Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 9 - 3

Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 9 - 3


Dalam flashback, Khun Lek mengaku terang-terangan kalau ia tidak mempercayai informasi Luang Sorasuk itu dan lebih membela Phaulkon. Khun Lek yakin kalau Phaulkon itu orang yang rajin dan jujur.

"Dia tidak mungkin melakukan hal yang jahat... kepada paman yang dia hormati seperti ayahnya sendiri." Itulah yang dikatakan Khun Lek waktu itu.


Phra Phetracha kesal mendengarnya. Phaulkon itu pasti sudah menyogoknya dengan banyak harta. Khun Lek kan suka hal-hal semacam itu. Si farang itu tahu betul bagaimana menyenangkan Khun Lek.


Rumah Khun Lek terus menerus ramai menerima berbagai macam tamu yang membawakan berbagai macam harta benda untuk bernegosiasi.

Tapi kemudian datanglah dua orang pejabat yang mengaku kalau mereka tak membawa harta apapun. Tapi mereka datang untuk membicarakan hal penting dengan Khun Lek. Ibu jadi penasaran, apa alasan kedua tamu itu datang tanpa membawa hadiah.


Kedua orang itu ternyata datang untuk membicarakan masalah pembangunan benteng itu. Mereka ragu karena pembangunan sebesar itu pastinya membutuhkan tenaga yang besar, budak yang banyak, waktu yang lama, peralatan yang bagus, dan lain sebagainya.

Kalau seperti itu caranya, maka setiap rumah akan kehilangan kepala keluarga yang menghidupi wanita dan anak-anak.

Khun Lek nyinyir mendengarnya, dari apa yang dilihatnya selama ini, justru para wanita lah yang bekerja keras, sementara para pria cuma duduk-duduk sambil merokok. Sama seperti mereka berdua, mereka kan juga selalu berjudi.

Bukan berarti ia menentang mereka sih, ia justru sama seperti mereka dan tidak menyetujui pembangunan benteng itu. Pembangunan benteng itu terasa seperti membuat mereka terpenjara.

Karena itulah, Khun Lek berencana untuk meminta Raja mempertimbangkannya kembali walaupun ia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Karena seperti yang mereka tahu, Raja selama ini tak pernah menarik titahnya.

Kedua pria itu tahu kalau si farang itulah yang menganjurkannya pada Raja. Heran mereka, kenapa Raja begitu mempercayai si farang itu lebih daripada para pejabat lokal.


Tapi Khun Lek juga membela Phaulkon dan menegaskan bahwa Phaulkon itu orang yang berbakat dan pintar. Karena itulah Raja menyukainya.

Khun Lek memperingatkan kedua pria itu agar pembicaraan mereka ini jangan sampai ketahuan orang lain. Karena mereka berdua pasti akan bermasalah. Kalau Khun Lek sendiri sih tidak akan kenapa-kenapa, ia percaya diri karena ia adalah favorit Raja.

Kedua pria itu berjanji akan merahasiakannya. Tapi sebelum pamit, mereka terlebih dulu memberikan sebuah hadiah berupa uang untuk Khun Lek.

Mereka berkata kalau uang itu sebagai penyemangat agar Khun Lek menyatakan keberatannya pada Raja. Khun Lek menerima hadiah mereka lalu menyuruh mereka pergi.


Saat Janward melihat ayahnya menerima uang itu, dia langsung cemas karena jika Raja sampai mengetahuinya, maka Khun Lek pasti akan dituduh menerima suap.

Khun Lek santai saja. Dengan atau tanpa uang itu, ia tetap akan berencana untuk naik banding pada Raja. Ibu juga tidak berpikir yang aneh-aneh, uang itu kan tidak seberapa jumlahnya.

Tapi tetap saja Janward tak bisa menghapus kecemasannya begitu saja. Apalagi dia pernah mendengar orang-orang bergosip bahwa rumah mereka ini adalah kebaikan yang bisa dibeli siapapun.

Ibu ngotot kalau orang-orang itu memberikan hadiah untuk Khun Lek, jadi mana boleh mereka menolaknya. Mereka memberikan harta benda berupa emas dan uang karena mereka menghormati ayahnya Janward. Mereka meyakinkan Janward untuk tidak khawatir, tapi tetap saja Janward khawatir.


Yang tidak mereka ketahui, Phaulkon sebenarnya ada di luar dan menguping pembicaraan mereka sedari tadi.


Rumah keluarga Por Date mendadak ribut oleh para warga yang berbondong-bondong ke sana sambil berteriak-teriak meminta bantuan dan minta dipekerjakan jadi pelayan di sana.

Prik berusaha mengusir mereka, tapi gagal. Mereka malah teriak-teriak memanggil Kade. Seperti biasanya, Kade senang-senang saja mendengar namanya dipanggil. Dia bahkan berniat keluar untuk menemui mereka. Tapi Khun Ying sontak menegurnya.

Ternyata mereka sudah mendengar kabar tentang Kade yang bagi-bagi uang pada para pelayan, makanya sekarang mereka datang untuk menjual diri mereka sendiri untuk jadi pelayan di rumah ini hanya demi mendapatkan jaring nyamuk gratis.

Khun Ying sontak menatap Kade tajam, dan Kade pun cuma bisa cengengesan kikuk tak tahu harus bagaimana. Setelah orang-orang itu pergi, Khun Ying langsung mengomeli Kade.

"Sekarang apa kau sudah lihat akibat perbuatanmu?!" Kesal Khun Ying.

Kade bingung, memangnya salahnya apa. Prik memberitahu Khun Ying bahwa orang-orang itu sudah pergi. Tapi dia akan bersiap di dok untuk menghalau siapapun yang mau datang untuk menjual diri mereka jadi pelayan di sini.


Sudah pasti akan ada lebih banyak orang yang datang karena rumor sudah menyebar bahwa Ayah Por Date membelikan jaring nyamuk untuk masing-masing pelayannya.

"Sekarang kau mau bilang apa?"

"Kalau Bibi mau membeli lebih banyak pelayan, maka aku akan membeli lebih banyak jaring nyamuk." Santai Kade.

Khun Ying kesal mendengarnya. "Aku tahu kalau kau itu kaya raya. Uangmu sangat banyak!"

Ayah juga kurang setuju dengan pendapat Kade ini. Semua itu adalah urusan para pelayan. Atau jangan-jangan mereka itu cuma mau menghindar dari kehidupan mereka yang sekarang. Ada banyak petani yang malas bekerja dan lebih suka hidup mudah dan nyaman dengan menjadi pelayan.

"Jadi pelayan itu mudah?" Heran Kade.

"Begitulah. Mereka akan punya makanan setiap hari dan tidak akan kelaparan."


Mengalihkan topik ke percakapan mereka tentang Phaulkon, Por Date penasaran apa sebenarnya yang ingin Kade sampaikan pada Ayah tentang Phaulkon?

"Tidak ada. Tapi..."

"Kau khawatir kalau Ork Luang Phaulkon akan membahayakan Ork Ya Thun?" Duga Por Date.

Kade tak yakin. Mungkin iya, mungkin tidak. Phaulkon itu orang baik, tapi juga jahat. Makanya Kade tak yakin. Tapi bukankah lebih baik untuk menyimpulkan yang terburuk lebih dulu... bahwa dia adalah orang jahat.

 

Khun Lek menegaskan pada Phaulkon bahwa ia tidak akan menjual barang pada perusahaan dagang Hindia Timur Britania. Para farang itu penipu, mereka bahkan menipu perusahaan mereka sendiri.


Di rumah, Maria yang sekarang hamil besar, tak sengaja menguping Phaulkon bicara dengan para rekannya tentang Khun Lek. Para farang itu menyarankan Phaulkon untuk membuat Khun Lek kehilangan kekuasaannya. Hanya dengan cara itu mereka bisa menyingkirkan penghalang mereka itu.

Buat Raja menurunkan Khun Lek. Semua orang kan tahu kalau Phaulkon-lah yang membuat istana mendapat keuntungan besar dan bukannya Khun Lek. Phaulkon itu favorit Raja, jadi dia pasti bisa membuat Khun Lek diturunkan dari jabatannya.


Keesokan harinya saat Phaulkon baru pulang, para pelayan berjejer menyambutnya, terutama Kara yang tampak jelas menyukai Phaulkon. Tapi senyumnya menghilang dengan cepat saat Maria tiba-tiba muncul menyambut suaminya.


Malam harinya, Phaulkon melihat istrinya itu tampak gelisah. Maria mengaku kalau dia kangen ayah dan ibunya. Dia belum bertemu mereka lagi sejak dia menikah.

"Kumohon padamu, tolong suruh orang untuk mengantarkanku kembali ke pranakorn." Pinta Maria.

"Kalau kau pergi, lalu siapa yang bisa kupeluk?"

Maria ngotot beralasan kalau dia merasa gelisah dan tidak bahagia. Dia pasti akan merasa lebih baik kalau dia melihat kedua orang tuanya.

"Apa yang membuatmu tidak bahagia?"

Maria mengklaim kalau dia ingin meminta nasehat dari ibunya terkait kehamilannya. Phaulkon tampak jelas tak ingin melepaskannya, tapi akhirnya dia memberi izin. Dia sendiri tak bisa ikut karena harus mengurus pembangunan bentengnya.


Khun Lek mengutarakan keberatannya untuk membangun benteng karena pembangunan benteng Prakan itu tidak sesuai dengan adat mereka.

Orang-orang juga tidak terbiasa dengan adanya benteng semacam itu karena rasanya seperti terpenjara. Musuh pasti bisa merebut benteng dengan mudah dan akan sulit bagi pihak mereka sendiri untuk mengejar musuh. Lebih baik tidak usah buang-buang uang.

Tapi Raja Narai malah marah-marah tidak terima dan menuduh Khun Lek tidak mau memberikan uang untuk pembangunan benteng itu.

Khun Lek menyangkal, bagaimanapun uang itu adalah uang Raja, jadi Raja bisa menggunakannya untuk apapun. Tapi menggunakannya untuk membangun benteng itu hanya akan sia-sia saja.

"Apa kau merendahkanku, Lek?!"

"Jika benteng itu diserang atau direbut, maka itu artinya memberikan musuh sebuah benteng yang sangat kuat, Yang Mulia."


Tapi Raja tak mempercayai alasannya, malah menuduh Khun Lek menyayangkan uangnya. Khun Lek bersikeras menyangkal, ia sama sekali tidak berani merasakan apapun tentang uang itu karena itu adalah uangnya Raja.

"Bukan karena kau menerima uang dari para petani yang tidak mau membangun benteng, Lek?!" Tuduh Raja.

"Tidak, jao ka. Saya tidak menerima suap dari siapapun."

Tapi Raja ngotot tak mempercayainya dan terus menuntut jawaban Lek. Tapi tentu saja Khun Lek tetap bersikukuh dengan jawabannya. Kesal, Raja langsung membubarkan semua orang kecuali Khun Lek.

Bersambung ke part 4

1 komentar: