Sinopsis Leh Nangfah Episode 4 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 4 - 1

Saat Ayahnya Korn tahu tentang apa yang diperbuat Beauty pada putrinya, ia jelas marah dan tidak terima. Apa Beauty tidak tahu kalau dia seharusnya menjaga hubungan baik dengan mereka?

"Dia mungkin tidak tahu. Jangan marah, papa."

"Kalau dia tidak tahu, maka kita harus membuatnya tahu. Aku akan kusingkirkan semua sahamku dari Thanabaworn."

"Jangan, Pa. Aku tidak marah pada Beauty, sungguh. Percayalah padaku."

"Papa mengerti kau tidak bisa marah pada orang lain. Tapi papa tidak akan tinggal diam. Papa akan mengurusnya. Kau anak papa!"


Sementara kita disuguhin pemandangan aduhai Tee yang lagi mandi bak model iklan sabun mandi, Beauty menggerutu sendiri di luar. Cowok macam apa dia, mandinya lama banget.

Tepat saat ponselnya berbunyi, Tee akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai selembar handuk. Beauty benar-benar tak percaya melihat si cowok tampan menawan di hadapannya ini.

"Tee, kau banyak berubah. Kau sembunyikan di mana semua lemakmu?"


Orn lah yang meneleponnya, cemas karena papanya sangat marah pada Beauty. Dia menyesal sudah memberitahu ayahnya tadi.

Beauty nyinyir. "Cewekmu menelepon dan bicaramu manis sekali."

Tapi Tee mendadak mengambilnya lalu memeluknya di d**anya. Beauty langsung protes tak suka. "kalau kau mau ngomong sama cewekmu, silahkan saja. Kenapa malah melibatku? Dasar orang gila!"

Tee rasa wajar saja kalau Papanya Orn marah, Beauty memang jahat. Kesal, Beauty sontak mematuki d**a Tee sampai berdarah. Tee berjanji akan bicara pada Ayahnya Orn nanti lalu cepat-cepat mengakhiri percakapan mereka.


Tee jadi gemas sama burung nakal itu. "Haruskah aku memakanmu?"

"Coba saja kalau berani! Lakukan! Akan kupatuk matamu! Lepasin! Lepasin! Woi! Lepasin!"


Ibunya Tee masuk saat itu membawakan susu untuk Tee. Biarpun tak ada yang memahaminya, Beauty tetap bercuit-cuit menyapa Bibi Nee. "Apa kabar, Bibi Nee. Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"

Nee lalu membahas Ayahnya Orn yang marah besar pada Beauty. Nee yakin kalau Beauty begitu karena dia tidak mengerti bisnis dan tidak tahu kalau perusahaan keluarga Orn sangat penting bagi mereka.

Karena itulah Nee meminta Tee untuk membuat Beauty mau bekerja di perusahaan dan menuntunnya untuk memahami bisnis. Lagipula, perusahaan itu milik Beauty. Tee malas banget kalau harus bekerja bersama Beauty, mending dia bekerja dengan si burung ini.

"Kau bilang apa? Awas kau!"

"Jangan bicara tentangnya seperti itu. Ayahmu sangat dekat dengan Ayahnya Beauty dan ibu sudah mengenal Beauty sejak saat dia masih dalam kandungan ibunya. Beauty sudah seperti keponakanku sendiri. Berjanjilah padaku kalau kau akan menjaganya dan ajari dia di perusahaan."

Beauty tersenyum mendengarnya. Tee akhirnya mengalah dan menyetujui permintaan ibunya.


Saat dia hendak tidur, Tee sengaja membiarkan pintu terbuka kalau-kalau si burung mau kembali ke keluarganya. Dia meletakkan si burung di atas kasur, sementara dia sendiri masuk selimut.

Tapi dia memperhatikan si burung tampak menggigil, dia pasti kedinginan. Beauty mengiyakannya, bisakah AC-nya dimatikan?

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita tidur bersama malam ini?"

"Hah? Apa? Kau sudah gila apa? Aku cewek! Bagaimana bisa aku tidur denganmu?! Nggak mau! Nggak mau!"

Tee langsung saja meletakkan burung itu dalam plukannya sambil membelainya dengan lembut. Beuaty yang awalnya berusaha memberontak, akhirnya mulai menikmati kehangatan pelukan Tee dan akhirnya tertidur.


Tapi tidurnya Beauty tak bisa tenang, teringat saat dia menguping Korn dan rencana liciknya untuk mengambil alih perusahaan. Beauty tersentak bangun dari mimpi buruk itu dan lebih kaget lagi saat melihat jam menunjukkan pukul 5 subuh.

Dia buru-buru pamit dan terbang keluar jendela. "Aku pergi sekarang! Sampai jumpa di kantor!"


Beauty tiba di kantor dengan dandanan serba mewah yang jelas saja menarik perhatian semua orang di kantor. Tapi karena dia tak pernah muncul di perusahaan, jelas saja tak ada seorangpun yang mengenalinya.

Seorang sekretaris memberitahunya kalau Tee sedang rapat sekarang dan memintanya untuk menunggu. Beauty berusaha bersabar dan menunggu, tapi meetingnya lama banget. Si sekretaris bahkan sudah seperti kaset rusak yang memintanya untuk menunggu lagi, lagi dan lagi.

Lama kelamaan Beauty benar-benar tidak tahan lagi dan langsung nyelonong masuk ruang rapat dan mengumumkan bahwa dia datang untuk mengklaim posisinya sebagai co-presiden Thanabaworn.

"Kami sedang rapat pribadi, pergi dan tunggu di luar." Kesal Tee.

Beauty tidak terima, memangnya ada hal yang tidak boleh diketahui oleh co-presiden? Papanya Orn males banget melihat Beauty dan langsung nyinyir meminta mereka untuk mengabarinya jika ada perubahan dengan co-presiden Thanabaworn.


Papa Orn langsung pergi dengan kesal. Cemas, Korn buru-buru keluar mengejarnya. Tee kesal banget sama Beauty, apa dia tahu kalau dia sudah menyebabkan saham perusahaan berkurang 10%?

Beauty tak peduli, dia sudah menunggu lebih dari satu jam. Ada hal penting yang mau dia katakan. Dia sudah memutuskan untuk jadi co-presiden bersama Tee mulai hari ini.

"Posisi itu mengharuskanmu untuk bekerja di perusahaan dan itu tidak semudah yang kau pikir, Nona Lallalit. Kau pikir gampang jadi presiden sebuah perusahaan?"

"Itu tugasmu. Kau harus mengajariku."

"Tidak mau, aku tidak ada waktu untuk itu."

"Kau harus mengajariku!"

"Nggak mau!"

"Kau tidak berhak menolak! Dasar gendut mata empat!"


Kesal, Tee langsung melemparnya keluar. Beauty tidak terima dan langsung mengikutinya masuk ke ruangan Tee. "Kau tidak punya hak melakukan ini padaku. Aku juga presiden perusahaan ini."

"Kalau kau ingin jadi presiden, silahkan kau cari ruanganmu sendiri. Ini ruanganku, aku melarangmu masuk."

"Aku akan berdiri di sini sampai kau setuju untuk mengajariku."

"Aku tidak suka melihat wajahmu, sama seperti kau tidak suka melihatku. Kenapa kau tidak minta Paman Korn saja yang mengajarimu."

Beauty jelas tidak mau. Seorang presiden harus belajar dari presiden lainnya. Tee mengingatkan kalau pekerjaan mereka berbeda. Dia menangani Departemen Marketing, sementara Ayahnya Beauty menangani Departemen Produksi yang saat ini ditangani oleh Korn.

Jadi, orang yang paling tepat untuk mengajari Beauty adalah Korn. Beauty ngotot menginginkan Tee yang mengajarinya, bukan Korn.


Kalau begitu, Tee menuntut Beauty untuk mengatakan apa alasannya. Hanya setelah dia tahu alasannya, dia akan mengajari Beauty.

"Kau tidak perlu tahu apa alasannya. Kau hanya perlu tahu kalau aku serius ingin bekerja di sini. Ayah pasti akan senang jika aku mewujudkan impiannya. Jika kau menyayangi dan menghormati ayahku, bisakah kau mengajariku, putri tunggalnya? Kumohon."

Tee tampak goyah sesaat, tapi pada akhurnya dia tetap ngotot menolak. 

Beauty akhirnya pergi sambil menggerutu kesal. "Aku tidak butuh bantuanmu. Pekerjaan semudah ini, tidak akan sulit bagi seseorang yang pintar sepertiku! Aku bisa melakukannya sendiri!"


Sesampainya di lobi, dia melihat Korn sedang bicara dengan Papanya Orn. Beauty semakin kesal melihatnya. Dia berusaha menghindar, tapi Korn melihatnya dan langsung mengejarnya.

Korn benar-benar senang mendengar Beauty akhirnya mau bekerja di perusahaan, Korn sudah lama menunggu saat seperti ini. Ayahnya Beauty pasti akan sangat senang.

"Iya, aku tidak akan menjadi orang bodoh lagi. Aku akan memikirkan siapa yang mengkhianati perusahaan," nyinyir Beauty.

"Whoa, tenang dulu. Kenapa kau pikir ada yang mau mengkhianati perusahaan? Belajarlah bekerja pelan-pelan, paman akan mengajarimu segalanya."

Beauty menolak, dia tidak akan merepotkan Korn dan mengklaim kalau Tee sudah janji padanya untuk mengajarinya. Korn agak heran mendengarnya, tapi dia mempercayainya. Baguslah kalau begitu.


Beauty langsung kembali ke Tee, bersikeras meminta Tee mengajarinya. Dia ingin diakui sebagai presiden perusahaan ini, sama seperti ayahnya dan Tee. Dia siap untuk melakukan apapun.

Baiklah, Tee setuju. Tapi ada syarat dan Beauty harus mengikuti instruksinya. "Dan lakukan semua yang kukatakan tanpa mendebatkannya."

"Tapi bagaimana kalau kau menyuruhku mati, apa yang harus kulakukan?"

"Tidak boleh mendebat."


Beauty akhirnya setuju dan tak lama kemudian dia ganti baju sesuai perintah Tee. Baru saat dia mengaca, dia sadar kalau itu baju seragam pegawai pabrik. Beauty jelas kesal dan langsung mengutuki Tee.


Lalita senang melihat putrinya akhirnya mau bekerja seperti orang lain. Tapi Dewi menyayangkan karena Beauty masih belum ada perkembangan. Warna hitam kristalnya bahkan tidak berkurang sedikitpun.

"Tapi putriku sudah berusaha. Kenapa tidak ada perubahan sama sekali pada jimatnya?"

"Karena dia melakukannya dengan amarah. Amarah menguasainya. Itu bisa berakibat malapetaka."

Bersambung ke part 2

2 komentar:

  1. Lanjut....jgn lama2 ya ditunggu,...penasaran bgt ma ceritanya semangat.........

    ReplyDelete
  2. Semangat.......Lanjut.......

    ReplyDelete