Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 2 - 1

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 2 - 1


Han Chen dan Jin Xi pergi ke sebuah mall yang Han Chen perkirakan pernah didatangi A. Dia yakin karena di dalam mall ini, ada cafe yang logonya tertera di cangkir kopi yang ditinggalkan A, dan hanya di tempat ini yang paling dekat apartemennya.

Saat mereka melewati sebuah toko perhiasan, mereka melihat sepasang suami istri yang sedang berdebat gara-gara si suami tidak sabaran dengan lamanya si istri memilih-milih cincin. Si istri tidak terima karena ini jarang-jarang suaminya menemaninya belanja. Pada akhirnya si suami mengalah karena ini hari ultah istrinya.


Melihat mereka, Jin Xi jadi berpikir. Sedalam apapun dua orang saling mencintai, apakah pada akhirnya cinta mereka akan pudar setelah mereka menikah dan mereka harus bergantung pada sesuatu seperti uang dan anak-anak untuk tetap bersama?

"Tergantung orangnya. Menurutku, itu tidak akan terjadi pada beberapa orang." Ujar Han Chen

"Siapa?"

Han Chen langsung menunjuk dirinya sendiri. "Aku, aku hanya akan mencintai satu orang dalam hidupku. Bahkan sekalipun aku menua, jadi bodoh atau kehilangan ingatanku, aku akan selalu menjaganya dan peduli padanya agar dia lebih bahagia daripada aku."

"Cheesy banget."


Saat mereka melewati toko buku, tak sengaja mereka melihat Si Bai. Jin Xi langsung antusias menghampirinya. Si Bai juga senang... sampai saat dia melihat Han Chen.

"Apa kalian sedang bekerja? Apa aku menganggu kalian?"

Jin Xi mau menjawab, tapi Han Chen langsung menyela duluan dengan ketus. "Kami sedang kencan. Masalah apakah kau menganggu kami atau tidak, jawabannya adalah iya."

Jin Xi mengoreksi, mereka memang sedang bekerja, tidak usah mendengarkan omongan Han Chen. Kebetulan sekali mereka bertemu di sini.

Si Bai berkata kalau dia datang untuk membeli buku. Sejak pingsan waktu itu, dia sering mengalami sakit kepala. Xiao Yao tidak membiarkannya melakukan banyak pekerjaan dan menyuruhnya istirahat.

"Syukurlah kau ikut memindahkan Xiao Yao kemari. Jika tidak, dengan temperamenmu itu, kau pasti akan tinggal sepanjang hari di lab atau di rumah sakit."


Tak tahan lagi mendengar mereka, Han Chen langsung menyeret Jin Xi pergi dari sana. Jin Xi langsung memprotes sikap Han Chen yang terlalu blak-blakan itu. Han Chen tidak peduli. Dia kan sudah menyuruh Jin Xi untuk menjelaskan pada Si Bai.

"Tapi jika kau sangat kejam padanya setiap saat, dia akan malu."

"Suka-suka aku."

Iya deh, Jin Xi menyerah. Sepertinya dia harus mengganti nama kontak Han Chen di ponselnya. Menggantinya dari 'Han brens*k' ke 'Botol Cuka Han' (botol cuka: pacar yang cemburuan).

Han Chen tidak masalah. "Kalau kau yang memberiku nama itu, aku setuju saja."


Di CCTV mall, petugas mendapati ada yang aneh di sebuah pertunjukkan yang ada di mall itu. Seorang pria tergantung terbalik.

Saat Jin Xi dan Han Chen hendak ke ruangan itu, dua orang petugas keluar dan langsung melaporkan kejadian itu pada mereka. Mereka pun bergegas pergi ke lantai satu untuk mengecek keadaan. Mereka terburu-buru melewati toko buku dan Si Bai keheranan melihat orang-orang yang berlarian itu.


Orang yang tergantung terbalik itu ternyata si suami di toko perhiasan tadi dan istrinya langsung panik saat melihat keadaan suaminya.

Lalu tiba-tiba saja semua TV terdekat menyala dan menunjukkan rekaman A pakai topeng menyapa semua orang.

"Senang sekali semua orang bisa ambil bagian dalam live show-ku. Tidak perlu takut. Untuk memastikan kalian bisa menonton dengan baik, aku sudah memblokir semua sinyal masuk ke ponsel kalian."

Sontak para penonton mengecek ponsel-ponsel mereka dan menyadari memang tak ada sinyal, termasuk ponselnya Han Chen.


A berkata kalau dia ingin main game dengan semua orang. Dia akan sangat kagum pada siapapun yang bisa mengabaikan game yang akan menentukan hidup dan mati mereka ini.

Dia punya hadiah spesial untuk mereka semua. Apa mereka pernah dengar kasus penyerangan sarin di subway Tokyo? Itulah hadiahnya untuk mereka. (Penyerangan maut yang dilakukan sebuah kelompok sekte dengan menyebarkan gas sarin di sebuah subway yang terjadi pada tahun 1995 di Tokyo)


Seketika itu pula terdengar suara desisan gas keluar dari langit-langit gedung yang sontak membuat semua orang berhamburan dengan panik berusaha melarikan diri, tapi semua pintu terkunci rapat.

Han Chen dan Jin Xi buru-buru menenangkan semua orang dan membantu si suami itu turun. A berkata bahwa jika mereka mau pergi, ada sebuah cara. Dia sudah menyiapkan kunci untuk semua orang, dan kuncinya itu ada pada si pria yang digantung itu.


Semua orang sontak mengerubungi dan menggeledah pria itu untuk mencari kuncinya. Jin Xi berusaha menghentikan mereka, tapi tentu saja tak ada yang mendengarnya.

Pria itu entah mengapa melindungi bagian perutnya dan memberitahu mereka kalau dia tidak memiliki kuncinya. Dia malah membuka paksa bajunya... dan memperlihatkan sebuah bom waktu yang terikat ke t**uhnya. Inilah kuncinya.

Semua orang sontak berlarian menjauh darinya. Pria itu mau melarikan diri, tapi Han Chen dan Jin Xi menghentikannya.

A mengumumkan bahwa sekarang waktu mereka cuma tinggal 5 menit lagi sebelum gas beracun itu cukup banyak untuk meracuni mereka. Mereka punya 3 cara untuk mendapatkan kuncinya.

Pertama, mereka menunggu kunci itu keluar dengan sendirinya dari t**uh pria itu. Pada saat itu terjadi, mungkin mereka sudah mati. Cara kedua, bedah saja pria itu untuk mengeluarkan kuncinya. Apa ada dokter atau tukang jagal di sini?

Cara ketiga, gunakan remote control untuk meledakkan bomnya dan mereka bisa mendapatkan kunci itu dari dalam perut pria itu. Pria itu sontak panik, dia sungguh tak mengerti apa salahnya hingga A ingin membunuhnya. Dia rela memberikan semua miliknya asalkan A melepaskannya.

"Kau harus hidup agar bisa menghabiskan uang. Sekarang sisa 4 menit lagi. Kalian harus bergegas."


Alih-alih mencemaskan suaminya, istri pria itu malah ingin menyelamatkan nyawanya sendiri dan tanya di mana remote controlnya. A bilang remote control itu ada di sebelah kiri speaker.

Begitu menemukannya, wanita itu langsung menyerahkan remote control itu ke salah satu pengunjung dan menyuruh pria itu memencetnya. Pria itu tidak mau dan menyerahkan kembali remote control itu ke si istri.

Jelas saja si suami marah-marah padanya, bisa-bisanya dia mau membunuh suaminya sendiri. Si istri balas melabraknya, dia tahu betul kalau si suami punya anak bersama gundiknya. Kalau bukan karena uangnya, dia pasti sudah meninggalkannya sedari dulu.


Wanita itu langsung memencet tombolnya. Han Chen sontak melindungi Jin Xi. Tapi pria itu tidak meledak, malah remote control itu sendiri yang meletus dan mencederai tangan wanita itu.

Si Bai bergerak cepat memperban tangan wanita itu sementara si suami merutuki si istri. Si A minta maaf, dia salah. Remote control yang benar ada di speaker sebelah kanan.


Salah satu pengunjung menemukan remote control itu dan berusaha menyerahkannya pada siapapun, tapi tak ada yang mau menerimanya. Akhirnya dia menyerahkannya pada Han Chen menyuruh Han Chen memencetnya, bahkan semua orang pun menuntut Han Chen untuk memencet tombolnya.

Kesal, pria itu tertawa histeris. "Kalian ingin aku mati. Baiklah. Kalau aku harus mati, mari kita semua mati bersama!" Teriak pria itu sambil maju menghampiri kerumunan orang.


Han Chen sigap menariknya dan langsung mendorongnya ke arah lain lalu menggunakan t**uhnya sendiri untuk menamengi Jin Xi saat pria itu meledak. Efek ledakan itu langsung membuat semua orang berjatuhan. Han Chen pingsan seketika dan Jin Xi pun pingsan sedetik kemudian.


Saat mereka tersadar sesaat kemudian, tim medis sudah tiba di sana dan Si Bai langsung cemas membangunkan Jin Xi. Tapi begitu dia terbangun, pikiran pertama Jin Xi adalah Han Chen. Tim medis tiba di sana dan langsung menggotong Han Chen.

Melihat itu, Jin Xi langsung berteriak-teriak memanggil nama Han Chen. Seorang dokter tanya apakah Jin Xi anggota keluarga Han Chen dan Jin Xi refleks mengiyakannya. Dokter pun menyuruhnya ikut dan Jin Xi pun langsung pergi tanpa mempedulikan Si Bai.


Han Chen masih tak sadarkan diri malam harinya dan Jin Xi setia mendampingi di sisinya. Menyandarkan kepalanya di d**a Han Chen, Jin Xi menangis dan meminta Han Chen untuk bangun secepatnya.


Si Bai datang saat itu dan baru saat itulah Jin Xi menanyakan keadaannya. Si Bai menatap Han Chen tajam, tapi dia tetap berusaha menghibur Jin Xi dengan meyakinkannya kalau Han Chen akan baik-baik saja.

Dia juga mengingatkan Jin Xi kalau dia juga akan selalu melindungi Jin Xi, sama seperti Han Chen. Tapi Jin Xi terlalu sedih untuk mendengarkannya dan meminta Si Bai untuk meninggalkannya sendirian.

Si Bai terpaksa keluar dan merenung seorang diri di lobi rumah sakit yang sepi. Tak lama kemudian, Jin Xi mendapat sms dari A berupa link.


Si Bai tengah membeli beberapa kaleng bir, dan saat dia berbalik, dia melihat si A sedang mengawasinya. Tapi A langsung pergi begitu Si Bai melihatnya.

Tapi saat Si Bai kembali ke lobi rumah sakit, A kembali muncul di depannya dan kali ini dia berusaha menarik perhatian Si Bai dengan menari-nari dan berjalan mundur.

Si Bai terpancing dan langsung keluar untuk menghampirinya. Tapi begitu dia melangkah keluar dari pintu rumah sakit, R dan L muncul dari belakangnya dan langsung menghantam belakang kepalanya sampai dia pingsan dan membuat minuman yang dipegangnya terjatuh. Mereka lalu memasukkan Si Bai ke mobil van mereka.


Jin Xi keheranan saat dia membuka link itu, apa sebenarnya maksudnya? Mereka mengundangnya atau menantangnya?

Tapi dia mengesampingkan masalah itu saat perhatiannya kembali ke Han Chen yang masih belum sadarkan diri. "Bukankah kita sudah berjanji untuk menghadapi Sindikat Alfabet bersama-sama? Bukankah kita sudah berjanji untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun yang lalu?"


Jin Xi lalu berniat keluar. Tapi tiba-tiba Han Chen menangkap tangannya sambil protes. "Kau berisik sekali. Bagaimana orang bisa tidur?"

Lega, Jin Xi sontak mencekiknya sambil menggerutu protes dan Han Chen langsung menghentikannya dengan mendekapnya erat. "Kau sangat cantik hari ini."

Jin Xi kontan memukul keras d**a Han Chen. "Apa kau tahu betapa putus asanya aku? Kau pikir kalau kau menggombal..."

Tapi tiba-tiba Han Chen meringis kesakitan gara-gara pukulannya. Jin Xi langsung cemas, apa dia memukul terlalu keras? Apa dia baik-baik saja? Dan Han Chen malah menjawabnya dengan senyum menggoda.


"Aku tahu kau cuma akting!" Gemas Jin Xi "Bagaimana? Apa kau sudah baikan sekarang?"

"Aku tidur seharian, jadi sekarang aku punya banyak energi," goda Han Chen.

"Nyebelin!"


Jin Xi lalu memperlihatkan link itu, sebuah rekaman ketiga Sindikat Alfabet yang pakai topeng. Mereka tampak berdiri berjejer di sebuah area yang sepi. L lalu menari-nari gaje mengiringi A yang membacakan sebuah puisi.

Malam telah menutupi kebenaran
Kegelapan telah membangkitkan monster
Tutup matamu
Kuburlah dalam mimpi yang paling menyeramkan
Kita butuh waktu
Kita butuh keajaiban
Kita butuh bintang
Untuk menuntun kita dalam perjalanan kita
Kamerad-ku yang berkumpul di sini
Kita adalah utusan yang diperintah
Untuk membantu menuntun domba-domba yang tersesat
Bintang utara kita terbagi kedalam 7 bagian
Menunggu ke-7 bintang untuk berkumpul dan bangkit kembali
Getaran dalam hati kita akan terangkul
Menuntun kita untuk membuka pintu surga yang terkunci

"Puisi ini ditulis oleh teman baikku, L. Aku sangat menyukainya," ujar R.

"Sayang sekali 'seseorang' belum pernah mendengarnya," sambung A.


Video itu lalu berakhir dengan letusan asap dan tetesan darah muncul di layar untuk menambah kesan seram. Jin Xi mengaku kalau sebenarnya dia berniat mencari bantuan orang di tim mereka untuk memeriksa rekaman ini. Tapi berhubung Han Chen sudah bangun, coba dia analisa, siapa tahu dia menemukan sesuatu.

Han Chen langsung menunjuk lampu jalan yang terlihat di video itu. Jin Xi bingung apa maksud Han Chen, lampu jalan seperti itu kan banyak di seluruh kota, baik di daerah pusat maupun pinggiran. Han Chen malah senyum manis.

"Jangan bilang kalau kau sudah menemukan sesuatu?"

"Bagaimana kalau aku bilang iya? Apa kau akan mematuhiku di masa mendatang?"


Jin Xi langsung protes, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu di saat seperti ini? Katakan saja. Han Chen berkata ada 3 petunjuk dari video itu: Bulan, lampu dan suara.

"Bulan? Maksudmu, dengan melihat bentuk bulannya, kau bisa mencari tahu harinya (saat rekaman itu dibuat)?"

Han Chen menjelaskan bahwa dengan melihat posisi dan bentuk bulan, dia bisa menentukan harinya termasuk waktunya. Dia lalu minta kertas dan pulpen.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment