung terdiam. Semuanya sudah jelas sekarang, Sanrak pun pamit kembali ke pekerjaannya.


Setelah Sanrak pergi, Jane berkata pada Na "Sejak Sanrak bekerja disini, kau banyak berubah"

"Khun Jane, tolong katakan padanya aku menyesal"


Tidak enak karena terus membuat masalah, Sanrak berinisiatif pindah ke departemen lain saja. Tapi Jane tidak setuju. Dia menasehati Sanrak 3 hal. 

Pertama, dia tidak boleh terlalu mengambil hati akan ucapan orang lain tentangnya karena hal seperti itu sudah biasa di tempat kerja. 

Kedua, walaupun Na tadi cuma salah paham tapi ucapannya benar, Sanrak harus bisa mengkordinir pekerjaannya dengan lebih baik. Ketiga, Sanrak tidak boleh menyerah begitu saja dengan pindah ke departemen lain.

Dia lalu memberi Sanrak tugas selanjutnya. Dia menyuruh Sanrak untuk menghubungi salah satu kolumnis majalah mereka, tapi dia memperingatkan Sanrak bahwa orang ini biasanya tidak mudah dihubungi.

Sanrak menerima tugasnya dengan kepala tertunduk lesu tapi dia sedikit senang saat Jane menyampaikan penyesalan Na padanya.


Malam harinya, Thada mengunjungi sepupunya, May. Hubungannya dengan pamannya tampaknya cukup baik tapi bibinya sepertinya tidak terlalu menyukainya bahkan terang-terangan menyindirnya dan suaminya yang menurutnya lebih perhatian pada Thada daripada pada keluarganya sendiri.


Hubungannya dengan May juga sepertinya cukup akrab, bahkan begitu dia masuk kamar May, May langsung melompat kedalam pelukannya dan bermanja-manja padanya. 

May memohon pada Thada untuk balik tinggal bersama mereka lagi agar mereka bisa seperti dulu, tapi Thada tidak menanggapinya dan langsung mengalihkan topik dengan menyuapi May.


Keesokan harinya, Sandee akhirnya tahu kalau dia satu tim dengan June dan Thada saat dosen mereka menyerahkan daftar nama-nama grup. 

Sandee langsung menuntut penjelasan Pete. Dengan gaya rada dramatis, Pete beralasan bahwa ini adalah perintah pak dosen sendiri.

Dia sudah berusaha memohon bahkan sampai berlutut dan menangis-nangis agar pak dosen tidak menjadikan Sandee satu grup bersama Thada tapi pak dosen tetap bersikeras dengan alasan kalau Sandee pintar jadi pak dosen ingin Sandee mengajari June dan Thada.


Sanrak dan Na ke kantor bareng. Didalam lift, Na meminta maaf atas kejadian kemarin dengan berkata "Aku minta maaf-na" (Na adalah kata akhiran untuk membuat kalimat terdengar lebih lembut)

Tapi Sanrak malah tertawa mendengarnya karena penambahan kata 'na' itu sendiri terdengar seolah Na sedang meminta maaf pada dirinya sendiri.

"Kalau kau ingin meminta maaf padaku, seharusnya kau bilang 'Aku minta maaf, Sanrak'"


Sanrak berjanji mulai sekarang dia akan berusaha bekerja lebih keras agar tidak membuat Na maupun Jane cemas lagi. Mereka saling tersenyum manis pada satu sama lain saat lift tiba-tiba membuka dan Jane masuk. 

Sontak Na dan Sanrak sama-sama saling mengalihkan pandang dan Jane langsung menempatkan dirinya di tengah-tengah mereka berdua.


Di kampus, Sandee, Thada dan June sedang mengerjakan tugas kelompok saat Thew datang lagi mencari Sandee. Seperti biasanya Thada langsung melempar tatapan membunuh pada Thew tapi Thew santai-santai saja. 

Fahsai bergabung tak lama kemudian untuk mengajak Thada makan siang bareng, Fahsai juga mengenal Thew karena Thew adalah mentor seniornya.

Thada menolak ajakan makannya Fahsai dan mengusir Fahsai dengan alasan sibuk dengan tugas kelompoknya. 

Hmm... tapi dari tatapan kejamnya pada Thew, jelas dia bukan cuma mengusir Fahsai tapi juga mengusir Thew. Thew mengerti arti tatapannya dan akhirnya pamit pergi setelah Fahsai pergi.


Fahsai mengejar Thew di luar, ternyata dulu sebelum Thew jatuh cinta pada Sandee, Fahsai pernah memperlihatkan foto Sandee pada Thew dengan harapan bisa menjodohkan mereka tapi waktu itu Thew tidak tertarik dan menolak perjodohannya.

"Fahsai, aku tahu alasanmu menyuruhku untuk mengejar Sandee, pasti karena Thada dan Sandee sangat dekat satu sama lain, iya kan? Tapi asal kau tahu saja, alasanku mengejar Sandee adalah karena aku benar-benar menyukainya"


Di kantor, Sanrak berusaha menghubungi kolumnis Douduen yang kemarin ditugaskan Jane padanya, tapi teleponnya tidak diangkat-angkat. 

Saat dia tengah mengiriminya pesan, Jane tiba-tiba kembali. Panik karena belum bisa menghubungi si kolumnis, Sanrak langsung bersembunyi di bawah meja.

Dia kira tidak akan ketahuan padahal Jane bisa melihatnya dengan jelas dan langsung menuntut apa Sanrak sudah berhasil menghubungi Kolumnis Douduen. 

Sanrak takut mengatakan yang sebenarnya dan akhirnya memutuskan untuk berbohong dan mengatakan iya sudah berhasil menghubunginya tapi si kolumnis bilang kalau dia sedang sibuk dan akan menghubunginya lagi nanti.

"Dia memang selalu berkata seperti itu. Kenapa kau tidak menayakan tentang pekerjaannya? Aku menyuruhmu untuk menindak lanjuti pekerjaannya dan bukannya permintaannya"

Tepat saat itu juga Noina menelepon dan Sanrak langsung pura-pura kalau yang menelepon adalah si kolumnis dan pura-pura seolah si kolumnis berkata kalau dia akan menyerahkan manuskripnya dalam dalam waktu 2 minggu lagi. 

Jane mempercayainya tapi dia memperingatkan Sanrak bahwa jika dalam waktu 2 minggu, dia masih belum menyerahkan manuskripnya maka Sanrak lah yang harus bertanggung jawab.


Dan gara-gara melihat cara Sanrak dan Na saling menatap di lift tadi, Jane juga memperingatkan Sanrak untuk lebih berhati-hati dalam bersikap saat dia sedang bersama Na.

"Aku tidak mau image eksekutif yang sudah susah payah kubangun untuknya hancur. Aku harus memperingatkanmu karena Khun Na tidak mau mendengarkanku"


Sandee dan Thada baru menyelesaikan tugas kelompok mereka malam hari. May menelepon saat itu dan mendengar suara Sandee. 

Hmm... sepertinya May naksir Thada karena dia langsung marah dan mematikan teleponnya begitu menyadari Thada sedang bersama wanita.


Semua orang kantor sudah pulang. Saat Na masuk ke ruang sekretaris mencari Sanrak, dia melihat tidak ada orang. Tapi kemudian dia melihat Sanrak sedang bersembunyi di bawah meja orang lain, Sanrak melihatnya lalu cepat-cepat menunduk bersembunyi lagi. Sepertinya dia memang sengaja menghindari Na gara-gara peringatan Jane tadi.

Heran, Na akhirnya keluar. Sanrak pun keluar tak lama kemudian setelah yakin Na sudah pergi. Tapi Na belum pergi, malah sedang menunggunya di depan dan berkata kalau dia ingin mengantarkan Sanrak pulang. Sanrak berusaha menolak dan memberitahunya tentang peringatan Jane padanya tadi.

Na tetap bersikeras ingin mengantarkan Sanrak pulang dan tidak perlu mempermasalahkan kata-kata Jane karena Jane berkata seperti itu karena itu adalah tugasnya. 

Sementara hubungan mereka berbeda, mereka kan sudah seperti kakak-adik dan lagi dia sudah berjanji pada kakaknya Sanrak untuk menjaga Sanrak.


Saat Sanrak masih ngotot memperdebatkannya, Na langsung menggandeng tangannya dan menyeretnya pergi. Mereka tidak menyadari kalau saat itu First sebenarnya datang untuk menjemput Sanrak.


Na lalu membawa Sanrak makan malam bersama. Saat mereka hendak makan, Na mulai menginterogasinya tentang kenapa pacarnya Sanrak tidka menjemputnya. 

Sanrak berkata memang biasanya seperti itu karena First itu sangat sibuk. Dia lalu bertanya bagaimana awalnya mereka pacaran.

Sanrak malu ditanya seperti itu tapi dia memberitahu kalau First lah yang pertama kali mengejarnya. Tapi dia mengaku kalau sebenarnya dia memang naksir First sejak pertama kali kuliah yang mana waktu itu First adalah seniornya. 

Tapi dia suka First bukan cuma karena wajahnya tapi juga karena mereka selalu nyambung saat ngobrol.

"Dan bagaimana kau bisa tahu kalau dia adalah cinta sejatimu?"

Sanrak mengaku bahwa pernah suatu kali wajah mereka sangat berdekatan dan seketika itu pula jantungnya langsung berdebar kencang dan saat itulah dia tahu kalau First adalah cinta sejatinya. 

Na tertawa geli mendengar kepolosan Sanrak "Semua pria bisa membuat hati semua wanita berdebar kencang saat mereka berdekatan seperti itu"


Sanrak tidak percaya dan yakin sekali tidak semua orang bisa. Hmm... sepertinya Sanrak butuh bukti dan Na langsung membuktikannya dengan bangkit lalu mendekatkan wajahnya sangat dekat ke wajah Sanrak dan membuat Sanrak gugup.


"Apa hatimu berdebar sekarang?"

First memperhatikan segalanya dari pojokan dengan kesal.

Bersambung ke episode 3

0 komentar

Post a Comment