Sinopsis Kleun Cheewit Episode 3 - 2

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 3 - 2


Jee merasa tak pantas mendapatkan belas kasihan dari Bibi Wadee, dia sama sekali tidak berharga. Tapi Guru Arie mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak berharga adalah mereka yang salah tapi tidak menyesali perbuatannya, sementara Jee sama sekali tidak seperti itu.

Apa Jee pikir kalau mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang mengirimkan permen untuk mereka setiap hari?

"Khun Wadee hanya ingin semua orang melupakan dan melanjutkan hidup. Balas dendam tidak akan membuat Tiw hidup kembali. Dan yang kutahu tentang Tiw, dia itu orang yang baik hati dan simpatik. Tiw juga pasti ingin memaafkanmu seperti halnya Khun Wadee. Percayalah padaku, Jee."


Jee lalu pergi ke lokasi tabrakan dengan membawakan bunga untuk almarhum. Setulus hati dia memohon maaf pada Tiw, dia sungguh tak pernah ingin berakhir seperti ini.

"Orang-orang mungkin berpikir kalau aku bahagia karena bebas dari rasa bersalah. Tapi tidak. Tak pernah satu hari pun aku tidak merasa tidak bersalah. Aku janji akan mengganti segalanya sebaik mungkin. Aku akan menjaga ibumu dan anak-anak untukmu, walaupun tidak akan pernah bisa menghapus apa yang telah kulakukan padamu. Tapi aku akan berusaha yang terbaik. Aku janji. Kumohon... maafkan aku."

 

Sitta dan para kroninya sedang rapat di sebuah ruangan gelap (Untuk menunjukkan kalau mereka orang jahat kali yah. hehe). Sitta kesal karena mereka kalah dalam lelang (sebuah proyek) dari perusahaan lain setelah sebelumnya mereka juga sudah dua kali kalah dari perusahaan itu.

Karena itulah, mereka harus menang dalam lelang proyek konstruksi senilai 1 trilyun besok. Tapi saat dia tanya apakah mereka sudah melakukan investigasi action figure lelang itu, para kroninya malah diam.


Sitta jelas marah dibuatnya. Tapi Khun Ying datang saat itu juga dan menyatakan kalau dia sudah melakukan investigasi untuk Sitta. Tapi dia hanya akan menyerahkan hasil investigasinya jika Sitta mau memaafkan Jee.

Dia mengerti kalau perbuatan Jee tak termaafkan, tapi Sitta tidak akan mempertaruhkan proyek senilai 1 trilyun hanya demi maaf dari seorang anak nakal, iya kan?

Sitta hanya diam, tapi Khun Ying sepertinya akan berhasil dengan kesepakatannya.


Hari itu, Suki ditelepon pengacaranya yang mengabarkan bahwa pengadilan sudah memberikan putusannya pada Stefan. Mereka tidak akan memenjarakan Stefan, dia dibebaskan secara bersyarat selama 2 tahun dan setelah itu kasusnya Tiw akan berakhir.

"Dan Nong Jee-ku akan bersinar kembali di industri ini."

Baru diomongin, kerjaan datang saat itu juga saat ponselnya Suki kembali berbunyi. Selama beberapa waktu kemudian, Jee kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.


Thit pun sama walaupun kebenciannya pada Jee tak pernah memudar. Bahkan saat dia hendak membeli air mineral, tapi malah melihat wajah Jee di labelnya, dia langsung membanting air mineral itu.

Saat dia berjalan melewati jembatan penyeberangan, kebetulan dia mendapatkan sebuah poster yang ada gambar wajah Jee. Thit sontak kesal menyobek-nyobek poster itu dan membuangnya ke tong sampah.

 

Di tengah kesibukannya, Piak datang membawakan berbagai katalog brosur travelling. Dia cemas melihat Thit bekerja terlalu keras seperti ini. Katakan saja Thit mau liburan ke mana? Piak akan membawanya kemana pun dia mau.

Tapi Thit menolak, dia tidak mau liburan kemana pun. Tak menyerah begitu saja, Piak ngotot mengajak Thit keluar, makan atau shopping atau nonton film atau karaokean biar Thit bisa teriak-teriak melampiaskan frustasinya.

Dia bahkan langsung nyanyi-nyanyi gaje untuk menghibur dan menyemangati Thit dan sukses membuat senyum Thit mengembang kembali.

"Hei, kau menyanyi untuk membuatku tertawa?"


"Aku menyanyi untuk menyemangatimu. Aku tahu kau sedih karena putusan pengadilan akhirnya seperti ini, tapi ini bukan salahmu. Semua orang tahu kau sudah berusaha yang terbaik. Dan aku yakin kalau Tiw juga mengetahuinya. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Kau harus bangkit dan terus maju."

"Aku berusaha, Piak. Tapi tidak mudah melupakan Tiw. Dia ada dalam hatiku. Tanpa Tiw, hidupku serasa sudah mati."

"P'Thit, kau orang yang baik. Suatu hari, pasti akan ada orang baik yang akan membuatmu bahagia kembali. Percayalah padaku."


Jate sedang melihat-lihat foto-fotonya Jee di tabletnya saat Jane mendadak memanggilnya. Jate sontak menyembunyikan tabletnya dan pura-pura sedang baca majalah sebelum Jane memergokinya.

Dengan antusias Jane tanya apakah Jate ada waktu sabtu nanti. Belum juga Jate sempat menjawab, Jane mendadak menjawabnya sendiri, Jate pasti ada waktu.

"Apa kau mau nonton konser bersamaku?... Tentu kau mau. Jadi sabtu nanti, kau harus nonton konser bersamaku, oke?... pasti oke!"


Jate sampai speechless dibuatnya. Apa di pengadilan, Jane juga selalu menjawab pertanyaannya sendiri seperti ini? Oh... hampir saja Jate lupa, Jane kan baru lulus, jadi dia belum pernah punya kasus.

Dia juga dengar bahwa pengacara kondang itu tergantung dari seberapa tua jubah mereka. Tapi jubahnya Jane baunya masih baru banget, dia memang masih pengacara baru sih.

Jane sontak kesal memukuli Jate. "Hei! Masalah konser, aku tidak perlu mendengarkanmu karena aku yakin kau bebas hari sabtu nanti."

Jane lalu menyelipkan tiket konser itu di sebuah buku dan sekali lagi mengingatkan Jate kalau konsernya hari sabtu.

Dan satu lagi, Jane tidak terima disebut 'pengacara baru'. Jubahnya itu memang masih baru, tapi hari ini dia akan belajar dari seorang pengacara senior.

Jadi dia akan mendapatkan banyak pengalaman mulai sekarang agar dia bisa menjadi hakim seperti yang selama ini dia impikan.


"Dan saat aku jadi hakim nantinya, kau harus menarik kembali kata-katamu!"

"Belum kau resleting." Kata Jate

Jane langsung panik mengecek bajunya. "Apaan? Sudah kuresleting kok."

"Dompetmu yang belum kau resleting, bukan bajumu. Hei! Adikku seperti ini, siapa juga yang mau mempekerjakanmu dalam kasus mereka? Hah?"

"P'Jate! Jangan hina aku! Kaulah satu-satunya yang menghinaku, semua orang menginginkanku untuk bekerja bersama mereka!"


Tapi sesampainya di pengadilan, semua pengacara senior malah menolak Jane jadi asisten mereka dengan berbagai alasan. Pfft! Jane kecewa.


Thit baru tiba di gedung pengadilan saat dia melihat sebuah anak yang menangis. Pada saat yang bersamaan, Jane juga baru keluar dan melihat anak itu.

Jane langsung prihatin padanya, kenapa dia menangis? Anak itu berkata kalau ibunya dipenjara, dia tidak mau ibunya dipenjara.

Berusaha menghibur anak itu, Jane langsung menggoyang-goyang tasnya dan mengeluarkan sebungkus permen... yang sontak membuat Thit teringat akan Tiw yang dulu juga pernah melakukan hal yang sama persis demi menghibur seorang anak.

Thit tercengang melihat pemandangan itu. Tapi saat dia bertatap mata dengan Jane, Thit buru-buru menguasai dirinya dan pergi.


Tapi begitu Jane melihatnya membawa jubah pengacara, dia langsung bergegas mengejar Thit dan berusaha menawarkan diri untuk membantu kasusnya Thit.

Belum juga Thit sempat bicara, Jane mendadak menyela duluan. Apa Thit mau bilang kalau kasusnya adalah kasus besar dan dia sudah punya asisten seperti alasan yang dikemukakan para pengacara lainnya? Yah sudah deh, kalau begitu. Dia tidak akan mengganggu Thit.

"Aku mau bilang bahwa jika kau ingin melakukannya, kau boleh datang." Ujar Thit.

"Baguslah... HAH?! Anda bilang apa barusan? Anda mengizinkanku membantu anda?"

"Ini kasus perdata. Aku pengacara pembela terdakwa. Proses peradilannya masih berjalan. Kau bisa melakukannya?"

"Mudah sekali!"


Akhirnya Jane punya kesempatan untuk tampil perdana di pengadilan. Tapi dia agak gugup sampai lupa dengan detil kasusnya dan tak sengaja menjatuhkan dokumen-dokumennya.

Si penggugat dan pengacaranya jelas senang melihat kecerobohan si pengacara baru itu dan terang-terangan meremehkan Jane.

Thit tetap tenang menghadapi situasi itu lalu pura-pura menjatuhkan pensilnya agar dia punya alasan untuk mendekati Jane dan berbisik menasehatinya.

"Kalau kau ingin terdakwa menang, maka kau harus bisa menang melawan dirimu sendiri lebih dulu. Kontrol dirimu dan fokus. Jangan kecewakan aku yang membuatmu jadi asisten di kasus ini."


Berusaha melakukan nasehat Thit, Jane cepat-cepat menguasai kegugupannya dan mulai mencecar si penggugat yang mengklaim bahwa terdakwa berhutang padanya dengan menandatangani surat kontrak.


Tapi saat Jane mulai kebingungan lagi, Thit sigap mengambil alih dan dengan cepat memukul telak si penggugat dengan menunjukkan bukti medis terdakwa yang jelas menyatakan dirinya mengalami kecelakaan dan patah tulang tangan.

Sehingga tidak mungkin terdakwa bisa menandatangi surat kontrak pada tanggal yang tertera dalam surat hutang itu. Jadi bisa disimpulkan bahwa tanda tangan yang ada dalam surat hutang itu adalah palsu. Si penggugat langsung kecut tak bisa mengelak lagi.


Setelah sidang usai, Jane terburu-buru mengejar Thit untuk memberinya sekaleng cola sebagai ungkapan terima kasihnya untuk Thit yang telah memberinya kesempatan dan menjadikannya hero dalam kasus tadi.

"Tidak masalah. Harus ada seseorang yang memberikan kesempatan."

"Wah! Kerennya!"

"Kau bilang apa?"

"Oh! Akan kubukakan untukmu."


Jane santai saja membuka kaleng cola-nya, tapi cola itu mendadak muncrat menciprati Thit. Parahnya lagi, waktu dia mau ngasih tisu, dia malah tak sengaja menyodok kepala Thit. Wkwkwk!

Jane tambah panik dan buru-buru mengelap wajah Thit. Tak nyaman dengan perlakuan Jane, Thit langsung menghentikannya dan bergegas ke toilet.

Bersambung ke part 3

Post a Comment

3 Comments

Hai, terima kasih atas komentarnya, dan maaf kalau komentarnya tidak langsung muncul ya, karena semua komentar akan dimoderasi demi menghindari spam