Sinopsis How Boss Wants to Marry Me Episode 11 - 3

 Sinopsis How Boss Wants to Marry Me Episode 11 - 3

Lisa meneleponnya setelah mendapat kabar dari Yang Tong kalau Xia Lin menolak beberapa pekerjaan. Kenapa? Apa Xia Lin sibuk?


Bagaimana kalau dia berdiskusi dengan Bos Ling agar kedua perusahaan mereka bekerja sama untuk menggelar acara komersial? Dia yang akan menangani para aktornya, Chu Yan dan Shuang Shuang akan berpartisipasi.

Tapi yang tak disangkanya, Xia Lin malah tanya. "Bagaimana kalau aku ingin putus dengan Ling Yi Zhou?"

Lisa langsung kesal memperingatkan Xia Lin untuk tidak putus dengan Yi Zhou. Udah gila apa? Mereka bahkan sudah bilang ke media kalau Xia Lin pasti akan menikah dengan Yi Zhou nantinya. (Pfft! Udah nikah tuh)

Sekarang karena hubungan mereka sudah terungkap ke publik, setidaknya dia harus memanfaatkan kesempatan ini. Kenapa juga dia malah menolak dengan berbagai alasan?

Malas mendengarkan ocehannya lagi, Xia Lin cepat-cepat beralasan kalau dia sibuk sekarang lalu menutup teleponnya.


Saat Xia Lin keluar, dia malah melihat Chu Yan sedang menunggu di depan. Bagaimana Chu Yan bisa tahu kalau dia ada di sini? Apa Yi Zhou menyuruh Chu Yan untuk menjemputnya?! Yi Zhou masih memata-matainya?!

"Hei, nona. Aku menyetir sepanjang malam tanpa tidur untuk bisa sampai kemari dan begini caramu bicara padaku? Bukan Ling Yi Zhou yang memintaku datang, tapi Yang Tong."

Dia pindah kemari setelah bertengkar dengan si tua Ling, kan? Makanya Yang Tong mencemaskannya. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa masalahnya jadi seserius ini? Kalau Xia Lin tidak mau bilang, dia akan tanya sendiri pada si tua Ling.

"Akan kuceritakan di mobil."

Jadilah Chu Yan mengantarkan Xia Lin ke tempat kerjanya dan Xia Lin menceritakan segalanya sepanjang perjalanan. Chu Yan tak percaya mendengarnya, bagamana si tua Ling berbuat hal seburuk itu.


Tepat tempat kerja yang dituju Xia Lin ternyata sebuah mall dan dia akan bekerja jadi sales. Sekarang dia tak punya uang sepeser pun, bahkan untuk sewa apartemen saja, dia harus pinjam uangnya Fei Fei.

Dia juga sudah menolak segala pekerjaan yang berhubungan dengan Yi Zhou, makanya dia harus mencari cara lain untuk menyokong hidupnya sendiri.

Chu Yan prihatin mendengarnya. "Aku bisa meminjamimu uang."

Xia Lin menolak, dia tidak boleh terus-terusan berhutang. Lagian dia tidak cacat, jadi dia bisa bekerja sendiri.

"Baiklah. Tapi kalau kau butuh bantuan, telepon aku saja."

"Aku mengerti, Tuan Superstar."


Xia Lin terburu-buru ke tempat kerja barunya. Manajernya menyambutnya dengan ramah dan menjelaskan bahwa dia akan digaji harian tergantung dari banyaknya barang yang bisa Xia Lin jual.

Pelanggan pertama Xia Lin datang tak lama kemudian dan Xia Lin langsung mempromosikan barang-barang dagangannya dengan profesional. Sukses menjual satu barang, muncullah pelanggan kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadilah Xia Lin sibuk bukan main mempromosikan semua barang dagangannya.


Barang-barang jualan Xia Lin laris manis. Manajer pun puas dengan kinerjanya. Dia bahkan menjanjikan gaji dobel untuk Xia Lin besok. Tapi Xia Lin malah berkata kalau dia tidak akan datang lagi besok.

Loh, kenapa? Jarang-jarang Manajer sedermawan ini dengan memberikan gaji dobel dan dia melakukannya karena Xia Lin adalah bintang keberuntungan mereka hari ini.

Salah satu pegawai tiba-tiba mengenalinya, dia Xia Lin kan? Panik, Xia Lin mengklaim kalau dia salah orang lalu buru-buru kabur.

Tapi si pegawai yakin dan langsung menunjukkan berita tentang Xia Lin pada si Manajer. Dia pacarnya Yi Zhou, lalu kenapa Xia Lin malah bekerja di sini jadi sales? Si Manajer jadi cemas, jangan-jangan perusahaan Ling mau membeli perusahaan mereka.



Xia Lin langsung menelepo Wen Li dan melabraknya dengan kesal. Dia tahu betul kalau mereka ikut campur dalam pekerjaannya hari ini. Apa Yi Zhou senganggur itu sampai punya banyak waktu untuk merecokinya? Suruh Yi Zhou datang ke kantor catatan sipil untuk mengurus perceraian mereka!

"Lupakan saja. Aku mau bicara langsung padanya."

"Maaf, Nyonya. Bos sekarang sedang ada tamu. Bos sama sekali tidak punya tujuan lain, dia hanya ingin memperbaiki hubungan kalian."

"Sekretaris Wen, aku tahu kalau kau cuma membelanya. Kalau begitu, kasih tahu ke dia bahwa beberapa kesalahan tidak bisa dibenarkan. Dan dilihat dari perbuatannya kali ini, jelas dia masih belum sadar kalau dia salah!"


Tamu yang ditemui Yi Zhou ternyata Chu Yan yang datang untuk mengonfrontasinya. Dia sudah dengar apa masalah antara Yi Zhou dan Xia Lin, tidak seharusnya dia berbuat begitu.

"Itu urusan di antara kami berdua, tidak ada hubungan denganmu. Aku masih ada meeting."

Tapi Chu Yan tidak membiarkannya kabur begitu saja. Perbuatannya ini hanya akan mendorong Xia Lin semakin menjauh darinya.

Yi Zhou ngotot mengingatkan Chu Yan kalau Xia Lin adalah istrinya dan dia tidak akan membiarkan Xia Lin meninggalkannya.

Iya, Xia Lin memang istrinya Yi Zhou. Tapi dia juga manusia merdeka yang punya perasaan dan pemikirannya sendiri. Yi Zhou tidak boleh menipu hidupnya sesuka hati Yi Zhou. Tidak ada seorangpun yang suka dibegituin.


"Aku melakukannya demi kebaikannya sendiri."

"Melakukannya demi kebaikannya? Ada banyak sekali orang yang menggunakan alasan ini untuk menyakiti orang lain. Kalau kau mencintai seseorang, kau harus menghormatinya. Cinta tak berimbang semacam ini tidak akan tahan lama. Pada akhirnya, dia akan memilih untuk meninggalkanmu."

"Memangnya kau mengenalnya dengan baik?"

"Aku hanya menyuarakan pendapatku sebagai teman kalian berdua."

"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta padanya? Timingnya tepat sekali. Kau bisa mendesakkan dirimu di antara kami saat kami sedang bertengkar." Sinis Yi Zhou.


Sakit hati, Chu Yan sontak menonjoknya sekuat tenaga dua kali. Yang satu untuk apa yang diperbuatnya terhadap Xia Lin. Dan yang kedua karena Yi Zhou meragukan persahabatan mereka.

"Ling Yi Zhou, kuberitahu kau. Menyakiti seseorang yang kau cintai itu sangat mudah dan hari ini kau melakukannya. Kau menyakiti dua orang yang menyayangimu."

Chu Yan langsung pergi dengan kesal, meninggalkan Yi Zhou dalam kesedihannya. Apalagi kemudian Wen Li masuk untuk menyampaikan permintaan Xia Lin, dia ingin Yi Zhou datang ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan perceraian mereka.


Chu Yan mendatangi Xia Lin malam harinya. Dia langsung nyelonong masuk begitu dibukain pintu lalu duduk dengan gaya angkuhnya. Kandangnya Xia Lin ini lumayan juga.

"Apa kau tidak punya sopan santun? Aku bahkan tidak mempersilahkanmu masuk."

"Sopan santun? Aku bahkan menghajar si tua Ling untukmu dan kau malah menceramahiku tentang sopan santun?"

"Beneran?"

"Aku bahkan menonjoknya dua kali. Tanganku masih sakit sekarang."

"Lalu... apa dia baik-baik saja?"

Pfft! Chu Yan tak percaya mendengar Xia Lin malah goyah karena mengkhawatirkan Yi Zhou. "Apa kau tidak bisa lebih kuat dikit? Tuan besarmu ini lapar, kasih makan!"

"Tuan besar, pelayanmu ini cuma punya mie instan. Tapi ada banyak rasa, anda boleh pilih."

"Ampun deh. Setidaknya kau itu selebritis kecil, tidak bisakah kau memperlakukan dirimu sendiri dengan lebih baik?"

"Sekarang ini aku punya hutang besar. Sukur-sukur aku masih bisa mengisi perutku. Kalau kau mau pilih-pilih, mending kau pulang sana! Nih!" Ujar Xia Lin sambil menyodorkan ice pack padanya, untuk meredakan sakit di tangannya.


Chu Yan sok jaim menolaknya, maka Xia Lin sendiri yang akhirnya merawat tangan Chu Yan sambil mengomelinya, sama sekali tidak menyadari kecanggungan Chu Yan gara-gara perbuatannya itu.

Gugup, Chu Yan langsung mengambil ice pack itu dan menyuruh Xia Lin masak mie instan saja. Tiba-tiba terdengar gemuruh badai di luar.


Xia Lin berniat mau menutup jendela tapi malaha melihat Yi Zhou ada di parkiran bawah, sedang menatap ke apartemennya dengan sedih.

Penasaran, Chu Yan berniat mau ikut melihat, tapi Xia Lin dengan cepat menutup tirainya dan mengajak Chu Yan menjauh dari jendela. Yi Zhou bahkan tak mempedulikan hujan yang mulai mengguyurnya dengan deras.


Chu Yan makan dengan nikmat, tapi Xia Lin tidak berselera makan saking cemasnya memikirkan Yi Zhou yang ada di luar. Chu Yan bingung melihatnya melamun, apa dia kerjaan besok?

Tidak, dia cuma mau mencari lowongan kerja saja. Oke, kalau begitu, sebagai ungkapan terima kasih atas traktiran mie instan malam ini, Chu Yan akan merekomendasikan sebuah pekerjaan untuk Xia Lin.

"Sungguh?"

"Tentu saja... tidak." Canda Chu Yan. "Baiklah, akan kukirimkan sebuah alamat nanti, kau datanglah jam 9 besok."

"Pekerjaan apa?"

"Kau akan tahu kalau sudah sampai di sana. Aku pulang."


Begitu Chu Yan keluar, Xia Lin langsung mengecek jendela, tapi Yi Zhou ternyata sudah tidak ada.

 

Yi Zhou memang sudah pulang tapi dia melampiaskan frustasinya dengan minum-minum sampai mabuk sembari mengenang kenangan-kenangan indahnya bersama Xia Lin selama ini.

Epilog:


Sepertinya si agen real estate membawa Xia Lin ke apartemen itu atas perintah Yi Zhou. Saat si agen real estate keluar untuk menelepon waktu itu, ternyata yang dia hubungi adalah Yi Zhou. Yi Zhou bahkan langsung memerintahkan si agen untuk membeli gedung apartemen itu secepatnya. (Aduh, Bos Ling. Mumu pasti marah besar kalau sampai tahu)

Bersambung ke episode 12

3 komentar: