Sinopsis Leh Nangfah Episode 15 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 15 - 1


Saat Tee pulang, dia mendapati Orn sedang bercanda tawa bersama orang tuanya. Tee sontak merutuki dirinya sendiri karena lupa dengan janjinya dengan Orn.

Tee meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Orn tak mempermasalahkannya, dia mengerti kok. 

Dia datang membawakan menu kue baru di cafenya untuk mereka semua. Orn lalu pamit pulang, Tee pasti lelah, jadi lebih baik dia istirahat saja.

Sementara Tee mengantarkan Orn keluar, Thana semakin cemas dengan hubungan kedua muda-mudi itu dan mengusulkan agar mereka membicarakannya dengan Tee. 

Nee setuju. Orn itu benar-benar gadis yang baik hati dan manis. Bahkan setiap kali Tee tidak menepati janjinya, Orn tak pernah marah pada Tee.


Maka saat Tee kembali tak lama kemudian, kedua orang tuanya langsung mengkonfrontasinya. Tee membela diri, dia kan tidak sengaja. Mereka kan tahu kalau dia sibuk mengurus Beauty hari ini.

Ngomong-ngomong tentang Beauty, tadi Tee bilang kalau ada seseorang yang mengantarkan Beauty pulang. Siapa orangnya?

"Jadecharn." Kesal Tee.

"Jade Garment? Apa hubungannya dengan Beauty?"

"Betul juga. Aneh. Apa yang dia inginkan?"


Tee juga tidak tahu, tapi dia sering melihat mereka bersama-sama. Mengalihkan topik kembali ke Orn, Thana mendadak usul untuk melamar Orn untuk Tee. 

Tee kaget, dia tidak setuju. Dia tidak mau terburu-buru tentang masalah ini.

"Atau jangan-jangan kau sudah punya orang lain?" Curiga Thana

Tee menyangkal, tapi nadanya canggung dan tidak meyakinkan. Nee jelas tak percaya, jangan bohong, dia bisa melihat segalanya dari reaksi Tee.

"Aku yang melahirkanmu, aku bisa melihat semuanya."

"Aku sungguh tidak punya siapa-siapa, bu. Kalau ibu tak percaya, tatap saja mataku. Sungguh aku tak punya siapa-siapa."


Jade berniat menjenguk Beauty di rumah sakit, tapi malah mendapati kamarnya sudah kosong dan cuma ada suster yang memberitahu kalau Beauty sudah pulang tadi sore. Kecewa, jadilah Jade memberikan buket bunganya pada si suster.


Tee keluar dari kamar mandi, cuma pakai cealna seperti biasanya. Sama seperti Beauty, Seua juga heran melihat kebiasaan tuannya itu. "Dia tidak pernah berpikir untuk berpakaian di kamar mandi. Lihatlah perut six pack-nya. Aku juga mau."

Tidak ada burung Beauty, Tee pun curhat sama Seua. "Hei! Terlahir jadi kau, pasti menyenangkan. Kau tidak perlu memikirkan siapapun yang kau sukai atau kau cintai."

"Saat burung tidak ada di sini, kau bicara dengan si kucing. Cih!"


Teringat kecurigaan kedua orang tuanya tadi, Tee bingung sendiri, siapa orang lain yang dia sukai? Dia berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan galau saat tiba-tiba saja bayangan wajah Beauty muncul dalam benaknya.

Kaget dengan pikirannya sendiri, Tee sontak bersikeras menyangkal perasaannya. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Tidak mungkin! 

Berusaha mengusir bayangan itu jauh-jauh dari pikirannya, Tee langsung semangat push-up sampai capek.


Keesokan harinya, Bibi Jan dan Pon masuk ke kamar Beauty yang mereka kira sedang kosong, tapi malah mendapati nona mereka itu sedang tidur tel****ng. Mereka sontak panik mengambilkan baju untuk menutupinya.

Tapi kapan Beauty keluar dari rumah sakit? Dan bagaimana dia pulang kemarin? Siapa yang mengantarkannya? Demamnya masih tinggi, sebaiknya dia kembali ke rumah sakit. Beauty menolak dan langsung mengusir mereka dari kamarnya.


Beauty kembali ke pabrik tak lama kemudian dan langsung menanyakan kondisi Seenuan. Somcheng memberitahu kalau ibunya sudah baikan dan sudah boleh pulang hari ini. Makanya nanti Somcheng mau cuti setengah hari untuk menjemput ibunya nanti.

"Aku mau ikut. Aku tidak bisa menjenguknya karena aku sendiri sakit."

"Tidak apa-apa. Ibu lebih mencemaskanmu lebih daripada dirinya sendiri."

Beauty tersentuh mendengarnya. Oh, yah. Apa adiknya Somcheng bisa menyetir? Bisa, dulu dia pernah bekerja jadi supir taksi. Kenapa memangnya?

"Kalau begitu, suruh dia ambil mobilku dari rumahku agar kita bisa pergi ke rumah sakit dan menjemputnya."

"Apa tidak apa-apa, nona?" Cemas Somcheng. Beauty mengiyakannya.


Tak lama kemudian, Beauty ikut ke rumah mereka yang cukup kumuh dan sangat kecil. Beauty sampai kasihan melihat kondisi hidup mereka.

"Masuklah, nona. Rumah kami sempit. Silahkan duduk."

"Tidak masalah, bi. Tidak masalah biarpun sempit, yang penting bersih."


Tee datang ke pabrik bagian sewing tapi malah mendapati karyawan yang kerja hari itu cuma sedikit. Ke mana semua orang? Apa banyak orang yang cuti? Tanyanya.

Salah seorang karyawan melapor kalau yang cuti cuma dua orang, sedangkan Somcheng keluar bersama Beauty untuk menjemput Seenuan dari RS. Tee lega mendengar Beauty sudah bisa kembali kerja.


Tepat saat itu juga, Orn meneleponnya untuk mengundangnya ke acara musikal malam ini. Apa Tee ada waktu malam ini? 

Tee tampak ragu, tapi juga tak enak menolak dan akhirnya menyetujuinya. Kalau begitu, jam berapa Orn mau dijemput?

"Saat kau pulang kerja. Kita bisa keluar dan makan dulu."

"Aku ada urusan satu jam setelah aku pulang kerja. Aku akan ke sana begitu aku selesai, oke?"

"Oke. Sampai jumpa nanti malam."


Somcheng baru saja mengambilkan minum untuk Beauty saat seorang wanita datang. Sepertinya dia pemilik rumah kontrakan itu dan dia datang mendoakan Seenuan cepat sembuh hanya supaya Seenuan bisa segera membayar uang kontrakan rumah ini. Beauty terkejut mendengar rumah ini ternyata bukan rumah Seenuan sendiri.

"Kami tidak sanggup membeli rumah sendiri. Membayar bulanan saja sudah cukup."

Tiba-tiba A-Ngoon ngelindur gelisah memanggil-manggil ibunya dan membuat semua orang cemas padanya. Somcheng rasa kalau sekarang saatnya A-Ngoon melakukan dialisis ginjalnya.


Beauty bingung, bagaimana caranya Seenuan akan membawa putrinya ke RS saat tangannya masih belum sembuh? Tentu saja Seenuan akan menyuruh Somcheng untuk cuti agar bisa membawa adiknya ke RS.

"Cuti? Kalau begitu, kalian semua kesulitan."

"Saya rasa tidak begitu. Ini cuma kesialan saya."

"Ini bukan cuma kesialan, bi. Alasan kau terluka adalah karena Pat, dia harus bertanggung jawab. Jika tidak, akan kupecat dia."

Tapi Seenuan menolak dijadikan penyebab Beauty memecat Pat. Lagipula, Pat kan kakak sepupunya Beauty. Kalau Beauty memecatnya, dia akan dianggap jahat karena memecat saudara sendiri.


Kratua datang ke kantor dengan membawakan papan nama baru untuk Pat. Dia benar-benar mengganti nama marganya sekarang biar tidak sama dengan Beauty. Dengan begini, orang-orang akan berhenti berkata kalau dia dan Beauty adalah saudara.

Dia bahkan memerintahkan Piwara untuk mengganti nama marganya di semua dokumen. Kratua lalu melapor kalau Beauty belum balik ke pabrik sejak dia pergi tadi. Mendengar itu, Pat langsung memerintahkan Piwara untuk mencari tahu keberadaan Beauty sekarang juga.


Jade bertamu ke rumah keluarga Orn di mana Papa menanyakan persiapan acara Thailand Fashion Week. Jade mengaku kalau perusahaannya akan membuat koleksi baru untuk acara fashion show itu nanti.

Papa menyarankannya untuk membuat karya level high-end lalu memberitahu sebuah rahasia untuk Jade. Dia akan mengundang Grace Miller, seorang editor Dazz Magazine, ke acara itu nanti. Jika karya-karyanya Jade menarik perhatian Grace, dia pasti akan bisa masuk majalahnya dan terkenal di seluruh dunia.

Tapi Papa memperingatkan Jade untuk merahasikannya karena Papa hanya memberitahukan hal ini pada orang-orang yang punya potensi. Staf majalah itu bahkan bilang kalau Grace tak suka buang-buang waktu dengan karya-karya yang tidak sesuai levelnya. Jade janji akan berusaha yang terbaik.


Mami dan Orn pulang tak lama kemudian dan Jade langsung main mata dengan Orn. Males melihatnya, Orn berusaha menghindar dengan alasan mau membuatkan mereka teh. Tapi Papa bersikeras menyuruhnya duduk saja dan biarkan para pembantu yang membuatkan minuman.

Jade mencoba mengajaknya ngobrol dengan tanya kenapa Orn tidak ke toko hari ini. Tapi Orn kesal dan menolak menjawab apapun. 

Tak enak, Mami mewakilinya menjawab kalau Orn harus pulang agar dia bisa bersiap-siap pergi nonton musikal bersama Tee nanti malam.

Jade terus mencoba tanya-tanya, tapi Orn malas meladeninya dan buru-buru menghindar dengan alasan mau merangkai bunga untuk para pemeran acara musikal itu.


Alih-alih masuk dan mencari Beauty, Kratua malah heboh sendiri mondar-mandir di depan pabrik. Piwara sampai gregetan melihatnya dan menyarankannya untuk masuk saja dan bicara pada Beauty.

Kratua malah nyerocos panjang lebar mengkritiki Piwara dan memberitahu bahwa mereka harus menyelidiki segala sesuatunya secara mendalam saat sedang menyelidiki sesuatu.

Tepat saat itu juga, beberapa karyawan meluncur ke arah mereka dengan membawa segerobak gulungan kain. Kratua langsung pura-pura memuji kecantikan mereka semua dan tanya mereka mau pergi ke mana.

Tapi salah satu penggosip menjawabnya dengan judes. Kratua langsung sebal dan mengingatkan mereka untuk tidak kepedean berpikir kalau Beauty bangga sama mereka. Begitu Beauty selesai training, dia pasti akan 'mengurus' (memecat) mereka nanti.


Yang diomongin muncul tak lama kemudian. Para karyawan langsung menyapanya dengan hormat. Beauty pun menyapa mereka dengan ramah. Tapi kemudian Beauty berkata kalau dia harus pergi untuk 'mengurus' Seenuan. Para karyawan sontak cemas mendengarnya.

Pada Kratua dan Piwara, Beauty nitip pesan untuk Pat. Bilang pada atasan mereka itu bahwa dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Mereka berdua langsung balik ke kantor untuk melaporkan ucapan Beauty tadi pada Pat. Mereka juga dengar kalau Beauty mau mengurus masalah Seenuan. Mereka yakin kalau itu maksudnya adalah Beauty mau memecat Seenuan.

"Baguslah kalau begitu. Biarkan dia memecat Seenuan agar semua orang di perusahaan tahu siapa dia yang sebenarnya."

Kratua langsung semangat. Dia tuh ahli dalam masalah ngasih tahu orang-orang. Kalau begitu, dia akan menyebarkannya sekarang juga. Lagi-lagi, Piwara diam-diam tersenyum licik seolah menikmati kebencian Pat pada Beauty.

 

Tak lama kemudian, para karyawan mendapat pesan anonim yang mengatakan kalau presiden baru mereka memecat Seenuan dan para karyawan langsung mempercayainya begitu saja.

Sementara para karyawan heboh membicarakan pesan itu, Beauty terburu-buru masuk ke taksi tanpa menyadari kehebohan para pegawai dan Tee yang baru saja datang untuk menjemputnya.

Tee jelas kesal ditinggal begitu saja. Tapi dia tidak memikirkannya lebih jauh lagi karena Orn mengirim pesan saat itu untuk mengingatkannya akan janji mereka.


Beauty sampai di kamarnya tepat waktu dan sudah sangat siap saat mulai matahari terbenam, bahkan antusias banget untuk cepat-cepat berubah jadi burung.

Sukses berubah jadi burung, Beauty langsung makan makanan burung yang sudah disiapkannya biar dia kuat terbang, soalnya malam ini dia harus terbang jauh.

"Lallalit, Fighting!"

Tiba-tiba dia melihat cahaya ajaib itu muncul lagi. Beauty langsung sebal. Dia ada urusan di tempat lain hari ini, jangan ganggu.

"Aku tahu sekarang. Kau bukan monster serangga, tapi hantu Kraseu! (hantu wanita tanpa badan dan hanya kepala yang melayang-layang)


Dewi sampai shock mendengarnya. "Dia memanggilku hantu Kraseu?"

Tak enak, Lalita beralasan kalau Beauty cuma salah paham karena hantu Kraseu kan sering muncul sebagai cahaya.

Beauty jadi makin yakin karena cahaya itu tiba-tiba saja menghilang. "Hei, hei. Aku tidak takut padamu lagi, jadi hapus kutukan ini sekarang juga! Hei penyihir! Monster serangga! Hantu Kraseu!"

"Karena itulah aku tidak bisa menuntunnya untuk berbuat kebaikan."

"Anda begitu baik, Dewi. Tapi sekarang Lallalit bisa memilih jalan yang benar sendiri."

"Kau yakin?"

"Iya."

Bersambung ke part 2

1 komentar: