Sinopsis Accidentally in Love Episode 20 - 1

 Sinopsis Accidentally in Love Episode 20 - 1

Qing Qing menyeret Feng ke sawah dan mengomel cemburu menuntut apa yang dilakukan Feng dan Xiao Lan di bawah selimut tadi. Feng meyakinkan kalau tadi itu cuma karena ada angin, tapi tentu saja Qing Qing tak percaya dan langsung mencubit tangan Feng dengan kesal. Feng penasaran, apa Xiao Lan itu benar-benar sahabatnya Qing Qing?


"Iya, kenapa?"

"Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa kau belum bertemu banyak orang. Mulai sekarang, berhati-hatilah dengan siapa kau berteman. Jangan mudah menerima siapapun yang baru kau kenal untuk menjadi teman baik."


Qing Qing kontan senang mendengar nasehatnya. Tiba-tiba mereka melihat ada orang-orangan sawah dan sebuah layangan. Qing Qing langsung memberikan layangan itu ke Feng dan mereka pun bermain layangan dengan gembira.


Puas bermain layangan, mereka duduk bersama di pinggir sawah. Feng penasaran apakah Qing Qing suka menerbangkan layang-layang?

"Waktu aku masih kecil, aku dan orang tuaku biasanya menerbangkan layang-layang bersama. Itu adalah satu-satunya ingatanku bersama mereka."

"Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Ibuku juga pergi saat aku masih kecil. Dan ayahku, kau tahu sendiri, dia tidak pernah memperhatikanku sejak aku kecil. Setiap kali kami bertemu, kami cuma bertengkar."

Ngomong-ngomong tentang masalah ayahnya Feng, sebenarnya ada yang ingin Qing Qing sampaikan. Menurutnya, Ayahnya Feng itu cuma sulit mengungkapkannya saja. Dia tidak seperti yang Feng bayangkan.

Feng tak percaya. Ayahnya itu malu karena dia seorang penyanyi dan marah karena tidak bisa membuang putranya sendiri. Qing Qing tak setuju, itu tidak benar.


Dia menunjukkan beberapa foto yang diambilnya saat terakhir kali dia mengunjungi Feng saat Feng sakit. Waktu itu, saat dia mencari kamarnya Feng, tak sengaja dia salah masuk kamar yang ternyata kamar Tuan Si Tu.

Di kamar itulah Qing Qing mengetahui kalau Tuan Si Tu ternyata mengoleksi semua albumnya Feng. Si Tu bahkan membuat kliping foto-foto Feng.


"Sebenarnya, ayahmu mencintaimu lebih daripada yang kau bayangkan. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya."

Qing Qing benar-benar kagum pada Feng. Dari dulu sampai sekarang, Qing Qing selalu berusaha keras untuk terbiasa dengan perasaan tak punya orang tua. Bahkan sekalipun tak ada seorangpun yang menyukainya, dia pasti akan baik-baik saja.

Kadang dia menerbangkan layang-layang seorang diri. Lalu kemudian dia sadar bahwa seberapa keraspun dia mencoba, itu tidak akan pernah terbang. Saat itulah dia berpikir, betapa bagusnya kalau saja ada seseorang di sisinya, sebagai pasangannya.


"Qing Qing, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Kaulah yang selalu tinggal di sisiku untuk membawaku keluar dari dunia tergelapku. Jika mungkin, aku berharap untuk selalu berada di sampingmu."

Sejak bertemu Qing Qing, Feng sadar kalau sekarang dia menjadi semakin khawatir akan kehilangan segala yang dia miliki.

"Qing Qing, aku... aku menyukaimu."


Feng pun mendekat untuk menc**mnya... saat tiba-tiba saja Xiao Lan mendadak muncul mengganggu momen romantis mereka. Kakek Chen menyuruhnya untuk mencari mereka berdua. Ayo pulang, belakangan banyak serigala berkeliaran loh.

Sigh! Terpaksalah Qing Qing dan Feng harus beranjak bangkit dan berjalan pulang. Feng jalan duluan dan kedua gadis itu jalan bersama di belakang.


Xiao Lan pamit pulang. Sebenarnya Kakek Chen menyuruhnya datang bukan cuma sebagai sahabatnya Qing Qing, tapi juga menyuruhnya untuk menilai apakah Feng layak untuk Qing Qing.

Flashback.


Tadi waktu mereka menjemur sprei, Xiao Lan mencoba menanyakan pendapat Feng tentang tempat ini. Sebagai orang yang datang dari kota besar, Feng pasti merasa hidup di sini membosannya dan sulit bertahan hidup di sini.

Tapi Feng menyangkal. Dia ingin melihat tempat Qing Qing dibesarkan dan menurutnya tempat ini tidak buruk kok. Mendengar itu, Xiao Lan berkomentar kalau hubungannya dengan Qing Qing pasti bukan sekedar pertemanan biasa. Feng sepertinya sangat peduli dengan Qing Qing.

"Benar, kami sudah melalui banyak hal bersama. Bagiku, dia bukan cuma sekedar teman."

"Sebenarnya, pria menarik sepertimu tidak perlu tinggal di dekat seorang gadis miskin dan tidak menarik seperti Qing Qing. Bagaimana kalau kau mencoba berteman denganku?"

Tapi Feng sontak menampik tangan Xiao Lan. "Biarpun Qing Qing terlihat bukan yang terbaik. Tapi bagiku, dia adalah gadis terbaik daripada yang lain. Dan aku tidak ingin lagi mendengarmu menjelek-jelekkannya."

Flashback end.


"Mungkin kami orang luar terlalu banyak berpikir, tapi penilaian karaktermu sangat baik." Ujar Xiao Lan. Qing Qing senang mendengarnya.


Begitu mereka tiba di rumah, Kakek Chen langsung mengomeli mereka panjang lebar. Pria dan wanita tidak seharusnya pergi ke gunung berduaan!

Feng harus tidur di sini malam ini, Qing Qing cepat siapkan tempat tidur untuknya sana! Di sini tidak ada listrik, mereka tidak akan bisa melihat setelah hari gelap.

Feng kaget mendengarnya, di sini tidak ada listrik? Qing Qing langsung berbisik kesal ke Kakek, ini sih sudah kelewatan, masa sampai tidak ada listrik?

"Ini desa, tentu saja seperti ini."

Feng jadi tak enak mendengarnya. Dia tidak bermaksud begitu kok, dia akan membantu Qing Qing beres-beres.


Kedua orang itu lalu duduk bersama di luar. Tapi gara-gara pernyataan cinta Feng tadi, sekarang mereka jadi diem-dieman dan canggung satu sama lain.

Qing Qing sebenarnya merasa bersalah. Feng sudah jauh-jauh datang kemari, tapi dia masih saja membodohi Feng.

Feng-lah yang akhirnya berinisiatif mencairkan suasana dengan menanyakan jawaban Qing Qing atas masalah yang tadi siang.  Tapi Qing Qing tidak siap menjawabnya sekarang, bisakah Feng memberinya sedikit waktu? Dia pasti akan memberinya jawaban. Feng setuju.


Pagi-pagi sekali, Qing Qing mendapati Feng sudah bangun, bahkan sedang memperbaiki saluran listrik rumah ini. Wah, Qing Qing sungguh tak menyangka kalau Feng bisa melakukan hal itu.

Sayangnya, Feng kemudian mengaku kalau dia harus segera pergi. Karena dia merilis album baru, perusahaan menyuruhnya pergi ke Korea untuk pelatihan. Daniel dan yang lain bahkan sudah pergi duluan, jadi dia harus segera menyusul mereka.

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke bandara."

"Tidak apa-apa, kau tetaplah di sini dengan kakekmu. Aku pergi, yah?"

Qing Qing sedih harus berpisah dengannya, tapi dia bisa sedikit tersenyum saat Feng berkata bahwa beberapa hari ini sangat menyenangkan.


Kakek baru bangun tak lama kemudian dan mendapati Feng sudah pergi. Qing Qing mengaku kalau dia ingin mengungkapkan segalanya pada Feng.

"Jikaa menurutmu itu layak dilakukan, maka putuskan sendiri. Bagaimanapun, kau sendiri yang akan menanggung semua konsekuensinya."


Di Korea, Feng sudah gelisah menunggu teleponnya Qing Qing dan langsung antusias saat ponselnya akhirnya berbunyi dari Qing Qing. Dia bahkan ingin melakukan video call.

Jelas saja Qing Qing langsung menolak keras. Jadi begini, dia tidak bisa video call soalnya di sini lagi mati listrik. Jadi percuma saja video call, Feng tidak akan bisa melihat apapun. Untung saja Feng percaya.

Bersambung ke part 2

2 komentar: