Sinopsis Kleun Cheewit Episode 15 - 2

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 15 - 2


Jee mau mengadakan konferensi press sendirian dan dia akan bilang bahwa apa yang Thit katakan tadi tidak benar. Jee akan memberi Thit pilihan. Pergi dari hidupnya atau dia akan memberitahu para reporter kalau dia hamil karena diper**sa.

"Tidak benar. Kau tahu sendiri bukan itu yang terjadi malam itu."

"Tapi itu terjadi karena aku dipaksa untuk membayar kesalahanku. Berhubungan dengan wanita yang tidak menginginkannya, itu namanya pemer**saan atau tidak, Pak Pengacara?"

"Jee..."

"Karena aku sudah memintamu dengan cara baik-baik untuk pergi dari hidupku tapi kau tidak mau dengar, maka aku akan menggunakan hukum untuk melawanmu. Ingat Khun Sathit, kau punya hak untuk balas dendam padaku, tapi kau tidak punya hak untuk melibatkan bayiku dalam balas dendammu."


"Apa kau tidak mengerti kalau balas dendamnya sudah lama berakhir? Aku melakukannya bukan karena balas dendam, tapi karena..."

"Kau melakukannya atas alasan apapun, aku tidak menginginkannya! Bisakah seseorang mengeluarkannya dari sini?!"

Saat tak ada seorang pun yang bergerak membantunya, Jee hampir saja mencabut infusnya. Thit sontak berusaha menghentikannya. Jadilah mereka semua ribut menjauhkan Thit dari Jee dan mendorongnya keluar.


Chaiyan berusaha menasehati Thit untuk menunggu sampai mereka berdua tenang. Tapi Thit ngotot tidak mau menunggu, dia sudah cukup banyak menyia-nyiakan waktu dengan salah paham pada Jee.

Ini salah Chaiyan juga. Chaiyan tahu kalau Jee hamil dengannya dan bukan dengan Chaiyan, terus kenapa Chaiyan tidak bilang-bilang?

"Soalnya gue sebel ama lo."

Thit jadi kesal mau melabraknya lagi, tapi Piak langsung maju melindungi Chaiyan yang jelas saja membuat Thit heran. Apalagi kemudian Chaiyan dengan manisnya memanggil Piak dengan sebutan 'Sayangku' lalu menjauhkannya dari Thit.

"Jangan dekat-dekat sama dia. Dia lagi kayak anjing gila. Aku tidak mau bayi kita ketularan penyakitnya."

"Saling melindungi seperti ini, berarti kalian sudah berbaikan, yah? Bagus. Rantai P'Chaiyan dengan baik, Piak. Jangan biarkan dia ikut campur dengan istri orang lain lagi atau aku tidak akan melepaskannya kali ini."


"Sekarang kau bersikap protektif. Sebelumnya kau ingin sekali membunuh Jee dengan tanganmu sendiri. Pantas saja Jee mengusirmu seperti anjing."

"Biarpun dia mengusirku, aku akan tetap mendapatkan istri dan anakku kembali."

Dia mau masuk lagi, tapi Chaiyan sigap menghadangnya dan mengingatkannya akan ucapan Suki dulu. Saat dia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, bahkan sekalipun dia berlutut dan memohon-mohon, dia tidak akan bisa menebus semua dosanya pada Jee.

Thit menyadari kalau dia salah. Kemarahannya membuatnya buta dan bodoh hingga dia tidak bisa melihat siapa yang baik dan jahat hingga pada akhirnya membuatnya menyesal seperti sekarang ini.

"Tapi mulai sekarang, aku siap menebus setiap kesalahanku. Aku hanya meminta satu hal, aku berharap Jee memaafkanku sekali saja."


Jee berusaha menyembunyikan air matanya dari Dao, tapi Dao langsung memaksa Jee untuk menghadapinya dan menuntut alasan Jee menyembunyikan kehamilannya darinya dan kenapa Jee membohongi dirinya sendiri.

"Aku mengakui kalau aku berbohong padamu karena aku tidak ingin kau cemas, tapi aku tidak pernah berbohong pada diriku sendiri."

"Kau tidak berbohong pada dirimu sendiri? Lalu kenapa kau menangis?"

"Aku tidak menangis, aku cuma berbaring dan air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja."


"Berhentilah bersikap kekanakan, Jee. Kau akan menjadi seorang ibu. Dan aku ingat kalau impianmu adalah memiliki keluarga yang bahagia. Dan hari ini kau akan memiliki keluarga yang selama ini kau impikan. Tapi kau malah menutup kesempatan itu. Kenapa kau melakukannya?"

"Aku ingin membangun sebuah keluarga karena cinta. Tapi aku dan dia tidak begitu."

Dia sudah menghancurkan sebagian hidup Thit. Karena itulah dia tidak mau menggunakan bayi ini untuk menjeratnya dalam penderitaan karena harus melihat wajah pembunuh wanita yang dia cintai hanya demi sebuah tanggung jawab.

"Jee, dia mungkin tidak berpikir begitu."

Tapi Jee ngotot kalau Thit sangat membencinya, dan takkan ada apapun yang bisa mengubah kebencian Thit padanya. Hidup Thit akan bahagia kembali jika dia dan bayi ini menghilang dari hidup Thit.


Thit datang memberikan rangkaian bunga untuk mendiang Tiw dan memberitahunya tentang hubungannya dengan Jee. Thit yakin kalau Tiw pasti sudah mengetahuinya, Tiw tidak perlu memaafkannya dan dia juga tidak akan menjelaskan apapun.

"Karena semua yang kulakukan bukan hanya karena emosi, tapi benar-benar perasaanku yang sesungguhnya. Maafkan aku."


Bibi Wadee muncul setelah mendengarkan semua pengakuannya barusan dan meyakinkan Thit bahwa dia tidak perlu meminta maaf. Dia dan Tiw benar-benar senang melihat Thit move on dari masa lalu dan memulai hidup baru.

Biarpun Bibi Wadee sudah tua, tapi ia tidak buta dan tuli untuk tidak menyadari bagaimana Thit memandang Jee.

Sembari memluk Thit, Bibi Wadee menasehatinya untuk berhenti membuang-buang waktu hanya untuk melakukan balas dendam yang tidak berguna.

"Karena saat kita akhirnya mencintai seseorang, mungkin kita tidak akan memiliki banyak waktu tersisa."

Gunakan apa yang terjadi pada Tiw sebagai pengingat bahwa manusia bisa berpisah setiap saat. Setiap kata bisa menjadi yang terakhir. Saat kita masih ada waktu, maka lakukannya apapun yang kita inginkan dan apapun yang harus kita lakukan.

"Tapi orang lain itu... tidak ingin aku berhubungan dengannya."

"Sudah sepantasnya. Kau melakukan banyak kesalahan padanya."

"Aku tahu aku salah. Aku berusaha untuk menebusnya, tapi Jee tidak mau memberiku kesempatan. Apa yang harus kulakukan?"


"Kurasa, mungkin Nong Jee tidak mau memberimu kesempatan karena kau mungkin lupa mengatakan sesuatu."

"Apa?"

"Ingatlah, bahwa walaupun seorang wanita menginginkan anaknya memiliki seorang ayah, tapi jika dia mendapatkan sang ayah tanpa hatinya, maka wanita itu tidak akan menginginkannya."

"Maksudnya..."

"Wanita tidak menginginkan tanggung jawab tanpa cinta."

Thit langsung tersenyum mendengarnya. "Terima kasih, Bibi. Aku akan memberitahu dia kata-kata (cinta) itu secepat mungkin."

 

Thit lalu pergi membeli bunga dan sebuah boneka beruang mini. Tapi setibanya di rumah sakit, dia malah mendapati kamarnya Jee sudah kosong.


Ternyata dia pergi mengunjungi ibunya untuk pamitan. Dia mau pergi menghindari Thit. Jee meminta maaf karena dia terpaksa harus pergi meninggalkan Khun Ying sekarang.

Khun Ying tidak mengerti kenapa Jee tidak bicara dengan Thit saja dan memberitahu Thit tentang kehamilannya? Kenapa dia malah harus pergi? Kenapa dia harus bersikap seolah anaknya tidak punya ayah?

"Ibu tahu sendiri akulah yang menawarkan diriku sendiri padanya. Jadi aku tidak boleh menggunakan anak ini untuk memaksanya bertanggung jawab."

Anak ini terlahir dari ketidaksengajaan. Tanggung jawab tidak bisa menggantikan cinta. Karena itulah Jee tidak boleh membiarkan Thit bertanggung jawab atas bayi ini.

"Bagaimana kau tahu? Sathit mungkin bersedia bertanggung jawab."


"Karena sebuah kecelakaan mobil dan kami harus terus menerus saling membayar karma. Sekarang ada bayi ini sebagai kecelakaan kedua. Aku tidak akan membiarkan sebuah perbuatan sembrono, membuatnya terikat oleh tanggung jawab sepanjang hidupnya."

Jee meyakinkan Khun Ying untuk tidak mengkhawatirkannya. Sama seperti Khun Ying yang membesarkannya seorang diri, dia juga pasti bisa melakukannya. Dia sudah meminta Suki untuk mengurus proses pengadilannya Khun Ying.

"Maaf karena aku tidak bisa tinggal dan melindungi Ibu."


Khun Ying menangis mendengarnya. "Jangan khawatirkan ibu. Dan jangan bebani dirimu sendiri dengan masalahku. Kau harus menjaga dirimu sendiri dan bayimu. Itu saja sudah cukup. Mengerti?"

"Aku akan menunggu saat kita bersatu kembali, Bu."

"Baiklah. Kita akan bersatu kembali. Jagalah dirimu sendiri dengan baik."


Dao hendak pergi dengan membawa sebuah koper besar saat Thit mendadak menerobos masuk dan langsung berlarian mencari Jee, tapi Jee juga tidak ada di sana. Di mana Jee?

Melihat koper besar di belakang Dao, Thit langsung bisa menduga kalau itu barang-barangnya Jee. Apa dia mau pergi? Thit tidak terima, dia tidak akan membiarkan Jee membawa anaknya pergi ke mana pun.

"Kalau begitu katakan padaku, kenapa aku haru memberitahumu ke mana Jee pergi?"

"Karena kau seorang guru dan teman baiknya Jee. Kau pasti tahu apa yang paling dibutuhkan seorang anak dan apa yang Jee butuhkan adalah sebuah keluarga."


"Jadi maksudmu kau datang mencari Jee hari ini karena kau ingin bertanggung jawab atas anakmu, cuma itu?"

Kalau begitu jangan mencari Jee karena Jee tidak menginginkannya. Keluarga lengkap dengan ayah, ibu dan anak memang bagus. Tapi jika tidak ada cinta di dalamnya, maka berpisah sebelum anak itu mengetahui siapa ayahnya, jauh lebih baik.

"Dan siapa bilang kalau tanggung jawabku tidak memiliki cinta?"

"Kau bilang apa barusan?"

"Inilah alasanku ingin bertemu Jee. Aku ingin memberitahunya bahwa apa yang kulakukan sekarang ini bukan sekedar tanggung jawab, perasaanku lebih daripada itu."

"Dan bagaimana aku bisa yakin kalau orang yang dulu pernah bilang kalau dia sangat membenci Jee, sekarang sudah berubah?"

Bersambung ke part 3

1 komentar:

  1. 😀😀😀 akhirnya hampis selesai juga. Trimakasih saya menunggu lama lagi dan tidak penasaran.

    ReplyDelete