Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 4 - 5

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 4 - 5


Takut terjadi sesuatu pada ayahnya, Maria terpaksa keluar dari persembunyiannya. Phaulkon tersenyum puas dan langsung menggenggam tangan Maria dengan paksa.

Berusaha tetap tenang, Maria meminta dengan sopan agar Phaulkon melepaskan tangannya. Tapi tentu saja Phaulkon menolak. "Aku takut kau jatuh."

"Saya tidak akan terjatuh. Saya jalan tiap hari, kenapa juga saya terjatuh? Ini rumah saya, jao ka."

Dia terus berusaha melepaskan tangannya hingga akhirnya Phaulkon mau mengalah dan melepaskannya. Tapi sikap Maria barusan membuat Phaulkon jadi tambah suka padanya. Dia suka dengan wanita kuat seperti ini.

"Franik (Ayah Maria), putrimu sangat berani. Aku akan datang menemuinya setiap hari, boleh kan?" Phaulkon tanya tapi kesannya seperti memaksa.

Ayah jelas gugup dan berusaha menolak dengan sopan dengan alasan bahwa itu hanya akan menyia-nyiakan waktunya Phaulkon saja.

"Tidak, tidak, tidak. Apapun hal yang ingin kulakukan, sama sekali tidak buang-buang waktu."

Tetap tenang menghadapinya, Maria dengan sopan meminta Phaulkon untuk tidak menyia-nyiakan waktunya dengan orang rendahan seperti dirinya, Phaulkon kan pejabat tinggi yang pastinya sibuk.

 

Phaulkon jadi tambah gemas padanya dan langsung menariknya lebih dekat. Dia bahkan makin kurang ajar membelai wajah Maria tanpa mempedulikan ketidaknyamanan Maria terhadap sentuhannya.

"Kau sangat cantik. Bibirmu secantik wajahmu." Phaulkon sontak mendekatkan wajahnya, berniat mau menc**m Maria. Tapi untung saja Ayah cepat-cepat memohon Phaulkon untuk berhenti.

"Diam kau, pedagang rendahan! Aku akan membuat putrimu hidup nyaman. Apa kau tidak suka dia menjadi istri seorang bangsawan? Jawab! Kau tidak suka?!"

"Ta-tapi putri saya masih muda."

"Ork Luang Phaulkon. Tolong beri saya waktu untuk berpikir, jao ka." Pinta Maria.

"Untuk apa berpikir? Tidak perlu. Jangan berpikir."


Tak tahu harus bagaimana, Maria hanya bisa memalingkan wajahnya dari Phaulkon. Saat Phaulkon keluar tak lama kemudian, salah satu anak buahnya tanya apakah Phaulkon menyukai wanita itu.

"Sangat. Suatu hari dia akan menjadi istriku... dengan ancaman."


Maria sontak menangis setelah Phaulkon pergi. Berusaha menenangkan dirinya, dia menggenggam kalung salibnya hingga akhirnya dia benar-benar merasa tenang.


Prik dan beberapa pelayan lain sedang melakukan derma pada biksu, sementara Pin dan Yam sedang kewalahan mengejar Kade yang larinya kencang banget.

Setibanya di dermaga, Kade langsung merebut buket bunga lotusnya Prik karena dia juga ingin berderma. Prik jelas kesal. Bahkan saat Pin dan Yam mencoba bermulut manis padanya dengan memanggilnya P', Prik langsung ketus menolak dipanggil seperti itu. Sejak kapan dia jadi P'-nya mereka?

"Sudah kuduga. Kau tidak mau padahal tidak ada masalah, Ee Prik!" Nyinyir Pin.

"Astaga! Ee Pin. Kenapa kau memanggilnya Ee Prik?!" Timpal Yam tak kalah sarkastis.

"Lalu aku harus memanggilnya apa? Aku sudah memanggilnya Ee Prik!"

"Tidak boleh! Kau itu lebih muda. Bagaimana bisa kau memanggilnya Ee Prik? Kau itu harus tahu diri, tidak boleh panggil dia Ee Prik!"

"Ya, Ya. Aku akan ingat untuk tidak memanggilnya Ee Prik! Lalu aku harus memanggilnya apa kalau bukan Ee Prik?"


Wkwkwk! Niat banget mereka nyinyirnya. Tiap kali menyebut 'Ee Prik', penuh penekanan banget lagi. Prik jelas emosi dibuatnya. Lihat saja nanti, Prik bersumpah akan mengadukan mereka ke Khun Ying Jumpa saat Khun Ying pulang nanti.

"Adukan saja!" Kompak Pin dan Yam

"Ya! Lihat saja nanti!"

"Lihat saja, tapi bagaimana kalau aku tidak melihatnya?"

Kesal, Prik sontak mengayunkan tangannya untuk menampar Yam. Tapi Yam sigap menghindar dan jadilah Prik tersungkur ke lantai. Pin malah sengaja pura-pura jatuh untuk menindih Prik.


Mereka baru mau berhenti saat Kade yang meminta mereka dan meyakinkan mereka kalau dia tidak apa-apa, mereka bisa melakukan derma besok.

Tapi Prik tegas melarang, Kade tidak perlu melakukannya. Prik sendiri yang akan melakukan derma karena itu adalah tugas yang diperintahkan Khun Ying.

"Sebentar lagi nonaku juga akan menjadi majikanmu, Ee Prik!... P'Prik." Kesal Yam yang kemudian buru-buru mengganti panggilannya pada Prik dengan tampang tanpa dosa.

"Kubilang jangan panggil aku P'!" Prik lalu memerintahkan para pelayan lain untuk menghalangi Kade.

"Khun Mae Ban (pembantu)." Panggil Kade. Yah, soalnya Prik sendiri kan yang tidak mau dipanggil P'.

 

Prik sontak melongo saking tersinggungnya. Kade akhirnya berbaik hati memanggilnya dengan lebih sopan 'Bibi Prik' dan memberitahunya bahwa mereka tidak perlu menghalanginya. Dia akan mengalah dan tidak akan melakukan derma lagi.

"Baguslah. Orang seperti anda tidak memuja Buddha. Kenapa juga melakukan derma? Itu dosa namanya." Sinis Prik.

"Memang benar, tapi apakah orang jahat tidak bolah bertobat?"

Prik makin sinis mendengarnya, memangnya Kade sudah lupa akan apa yang pernah Kade perbuat padanya? Prik tidak akan pernah sedikitpun percaya bahwa seseorang macam Karakade akan bisa bertobat.

Tapi tentu saja Kade tidak tahu apa-apa, memangnya apa yang pernah dia lakukan pada Prik?

"Jangan pura-pura tidak ingat!"

Flashback.


Suatu hari, Karakade memanggil Prik dan tanya dia mau ke mana. Tapi Prik males banget sama dia dan berniat acuh. Tapi Karakade jadi tersinggung dengan sikapnya dan sontak menamparnya keras-keras sampai bibirnya berdarah.

Pelayan bernama Buong berusaha menyelamatkan Prik, tapi ujung-ujungnya dia malah jadi sasaran kebengisan Karakade. Dan alasan Karakade marah-marah itu karena dia menuduh Prik mencuri barangnya, padahal tidak.

Flashback end.


"Aku ditampar. Tapi saat nona menemukan barang nona, tidak ada satu pun kata maaf keluar dari mulut nona."

Kade sampai tak enak sendiri mendengar kisah Prik itu. "Apa aku seburuk itu padamu?"

Kesal, Prik pu  langsung pergi. Tapi kemudian Kade dan kedua pelayannya muncul di dapur untuk mencari Prik. Yam heran, untuk apa Kade mencari Prik di sini? Oh, Pin tahu. Kade pasti membawa Yam kemari untuk menampar dan memberi pelajaran pada Prik, kan? (Pfft!)

"Pelayan dan majikan sama saja!" Sinis Prik yang baru datang.


Yam sontak kesal mempelototinya, Pin bahkan semangat banget mengompori Yam untuk menampar Prik. Tapi untunglah Kade segera bertindak menengahi mereka dan mengisyaratkan Yam untuk pindah ke belakangnya.

"Khun Mae Ban."

"Aku bukan Khun Mae Ban!"

Baiklah. Kade akhirnya memanggilnya dengan sebutan yang lebih sopan 'Mae Prik' lalu menggenggam tangan Prik dan setulus hati meminta maaf. Tapi Prik sontak menarik tangannya, dia sama sekali tidak percaya kalau kepribadian Kade berubah.

Kesal, Yam hampir saja melayangkan tangan untuk menampar Prik. Tapi para pelayan lain lebih sigap mengancam Yam pakai tongkat. Tak ingin memperumit masalah, Kade cepat-cepat mengajak kedua pelayannya masuk dengan alasan mau tidur.


Kade berjalan linglung memikirkan ucapan Prik tadi tentang kepribadiannya. "Baiklah. Mungkin ini adalah kepribadianku (Sun-daan). Sun-daan itu seperti sun-don (akar). Aku harus menggalinya!"

Tiba-tiba dia melihat Joi dan seorang pelayan lain membawa beberapa barang keperluan Por Date yang sontak menarik perhatiannya. Mereka mau ke mana?

"Meun Thun akan pergi bekerja." Jawab Joi.

Kade jadi penasaran dengan barang yang tersimpan di dalam peti dan langsung saja membukanya sebelum mereka sempat melayangkan protes. Ternyata di dalamnya cuma berisi beberapa peralatan seperti baskom dan gelas-gelas emas.

Tapi kemudian perhatiannya teralih ke gulungan kain dan sebuah keris di tangan Joi. Kade menduga kalau itu pasti kain yang digunakan untuk menghadap Raja. Joi membenarkan.

Kade ingat pernah karena pernah mempelajari jenis-jenis kain tradisional di universitas. Suatu hari, dosennya memperkenalkan sebuah kain bercorak yang bernama 'Pa Som Pak'. Pak Dosen menjelaskan bahwa itu adalah kain yang diberikan Paduka Raja kepada para bawahannya. Sebuah kain yang dibuat di Khmer yang kemudian dikirim pada Paduka Raja.

Flashback end.


Tapi Kade bingung karena kain itu beda dari kain yang pernah dipelajarinya. Kenapa Por Date tidak memakai Pa Som Pak? Joi menjelaskan bahwa jabatan Por Date di istana adalah Meun, jadi dia belum menggunakan kain itu.

"Oh! Lalu di mana dia akan ganti baju?"

"Di paviliun istana."

"Oh! Aku tahu. Profesor pernah berkata bahwa ada sebuah paviliun khusus tempat para pejabat ganti baju." Cerocos Kade dengan santainya.


Tapi kemudian dia memperhatikan para pelayan mendadak menjauh dengan ketakutan lalu suara Por Date menyapanya dari belakang. "Apa itu profesor?"

Canggung, Kade sontak berbalik menghadapinya dengan ceringan lebar. "Oooooooh!"

"Tidak usah 'oh' sepanjang itu."

Kade menjelaskan bahwa profesor adalah orang yang mengajarinya. Siapapun yang mengajarinya, dia selalu memanggil mereka dengan sebutan 'Profesor'. Sebagai bentuk penghormatan pastinya.

Tapi apa Por Date sudah tidak marah lagi padanya? Por Date membenarkan. Kade tentu senang mendengarnya dan berterima kasih untuk itu. Tapi ngomong-ngomong, apa dan di mana sebenarnya pekerjaan Por Date?

Heran mendengar pertanyaannya, Por Date langsung berbalik menatapnya. Seperti biasanya setiap kali menghadapi situasi seperti ini, Kade pasti beralasan kalau dia hilang ingatan gara-gara si mantra bulan itu.

"Cukup! Mantra itu sudah berakhir. Jangan menyalahkan segalanya pada mantra itu. Kalau pikiranmu gila, itu karenamu sendiri... atau mungkin hantu yang tengah menguasai dirimu."


Por Date langsung pergi setelah itu tanpa mempedulikan wajah cemberut Kade. Setelah Por Date sudah cukup jauh, Kade langsung berpaling ke kedua pelayannya dan tanya apakah mereka tahu apa pekerjaan Por Date.

"Ooooooh!"

"Apa?"

"Tidak tahu, jao ka." (Pfft! Dasar)

 

Bukan cuma Por Date, Reung juga bekerja di istana. Bersama-sama mereka berdiri jejer bersama para pejabat lainnya di paviliun istana, sementara para pelayan istana membantu mereka memakai kain yang kemudian dililitkan menjadi celana dan dilengkapi dengan keris di bagian piggang mereka.

Sembari menunggu, mereka ngobrol bersama dua orang pejabat senior, yang salah satunya bernama Khun Ban. Ia mengaku bahwa ia barusan menghadap Paduka Raja untuk membicarakan masalah kapal duta besar yang tenggelam.

Lalu titah apa yang dikeluarkan Paduka? Tanya Reung. Pejabat senior yang satunya menduga bahwa Paduka sepertinya memberi titah untuk mengirim lebih banyak kapal.

Por Date sinis mendengarnya. "Siapa lagi yang mendesak beliau kalau bukan Ork Luang Phaulkon. Dia benar-benar duri besar di dalam politik."

"Jangan membicarakan hal itu di sini. Setelah tugas kita selesai hari ini, aku akan segera berkonsultasi dengan Thun Ork Ya, ayahmu. Di rumah kalian." Ujar Khun Ban pada Por Date.

Bersambung ke episode 5

2 komentar: