Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 3 - 2

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 3 - 2


Semua orang tegang menunggu keputusan Jin Xi. Tiba-tiba salah satu lampu lalin yang mengarah ke kanan, menyala hijau dan Jin Xi pun akhirnya memutuskan. "Belok kanan!" (Yes! Dia milih Xiao Zhuan)

Han Chen kontan putar ke kanan. Cold face memerintahkan yang lain untuk berpencar. Jadilah mereka terbagi ke dalam dua tim yang mengarah ke dua arah yang berbeda.


Menyadari siapa yang Jin Xi pilih, Si Bai yang biasanya kalem, kontan mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.


 

Tim satu tiba di tempat Xiao Zhuan disekap. Jin Xi meyakinkannya untuk tidak cemas, dia janji takkan membiarkan apapun terjadi pada Xiao Zhuan. Tapi dia juga menyuruh Han Chen dan yang lain keluar, takut kalau terjadi sesuatu yang salah.

Han Chen memerintahkan yang lain keluar, tapi dia menolak meninggalkan Jin Xi. Jin Xi mulai mengusapkan jempolnya di scanner dan bom itu pun mati. Fiuh! Xiao Zhuan sudah aman, Jin Xi dan Han Chen pun bergegas pergi ke Si Bai.


Lao Dao dan timnya tiba di tempat Si Bai disekap. Jin Xi meneleponnya dan tanya apakah mereka sudah menemukan Si Bai. Belum, kontak mereka dengan Si Bai terputus, jadi sulit mencarinya.

"Kami sekarang berada di gedung Jiang Feng dan berusaha mencari di setiap lantai. BaiBai, sebaiknya kau bersiap (untuk menghadapi kemungkinan terburuk)."

Han Chen langsung ngebut makin cepat, bertekad untuk menyelamatkan kedua pria itu.


Polisi berpencar mengelilingi gedung kosong itu. Jin Xi dan Han Chen pun tiba tak lama kemudian. Mereka hendak masuk saat tiba-tiba bom meledak dan membuat beberapa polisi terdekat terlempar karena efek ledakannya.

Shock, Jin Xi sontak mencengkeram erat Han Chen dan menangis dalam plukannya. Prihatin, Lao Dao berusaha menghibur Jin Xi agar dia tidak merasa bersalah.

"Tidak. Dia membenciku. Dia membenciku saat dia mati."


Tapi tiba-tiba Lao Dao melihat Si Bai terpincang-pincang keluar dari semak-semak dalam keadaan hidup dan aman. Jin Xi begitu bahagia melihatnya selamat dan langsung memeluknya erat-erat sambil meminta maaf berulang kali.

Tapi Si Bai yang tampaknya masih sangat kecewa, langsung melepaskan plukan Jin Xi. Semua orang pun senang melihatnya selamat, tapi bagaimana caranya dia bisa terlepas dari sana?


Si Bai mengaku dia memikirkan tentang cara tim Black Shield dalam memecahkan password sindikat itu, dia pikir mungkin saja caranya sama dengan sebelumnya. Dia pikir password itu mungkin ada di hadapannya, tapi dia belum menyadarinya.

Maka dia pun mulai memikirkan arti puisinya A tadi. Keberadaan paling sederhana di alam semesta adalah 1 (nilai paling kecil), simbol paling kompleks dalam hidup adalah 8 (bentuk DNA), bisa berlangsung setiap hari berarti 7 (7 hari), dan setiap tahun berarti 4 (4 musim dalam setahun).

Sesaat bom itu memang mati dan Si Bai pun bergegas melepaskan dirinya. Tapi bom itu tiba-tiba menyala lagi. Si Bai pun cepat-cepat meletakkan bom itu di kursi dan melarikan diri. Bom itu meledak dan Si Bai langsung menjatuhkan dirinya di tumpukan pasir di bawah.


Lao Dao kagum dengan kepintaran Si Bai dalam memecahkan teka-teki itu. Jin Xi ingin mengantarkan Si Bai ke RS, tapi Si Bai menolak. Lebih baik mereka menyelidiki TKP saja, dia lalu masuk sendiri ke ambulance dan membuat Jin Xi semakin tak enak hati.

"Mereka sudah baik-baik saja. Syukurlah mereka berdua baik-baik saja sekarang."

 

Mereka lalu masuk ke TKP. Jin Xi merasa aneh menyadari perbedaan tempat Xiao Zhuan dan Si Bai disekap. Kenapa Si Bai disekap di tempat yang terbuka?

Saat itulah Han Chen mulai menyinggung keanehan lampu lalin tadi. Cold Face juga menyadarinya, lampu merah tadi menyala terlalu lama dan hanya satu yang menyala hijau seolah mencegah mereka untuk belok ke kiri. Lao Dao berpikir kalau R pastilah meretas sistem lalin.

"Dalam situasi seperti ini, kurasa hanya ada satu alasannya. Mungkin sejak awal, orang itu memang beriat membunuh Xu Si Bai. Tapi aku tidak mengerti kenapa. Kenapa menurut mereka, Xu Si Bai lebih pantas mati?"

Han Chen yakin kalau A pasti terus mengawasi Si Bai dari gedung seberang. Dia lalu menyuruh Jin Xi untuk menganalisanya dari sudut pandang psikologi.


Jin Xi setuju dengan dugaan Han Chen. Melihat Si Bai ditempatkan di tempat terbuka, Jin Xi yakin kalau A memang ingin menyaksikan penderitaan korbannya sampai mati. Jika sejak awal dia memang ingin melihat Si Bai mati, maka maklum saja kalau dia cuek dengan situasi Xiao Zhuan.

Dia pasti mengawasi Si Bai dari gedung seberang. A mungkin saja mau mengakui kalau dia kalah, tapi dia tidak terima melihat Si Bai melarikan diri. Makanya dia meledakkan bomnya. Han Chen lalu menyuruh Lao Dao dan Cold Face tetap di sana, sementara dia dan Jin Xi berkeliling.


Mungkin takut Han Chen cemburu, Jin Xi memberitahu Han Chen bahwa dia menganggap Si Bai seperti keluarganya sendiri, sama seperti Xiao Zhuan.

Beberapa tahun ini, dia tidak memiliki keluarga. Dia juga tidak punya banyak teman karena dia tidak mau memberitahu orang-orang tentang amnesianya. Dua pria itulah yang paling dekat dengannya.

"Xiao Zhuan, mungkin karena kami sangat mirip. Lao Xu, mungkin karena aku bisa merasakan rasa kesepian yang sama dalam dirinya."


Han Chen tiba-tiba menarik Jin Xi ke dalam plukannya. "Apa kau pikir aku hidup bahagia beberapa tahun belakangan ini? Tidak akan ada seorang pun yang mencintaimu lebih daripada aku. Bagaimana bisa Xu Si Bai dibandingkan denganku?"


Si Bai termenung sedih di apartemennya, teringat bagaimana Jin Xi selalu lebih mementingkan Han Chen selama ini. Apalagi dia lebih memilih Xiao Zhuan daripada dirinya. Dia lalu mandi dan membasuh semua kotoran di t**uhnya dengan geram dan penuh amarah.


Di kantor polisi, tim Black Shield rapat mendiskusikan identitas si A. Namanya adalah Xia Jun Ai, 24 tahun. Dia tidak punya catatan kriminal karena selalu pakai KTP palsu.

Mereka tidak bisa menemukan apapun tentangnya dalam database, tapi ada rambutnya yang rontok saat dia bertarung melawan Xiao Zhuan. Dari situlah mereka mendapatkan DNA-nya dan mengetahui kalau dia adalah putra Tuan Xia yang data DNA-nya tercatat dalam arsip kriminal.

Tuan Xia sendiri dulunya pernah dipenjara karena perampokan. Lalu tak lama setelah dia keluar dari penjara, dia dihajar sampai mati.

Keluarga Jun Ai sangat miskin. Dia baru berusia 8 tahun saat ayahnya dibunuh gara-gara dia menolak bagi-bagi hasil rampokannya, dan ibunya cuma kerja serabutan. Ibu dan anak itu saling bergantung pada satu sama lain dan sangat menderita.

Lalu saat Jun Ai berusia 12 tahun, ibunya jatuh sakit. Karena mereka tak punya uang ataupun asuransi kesehatan, pada akhirnya ibunya meninggal dunia di rumah.


Tak ada seorangpun yang tahu keberadaan Jun Ai setelah dia lulus SMP. Tapi dari hasil nilai ujian SMP-nya, mereka mendapati Jun Ai mendapat nilai sempurna dalam pelajaran fisika dan kimia. Dia juga sering jadi juara satu dalam kompetisi membuat peragaan.

5 tahun yang lalu dia baru berusia 19 tahun. Karena dia tidak punya KTP sebelum menghilang, jadi tak ada yang tahu ke mana dia pergi atau apa yang dia lakukan selama beberapa tahun ini.

Mereka juga mendapatkan rekaman CCTV yang memperlihatkan A berada di dekat TKP beberapa saat setelah bom itu meledak. Tapi karena dia pakai masker, jadi sulit mengidentifikasinya.


3 anggota sindikat itu bertemu di markas mereka yang sangat gelap. Saat L datang, A langsung memprotes tempat pertemuan yang L pilih ini.

L sontak kesal meneriaki A kalau semua ini gara-gara A. Gara-gara A membuat kesalahan dengan meninggalkan DNA dan identitasnya terbongkar, terpaksa mereka harus bertemu di tempat seperti ini.

"Aku tahu kau masih marah atas Xin Jia. Tapi tidak seharusnya kau menyalahkanku atas kegagalan kita kali ini."

Jika saja T mendengarkan nasehat E dan tidak melibatkan Jin Xi dan Han Chen dalam rencana balas dendamnya, maka E tidak akan mengambil resiko itu dan mengekspos dirinya sendiri. Dan mereka pun tidak akan memulai rencana mereka lebih awal. E pantas mendapatkan karmanya.

L tidak terima hinaannya dan sontak menghajar A. Jadilah kedua orang itu saling tonjok-tonjokkan dan R cuma menonton dengan senyum geli.


"E cemas setelah T mengekspos dirinya sendiri. Chip di t**uh T akan membawa masalah baginya dan bagi kita semua. Karena itulah dia melakukan itu!" Teriak L sebelum kemudian menghajar A lagi.

A tidak percaya, E jelas-jelas mau memberitahukan segalanya pada Han Chen. Siapapun yang berkhianat, dia harus dimusnahkan. "Kau sendiri yang setuju untuk membunuhnya. Apa yang kau bingungkan sekarang? Hah?"

R cepat-cepat melerai mereka dan menegaskan kesalahan mereka berdua. L jatuh cinta pada Xin Jia yang jelas-jelas tidak tertarik padanya dan akhirnya malah membuat dirinya sendiri terekspos.

Dan A, dia sendiri mengacau saat berurusan dengan Su Mian dengan tidak segera meninggalkan TKP, malah foto-foto di sana. Intinya mereka berdua itu sama saja.


"Kalau kalian saling membenci sebesar itu, maka berkelahilah di luar. Kita tidak punya banyak waktu dan kesempatan sekarang. Jadi kurasa, kita harus mulai melaksanakan rencana final kita dan menyelesaikan semua ini."

L kesal dan langsung balas melabrak R. Jika saja dia tidak mengubang timing lampu lalin dan memaksa Su Mian untuk membuat keputusan itu, maka mereka akan punya banyak waktu untuk melaksanakan rencana mereka.


"Cukup! Kau pikir aku berani membuat keputusan itu sendiri?!" Bentak R. Dia lalu menatap ke arah pintu, seseorang misterius masuk dan membuat yang lain tercengang melihatnya.

Bersambung ke episode 4

1 komentar: