Sinopsis Memory Lost Season 2 Episode 12 - 1

Sinopsis Memory Lost Season 2 Episode 12 - 1



Nan Bo tersudut di jembatan tepi jembatan dengan puluhan pistol terarah padanya. Dia berbalik dengan mengangkat kedua tangannya dan langsung bicara pada Jin Xi.

"Junior, apa kau ingat kalimat ini? Keberadaanku berakhir bertahun-tahun yang lalu. hingga aku bertemu dengannya, hidupku mulai berarti."

Flashback.


Suatu malam, Nan Bo baru pulang dan mendapati ayahnya sedang membaca esai-nya Nan Bo tentang psikologi kriminal dan penggunakannya secara klinis pada sinestesia. Tapi ayah tak senang dengan esai itu dan terang-terangan mengkritiknya.

"Aku tahu ayah tidak setuju dengan teoriku, aku bisa mengerti. Tapi aku yakin tidak ada batas dalam mencari ilmu pengetahuan. Selama itu mungkin, itu pantas untuk dipelajari."

Kesal, Ayah langsung melempar kertas-kertas itu ke muka Nan Bo. "Kau masih belum mengakui kalau kau salah? Jawaban yang kau cari, penelitian yang kau lakukan, kau uji langsung pada manusia sungguhan, mahasiswamu sendiri! Jika saja Direktur Lin tidak memberitahuku, aku tidak mungkin tahu kalau kau melakukan hal semacam ini!"

"Kalau aku tidak melakukan eksperimen, bagaimana aku bisa mendapat gambaran yang sebenarnya? Lagipula para mahasiswa itu sendiri yang mengajukan diri untuk membantu sebagai uji coba."


Kesal, Ayah sontak menampar Nan Bo. Sama sekali tak percaya dengan klaimnya, Ayah tahu betul kalau Nan Bo memaksa para mahasiswa itu untuk jadikan eksperimen dan mengancam akan mengubah nilai mereka jika mereka menolak.

"Apa kau tahu kalau eksperimenmu itu hampir membunuh dua mahasiswa? Mereka bunuh diri! Nan Bo, berapa kali aku harus memberitahumu, hati manusia itu sangat rumit dan menakutkan. Bahkan seorang psikolog sampai akhir hidupnya, akan sulit memahami diri kita sendiri. Memahami penjahat itu sama seperti bekerja sama dengan iblis! Pada akhirnya, sebelum kita menyadarinya, kita akan berada di kedalaman neraka. Apa kau mengerti?!"

Tapi Nan Bo tetap bersikeras dengan keyakinannya sendiri. Dia bahkan bertekad mau membuktikan kalau dirinya lah yang benar. Kesal, Ayah pun mengusir Nan Bo.

 

Di kampus, semua orang terang-terangan menghindari Nan Bo. Bahkan saat dia mencoba duduk di salah satu meja kantin, si mahasiswi langsung pindah ke meja lain.

Dia bahkan mendengar percakapan dua mahasiswi yang sinis menggosipkannya karena memaksa orang untuk melakukan eksperimennya. Bahkan salah satu gadis yang dijadikan percobaan olehnya tidak bisa tidur dengan tenang sampai sekarang. Gadis itu selalu berpikir kalau dia membunuh seseorang dan seseorang membunuhnya.

"Kalau begini terus, gadis itu mungkin akan gila."

"Aku tidak mengerti, bagaimana bisa mereka mengizinkan seseorang yang jahat sepertinya? Yang penting, kau jangan berhubungan dengan si psiko itu. Dia punya ayah yang mendukungnya, sementara kita tidak."

Tak tahan mendengarnya, Nan Bo akhirnya menjauh dan duduk seorang diri di meja paling ujung.


Saat dia pergi menemui Direktur universitas, Nan Bo protes tidak terima karena proposalnya ditolak. Direktur beralasan kalau proposalnya harus didiskusikan dulu dengan dewan pendidik universitas.

Nan Bo kesal, pasti Direktur Lin yang tidak setuju dengan teorinya. Tepat saat itu juga, orang yang dia bicarakan muncul. Direktur Lin membela diri kalau dia tidak sepicik yang Nan Bo pikir.

Dia pasti akan mendukung teori yang berbeda asalkan teori itu masuk akal. Direktur Lin juga tidak terima dengan tuduhan sepihak Nan Bo tadi. Tapi Nan Bo yakin pasti Direktur Lin lah yang menolak proposalnya, siapa lagi kalau bukan dia.


Direktur senior mendukung Direktur Lin dan meminta Nan Bo untuk melupakan masalah ini untuk sementara waktu.

Dia dan Direktur Lin memang sama-sama profesional di bidang psikologi. Tapi Nan Bo baru saja mendapatkan gelar doktornya, dia masih belum berpengalaman seperti Direktur Lin.

"Lagipula, menurutku kalian berdua tidak seharusnya saling membenci hanya karena masalah sepeleh semacam proposal."

Nan Bo langsung mendengus sinis mendengarnya dan semakin tidak sopan pada kedua seniornya itu. Mereka berdua tahu apa tentang psikologi? Mereka dangkal dan konyol. Nan Bo bersumpah akan membuat mereka menyesal.


Direktur Lin jelas marah. "Kalau sikapmu seperti ini, mana mungkin ada yang mau menyetujui teorimu?"

"Aku tidak butuh persetujuan orang-orang seperti kalian!"


Nan Bo kesal teringat penolakan semua orang terhadap penelitiannya. Saat dia merenung sedih di taman, tiba-tiba ada seseorang ber-hoodie misterius yang duduk di dekatnya.

Yang paling menarik perhatian Nan Bo dari orang itu adalah buku yang dibacanya adalah buku karya Sigmund Freud (psikiatris yang mendirikan cabang ilmu psikoanalisis) yang berjudul Peradaban dan Kekecewaan-Kekecewaan. Orang itu dengan sengaja meninggalkan bukunya di sana lalu pergi.

Melihat itu, Nan Bo berniat mengembalikannya. Tapi saat dia membukanya, dia mendapati ada sebuah pesan di dalamnya yang berbunyi: sebuah hadiah untuk monster yang ada di dalam hatimu - (dari) seseorang yang memiliki monster yang sama.


Malam harinya, Nan Bo pergi ke kantornya Direktur Lin. Beliau sedang menghadap jendela saat Nan Bo masuk dengan memakai sarung tangan dan membawa sebuah suntikan obat. Dia berniat mau menyuntiknya dengan terlebih dulu menyapa Direktur Lin.

Tapi saat Direktur Lin berbalik, dia tampak linglung sambil memegang pisau. Lalu dalam ketidaksadarannya, dia menusuk dirinya sendiri berulang kali yang sontak mengejutkan Nan Bo.

Direktur Lin mengakhiri hidupnya sendiri secara tak sadar dengan menusuk lehernya sampai Nan Bo mual dibuatnya.


Di meja, Nan Bo menemukan pesan bunuh diri lalu tiba-tiba saja ponsel terdekat berbunyi. Saat Nan Bo mengangkatnya, si orang misterius lah yang bicara. Orang itu mengaku kalau dialah yang mengatur bunuh dirinya Direktur Lin lalu tiba-tiba muncul gambar tengkorak di layar laptop.

"Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Nan Bo.

"Lihatlah sendiri." Ujar orang itu.

Layar komputer lalu berubah menunjukkan rekaman saat Direktur Lin hendak pulang kantor tadi. Si orang misterius tiba-tiba lewat tepat di hadapannya dan bergumam pelan menyuruhnya mati saja. Lalu saat ponselnya berbunyi dan Direktur Lin mengangkatnya, seketika itu pula ia langsung terhipnotis.


Ia langsung keluar lagi dari mobilnya dan berjalan kembali ke kantor dengan linglung bahkan sampai tak menyadari dua orang mahasiswa yang menyapanya.

Dia duduk kembali di meja kerjanya, meletakkan ponselnya sedemikian rupa lalu membuka laptopnya dan menulis pesan bunuh diri.


Setelah menonton rekaman itu, Nan Bo ingin bertemu si orang misterius, tapi teleponnya sudah ditutup. Nan Bo pun cepat-cepat meletakkan ponsel itu kembali ke meja, mengambil kembali jarum suntiknya lalu keluar.


Sejak saat itu, Nan Bo berkomunikasi dengan si orang misterius itu lewat dunia maya. Dia curhat tentang orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Yang dia inginkan hanyalah mencari jawaban, tapi orang-orang selalu merendahkan apa yang dia pikirkan. Ini tidak adil.

"Dunia tidak pernah adil. Hanya satu hal yang adil bagi semua makhluk hidup yaitu... kematian."

"Kau ingin menghakimi mereka."

"Jika kau ingin menghakimi dunia ini sendiri, kau tidak boleh angkuh menghadapi kematian. Banyak hal seperti jaring laba-laba, besar dan berbelit-belit. Setiap orang akan mengalami banyak perubahan. Tapi berbeda dengan sebuah kelompok."

"Kau ingin mengikutiku?"

"Salah. Kau yang akan menjadi pengikutku."

"Kapan?"

"Saat kau bisa menjadi seseorang yang membuatku puas akan dirimu."


Maka Nan Bo pun mulai bereksperimen dengan sembarang orang. Saat ada dua pria yang sedang bertengkar di jalan, sekilas dia tampak mau melerai mereka.

Padahal sebenarnya dia sedang menghipnotis mereka untuk saling melampiaskan kemarahan mereka pada satu sama lain. Jadilah kedua orang itu makin beringas menyerang satu sama lain. Percobaan pertamanya sukses.


Lalu saat ada pasutri yang sedang bertengkar, Nan Bo menghipnotis si suami dan membisikinya untuk mendapatkan kebebasan. Tak berapa lama kemudian, si suami pun mati dengan menjatuhkan dirinya dari atap gedung.

Lalu saat ada dua pria yang bertengkar gara-gara mobil mereka tabrakan, Nan Bo menghipnotis salah satu pria itu dan menyuruhnya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Pria itu pun langsung memundurkan mobilnya dan menabrak pria kedua sampai mati.

Semua percobaannya itu disaksikan oleh si bos sindikat dan begitu percobaan ketiganya sukses, si bos pun mengirim chat, menyambut Nan Bo ke dalam tim.

Flashback end.


Jin Xi masih tercengang menatap Nan Bo. Tapi tiba-tiba saja darah mengucur dari mulut Nan Bo, sepertinya dia sudah menelan racun, lalu dia melompat dari pagar dan terjun ke sungai.

Han Chen langsung memerintahkan yang lain untuk mencarinya, jangan sampai Nan Bo sampai ke hilir.


Beberapa kapal dan motorboat pun langsung dikerahkan mengelilingi sungai itu. Tapi bahkan setelah beberapa lama, tak ada satupun yang menemukan Nan Bo. Seorang polisi menduga kalau Nan Bo tidak terbawa arus ke hilir maka mungkin dia sudah tenggelam ke dasar sungai. Karena tak menemukan di daerah tepi, Xiao Zhuan meminta pencarian diperluas.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

0 Comments