Sinopsis About is Love Episode 17 - 1

 Sinopsis About is Love Episode 17 - 1

Sambil menggenggam lembut tangan Ning Fei, Nyonya He meyakinkannya bahwa dia tidak menjual galeri, tapi hanya membiarkan orang lain yang mengerti seni untuk mengurus galeri ini.


"Kau dibesarkan oleh dua orang ahli seni. Tanganmu sudah terbiasa melukis."

"Bukankah karya seninya sering dijual demi uang?" Nyinyir Wei Qing.

Lagian apa yang dikerjakan Ning Fei kan masih berhubungan dengan seni juga, Nyonya He mengatakannya seolah Ning Fei sangat menderita gara-gara masalah ini.

Nyonya He ngotot kalau lukisan adalah seni, orang-orang yang membelinya adalah orang-orang yang tahu nilainya. Tidak seperti barang-barang mewahnya Wei Qing yang dibeli cuma karena mengikuti trend, mereka tidak mengerti nilai seninya!


He Wei ikut nimbrung meyakinkan Wei Qing bahwa jika perusahaan Snow mengakusisi Yun Ma art, dia tidak akan membiarkan Xue Zi mengontrol segalanya. Lagian kan Nyonya He masihlah pemeganag saham terbesar.

Wei Qing jelas heran mendengar ucapannya. Loh, Wei Yi belum tahu yah? Sekarang ini He Wei lah yang mengurus bisnis Yun Ma art, sedangkan Nyonya He cuma mengurus kegiatan harian galeri.

He Wei meyakinkan kalau Xue Zi itu gampang ditangani. Selama kontraknya Xun Ran masih berada di tangan Nyonya He, Xun Ran pasti akan mau melakukan apapun yang He Wei suruh.

Xue Zi itu penggemar sejatinya Xun Ran, dia bahkan menghabiskan uang banyak demi membeli karyanya Xun Ran. Nyonya He malas membahas masalah ini lagi dan langsung mengusir Wei Qing.


"Ibu... Direktur He, aku datang untuk menyelesaikan masalah ini. Terus menerus menghindari masalah bukanlah solusi."

Tapi Nyonya He dingin melepaskan tangannya dan menegaskan bahwa maalah di antara mereka berdua tidak akan pernah bisa diselesaikan.


He Wei sinis mengusir Wei Qing dan menyarankannya untuk menyerah saja, kecuali kalau dia bisa membujuk Xue Zi untuk menyerahkan bagian sahamnya. Jika tidak, He Wei yakin tidak akan ada harapan.

"Jangan terlalu yakin. Aku jauh lebih ahli darimu dalam menangani wanita."

"Benarkah? Lalu kenapa mantanmu bisa berakhir bersamaku. Bahkan Lin Fei Fei yang baru putus darimu, terpesona olehku."

Wei Qing jelas bingung mendengarnya. "Lin Fei Fei?"

"Kau bahkan memberinya jam tangan Patek Philippe limited edition, tapi kau tidak mampu mempertahankan hatinya."


Wei Qing jadi salah paham, mengira yang dimaksud He Wei sebenarnya Zhou Shi dan itu kontan membuatnya kesal memperingatkan He Wei untuk tidak menyentuh ceweknya.

He Wei nyinyir, dia justru semakin tertarik dengan 'ceweknya' Wei Qing itu. Wei Qing kontan mencengkeram bajunya dan memperingatkannya untuk menjauh dari 'ceweknya'.

"Berkat mantan-mantanmu, sekarang aku tahu kenapa kau selalu mengenakan sarung tangan." Sinis He Wei.

"Kuperingatkan kau, berhentilah melakukan tipu muslihat!"

"Pukul saja aku kalau kau tidak takut kakakku akan marah."

Dan ucapannya itu sukses membuat Wei Qing menyerah dan melepaskannya. He Wei memberitahu Wei Qing bahwa Xue Zi akan mengadakan pesta beberapa hari lagi. Karena itulah, He Wei akan menyiapkan kejutan besar untuk Wei Qing di pesta itu nanti.


He Wei lalu berbalik dan langsung kaget mendapati Ning Fei mendadak muncul di sana entah sejak kapan. Jelas dia mendengarkan percakapan mereka barusan dan langsung to the point memperingatkan He Wei untuk tidak menyentuh Fei Fei.

He Wei sinis, Ning Fei sekarang sudah besar yah, dia sudah tahu bagaimana menarget mangsanya. Baiklah, tapi Ning Fei harus memohon padanya dulu.

Kontan saja Ning Fei mencengkeram bajunya dan hampir saja menonjoknya. Tapi tepat saat itu juga, Nyonya He tiba-tiba memanggil Ning Fei sehingga terpaksa Ning Fei melepaskannya.

He Wei makin sinis dengan kedua pria itu, mengira kedua pria itu sangat protektif terhadap Fei Fei. Kalau begitu, dia akana membuat Fei Fei datang sendiri padanya.


Nyonya He menatap foto kenangannya bersama sang suaminya dengan sedih dan meminta suaminya untuk mengerti. Dia hanya tidak mau Yun Ma yang mereka bangun bersama, hancur di tangan Wei Qing. Jika harus berakhir, Nyonya He lebih memilih untuk mengakhiri segalanya dengan tangannya sendiri.

Flashback.


Saat pengacara mereka membacakan surat wasiat Ayah waktu itu, Nyonya He kontan protes tak terima, pak pengacara pasti salah. Tapi Pengacara menegaskan bahwa Tuan Wei sendiri yang menandatangani surat wasiat itu di hadapannya jadi surat wasiat itu sah.

Nyonya He ngotot tidak terima. Tuan Wei jelas-jelas tahu betapa berartinya Yun Ma baginya, seharusnya Tuan Wei mewariskannya padanya!

Wei Qing sendiri menolaknya waktu itu, dia sadar kalau dia tidak tahu bagaimana harus mengurus Yun Ma. Jika dia yanaga amengurusnya, takutnya dia akan menghancurkannya. Jadi biarkan ibunya saja yang mengurus Yun Ma.

"Dia tidak mau, sekarang anda bisa memberikan Yun Ma padaku."


Tapi Pengacara mengaku bahwa Tuan Wei sempat menitipkan surat padanya saat beliau masih hidup. Tuan Wei sudah mengantisipasi kalau-kalau Wei Qing akan menolak wasiatnya, maka Pengacara harus memberikan surat ini pada Wei Qing.

Wei Qing berkaca-kaca membaca surat itu... hingga akhirnya dia mau menerima wasiat Tuan Wei. Nyonya He ngotot tidak terima, kenapa dia tiba-tiba menginginkannya sekarang? Tadi dia bilang tidak mau?!

"Ini keinginan ayah."


Nyonya He ngotot meyakini suaminya pasti melakukan itu cuma karena dia bingung. Yun Ma adalah kenangan mereka berdua, Nyonya He benar-benar tak punya apapun sekarang setelah suaminya meninggal.

"Ibu bisa mengurus Yun Ma bersamaku."

"Kau tidak suka galeri seni dan tidak suka melukis! Kenapa kau bersikeras ingin memiliki Yun Ma?! Kau mau uang? Akan kuberikan padamu. Aku bisa memberimu apapun, aku hanya menginginkan Yun Ma. Kau bisa melakukan apapun yang kau suka."

Nyonya He ingin merebut suratnya, tapi Wei Qing kontan menjauhkannya sambil bersikeras bahwa ini adalah pemberian ayahnya.

Tapi Nyonya He malah menuduh Wei Qing membencinya dan sekarang Wei Qing menggunakan Yun Ma untuk mengancamnya. Wei Qing jelas menyangkal sambil menyentuh tangan Nyonya He, tapi Nyonya He dengan kejamnya menampik tangan Wei Qing lalu membawa Ning Fei pergi bersamanya meninggalkan rumah itu dan Wei Qing.


Wei Qing berusaha menghentikannya dan meminta Nyonya He untuk mengurus Yun Ma Art bersamanya. Tapi Nyonya He malah menyalahkan Wei Qing sebagai penyebab kematian suaminya.

Jika bukan karena Wei Qing, mereka tidak akan pergi ke Amerika dan Tuan Wei tidak akan meninggal dunia.

"Kaulah yang menyebabkannya meninggal dunia! Sekarang aku tidak tahu bagaimana harus menghadapimu. Lebiha baik kita menenangkan diri sebentar."

Nyonya He pun langsung pergi bersama Ning Fei tanpa mempedulikan Wei Qing yang berusaha mengejarnya.

 

Segala kejadian ini benar-benar membat Wei Qing depresi hingga kepalanya sakit hebat, teringat jejak darah yang berceceran yang dia temukan di TKP.

Seketika itu pula, Wei Qing tiba-tiba melihat penampakan genangan darah yang mengalir padanya dan menodai tangannya dan kontan membuatnya ketakutan hingga dia...


Tersentak bangun dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya itu. Fiuh! Cuma mimpi ternyata. Menatap kembali surat ayahnya dan foto kenangan mereka, Wei Qing bersumpah dia akan membuktikan bahwa keputusan Ayah untuk menyerahkan Yun Ma Art padanya tidak akan salah.


Setelah bekerja semalam suntuk, Ming Cheng dan Qiu Jing akhirnya berhasil mengetahui alasan kerugian yang terus menerus dialami Yun Ma art.

Ternyata itu terjadi karena deposito mereka dicatat sebagai satu-satunya sumber penghasilan galeri dan menyembunyikan situasi keuangan mereka yang sebenarnya.

Keuntungan galeri yang sebenarnya bahkan tidak ada setengah dari keuntungan yang dicatat di laporan keuangan. Jadi, Ming Cheng menduga kalau mereka pasti menyembunyikan arus kas dari proyek-proyek yang lain juga.

Pantas saja mereka selalu merugi walaupun tidak tampak ada masalah apapun di dalam laporan keuangan Yun Ma art. Pelakunya benar-benar lihai.


Ming Cheng terus saja nyerocos dengan antusias. Tapi saat dia menoleh, dia malah mendapati Qiu Jing sudah tertidur kelelahan. Ming Cheng akhirnya menyelimuti Qiu Jing dan keluar kamar diam diam.

Saat dia hendak pergi, dia mendapati Zhou Shi ketiduran di meja, sepertinya dia menunggui mereka semalaman. Ming Cheng langsung membangunkannya untuk pamit.

Bersambung ke part 2

3 komentar: