Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 4 - 2

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 4 - 2


Pin dan Yam sendiri ada di belakang. Keangkuhan Karakade yang dulu tampaknya menular pada Pin dan Yam. Mereka bahkan santai saja merebut sebuket bunga lotus milik seorang pelayan lainnya.

Saat mereka melihat Kade, mereka buru-buru naik. Tapi Yam tak sengaja terpeleset hingga wajahnya mendarat di sebuah gentong yang kontan membuat semua pelayan di sana ngakak sambil nyinyir.

Mengalihkan topik ke masalah utamanya, Kade tanya pada mereka, apa maksud dari 5 baht? Bukan dalam artian uang, tapi dalam hal waktu.

"Oh, 5 baht itu setengah jam. Satu jam sama dengan 10 baht."

Kalau begitu, jika dihitung dari saat terakhir dia mendengar Por Date mengucap kata itu, berarti Por Date baru saja pergi. Kade langsung semangat mengajak Pin dan Yam pergi mencari Por Date ke pasar.


Tapi saat mereka hampir tiba di pasar, dia malah melihat Por Date pergi lagi entah ke mana. Dia langsung memerintahkan duo pelayan untuk bergegas mengikuti Por Date.

Setibanya di sana, mereka mendapati Joi sedang mengelus sayang ayamnya setelah menang adu ayam. Kade menepuk pundaknya dari belakang, tapi Joi malah kesal dan santai saja menggerutui Kade karena mengira Kade adalah orang yang mau adu ayam dengannya juga.

"Kalau kau mau taruhan melawan anakku (yang dia maksud ayam), maka bawalah uang. Jangan buang-buang waktu, dia pasti akan membunuhmu di ronde berikutnya."

"Begitu, yah, Joi?"

"Ya, begitu." Santai Joi sambil menoleh ke lawan bicaranya dan langsung kaget. "Mae Ying!"

"Kau pikir siapa?"

"Saya tidak berani."

"Di mana Thun Meun?"

Joi refleks menunjuk satu arah... sebelum kemudian menyadari kesalahannya lalu cepat-cepat ganti menunjuk arah lain. Telat!

"Tunjuk lagi!"


Terpaksalah Joi harus jujur dan menunjukkan kembali ke arah yang pertama tadi. Tapi dia buru-buru mencegah Kade ke sana. Dia sungguh-sungguh memohon agar Kade tidak ke sana. Por Date akan membunuhnya kalau sampai melihat Kade di sini.

"Jangan khawatir, aku akan mengadakan pemakaman terhormat untukmu, aku janji." (Pfft!)

"Mae Ying, tolong kasihani saya."

"Kau mau pergi dengan cara baik-baik atau dengan berurai air mata, Joi?!" Ancam duo pelayan.


Ketakutan, terpaksalah Joi mengantarkan Kade ke sebuah gedung yang pintunya tertutup. Tapi Joi mengaku kalau dia hanya bisa mengantarkan Kade sampai depan pintu sini saja. Mereka tidak bisa masuk karena di tempat itu ada mantra sihirnya.

Tapi Kade tidak percaya. Jelas-jelas tidak ada apa-apa di pintu gedung itu. Dia mencoba membuka pintu itu, tapi gagal, pintu itu terkunci rapat. Oh, Kade tahu masalahnya. Dia yakin pintu ini pasti terkunci dari dalam.

Err... tapi sepertinya Joi benar. Di bagian dalam pintu malah tidak tampak ada gerendel pintu. Anehnya lagi, tiba-tiba pintu itu membuka dengan sendirinya. Lalu tampaklah sebuah mantra sihir yang kemudian menghisap Kade masuk ke dalam gedung itu.


Tempat itu penuh dengan patung Buddha di sepanjang dindingnya. Tapi tidak tampak ada orang di dalamnya. Kade menyuruh ketiga pelayan untuk ikut masuk. Tapi saat Pin dan Yam hendak mengikutinya, mantra tak kasat mata yang melindungi pintu itu malah menolak dan memental mereka.

"Kan sudah saya bilang. Kami tidak bisa masuk, ada mantra sihirnya. Tapi kenapa Mae Ying bisa..."

Kade juga bingung. "Kenapa? Kenapa aku bisa masuk?"


Tiba-tiba saja pintu itu menutup kembali dengan sendirinya. Sendirian di sana, Kade bisa melihat tempat itu dipenuhi dengan mantra-mantra. Penasaran, dia mulai melangkah mengikuti instingnya hingga dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Ternyata tempat itu adalah tempat latihan bela diri bagi para pria. Bahkan saat itu, dia melihat banyak sekali pria yang tengah latihan perang.

Alih-alih takut, Kade malah semakin mendekat dengan antusias... antusias mengagumi para pria kekar nan menggoda itu. Wkwkwk! Jelas saja kehadirannya langsung menarik perhatian para pria di sana... termasuk Reung.


Kade tercengang melihatnya. "Reung!"

Reung bingung. "Kau mengenalku?"

"Beneran kau! Kau bisa menunggang kuda juga?! Keren!" Kade antusias banget bisa ketemu TTM-nya. Tapi Reung jelas tidak mengenalinya, saat itulah Kade baru sadar kalau Reung bukan Reungrit dan langsung kecewa.

"Namaku Reung. Meun Reung Ratchapakdi."

"Bukan Reung." Kade kecewa.

"Mae Ying, bagaimana kau bisa masuk kemari?"

"Aku datang bersama Joi, P'Pin dan P'Yam. Aku datang melalui pintu itu, tapi hanya aku yang bisa masuk. Selain aku, tidak ada yang bisa masuk."


Saat Por Date melihatnya, dia jelas kesal dan penasaran bagaimana caranya Kade bisa masuk kemari. Mendengar Por Date menyebut nama Karakade, Reung akhirnya mengerti kalau wanita ini adalah tunangannya Por Date.

"Aku tidak percaya padamu. Kau bilang dia jelek dan mulutnya menjijikkan. Kalau dia tidak cantik, maka semua wanita di Phranakorn tidak cantik." Goda Reung.

Mengira Joi yang membiarkan Kade masuk kemari, Por Date bersumpah akan menghukum Joi, Pin dan Yam. Kade berusaha membela Joi dan meyakinkan kalau Joi tidak tahu apa-apa, tapi Por Date terus saja bersikeras menyalahkan semua orang yang membiarkan Kade masuk kemari. Pokoknya mereka harus dihukum.

"Kau tidak mengerti, yah, Khun P'? Aku bilang mereka tidak bersalah. Kau itu tidak bisa menghakimi orang secara adil. Mereka tidak tahu menahu, jadi mereka tidak bersalah. Kalau kau mau menghukum, hukum saja aku. Itu tidak salah, kau boleh mencambukku."

Reung bingung mendengar perkataan Kade, dia antara mengerti dan tidak mengerti. Dia bisa menangkap kata-kata yang Kade ucapkan, tapi dia tidak begitu memahaminya. Kade bicara bahasa apa?

"Bahasanya sendiri. Makanya aku bilang kalau dia menjijikkan."


"Itu tidak ada hubungannya." Sinis Kade. Tapi saat Por Date melempar tatapan tajam padanya, Kade buru-buru mengubah kalimatnya. "Maksudku, itu adalah dua masalah yang berbeda, Khun P'."

"Pulanglah sekarang."

"Bisakah aku pulang bersamamu? Kapan kau akan pulang?"

"Tidak boleh!"

"Kenapa?"

"Selalu saja membantah seperti ibu-ibu pedagang."

"Aku tanya. Aku tidak membantah, tapi tanya."

"Aku bisa jadi saksi bahwa dia tidak membantah, tapi bertanya." Celetuk Reung.

"Lihat, kan?"

"Tutup mulutmu!" Kesal Por Date.

"Mae Ying, jangan menggoda kerbau." Goda Reung.

Hah? Oh, Kade mengerti maksudnya. "(Por Date) kerbau yang sangat besar."


Sikap Kade yang gokil itu membuat Reung langsung suka sama dia dan terang-terangan menyatakannya pada Por Date. Kesal, Por Date berniat mau menarik tangan Kade. Tapi Kade bergerak lebih cepat dan lari berlindung di belakangnya Reung.

Por Date tambah emosi dibuatnya. "Cepat kemari! Kenapa kau berlindung di belakang punggung orang lain?"

"Aku bukan orang lain, tapi temanmu. Mae Ying, aku akan melindungimu."

Kade senang mendengarnya dan langsung berterima kasih pada Reung dengan senyum manis yang sontak membuat Por Date kesal bukan main. (Atau cemburu?)

"Ada masalah apa?" Seru seorang tetua yang kontan menarik perhatian semua orang.


Ternyata ia adalah guru tempat itu dan sepertinya ia sangat sakti. Hanya dengan melihat Kade bisa masuk ke tempat ini, ia bisa mengetahui kalau Kade bukan orang biasa. Ia lalu menyuruh Kade untuk mengikutinya ke dalam.


Kade tampak tegang. Apalagi saat dia mendekati tempat itu, mendadak dia merasa kedinginan. Tapi Por Date sepertinya tidak merasakan apa yang Kade rasakan, malah dengan manisnya dia menggenggam tangan Kade untuk menyemangatinya.

Tanpa mereka sadari, Reung sebenarnya sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dan langsung tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Mungkin dia bisa melihat kalau Por Date sebenarnya ada rasa pada Kade.


Sementara Kade memberikan sujud hormatnya pada Guru, Guru memperhatikan Por Date sepertinya memiliki kecurigaan terhadap Kade dan ia langsung terus terang menanyai Por Date tentang masalah itu.

"Saya curiga kenapa dia bisa melewati mantra dan masuk kemari?" Aku Por Date.

"Oh, itu karena..." Guru dengan sengaja melanjutkannya di dalam hati agar Por Date tidak bisa mendengarnya. "... dia bukan berasal dari sini."

"Bagaimana anda bisa tahu?" Kade ternyata bisa mendengar suara batin Guru yang jelas membuatnya terkejut.

Tapi Por Date yang sama sekali tidak mendengar apapun dan mengira Guru tidak bicara apa-apa, langsung mengomeli sikap Kade. Kade bingung, masa Por Date tidak mendengar Guru bicara? 

Por Date tak enak pada Guru. "Dia bicara omong kosong."


Kade mengerti, Por Date benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan Guru. Fiuh, Syukur deh. Kade mau ngomong, tapi bingung bagaimana harus memanggilnya. Memahami masalahnya, Guru pun memperkenalkan dirinya sebagai Guru Chieprakao.

"Apa kau pernah bermeditasi?" Tanya Guru Chieprakao.

Tentu saja. Pertanyaan itu kontan membuat Kade teringat akan kenangan indahnya saat bermeditasi bersama ibu dan neneknya.

Bersambung ke part 3

2 komentar: