Sinopsis Leh Nangfah Episode 4 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 4 - 2


Tee geli melihat Beauty keluar dari toilet pakai seragam pabrik lengkap. Beauty jelas malu dan kesal dan langsung menolak memakai seragamnya itu.

"Belum juga satu jam bekerja dan kau sudah tidak mau mematuhi perintah. Aku sudah tahu ini tidak akan berhasil."

"Eh! Tunggu! Tunggu! Tunggu! Kau tidak sabaran sekali."

Kenapa sih Tee tidak membiarkan belajar bekerja di kantor saja biar dia tidak perlu dipaksa memakai seragam bodoh ini. Tee menegaskan kalau Beauty harus belajar dari dasar. Tapi kan dia presiden perusahaan ini, kenapa Tee malah memaksanya untuk jadi keryawan pabrik?


Aturan pertama, Beauty harus menghargai karyawannya sendiri. Karyawan pabrik adalah pegawai perusahaan yang sangat berharga. Tanpa karyawan pabrik, mereka tidak akan bisa menjual apapun.

Aturan kedua, Beauty harus meninggalkan semua sertifikasinya di rumah dan mulai belajar bekerja dari dasar. Ketiga, Beauty harus di-training di setiap departemen tanpa mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya.

Beauty hampir saja mau menyerah. Tapi akhirnya dia mau juga menyetujui semua syaratnya Tee sambil menahan kesal. Dia mau pergi, tapi Tee belum selesai bicara.


Dia yakin kalau Beauty akan kesulitan bangun pagi, jadi lebih baik dia training malam hari saja. Beauty asal saja menyetujuinya dan baru sadar sedetik kemudian. Shift malam hari itu jam berapa?

"Mulai jam 6 sampai jam 2 dini hari."

"Hah? Tidak bisa! Aku ada janji penting."

"Kau mau bekerja, tapi masih ingin menghadiri pesta?"

"Itukan masalah pribadiku!"

Pokoknya Beauty mau shift pagi saja, tapi bisakah dia datang agak siangan dan pulang lebih cepat? Tee menolak, shift pagi mulai dari jam 8 sampai jam 5 sore. Tapi ini kan cuma training, kenapa dia mesti bekerja full time?

"Kalau kau tidak bisa, maka jangan lakukan. Aturan keempat, seorang eksekutif harus datang tepat waktu."


Dan satu lagi, Tee menyerahkan beberapa buku tebal berisi aturan-aturan perusahaan dan mengharuskan Beauty untuk menghapalnya. Besok Beauty harus merapalkan semua aturan itu di hadapannya.

"Apa kau benar-benar orang yang pernah kukenal dulu? Apa kau sungguh si gendut mata empat?" Kesal Beauty dalam batinnya.


Dua orang pegawai kantor, Kratua dan Piwara baru saja kembali ke kantor saat mereka melihat Beauty yang baru keluar dari kantornya Tee. Kratua langsung penasaran, siapa wanita cantik itu, yah?

"Kalau Pat sampai tahu ada wanita cantik di kantor presiden, ini pasti akan jadi masalah besar."

"Sudahlah, Tua. Berhentilah bersikap konyol dan kembali saja bekerja."


Para pelayan langsung jejer untuk menyambut kepulangan Beauty. Dengan cepat dia menggambar sebuah model baju dan memerintahkan Bibi Jan untuk membawa design itu ke tukang jahit dan suruh dia untuk memodifikasi seragam yang ada di tasnya sesuai model yang dia gambar itu.

Tepat saat itu juga, matahari mulai terbenam dan Beauty langsung kesakitan. Bibi Jan jelas cemas. 

Panik, beauty langsung mengusir mereka dari kamarnya. Syukurlah dia berubah tepat setelah Bibi Jan dan si pelayan keluar.


Beauty kesal. Berapa lama lagi dia harus menjadi burung?! Gara-gara kemarahannya selama seharian ini, warna hitam kristalnya langsung bertambah. Beauty malah jadi tambah kesal mengutuki Dewi dan Tee.


Tee sedang merenung saat ayahnya datang. Dia sama sekali tidak bisa tidur gara-gara banyaknya hal mengejutkan yang terjadi hari ini. Beauty tadi mendadak datang ke perusahaan dan memintanya untuk melatihnya.

Thana senang mendengarnya, Korn juga pasti sangat senang. Tapi Tee merasa aneh karena Beauty tidak mau dilatih oleh Korn. Dia sangat aneh.

"Setidaknya baguslah Beauty mau bekerja. Ajarilah dia dengan baik, jangan memaksanya. Jika tidak, dia mungkin akan ketakutan dan tidak mau bekerja lagi."

"Jangan khawatir, yah. Aku akan mengajarinya segalanya. Aku jamin dia pasti akan sangat terkesan," ujar Tee dengan senyum tampannya liciknya.


Beauty terbangun keesokan harinya oleh bunyi telepon. Tee yang meneleponnya untuk memastikan Beauty sudah bangun apa belum, Tee sendiri sudah dalam perjalanan ke kantor saat itu.

"Bangunlah atau kau akan terlambat bekerja. Waktumu tinggal 5 menit atau kau akan terlambat. Sampai jumpa."

Beauty langsung protes tapi Tee sudah mematikan sambungannya saat itu. Beauty tidak terima, dia cuma ingin Tee melatihnya dan bukannya jadi bosnya.

Sementara Tee sudah sampai di kantor dan menunggunya di lobi, Beauty malah lagi santai berendam di jacuzzi-nya. Tee berusaha meneleponnya berulang kali, tapi Beauty sama sama sekali tak peduli dan benar-benar menikmati waktu mandinya.


Saat akhirnya tiba di kantor, dia sudah terlambat 2 jam. Tee jelas langsung mengomelinya. Bagaimana dia bisa mengurus para pekerjanya kalau dia sendiri terlambat seperti ini. Sebaiknya dia pulang saja.

Beauty langsung sok manis membujuknya dan beralasan kalau dia cuma belum terbiasa. Berilah dia waktu untuk menyesuaikan diri.

"Aku akan memaafkanmu hanya kali ini saja."

"Terima kasih."

Dan kenapa Beauty tidak langsung memakai seragam pabriknya dari rumah? Beauty tidak mau, dia bisa malu kalau sampai ketahuan publik.

"Kalau kau menolak memakai seragam, maka kesepakatan diantara kita batal."

Baiklah. Beauty akan ganti baju sekarang juga. Sementara dia di toilet untuk ganti baju, seseorang datang untuk menjemput Beauty ke pabrik. 

Tee menegaskan padanya untuk merahasikan identitasnya Beauty, pokoknya sekarang dia cuma seorang karyawan biasa.


Kratua heboh memberitahu Pat gosip terhangat, ada wanita cantik di kantornya Tee. Dia tidak tahu siapa, tapi berdasarkan informasi dari mata-mata kepercayaannya, wanita itu seorang model.

Pat berpikir kalau wanita itu pasti Orn dan langsung kesal nyinyirin Orn. "Pura-pura lugu dan manis. Tapi kenyataannya tak tahu malu merayu Tee di kantornya."

Tapi menurut informasi yang Kratua dapatkan, wanita itu bukan manis dan polos, tapi teramat sangat cantik. Pat jadi semakin penasaran, siapa model yang sangat cantik itu?


Beauty kembali dari toilet tak lama kemudian. Tapi baju seragamnya malah dia modif jadi model crop tee. Tee jelas kesal setengah mati melihatnya dan langsung memerintahkan si pegawai untuk mengambilkan seragam baru untuk Beauty.

Dia keluar tak lama kemudian dari kantornya Tee dengan kesal. Tee memperingatkannya untuk tidak lagi memodifikasi seragamnya. Jika tidak, maka Tee akan menganggap Beauty tidak mematuhi perintahnya dan kesepakatan mereka batal.


Penasaran dengan wanita di kantornya Tee, Pat langsung meminta laporannya Piwara sebagai alasan untuk menemui Tee.

Dia tiba di lobi bertepatan dengan Beauty yang baru turun. Dia tidak melihat Beauty, tapi Beauty melihatnya dan langsung punya ide licik. Dia memakai maskernya lalu sengaja menabrak pat.

Pat jelas kesal. "Apa yang kau lakukan? Lihat-lihat kalau jalan!"

"Maaf, maaf! Kau sangat putih dan pucat, kukira kau hantu."

"Kau bilang apa? Apa kau tahu siapa aku?"

Pat langsung marah-marah pada si pegawai karena membiarkan karyawan pabrik berkeliaran di kantor eksekutif. Si pegawai panik meminta maaf dan beralasan kalau dia ini pegawai baru dan mungkin dia tidak bisa melihat dengan benar gara-gara goggle-nya.

Pat tak mempermasalahnya lagi, tapi dia memperingatkan si pegawai baru untuk jaga bicaranya atau dia akan kehilangan pekerjaannya.


Dewi tak suka melihat kelakuan Beauty itu. Lalita tentu saja berusaha membela Beauty, mungkin itu cuma gurauan, sapaan pada teman lama.

"Jangan bias. Jika aku menyapamu dengan cara seperti ini, kau tidak akan berpikir kalau itu candaan. Kebiasaan seperti ini harus diubah."


Sesampainya di pabrik, Beauty langsung bersin-bersin dan batuk-batuk tiada henti. Dia lalu diserahkan pada Seenuan, si mandor pabrik yang wajahnya tampak judes. 

Tapi dia cukup perhatian juga pada Beauty saat dia membantu Beauty untuk memakai maskernya biar Beauty tidak bersin-bersin terus.

"Kau sudah dewasa, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri." Omel Seenuan bak seorang ibu.


Lalita cemas karena dia tidak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya. Tapi Dewi berpikir pekerjaan ini sesuai untuknya karena Beauty harus belajar tentang kesusahan hidup orang lain.

"Tapi dia tak pernah bekerja keras sebelumnya. Tak peduli seberapa keras dia berusaha, dia mungkin tak punya cukup kekuatan."

Dewi mengingatkan Lalita bahwa salah satu alasan Beauty jadi seperti ini adalah karena orang tuanya terlalu melindungi dan memanjakannya.


Pat mencoba mencari tahu tentang wanita menyebalkan yang katanya datang kemari tadi. Tapi Tee pura-pura bodoh dan mengalihkan topik mengkritiki kesalahan taksiran biaya dalam laporannya.

Tapi Pat masih penasaran dan terus tanya-tanya. Apa Orn yang datang kemari? Tee menyangkalnya. Terus siapa? Katanya wanita itu datang kemarin dan hari ini juga?

"Ada banyak yang datang. Siapa yang ingin kau ketahui? Kepala HRP, pegawai baru, atau sekretarisku?"

Pat kesal. "Baiklah, kau tidak perlu memberitahuku. Akan kucari tahu sendiri."

"Hei! Kalau kau kebanyakan cemberut, hati-hati saat kau manyun. Nanti perutmu meledak, loh."

"P'Tee! Aku sudah diet sampai sekurus ini dan kau masih saja mengejekku! Kenapa kau bicara seperti Beauty?!"

 

Kiriman barang baru datang ke pabrik. Para pegawai langsung keluar untuk mengangkatnya, tapi Beauty malah sibuk selfie. Seenuan jelas kesal dan mengomelinya, tidak boleh memotret di sini, dia mau dipecat apa?

Di sini ada banyak barang penting seperti aksesoris dan pola baju. Semua itu tidak boleh sampai diketahui oleh perusahaan saingan. Mengerti?

"Mengerti!"

"Kalau kau mengerti, bantu yang lain angkat barang."

"Kenapa juga musti diangkat, pakai saja forklift. Kan ada banyak, suruh saja orang lain melakukannya."

"Barang-barang itu rapuh, mengerti tidak? Kau sangat menyusahkan. Pergi, bantu mereka! Cepetan! Sekarang!"


Dasarnya Beauty memang tidak pernah mengangkat benda berat, jadinya mengangkat satu kardus saja dia kesulitan dan ujung-ujungnya malah mengacau dan membuat semua kardus terjatuh.

Terdengar benda-benda pecah dari dalam kardus itu. Tapi Beauty sama sekali tak peduli, malah heboh sendiri dengan tangannya dan langsung melesat ke toilet.


Seenuan menyusulnya karena cemas, mengira jarinya Beauty terluka. Tapi ternyata Beauty heboh cuma gara-gara kuku menikurnya patah. 

Seenuan jelas kesal. "Kau baru saja memecahkan barang seharga ratusan ribu dan kau menggerutu karena kuku patah? Kau sudah gila apa?!"


Gara-gara kelakuannya, warna hitam jadi semakin bertambah. Dewi geleng-geleng kepala melihatnya. Beauty sangat egois, tak pernah peduli dengan kesulitan orang lain. Yang dia pedulikan malah hal-hal konyol semacam kuku.

Lalita cemas dan berusaha membela putrinya, Beauty tidak bermaksud begitu. Dia hanya tidak terbiasa mengangkat barang berat.


Di tempat lain, Korn bertemu dengan Jadecharn untuk menawarkan kerja sama. Oww, kerja sama apakah itu?

Bersambung ke episode 5

1 komentar: