Sinopsis Kleun Cheewit Episode 8 - 4

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 8 - 4


Saat mereka pergi, Jade meminta maaf atas apa yang dilakukannya pada Khun Ying tadi. Dia tidak tahu kalau Khun Ying ternyata Ibunya Jee.

"Kenapa minta maaf padaku? Kau kan bodyguard-ku. Kau sudah berbuat benar dengan melindungiku. Seandainya saja aku tahu bahwa memiliki bodyguard itu lebih baik, aku pasti akan menjadikanmu bodyguard-ku sejak lama."

"Dengan senang hati."

Canggung, Dao cepat-cepat pamit dengan alasan harus balik mengajar dan meminta Jade untuk menjaga Jee baik-baik.

"Jangan khawatir, aku akan menempel ke Khun Jee seperti bayangannya."

"Lebih mirip infus."

"Oh, Khun Jee. Itu bagus juga. Jadi ke mana pun kau pergi, kau harus membawaku."

Dao jadi semakin tak enak jadi orang ketiga di antara mereka dan langsung bergegas pergi. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, dia menoleh kembali dan melihat Jade bersikap sangat manis ke Jee.


Saking sedihnya, dia sampai tidak lihat jalan dan akhirnya malah menabrak kursi roda. Jee dan Jade langsung cemas melihatnya. Apalagi lututnya Dao terlihat merah.

Dao ngotot kalau dia baik-baik saja dan cepat-cepat pergi. Tapi begitu mereka berpisah arah, Dao langsung menangis sembari memegangi lututnya yang jelas-jelas kesakitan.


Di luar, Jade ditelepon adiknya yang mengingatkan Jade untuk membawakannya sesuatu. Jade meyakinkan Jane kalau dia tidak lupa, dia sudah mendapatkannya kok, dia malah mau pergi ke kantornya Jane sebentar lagi.

Selesai dengan teleponnya, Jade menjelaskan ke Jee bahwa adiknya yang pelupa itu, melupakan notebook-nya. Makanya dia terpaksa harus merepotkan Jee sebentar saja untuk mampir ke kantornya Jane.

Tahu betul kalau Jane satu kantor dengan Thit, Jee langsung menyatakan kalau dia tidak keberatan sama sekali.


Sementara Jade diantarkan masuk ke kantornya Jane, Jee langsung sibuk celingukan mencari-cari Thit. Pucuk dicita ulam pun tiba, Thit mendadak lewat tak jauh darinya lalu masuk ke kantornya.

Jee pun langsung ikut masuk dan mendapati Thit sedang berdiri membelakanginya. Mengira yang masuk cuma rekan kerjanya, Thit santai saja menyuruhnya untuk meletakkan dokumennya.

Tapi di meja itu, Jee malah mendapati setumpuk dokumen kasusnya Sitta. "Kau masih belum melepaskan kasus ini?" Sapanya.


"Dan kau tidak mau berhenti menggangguku."

"Lepaskan kasus ini. Aku memperingatkanmu karena niat baikku."

"Itu lebih terdengar seperti ancaman daripada peringatan."

"Kalau kau mau balas dendam padaku, maka lakukan saja hanya padaku, jangan melibatkan orang lain."

"Mengkhawatirkan ayah tirimu?"

"Aku mengkhawatirkanmu."


Sesaat Thit tampak tersentuh mendengarnya. Tapi dengan cepat dia menguasai diri dan berjalan mendekati ke Jee sambil nyinyir, apa Jee ingin dia percaya kalau Jee mengkhawatirkannya?

"Aku khawatir kalau kau tidak akan mati dengan baik. Ini masalah hidup dan mati."

"Jika aku mati, yah sudah. Selama aku tidak mati sia-sia."

"Kau tidak mengerti."

"Kaulah yang tidak mengerti."

"Kau seharusnya tahu bahwa menjadi pengecut itu bukan sifatku."

"Dan apakah itu layak? Mempertaruhkan hidupmu untuk orang-orang itu? Bahkan sekalipun mati, kau tidak akan bisa melakukan apapun padanya (Sitta). Jangan bahayakan nyawamu hanya demi balas dendam padaku. Kau seharusnya memikirkan orang-orang yang tidak bisa hidup tanpamu."


Tapi perdebatan mereka terhenti dengan cepat saat Jane muncul saat itu juga. Thit langsung sinis menyuruh Jane untuk tidak sembarangan lagi membawa masuk orang asing tanpa alasan.

"Ini bukan taman umum, jangan berkeliaran di sini tanpa alasan. Terutama jika kau berada di tim lawan. Sebaiknya kau mengawasi dirimu sendiri." Sinis Thit.


Begitu tiba kembali di apartemennya, teleponnya Jee berbunyi dari Guru Arie yang langsung menyapa Jee dengan nyinyiran. Oh, ternyata Jee belum mati. Soalnya belakangan ini Jee mendadak menghilang dan tidak melakukan amal di sini lagi.

Tukang Kebun di sini (Bibi Wadee) sampai membawakan banyak sekali buah-buahan sebagai persembahan demi kebaikan Jee. Jee mau dia mengantarkan ke mana semua buah-buahan ini?

"Aku akan datang mengambilnya."

"Baguslah. Datang secepatnya sebelum tukang kebun pindah."

Hah? Bibi Wadee mau pindah ke mana? Oops! Guru Arie keceplosan. Bibi Wadee sebenarnya memintanya untuk tidak bilang-bilang ke Jee. Jee cemas mendengarnya, jadi Bibi Wadee mau pindah ke mana?

"Dia tidak pindah... dia diusir."

"Hah? Diusir?"


Malam harinya, Jee memanggil Suki dan memberitahu bahwa rumahnya Bibi Wadee dilelang. Bibi Wadee pernah menghipotekkan rumahnya demi membiayai pendidikannya Tiw. Tapi sekarang sejak Tiw meninggal dunia, Bibi Wadee tidak mampu membayar hutangnya.

Suki langsung paham ke mana arah pembicaraan Jee. Suki bisa membantu masalah itu. Tapi bagaimana dengan Thit? Satu masalah belum selesai, Jee sudah menambahkan masalah lainnya.

Suki tidak mau Jee terlibat lagi dengan Bibi Wadee. Bisa-bisa Thit akan datang mencekik Jee. Tapi cuma ini saja kan? Oke, kalau cuma ini, dadah!


"P'Suki, tunggu! Guru bilang bahwa Bibi Wadee belum memberitahu Khun Sathit tentang masalah ini, makanya tanah itu disita dan dijual. Aku ingin kau mendapatkan lelang itu, tapi aku ingin guru memberitahu Bibi Wadee bahwa dia (Thit) yang membelinya. Oke?"

"Oi! Jee! Apa kau tahu kalau pembuluh darah di wajahku mau pecah rasanya?! Stressss!"

"Jadi kau mau aku melelangnya sendiri? Oke! Baiklah! Kau boleh pergi. Dadah!"

Stres, Suki langsung menghubungi Stefan. "Belikan aku detergent dan tuang dua gelas untukku. Aku akan meminumnya untuk membunuh diriku sendiri! Stres!!!"


Pim kerepotan seorang diri mengepak segala keperluan syutingnya gara-gara si manager yang tak kunjung datang. Saat akhirnya Manager muncul tak lama kemudian, Pim sontak melempar bajunya ke Manager sambil ngamuk-ngamuk.

Manager bingung, biasanya kan mereka mengepak barang di pagi hari sebelum berangkat syuting. Tapi Pim ingin berangkat lebih cepat besok. Si Manager sampai tercengang dibuatnya. Apa Pim lagi demam? Apa yang membuatnya mendadak ingin berangkat syuting pagi-pagi?

"Karena aku ingin pergi ke lokasi bersama Khun Chaiyan, Khun Piak, dan Nang Jee."

Apa dia ingat bagaimana wajah Piak waktu di rumah sakit? Wajahnya seperti gunung berapi... dan Pim berniat untuk membuat gunung berapi itu meletus.

 

Keesokan harinya, Jee ke lokasi syuting dengan dikawal si bodyguard barunya. Bukan cuma mengawal, Jade bahkan membawakan tas dan memayungi Jee juga.

Jee berterima kasih karena Jade sudah mengantarkannya dan memberitahu bahwa Suki akan datang setelah menyelesaikan urusannya dan Jade bisa kembali ke Bangkok kapanpun dia mau. Tapi Jade dengan antusias berkata kalau dia akan tetap menemani Jee dan baru akan balik ke Bangkok setelah Suki datang nanti.


Pim kesal waktu Managernya bilang kalau Jee membawa bodyguard-nya yang bego itu. Managernya Pim tidak setuju, dia bukan bodyguard bego, dia bodyguard cakep. Pim yakin Jee pasti menggunakan cowok itu untuk melindunginya dari Piak.

"Jangan berkata begitu. Lihatlah ini dulu. Lihatlah adegan pertamamu hari ini."

Manager lalu memperlihatkan skripnya dan ternyata adegan pertama mereka adalah di laut. (Wah! Jee kan nggak bisa renang) Pim langsung senang seketika.


Chaiyan jelas cemas saat mengetahui perubahan skrip. Adegan itu adalah adegan di mana Jee diikat dan dibuang ke laut, tapi adegan itu seharusnya akan disyuting bulan depan, tapi kenapa malah diubah jadi hari ini.

Si penulis skenario beralasan bahwa bulan depan adalah musim hujan. Bahkan semalam saja hujan, makanya suasana hari ini sangat bagus untuk syuting adegan itu.

Chaiyan tetap tidak setuju, tapi Jee mendadak muncul dan menyatakan kalau dia tidak keberatan. Chaiyan cemas karena semalam hujan, keadaannya bisa sangat berbahaya.

Jade usul. Dia akan selalu berjaga dekat-dekat Jee agar dia bisa membantu jika sampai terjadi sesuatu.


"Meh! Nong Jee punya bodyguard pribadi seperti ini, kau tidak perlu khawatir Khun Chaiyan. Kecuali kau tidak ingin ada bodyguard karena kau cemburu." Piak nyinyir sambil melirik Piak yang tampak tersenyum licik di kejauhan.


Jadilah Jee diikat dipinggir sungai dan syuting pun dimulai. Tapi yang tidak disadari semua orang, tali yang mengikat Jee sebenarnya hampir terputus.

Pim lalu muncul melabrak Jee. Tapi saat Jee mulai nyolot, dia langsung menendang Jee. Chaiyan sontak menghentikan syuting karena seharusnya ada pelayan yang datang sebelum Pim menendang Jee. Salah satu kru cuma meminta maaf karena dia terlambat memberi aba-aba.

"Aku kan sudah menyuruh semua orang untuk fokus dan jangan mengacau lagi!"


Syuting dimulai lagi. Kali ini para pelayan datang untuk menghentikan Pim. Tapi saat mereka berusaha menariknya, Pim mendadak terjatuh dan langsung mengeluh heboh kalau kakinya keseleo.

Suasana langsung jadi heboh dan perhatian semua orang tertuju hanya pada Pim seorang. Mereka terlalu sibuk membantu Pim sampai mengabaikan Jee yang masih terikat tak berdaya di dalam air.


Dan saat itulah Jee baru sadar tali yang mengikatnya hampir terputus dan sontak panik. Jee berusaha meminta pertolongan, tapi hanya Piak yang melihatnya.

Dan tentu saja dia sama sekali tidak melakukan apapun untuk membantu, malah dengan sengaja dia mengalihkan perhatian Jade dengan menyuruhnya untuk ikut membantu Pim dan tersenyum puas melihat kepanikan Jee. Parahnya lagi, tali itu mendadak putus dan Jee langsung tenggelam.

Bersambung ke part 5

4 komentar: