Sinopsis Kleun Cheewit Episode 11 - 2

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 11 - 2

 

Jee melempari Chaiyan dengan bantal saking kesalnya. Bagaimana tidak kesal, bukannya bicara baik-baik dengan Piak, Chaiyan malah semakin mengompori Piak. Apa yang dilakukannya itu bisa membuat keadaan jadi lebih baik? Yang ada malah membuat segalanya malah tambah buruk.

"Maaf. Aku cuma ingin mengakhirinya."

"Dan apakah berakhir?"

"Tidak."

"Betul, menambah masalah malah."

"Baiklah. Aku minta maaf karena sudah membuatmu dalam masalah. Tapi jika terjadi sesuatu nantinya, aku akan bertanggung jawab."


Tapi ini bukan cuma melibatkan Jee, tapi juga Thit. Dia diburu oleh penjahat sampai dia harus bersembunyi dan tidak bisa keluar ke mana-mana. Sekarang ini Thit sedang bersembunyi di rumahnya Guru Arie, dia bahkan tidak bisa menemui Bibi Wadee.

Dan sekarang dia masih harus mencemaskan adiknya juga. Kalau Thit mencemaskan Piak, maka dia pasti akan keluar dari persembunyiannya dan tertembak. Bagaimana Chaiyan akan bertanggung jawab atas nyawa Thit?

Heran mendengar kecemasan Jee, Chaiyan diam-diam menghitung berapa kali Jee menyebut Thit. "5 kali."

"Hah? 5 kali apa?"

"5 kali kau membicarakan Sathit"


Jee langsung canggung mendengarnya. "Soalnya aku kan membicarakan masalahnya, makanya menyebut namanya."

"Kau tidak marah karena aku membuat Piak marah. Kau tidak mencemaskan dirimu sendiri, tapi mencemaskan Sathit."

Canggung, Jee buru-buru mengalihkan topik dengan menyuruh Chaiyan menyelesaikan masalahnya dengan Piak lalu pamit pergi. Tapi Chaiyan tidak melepaskannya begitu saja dan tanya blak-blakan.

"Kau punya perasaan pada Thit, kan?"

Jee menolak menjawab dan cepat-cepat menghindar, tapi reaksinya itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Chaiyan.

 

Piak hendak membakar baju-bajunya Chaiyan saat Thit dan Guru Arie datang. Thit sontak merebut pemantiknya, tapi Piak tidak mau menyerah begitu saja dan langsung mencari pemantik lain.

"Sepanas ini, kurasa kau tidak perlu pemantik." Gumam Guru Arie.

Saat tak menemukan pemantiknya, Piak langsung marah-marah ke pembantunya yang malang. Gregetan, Thit langsung menyiramkan seteko air ke kepala Piak. Pfft! Apa Piak sudah tenang sekarang?

"Oh, kurasa itu tidak membuatnya tambah dingin, malah membuatnya tambah panas." Komentar Guru Arie.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Seharusnya kau melakukannya pada Nang Jee!"

Asal Thit tahu saja, kemarin Jee datang ke rumah ini untuk menghinanya? Dia bilang kalau Piak itu sapi bodoh! Dia bahkan bilang Chaiyan meninggalkannya gara-gara dia sendiri! Tapi ternyata tidak. Mereka bekerja sama untuk membohonginya.

"Semalam mereka tidur bersama! Si cewek psiko perebut suami orang itu!"

"Piak! Apakah menghina wanita lain itu sesuatu yang dilakukan orang baik?"

"P'Thit!"

"Semua yang kau katakan itu, apa kau bahkan sudah tanya ke P'Chaiyan atau Jeerawat apakah mereka benar-benar sesuai yang kau pikirkan?"

"Dia cuma memakai baju mandi seperti itu, tentu saja mereka..."

"PIAK! Karena kau seperti inilah makanya P'Chaiyan meninggalkanmu! Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu. Kalau kau bersikap lebih masuk akal, sesuatu seperti ini tidak akan pernah terjadi."


Piak tidak percaya mendengarnya. "Kau bilang ini kesalahanku sendiri?"

"Aku mengatakan ini karena aku menyayangimu. Aku sudah bilang kalau aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi. Berhentilah menyalahkan orang lain dan lihatlah kesalahanmu sendiri sebelum segalanya terlambat."

Ucapannya itu sepertinya berhasil membuat Piak lebih tenang walaupun dia masih tampak kesal. Prihatin, Thit langsung memluknya lalu mengantarkannya naik ke kamarnya agar Piak bisa mandi dan ganti baju.


Thit meminta maaf karena menyiram Piak tadi lalu membantu mengambilkannya handuk dan pakaian kering. Tapi Piak masih kesal padanya. Ini bukan pertama kalinya Thit mengomelinya dan memihak Jee.

"Kau sudah berubah, P'Thit."

"Tidak, aku tidak berubah." Sangkal Thit. Tapi dia mengatakannya sambil menghindari kontak mata dengan Piak.

"Kalau begitu, tatap mataku dan jawab pertanyaanku. Apa kau masih membenci Jeerawat?"


Tapi Thit cuma terdiam galau tak tahu harus menjawab apa. Saat dia turun, Guru Arie panik memberitahunya bahwa Jee datang kemari. 

Thit langsung mencegahnya masuk dan menuntut kenapa Jee datang kemari, dia kan baru saja bermasalah dengan Piak?

Tapi perhatiannya langsung teralih saat melihat kening Jee memerah, apa Piak yang melakukannya? Canggung dengan sentuhan Thit, Jee cepat-cepat menjauhkan tangan Thit.


Tapi Thit benar-benar mencemaskannya dan langsung mengusap lembut keningnya sampai membuat Jee jadi makin gugup dan cepat-cepat menjauhkan tangan Thit darinya.

"Kubilang tidak apa-apa. Ini cuma karena perselisihan kecil."

"Tapi dari apa yang kulihat, sepertinya ini bukan perselisihan kecil."

"Anggap saja aku baik-baik saja."

Guru Arie langsung mesam-mesem geli melihat mereka. Melihat reaksi Guru Arie, Jee langsung beralih mengomeli Guru Arie karena membawa Thit keluar, dia kan sudah bilang kalau Thit berada dalam bahaya.

"Eh, Khun... Nona Suci... Lihatlah kau terluka begini dan kau masih mencemaskan orang lain." Goda Guru Arie.


Thit dengan lembut memaling Jee kembali padanya dan menyuruhnya pulang saja. Dia sudah bicara dengan Piak dan sebentar lagi dia akan menghubungi Chaiyan.

"Dan pergilah ke dokter juga."

"Aku..."

"Kalau kau tidak mau mendengarkanku, maka aku juga tidak akan mendengarkanmu."

Jee akhirnya berhenti protes dan mengalah. Piak hendak turun saat dia melihat mereka dari jendela dan langsung kesal. 

"Kau sudah merebut orang yang kucintai, akan kubuat kau tidak punya apapun tersisa dalam hidupmu!"


Di rumah sakit, Jade sebenarnya tidak mau minum obat biar tidak melewatkan kesempatan bertemu Jee. Tapi terpaksalah akhirnya dia tetap harus menenggak obat itu.

Dao ragu sesaat, tapi kemudian dia memutuskan untuk bertanya terus terang. Apa Jade mencintai Jee? Jika Jade sungguh-sungguh mencintai Jee, maka dia akan membantunya.

Sebenarnya, Jee itu sangat menyedihkan. Dia menggunakan tameng untuk melindungi kelemahannya. Walaupun Jee bilang tidak membutuhkan cinta, tapi sebenarnya dia sangat membutuhkan cinta.

Dia hanya takut terluka, makanya dia bilang begitu pada orang lain dan dirinya sendiri. Dao sangat berharap Jee akan bertemu dengan seseorang yang mencintainya dengan sungguh-sungguh agar Jee bisa mengenal cinta dan berbahagia seperti orang lain.

"Dan akhirnya Jee bertemu denganmu. Kau pria yang baik, dan aku yakin kau bisa membuat Jee bahagia... Dan aku juga akan sangat bahagia jika aku melihat dua orang yang kucintai... saling mencintai."


Aww, Dao. Dia mengucapkan semuanya dengan senyum. Tapi saat dia keluar, dia tidak bisa lagi menahan tangisnya.


Saat Jee datang tak lama kemudian, Dao buru-buru menghapus air matanya dan menampilkan senyum ceria di hadapan Jee. Kenapa Jee baru datang sekarang?

"Hari ini sial banget. Kukasih tahu nanti saja. Bagaimana dengan Khun Jade."

Dao membawanya masuk, tapi Khun Jade ternyata sudah tidur lagi. Dao meyakinkan Jee kalau Jade sebentar lagi pasti akan bangun, jadi Jee tunggu saja. Jade tadi bilang bahwa ada banyak hal yang ingin dia katakan pada Jee.

Tapi Jee tak enak menganggunya. Lebih baik dia kembali saja besok, biar sekarang Jade bisa istirahat sepenuhnya. Lagipula kepalanya pusing banget hari ini. Baru saat itulah Dao memperhatikan kening Jee yang memerah, ada apa dengannya?

"Tidak apa-apa. Aku cuma lagi sial. Dao, ayo pulang. Kau tinggalkan saja mobilmu di sini dan pakai mobilku. Besok kita jenguk Khun Jade lagi."


Jee baru bercerita ke Dao sepanjang perjalanan. Dao menyarankannya untuk menuntut Piak saja, tapi Jee menolak. Jee mengerti kok alasan Piak berbuat begitu. Semakin dia cinta, semakin dia posesif.

Jee lalu memejamkan mata. Tapi saat Dao mau mematikan lagu cinta yang berkumandang di radio, Jee melarangnya soalnya lagunya bikin tenang. Dao heran, biasanya kan Jee mematikan musik saat dia tidur.

"Tidak... aku menyukainya. Lagu ini membantuku tidur lebih nyaman."


Di rumah Sitta, Khun Ying lewat depan kamar mandi saat tiba-tiba saja sesuatu menarik perhatiannya. Pim sedang santai berendam di bak mandinya. 

Khun Ying jelas heran melihatnya, sedang apa di situ? Siapa yang mengizinkannya masuk ke bak mandi itu tanpa izin?

"Oh, aku tidak tahu kalau aku butuh izin. Thun bilang kalau aku boleh masuk kemari."


Tepat saat itu juga, Sitta muncul dan terang-terangan mengakui kalau dialah yang membawa Pim kemari. Ada masalah? 

Khun Ying tidak terima, Sitta pernah bilang kalau dia tidak akan membiarkan siapapun menganggunya di rumah ini.

"Itu sebelum kau dan putrimu ingin mengujiku. Kalian berdua ingin melawanku."

"Jadi kau akan memelihara si aktris ini lebih dari aku?"

"Kalau kau tidak ingin aku membawa pulang wanita lain, maka bawa putrimu untuk minta maaf padaku dan bukannya tidur dengan pria lain seperti sekarang. Karena putrimu tidak menyadari pentingnya aku, maka aku sudah tidak perlu lagi menyokong kalian berdua." Ujar Sitta. Dia lalu mengusir Khun Ying biar dia bisa mandi bersama gundik barunya itu.

Bersambung ke part 3

1 komentar: