Sinopsis Fall in Love Like a Star - Part 1

Sinopsis Fall in Love Like a Star - Part 1


Seorang pria memasuki sebuah club yang gelap. Dia lalu naik ke atas panggung, mengecek semua alat musik di sana sebelum kemudian berdiri di depan keyboard.

Lampu seketika menyala dan jari-jari pria itu lincahnya menari-nari di atas tuts piano memainkan musik flight to bumblebee. Para penonton pun bersorak-sorak mengaguminya. Suasana pun jadi semakin meriah. Tapi...

"Bangun! Bangun!" Panggil seseorang.


Walah, ternyata cuma khayalan. Wkwkwk! Pria itu, Su Xing Yu (Li Yi Feng) nyatanya cuma seorang tuner instrument band di club itu. Dan wanita yang membangunkannya itu adalah Tian Xin (Yang Mi), si asisten band.


Saat Tian Xin membawakan segelas air untuk si drummer, pria itu malah kurang ajar menggodai t**uhnya sampai air yang dibawanya tak sengaja terciprat ke bajunya. Kesal, Tian Xin langsung menyiramkan air itu ke mukanya si drummer.

Kesal juga melihat kelakuan kurang ajar si drummer, Xing Yu diam-diam mengambil braket pengunci cymbal-nya lalu memberikan tisu untuk Tian Xin. "Malam ini kita akan punya pertunjukkan menarik," katanya sambil memperlihatkan braket yang diambilnya tadi.


Acara dimulai tak lama kemudian. Si drummer pun mengawali permainannya dengan menggebuk cymbal-nya yang jelas saja langsung lepas dan terlontar tepat mengenai mukanya. Kontan si drummer langsung jadi bahan cemoohan semua penonton dan Xing Yu tentu saja langsung dipecat.


Mereka berdua lalu minum-minum bersama. Tian Xin berterima kasih pada Xing Yu tapi tak enak juga karena Xing Yu jadi dipecat. Xing Yu tak masalah, lagian juga dia tidak terlalu peduli dengan pekerjaan ini. Setiap hari dia cuma bisa menjaga peralatan musik tanpa bisa menyentuhnya, itu menyebalkan.

"Kau ingin menyentuhnya? Apa kau musisi?"

"Tentu saja. Musik idealku ada dalam genggamanku. Aku mengontrol semua aspek. Apapun moodnya, (musik) bisa mengalir begitu saja."

"Eh, kalau suatu hari aku jadi talent agent, aku akan membuatmu jadi bintang."

Tian Xin langsung nyerocos panjang lebar tentang impiannya untuk menjadi seorang talent agent. Dia ingin seperti Mei, si talent agent yang terkenal itu. Semua artis yang ditanganinya menjadi bintang besar. Makanya sekarang dia melatih dirinya biar bisa jadi seperti Mei.

"Kalau kau seyakin itu, maka kita bisa membentuk tim sama-sama untung dan menyentil si Mei itu."


Mereka terus bercanda tawa dan flirting sambil minum-minum sampai mabuk, dan hubungan mereka pun berkembang pesat dalam waktu singkat.


Suatu hari, mereka duduk di depan air mancur di sebuah taman dimana Xing Yu memberikan gelang merahnya pada Tian Xin. Sayangnya, mereka harus segera berpisah. Demi mengejar impiannya jadi bintang, Xing Yu harus belajar musik ke London. Dan gelang merah itu dia berikan sebagai pengikat.

Tian Xin memberinya uang untuk biaya hidup di London, tapi Xing Yu menolak. Dia akan membiayai hidupnya sendiri dengan bekerja di restoran milik temannya pamannya nanti. Dia cuma menuntut Tian Xin untuk memberinya sesuatu yang spesial yang bisa dia bawa setiap hari.

Kalau begitu, Tian Xin pun memberinya sebuah pulpen berbandul bintang. Itu pulpen kesayangannya yang sudah dia gunakan sejak dia kuliah.


Xing Yu senang. "Aku bisa menggunakan ini untuk menggubah musik setiap hari. Jadi semua lagu yang akan kubuat nantinya seolah aku menulisnya untukmu."

"Kau akan pergi lama. Bagaimana kalau suatu hari aku tidak bisa menemukanmu?"

"Jangan khawatir. Dua tahun akan berlalu dengan cepat. Kalau suatu hari kita kehilangan kontak, mari kita janjian bertemu di sini."


5 tahun pun berlalu dan sekarang Xing Yu benar-benar berhasil menggapai impiannya menjadi bintang besar. Hari itu, dia sedang syuting MV bersama seorang artis cantik, Hao May Li (Dilraba Dilmurat).

Setelah selesai, Managernya memberitahu bahwa setelah ini, Xing Yu ada jadwal menghadiri acara award. May Li terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Xing Yu dan mencoba mengajaknya makan malam bareng dan tanya kapan Xing Yu akan membuatkan lagu untuknya.

"Jika aku membuat lagu untukmu, maka itu akan jadi headline besok." Dingin Xing Yu lalu pergi.


Begitu dia keluar, dia langsung disambut jerit heboh ratusan fans-nya. Dia benar-benar artis sukses dilihat dari wajahnya yang muncul di berbagai macam iklan di seluruh kota.


Tapi alih-alih Tian Xin, talent agent-nya sekarang adalah Mei, si talent agent yang pernah mereka gosipkan dulu. Dia memberitahu kalau Xing Yu memenangkan voting award sebagai 'Pria Impian'. Sepertinya 70% wanita muda Cina ingin menikahi Xing Yu.

"Ingin menikahiku? Kau harus mencintai musikku dulu."

"Kau masih bermimpi tentang musikmu," nyinyir Mei. "Seharusnya kau menggunakan wajah tampanmu dan karismamu saja untuk memikat sisa 30% persen wanita muda di luar sana."

Mei lalu memberitahu kalau dia sudah menerima tawaran film idol remaja untuk Xing Yu. Tapi Xing Yu langsung protes tak setuju, apalagi Mei tidak pernah berdiskusi dengannya dulu sebelum membuat keputusan.

Mei tidak terima. Dia itu agent-nya Xing Yu, tidak mungkin dia akan membuat Xing Yu terlihat buruk. Dalam bidang ini, artis harus punya banyak bakat.

Xing Yu tetap menolak dan bersikeras untuk fokus di musiknya saja. Mei kesal mengingatkan Xing Yu bahwa dia bisa jadi terkenal dan punya banyak fans seperti sekarang ini berkat dukungan perusahaan talent agent-nya. Jadi lebih baik dia andalkan muka gantengnya itu saja dan terima film itu.


Di kejauhan, Tian Xin mencegat taksi lalu nyerocos panjang lebar memberi saran pada pak supir tentang jalan-jalan mana saja yang sebaiknya dilewati untuk menghindari macet karena dia tidak boleh terlambat hari ini.

Karena hari ini teryata hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan talent agent. Yang tidak dia ketahui, perusahaan yang ditujunya itu ternyata perusahaannya Xing Yu.


Tepat saat dia tengah mencari departemennya, dia tak sengaja berpapasan dengan Xing Yu. Tampak jelas dari tatapan mereka kalau mereka sudah berpisah. Hmm... apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka?

Flashback.


3 tahun yang lalu, Xing Yu masih bekerja jadi pencuci piring di restoran sambil terus aktif berhubungan dengan Tian Xin lewat telepon internasional setiap hari.

Tapi yang mengejutkannya, Tian Xin malah tiba-tiba minta putus. Xing Yu mengira dia cuma bercanda. Tapi Tian Xin mengklaim kalau dia serius.

Saat Xing Yu menuntut penjelasan, Tian Xin beralasan kalau jarak mereka terlalu jauh dan mereka sudah seperti orang asing saja. Xing Yu jelas tidak terima, dia kan selalu menelepon setiap hari.

"Tidak semua hal bisa diselesaikan lewat telepon. Saat aku sedang tidak membutuhkanmu, kau terus menelepon. Menyebalkan sekali. Aku sekarang agen eksekutif, aku punya banyak pekerjaan. Selain itu, aku sudah menemukan orang lain yang lebih cocok untukku." Ujar Tian Xin, tapi jelas-jelas semua yang dia ucapkan itu bohong.

Xing Yu jelas marah mendengarnya. Berusaha menahan isak tangisnya, Tian Xin dengan dinginnya berkata bahwa lebih baik mereka berdua memilih jalan yang lebih sesuai untuk masing-masing. Patah hati, Xing Yu langsung melempar ponselnya.


"Itu adalah percakapan terakhir kami. Tidak ada ucapan perpisahan. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagimu untuk meraih impianmu. Kau boleh berpikir aku jahat, tapi kau harus menjadi gambaran sebuah kebaikan. Zu Xing Yu, aku mencintaimu." Batin Tian Xin.

Flashback end.


Xing Yu berjalan mendekatinya dengan luka yang tergambar jelas dalam tatapan matanya. Tapi Tian Xin berusaha bersikap casual dan menyapanya seolah mereka cuma teman lama yang baru bertemu kembali. Kesal, Xing Yu langsung berlalu pergi mengacuhkannya.


Saat dia tiba di departemennya, Tian Xin melihat para pegawai heboh berkumpul di depan ruangan bos mereka, menyaksikan perdebatan seru antara Mei dan Xing Yu yang masih otot-ototan masalah film idol remaja itu.

Bos mereka sampai pusing mendengar perdebatan mereka. Xing Yu ngotot tak mau tampil dalam film itu, sementara Mei nyerocos panjang lebar tentang potensi film itu.

Saking kesalnya, Mei langsung nyinyir mengingatkan Xing Yu bahwa dia bisa jadi seperti ini sekarang berkat dirinya. Dia tidak akan mungkin bisa jadi seperti ini dengan usahanya sendiri.

"Aku akan lebih baik tanpamu," dingin Xing Yu lalu pergi.


"Kau bilang kau lebih baik tanpa aku? Baik, silahkan kau ganti agen-mu."

"Aku, Su Xng Yu, ketrampilan seniku berdasarkan keahlianku. Tidak masalah siapapun yang jadi agenku."

"Benarkah? Kalau begitu silahkan kau ganti agenmu dan kita lihat saja nanti. Ada banyak orang di perusahaan, pilih salah satu."


Xing Yu mengedarkan pandangannya sampai dia melihat Tian Xin dan langsung memutuskan memilih Tian Xin jadi agen barunya.


Mereka berdua lalu pergi ke sebuah restoran yang sudah dibooking oleh Xing Yu. Tian Xin tidak mengerti kenapa Xing Yu memilihnya sebagai agen.

"Karena aku ingin menyiksamu."

"Selama bertahun-tahun aku mengenalmu, selain fakta kalau kau sekarang bintang besar, kenapa kau masih naif?"

"Benar, aku naif. Bagaimana kalau kita main game? Kenapa? Kau takut?"

"Katakan."

Xing Yu akan bertanya dan Tian Yin harus menjawabnya dalam waktu sedetik. Oke. Xing Yu pun mulai tanya. Apel atau pir? (Pir). Rambut panjang atau pendek? (Panjang). Hotpot atau seafood? (Hotpot).

"Apa kau mau jadi agenku?"

"Ya," jawab Tian Xin refleks.

Dia baru menyadari jawabannya dan sedetik kemudian dan cepat-cepat meralat jawabannya. Tapi Xing Yu tak mau dengar lagi dan cuma mau menerima jawaban pertama lalu pergi.


Mereka berdua pun pulang ke apartemen masing-masing dan secara bersamaan mereka menghempaskan diri mereka ke kasur dan ke sofa masing-masing karena lelah.

Di apartemennya Tian Xin, tampak ada sebuah lukisan bergambar seorang wanita yang tampak kesepian menatap langit yang gelap. Gelang merah pemberian Xing Yu dulu, masih dia pakai sampai sekarang. Tapi sekarang dia memutuskan melepaskannya dan menaruhnya di atas lukisan itu.

Xing Yu termenung sedih selama beberapa saat sebelum kemudian mengirim pesan pada Tian Xin, menyuruh Tian Xin datang ke rumahnya besok jam 9.


Tian Xin pun pergi ke apartemennya Xing Yu pada jam yang ditentukan. Pelayannya Xing Yu menyambutnya dan memberitahu kalau Xing Yu akan datang sebentar lagi. Tian Xin pun menunggu sambil berkeliling melihat-lihat kemewahan apartemen itu dan berbagai macam alat musik modern dan tradisional yang dikoleksi Xing Yu.


Xing Yu tiba-tiba muncul mengejutkannya dan menyambutnya dengan campagne lalu membawanya ke teras mewah di atas kolam air. Tian Xin tak percaya melihat semua ini. Xing Yu menyuruhnya datang sepagi ini cuma untuk memamerkan rumah mewahnya ini?

"Kau itu agenku dan orang yang paling dekat denganku. Aku memintamu kemari agar kau bisa memahamiku lebih dalam dengan menunjukkan seluruh aspek hidupku."

"Kurasa aku memahami banyak hal tetangmu beberapa tahun yang lalu. Tidak banyak yang perlu di-update."


"Apa maksudmu tidak banyak. Apa kau tahu berapa banyak kamar di rumah ini? Apa kau tahu passcode rumah ini? Apa kau tahu di mana kutaruh persediaan obat-obatanku? Jika aku dalam bahaya besar, kau butuh semua itu untuk menyelamatkan nyawaku."

Tian Xin yakin kalau Xing Yu cuma ingin pamer seleranya saja, dan juga kolam ikan anehnya ini. Xing Yu tidak terima tempat ini disebut kolam ikan. Tempat ini tuh yang pemandangannya paling indah, tahu!

"Bagaimana? Kau melihat hal-hal yang tidak pernah kau lihat dalam hidupmu. Apa kau menyesal?"

"Kenapa aku harus menyesal?"

"Jika kau tidak mencampakkanku dulu, semua ini bisa jadi milikmu. Kuberitahu kau, manusia tidak seharusnya punya pikiran sempit, berhati-hati terhadap hal sepele, tapi mengabaikan hal yang penting."

"Naif."

"Aku memang naif, tapi aku sukses. Dan kau?"

 

Malas berdebat lebih jauh, Tian Xin menyatakan kalau dia mau mulai bekerja sekarang. Dia kan harus memahami Xing Yu sepenuhnya, maka dia pun mulai berkeliling melihat-lihat semua hal yang dimiliki Xing Yu, termasuk boneka teddy bear di kasurnya dan sebuah gaun perempuan yang jelas saja membuat Xing Yu jadi malu.


Selama beberapa hari berikutnya, Tian Xin mulai sibuk mengurus Xing Yu dan pekerjaannya. Awalnya, dia memberi nilai 100 dalam hal profesionalitasnya Xing Yu. Tapi lama kelamaan, dia malah mendapati Xing Yu ternyata sangat cuek dengan pekerjaannya hingga membuatnya kesal setengah mati. Saking kesalnya, dia langsung menurunkan poin profesionalitasnya Xing Yu ke angka 40.

Pernah suatu hari, Xing Yu diwawancara dalam sebuah acara. Tian Xin menasehatinya untuk menatap kamera dan senyum, tapi Xing Yu malah berpaling kesana-kemari dan dengan sengaja membelakangi kamera seolah mengejek Tian Xin.

Pun begitu, dia tetap berusaha bersabar dalam menghadapi Xing Yu dan tetap profesional menemani Xing Yu dalam semua pekerjaannya.


Suatu hari saat hari gerimis, Tian Xin memayungi mereka berdua. Tapi Xing Yu malah jahat merebut payungnya dan pergi sendirian. Kesal, Tian Xin memutuskan untuk menurunkan semua poin profesionalitas dan poin kepribadiannya Xing Yu ke angka nol.


Dalam acara penandatanganan kontrak, Xing Yu ternyata lupa bawa pulpen. Kliennya menawarkan pulpennya, tapi Xing Yu menolak, dia cuma bisa tanda tangan pakai pulpennya sendiri.


Gara-gara itu, terpaksalah acara jadi tertunda. Tian Xin tidak mengerti apa sebenarnya masalahnya, semua pulpen kan sama saja.

"Tidak sama. Aku hanya bisa tanda tangan dengan pulpenku."

"Apa masalahnya, itu kan cuma tanda tangan. Kau mau tanda tangan atau tidak? Jika tidak, itu artinya kita melanggar kesepakatan."

Xing Yu ngotot tak mau tanda tangan. Tian Xin mengerti, Xing Yu pasti membencinya. Xing Yu tanda tangan saja sekarang, Tian Xin janji akan mengundurkan diri dari perusahaan setelah itu, oke?


Jelas bukan itu yang dimaksud Xing Yu. Syukurlah managernya Xing Yu datang tak lama kemudian dengan membawakan pulpen kesayangan Xing Yu. 

Yang tidak Tian Xin sangka, ternyata pulpen yang dimaksud Xing Yu itu adalah pulpen berbandul bintang pemberian Tian Xin dulu.


Tian Xin akhirnya bisa tanda tangan dan acara itu pun bisa berjalan lancar. Setelah acara itu selesai, Xing Yu menolak masalah pengunduran diri tadi, dia akan menganggap Tian Xin tak pernah mengucapkan hal itu.

"Kau masih menggunakan pulpen itu?"

Xing Yu mengklaim kalau dia hanya sudah terbiasa memakai pulpen itu, bukan karena Tian Xin, jadi Tian Xin tidak usah berpikir berlebihan.


Secara bersamaan, mereka berdua melamun mengenang kenangan indah mereka dulu sampai petang berganti terang.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

1 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam