Sinopsis About is Love Episode 3 - 1

 Sinopsis About is Love Episode 3 - 1


Teman sekamarnya Fei Fei yang katanya rada aneh itu adalah Bai Qiu Jing. Dia seorang game addict yang mampu memainkan 3 game secara bersamaan di 3 laptop yang berbeda, dan saat melihat Fei Fei datang lewat kamera CCTV yang dia pasang di luar pintu, dia malah langsung menguncinya secara otomatis.


Fei Fei jelas protes, tapi Qiu Jing tak peduli dan menuntut Fei Fei untuk menyebutkan 10 angka dalam bilangan Fibonacci dulu.

Fei Fei gregetan dibuatnya. Tapi tak usah khawatir, Fei Fei punya cara jitu untuk mengatasi masalah ini dengan cepat, membujuk Qiu Jing pakai egg tart yang fresh from the oven dan... sukses! Qiu Jing akhirnya membuka pintu untuk mereka.


Puas menikmati egg tart-nya yang lezat, Qiu Jing langsung menginterogasi Zhou Shi. Apa dia punya kebiasaan buruk? Punya keahlian khusus?

"Aku bisa masak. Apa itu bisa dihitung?"

"Bagaimana kau bisa membuktikannya?"

"Dia yang membuat egg tart yang kau makan itu." Kata Fei Fei.

Kaget, Qiu Jing mendadak nyerocos cepat memberitahu Zhou Shi bahwa biaya sewanya tiap 3 bulan. Biaya air, listrik, dan gas harus patungan. Ada pertanyaan? Zhou Shi malah cuma bengong nggak nyambung.

"Kau masih belum mengerti? Dia menerimamu!" Fei Fei senang. Hah? Zhou Shi kaget. Secepat itu? Katanya dia orang yang sulit ditangani?

"Aku bilang otaknya yang sulit ditangani, bukan p*rutnya." Bisik Fei Fei.

"Selamat datang. Di masa mendatang aku harus merepotkanmu dengan (memasak) makanan 3 kali sehari." Sambut Qiu Jing sambil menyalami Zhou Shi. "Ini (egg tart)... apa masih ada lagi?"

"Nanti akan kubuatkan lebih banyak lagi."


Tiba-tiba ponselnya Zhou Shi berbunyi dari teman sekelasnya, Zhang Shuai, yang mengingatkannya untuk mengumpulkan tugasnya. Dan juga, biarpun Zhou Shi gagal mendapatkan beasiswa nasional, tapi dia masih bisa mendaftar untuk beasiswa bisnis.

Tadi pagi, ditektur dari Perusahaan Yun Ma datang ke kampus dan melihat-lihat Fakultas Seni. Jadi kemungkinan besar anak-anak dari fakultas mereka akan terpilih.

Zhou Shi senang mendengarnya dan tanpa pikir panjang, langsung berjanji kalau dia akan menyelesaikan lukisannya hari ini juga.


Tapi malam harinya, Zhou Shi malah cuma bengong di depan kanvas kosong, bingung harus melukis apa. Sekarang dia baru menyesal, kenapa tadi dia bilang kalau dia akan menyelesaikannya hari ini? Dia sama sekali tidak punya inspirasi.

Tapi tiba-tiba dia teringat kenangan melihat hujan meteor bersama Wei Qing malam. Zhou Shi sontak menggelengkan kepalanya mengusir kenangan itu, ngapain dia teringat kenangan itu?... Tapi sebentar, kejadian itu sebenarnya lumayan juga.


Zhou Shi mendadak mendapat lalu mulai sibuk mencorat-coret kanvasnya. Fei Fei benar-benar kagum melihat Zhou Shi yang seperti itu. Bukankah wanita yanag terpikat oleh seni itu sangat menarik?

"Lumayan." Komentar Qiu Jing cuek.

"Kuberitahu kau, dia bisa banyak hal lebih daripada memasak doang."


Zhou Shi melukis sepanjang malam bahkan tanpa istirahat dan lukisan sepasang pria dan wanita menatap hujan meteor itu pun akhirnya selesai keesokan paginya.

Yah, lagian juga dia tidak akan bertemu Wei Qing lagi, jadi Wei Qing pasti tidak akan marah karena dia menjadikan Wei Qing sebagai obyek lukisan.


Lukisan itu kemudian dia serahkan ke Zhang Shuai. Zhang Shui kemudian menyerahkan lukisan itu pada Pak Direktur. Pak Direktur lalu memperlihatkan lukisan itu pada Wei Qing yang sedang mempelajari daftar penerima beasiswa. Begitu melihat lukisan itu, Wei Qing langsung menambahkan nama Zhou Shi di urutan terakhir mahasiswa penerima beasiswa.


Dan begitulah bagaimana kemudian Zhou Shi melongo kaget menerima beasiswanya langsung dari tangan Wei Qing, lalu lampu aula tiba-tiba mati dan Wei Qing memanfaatkan saat itu untuk menyeret Zhou Shi ke belakang panggung.

Karena sekarang mereka cuma berduaan, Zhou Shi menuntut Wei Qing untuk jujur saja deh, tidak usah pura-pura kalau mereka tidak saling mengenal.

"Kau sangat berharap aku mengingatmu?" Goda Wei Qing.

"Aku hanya tidak mau hidup dalam kebohongan orang lain. Apalagi di saat yang tidak penting seperti ini. Apa sulitnya untuk bilang kalau aku mengenal orang yang menyebalkan? Atau mungkin, kau memang punya kebiasaan berbohong?"

"Sudah kuduga, logika anak kecil artinya kau tidak pernah bisa membedakan antara benar dan salah. Jika aku memberitahumu bahwa kita pernah bertemu dan tidak cuma sekali, apa kau akan mempercayainya?"

Zhou Shi bingung maksudnya. Bukankah Wei Qing bilang kalau Wei Qing tidak mau terlibat dengannya lagi?


"Aku berubah pikiran." Wei Qing tiba-tiba mendekat dan berkata. "Gadis kecil... kita akan bertemu lagi."

Wei Qing pun pergi. Dan karena lampu mati, acara itu akhirnya diakhiri sampai di sini.


Dalam perjalanan keluar, Fei Fei langsung menggodai Zhou Shi yang akhirnya bisa mendapat beasiswa. Tapi menurut Qiu Jing, akan butuh waktu satu bulan sampai uang beasiswa itu cair dan sampai di tangan Zhou Shi.

"Kalian tidak tahu duitku sekarang tianggal berapa. Entah apakah aku akan bisa bertahan sampai bulan depan." Keluh Zhou Shi sambil memasukkan tangannya ke saku bajunya.

Tapi seketika itu pula langkahnya terhenti karena tangannya menemukan sesuatu di dalam saku bajunya... kalung bunga. Loh, bukannya kalung ini pernah hilang waktu dia kerja di hotel?

Waktu itu, dia sudah berusaha mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu. Kenapa sekarang mendadak malah muncul di dalam saku bajunya? Perasaan waktu kalung ini hilang, dia tidak memakai baju ini deh.


Tepat saat itu juga, mereka melihat Wei Qing melaju cepat melewati mereka. Saat itulah akhirnya Zhou Shi kembali teringat saat Wei Qing mendekatinya tadi. Saat itu, Wei Qing diam-diam memasukkan kalung itu ke dalam sakunya.

Zhou Shi sekarang mengerti maksud Wei Qing bahwa pertemuan mereka di hotel bukanlah pertemuan pertama mereka. Fei Fei akhirnya ingat kejadian malam itu, saat dia menyelamatkan seorang pria asing yang sedang mabuk. Pria itu ternyata Wei Qing.


Keesokan harinya, Zhou Shi pergi ke toko alat lukis. Saat dia naik tangga untuk melihat beberapa cat, seorang pria muda membawa troli, tiba-tiba memutuskan untuk menuju ke arah Zhou Shi.

Tapi trolinya malah menubruk tangga yang dinaiki Zhou Shi hingga Zhou Shi terjatuh dan mendarat di trolinya.

Tapi bukannya membantu Zhou Shi turun dari trolinya, pria itu malah santai saja memasukkan puluhan jar cat lukis ke atas tbuh Zhou Shi lalu mendorong pergi troli berisi Zhou Shi dan berbagai cat lukis itu. (Wkwkwk! Cowok aneh)


Saat akhirnya mereka keluar, pria itu tetap tidak mengucap sepatah kata. Tapi kemudian dia memberikan satu jar cat lukis yang tadinya memang sangat diinginkan Zhou Shi. Zhou Shi menerimanya dengan kebingungan.


Pria itu langsung pergi menuju ke sebuah mobil sedan. Seorang Bibi keluar dari dalamnya, dan ia tampak sayang pada pria muda itu.

Baru pada Bibi itulah pria muda itu akhirnya bicara dan tersenyum lebar. Bibi menyuruhnya masuk mobil dan mencemaskannya karena sekarang dia tinggal sendirian, tapi pria itu menolak dan meyakinkan kalau dia baik-baik saja.

Puas mendapat jawabannya, Bibi akhirnya pergi. Pria itu berbalik ke arah Zhou Shi dan seketika itu pula dia kembali ke sikap dinginnya lalu pergi ke arah lain.


Zhou Shi senang banget mendapatkan cat yang diinginkannya. Saking antusiasnya, dia malah membuka tutupnya terlalu keras dan kontan membuat isinya tumpah ke atas baju putihnya. Gawat! Mana nggak bisa dicuci lagi. Apa yang harus dia lakukan?

 

Ah! Tiba-tiba Zhou Shi ingat dengan Zhang Shui. Baru dipikirin, Zhang Shuai muncul detik itu juga. Zhou Shi langsung minta bantuannya untuk menangani bajunya ini. Ini tidak bisa dicuci dan dia tidak bisa membuangnya juga karena dia harus melakukan penghematan uang untuk membeli peralatan lukis. Jadi, bisakah Zhang Shuai membantunya membuat lukisan di bajunya ini? Oke, Zhang Shuai pun mulai melukisnya.


Pada saat yang bersamaan Fei Fei mendatangi fakultas seni bersama seorang kameramen. Kayaknya dia mau mewawancarai Zhou Shi. Dia mau menunjukkan seorang wanita paling cantik di fakultas seni, cantiknya masih alami.

Tapi setibanya di sana, melihat malah mereka Zhou Shi dan Zhang Shuai dalam posisi yang pastinya bisa membuat orang lain salah paham. Kaget, Fei Fei sontak berbalik mau pergi, batal saja!


Tapi Zhou Shi melihatnya saat itu dan langsung memanggilnya. Saat itulah Fei Fei baru melihat apa yang sedang mereka lakukan, ternyata sedang melukis toh.

Lukisannya Zhang Shuai bagus juga. Hebat juga dia bisa melukis ini tanpa gugup di hadapan wanita. Tapi... tunggu dulu. Sapuan di bagian d**a kok agak mengabur? Tangan Zhang Shuai pasti gemetaran yah waktu melukis di bagian itu? Goda Fei Fei

Uhuk! Uhuk! Zhang Shuai kontan terbatuk-batuk canggung mendengarnya. Fei Fei jadi tambah gemes menggodainya dan menanyakan pendapat Zhang Shuai tentang kecantikan Zhou Shi. Berapa poin yang akan Zhang Shuai berikan untuk kecantikan Zhou Shi?

"... Lima... poin." Zhang Shuai gugup banget sampai tak berani mengangkat kepalanya.

"Fei Fei, berhentilah menggodanya. Dia ini anak yang berbakti."


Tiba-tiba terdengar suara Pak Direktur yang teriak-teriak mencari Zhou Shi. Panik, Zhou Shi langsung ngumpet di bawah meja sambil mencengkeram kaki Zhang Shuai sebagai tameng. Zhang Shuai membantu menutupinya dan mengklaim kalau dia tidak melihat Zhou Shi.

Untunglah Pak Direktur percaya, tapi nanti kalau dia melihat Zhou Shi, suruh Zhou Shi ke ruangannya. Pak Direktur akhirnya pergi. Zhou Shi pun bisa keluar dari persembunyiannya dengan lega dan meminta maaf pada Zhang Shuai karena sudah menjadikannya tameng barusan.


Lucunya, Zhang Shuai benar-benar jadi gugup gara-gara kejadian barusan sampai suaranya gemetaran lalu kabuuurrrr. Zhou Shi sama sekali nggak nyambung dengan sikapnya, kenapa Zhang Shuai aneh sekali? Apa dia tadi dia mencengkeram kaki Zhang Shuai terlalu kuat?


"Kau tidak mencengkeramnya terlalu kuat. Zhou Shi, jika saja aku tidak mengenalmu dengan baik, aku pasti akan mengira kau itu playgirl."

Ah, sudahlah. Tidak usah membicarakan hal ini lagi. Ngomong-ngomong, kenapa Pak Direktur mencari Zhou Shi lagi? Jangan bilang kalau dia belum bayar biaya kuliahnya lagi?

Bersambung ke part 2

4 komentar: