Sinopsis Accidentally in Love Episode 16 - 2

 Sinopsis Accidentally in Love Episode 16 - 2

Berusaha menahan emosinya, Qing Qing langsung menelepon kakeknya untuk melabrak Kakek tentang masalah ini. Apa benar kedua orang tuanya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil?


"Jadi ibuku bukan meninggal dunia karena sakit dan ayahku tidak melarikan diri karena Kakek memaksanya, tapi karena Kakek memaksa mereka sehingga mereka mengalami kecelakaan, benar, bukan?

"Qing Qing, aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu."

"Jadi selama ini Kakek berbohong padaku? Pembohong! Aku tidak mau dengar apapun dari dar Kakek!"


Qing Qing sontak melampiaskan emosinya dengan berlari hingga dia tak kuat lagi dan menangis.

Feng, Nan Xi, dan Fang Fang terburu-buru datang tak lama kemudian mendapati Qing Qing sedang menangis pilu di lapangan. Mereka cemas melihatnya, ada masalah apa dengannya?

"Aku khawatir, aku harus segera meninggalkan sekolah ini. Ayahku, dia sudah meninggal." Isak Qing Qing. Prihatin, Fang Fang pun memluk Qing Qing dan membiarkannya meluapkan kesedihannya.


Setelah Qing Qing agak tenang, dia mengaku bahwa tujuan utamanya datang ke sekolah ini adalah untuk mencari informasi tentang ayahnya. Tapi sekarang setelah mengetahui segalanya, semua harapannya hancur.

"Apa aku masih perlu tinggal di sini? Entahlah. Tiba-tiba aku merasa segalanya sudah kehilangan arti."

"Itu tidak benar. Qing Qing, kau masih memiliki kami. Kami semua adalah alasan bagimu untuk tetap tinggal di Ming De. Kau harus ingat kalau kau tidak pernah sendiri." Ujar Nan Xi.

"Qing Qing... jangan pergi." Pinta Feng setulus hati.

 

Gara-gara masalah ini, Qing Qing jadi kehilangan konsentrasi sampai membuat Xin Ya marah-marah karena dokumen yang dia suruh untuk Qing Qing edit, malah tambah berantakan.

Dia sama sekali tidak melihat wajah Qing Qing yang berusaha keras menyembunyikan air matanya dan terus saja ngomel-ngomel memarahinya, bahkan mengadukannya ke Nan Xi.

Xin Ya tidak mau tahu, pokoknya Qing Qing harus mengedit ulang semuanya hari ini juga. Qing Qing dengan lemah mengiyakan perintahnya dan berjanji akan menyerahkan hasilnya besok.


Dia langsung pergi dengan membawa tumpukan dokumen itu. Prihatin, Nan Xi cepat-cepat mengejarnya dan menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan semua dokumen itu. Lebih baik Qing Qing balik saja ke asrama dan beristirahat.

Qing Qing menolak. Bagaimanapun, ini adalah tugasnya. Nan Xi meyakinkannya untuk tidak memaksakan diri. Bukankah dia sudah bilang ke Qing Qing saat mereka di perkemahan, apapun masalah yang Qing Qing alami, datanglah padanya dan jangan menanggung segalanya seorang diri. Kembalilah ke asrama dan istirahat.


Qing Qing jadi merasa tenang karenanya dan akhirnya mau juga menuruti saran Nan Xi. Saat Nan Xi hendak kembali ke kantor, tak sengaja dia menjatuhkan semua dokumen itu.

Salah satu dokumen terbuka dan memperlihatkan data diri Qing Qing yang kontan membuat Nan Xi mendadak punya ide.


Malam harinya, Fang Fang membawa Qing Qing ke lapangan dengan alasan agar Qing Qing bis menghirup udara segar. Qing Qing bingung, tempat ini gelap sekali, tidak ada yang bisa dilihat.

Anehnya, saat dia berbalik, Fang Fang malah menghilang entah ke mana. Qing Qing kontan panik mencari-cari Fang Fang... dan saat itulah tiba-tiba dia melihat Feng, Nan Xi, Fang Fang, dan Mu Nian, tengah menunggunya di bawah sebuah pohon berhias lampu-lampu yang indah lalu menyanyikan lagu ultah untuknya.

Qing Qing sungguh terharu. "Terima kasih semuanya. Bagaimana kalian semua tahu kalau hari ini ulang tahunku?"

"Sayang, ini semua berkat Ketua Gu." Ujar Mu Nian.


Nan Xi mengaku kalau dia tak sengaja mengetahui tanggal ultah Qing Qing saat dia mengedit data diri siswa. Makanya dia berinisiatif untuk mengumpulkan semua orang di sini. Qing Qing tidak keberatan, kan?

"Tentu saja tidak. Terima kasih , Gu Nan Xi. Apa semua lampu ini kalian yang menggantungnya?"

"Iya."

"Sangat cantik."

Mereka lalu meminta QIng Qing untuk make a wish dan meniup lilin ultahnya. Qing Qing sungguh terharu dengan perhatian mereka semua dan make a wish dengan mata berkaca-kaca.


Usai make a wish, semua orang bermain kembang api dengan riang gembira. Qing Qing benar-benar berterima kasih pada Nan Xi. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia merayakan ultah bersama teman-teman.

"Malam ini aku sangat bahagia dan sangat beruntung karena memiliki teman-teman seperti kalian semua."

Nan Xi dengan rendah hati memberitahu Qing Qing bahwa yang seharusnya mendapat terima kasih dari Qing Qing adalah Mu Nian dan Fang Fang. Nan Xi juga punya kado rahasia untuk Qing Qing. Tapi kado ini tidak bisa dibuka di sini.

Semua orang jadi penasaran mendengarnya, memangnya apa kadonya? Berhentilah bersikap misterius dan cepat katakan saja.

"Baiklah. Kado ini akan disukai oleh kalian semua. Khususnya kau, Qing Qing. Ayo, ikuti aku!"


Nan Xi langsung membawa mereka ke sebuah lapangan kosong dan gelap yang jelas saja membuat semua orang bingung, tidak ada apa-apa di sini.

Tapi Nan Xi belum selesai. Dia meminta mereka semua untuk menunggunya sebentar di sini, dia akan segera kembali. Jangan ada yang ke mana-mana, yah!

Tapi saat Nan Xi pergi, Qing Qing baru ingat kalau tasnya ketinggalan di bawah pohon. Maka Qing Qing pun memutuskan untuk kembali dan Feng memutuskan untuk menemaninya.

Dan tiba-tiba saja Fang Fang dan Mu Nian masing-masing mendapat telepon yang mengharuskan mereka untuk pergi juga. Yah~~~ kejutannya Nan Xi gagal deh.


Qing Qing menemukan tasnya dan langsung mengeluarkan buku jurnalnya tempat dia menyimpan foto kenangan kedua orang tuanya. Qing Qing jadi sedih lagi melihat foto itu. Prihatin, Feng langsung meraih Qing Qing ke dalam plukannya.

Sementara itu, Nan Xi baru kembali dengan membawa kembang api tapi malah mendapati semua orang sudah menghilang. Aigoo, poor Nan Xi.

Qing Qing akhirnya mulai bisa tenang. Mumpung masih belum jam 12 malam, Feng memutuskan untuk memberikan hadiahnya untuk Qing Qing, yaitu sebuah lagu romantis 'Menemanimu'.

Qing Qing terharu, "terima kasih sudah bernyanyi untukku."

Feng mengaku bahwa lagu sebenarnya adalah salah satu kesukaan ibunya. Tapi, ibunya sekarang telah tiada karena penyakit serius. Di saat terakhirnya, ibunya berkata bahwa jika beliau tak lagi ada di sisi Feng, maka beliau akan menjadi bintang yang selalu melindungi Feng.

"Aku yakin orang tuamu juga seperti itu. Walaupun kita tidak bisa saling bertemu, tapi mereka akan selalu mengarahkan jalan kita."

Feng lalu menunjukkan petikan gitar yang dia jadikan kalung. Petikan gitar ini adalah pemberian ibunya saat dia masih kecil. Dia mengubahnya menjadi sebuah kalung dengan harapan ini akan memberinya keberuntungan.

"Sekarang, aku memberikannya padamu."

Qing Qing terkejut mendengarnya, Feng yakin mau memberikan hadiah yang sangat penting ini padanya? Tentu saja, Qing Qing pikir dia sepelit itu cuma ngasih hadiah lagi? Feng lalu mengalungkan kalung itu ke leher Qing Qing.

"Terima kasih, Si Tu Feng. Aku pasti akan membantumu melindunginya dengan sangat hati-hati."


Sayangnya mereka tidak sadar kalau Nan Xi sedang menyaksikan semua itu dari kejauhan dengan raut muka kesal. Sia-sia dia menyiapkan pertunjukkan kembang api untuk mereka, ternyata mereka malah lagi asyik duduk berdua sambil membicarakan cinta mereka.

Dia sungguh tidak mengerti kenapa dia harus selalu menjadi cadangan untuk orang lain? Pokoknya dia tidak akan menyalakan kembang api ini!


Tapi beberapa saat kemudian, Feng dan Qing Qing mendadak melihat ada kembang api menyala indah di angkasa. Aww, Nan Xi so sweet.

Mereka bingung sendiri, siapa yang mendadak menyalakan kembang api tengah malam begini? Qing Qing berpikir kalau ini mungkin kekuatan mantra keberuntungan.

Bersambung ke episode 17

1 komentar: