Sinopsis Kleun Cheewit (Waves of Life) Episode 1 - 5

Sinopsis Kleun Cheewit (Waves of Life) Episode 1 - 5


Thit kontan emosi menghentikan acara doa ini dan mengklaim kalau Tiw tidak akan bisa tenang jika 'orang ini' duduk di sini. "Keluar dari sini, Khun Jeerawat!"

Saat Jee bersikeras tak mau pergi. Thit sontak menariknya dengan kasar, menyeretnya keluar dan melemparnya sampai Jee tersungkur ke tanah.

Jee tulus meminta maaf, tapi Thit tak percaya sedikitpun dengan penyesalannya. Jee kan pintar menghindari tanggung jawab dan menyalahkan orang lain. Dia manusia berhati dingin.


"Kau pikir uangmu bisa menyelesaikan semua masalah seperti saat pertama kali kau menabrakku dan menggunakan uang untuk membeli tanggung jawab? Ini uangmu. Uangmu tidak akan bisa membeliku!" Kesal Thit lalu melempar amplop uang itu ke muka Jee.

Chaiyan jelas tidak terima dengan kekasaran Thit itu dan berusaha membawa Jee pergi, tapi Thit terus saja jejeritan mengusir Jee dan bersumpah akan menunjukkan pada Jee bahwa keadilan di atas segalanya. Jee takkan pernah bisa membodohinya biarpun dia berusaha menutupi kebenaran.

"Sebelum kau mengajariku masalah keadilan, seharusnya kau mengajari dirimu sendiri tentang keadilan. Kau seorang pengacara, jadi tidak seharusnya kau memutuskan salah atau benar tanpa mengetahui semua kebenarannya!"

"Sejak saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah mengetahui kebenarannya!" Kesal Thit lalu pergi.

 

Tepat saat itu juga, beberapa wartawan melihat Jee. Panik, Chaiyan bergegas membawa Jee kabur dan untunglah Suki datang tepat waktu untuk menyelamatkan mereka.

Para wartawan kecewa, mereka bahkan tak sempat mendapatkan apapun. Tapi kemudian, salah satu wartawan punya ide licik lalu menelepon Piak dan memberitahunya kalau Chaiyan tadi membawa Jee ke pemakaman.


Piak jelas langsung cemburu dan bergegas keluar mencari Chaiyan. Tapi baru sampai pintu, ayahnya muncul menghadangnya. Ayah sudah dengar berita itu, tapi ia sengaja menghalangi Piak karena Ayah tidak mau lagi kehilangan nang'ek.

Piak kesal, Ayah kan bisa mencari nang'ek lain untuk menggantikan Jee. Pokoknya Piak tidak akan membiarkan masalah ini.

"Ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"

Lakorn mereka berjalan dengan baik. Kalau Piak ingin menghukum seseorang, hukum saja suaminya sendiri. Jangan macam-macam dengan Jee. Dan ucapan Ayah ini bukan permintaan, tapi perintah.


Setibanya di gedung apartemen, Suki langsung mengusir Chaiyan. Dia tidak mau Jee mendapat masalah lagi dengan Piak, jadi mending Chaiyan pulang saja.

Dao yang mondar-mandir gelisah sedari tadi, langsung ngomel-ngomel memarahi Jee. Kenapa tidak bilang-bilang padanya kalau mau ke pemakaman? Tentu saja karena Jee tahu kalau Dao pasti akan menghentikannya.

Suki kesal mengingatkan Jee bahwa pergi ke pemakaman hanya akan membuat semua orang curiga kalau Jee terlibat dalam kasus ini.

"Dan kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tidak memberitahuku kebenarannya? Kenapa Stefan harus bertanggung jawab menggantikanku?! Kenapa kau tidak membiarkanku berjuang sendiri?"

"Berjuang? Berjuang apa? Hei! Aku sudah cukup stres. Aku sudah membedaki wajahku lebih dari sepuluh kali sekarang ini! Lihat nih mukaku sudah mau retak! Tolong dengarkan aku Jee!"


Jee tidak mau. Setidaknya sekarang yang harus dia bertanggung jawab menjaga Ibunya Tiw. Baiklah, Suki setuju. Tapi dia harus menunggu hakim memutuskan bahwa ini murni kecelakaan dan bahwa Stefan tidak sengaja menabraknya.

Begitu kasus dan segala macam berita tentang kasus ini selesai, Jee boleh mengkhawatirkan siapapun dan melakukan apapun yang dia inginkan.

"Seseorang (Thit) tidak akan melepaskan kasus ini dengan mudah." Kesal Jee lalu masuk ke kamarnya.

Stres menghadapi semua ini, Suki tambah heboh membedaki mukanya... sebelum kemudian sadar kalau dia salah bedak dan langsung kesal membanting bedaknya. Wkwkwk.


Piak mendadak muncul menghadang mobilnya Chaiyan di tengah jalan. Piak langsung teriak-teriak melabrak Chaiyan tak peduli biarpun mobil-mobil lain kesal mengklakson mereka karena mereka menghalangi jalan.

Piak tidak terima karena Chaiyan melakukan ini padanya. Sementara dia jadi istri yang baik dan menunggu di rumah, Chaiyan malah membawa Jee ke pemakaman. Chaiyan bukan cuma mempermalukannya, tapi juga menginjak-injak perasaan Thit.

"Yang kulakukan hanyalah berusaha membantu kedua pihak."

"Tidak! Satu-satunya pihak yang harus kau bantu hanyalah pihak P'Thit! Dialah yang paling menderita dan dia adalah keluarga kita. Jangan ikut campur apalagi membawa Jeerawat ke kuil!"


Bahkan sekalipun ayahnya, Suki dan Chaiyan ngotot bilang ke wartawan kalau Jee tidak membunuh Tiw, tapi Thit tidak akan mempercayai mereka.

Biarpun Jee punya ibu dan bapak tiri yang kaya raya dan seberapa keras usaha mereka untuk menutupi bukti, mereka tidak akan bisa membodohi Thit.

Piak lalu pergi tapi dia sengaja mengunci mobilnya di sana dan membiarkan Chaiyan menangani masalah itu sendiri. (Aigoo, aku kasihan sama Chaiyan, pasti gedeg banget menghadapi istri kayak Piak)


Thit dan polisi menyelidiki mobilnya Jee dan Thit meminta polisi untuk menyelidiki GPS mobil ini agar mereka mengetahui rute mobil ini sebelum tabrakan itu terjadi. Chait penasaran apa yang akan Thit lakukan setelah mengetahui rute mobil ini nantinya.

 

Berusaha menghibur Jee, Dao menyeret paksa kaki Jee ke mesin pijat kaki. Usahanya sukses membuat senyum Jee kembali merekah dan menghilangkan stresnya juga.

Jee langsung memeluk sayang sahabatnya itu dan usil berusaha menc**m Dao. Hehe. Dao sontak panik melarikan diri darinya.


Sayang, momen penuh canda tawa itu terpotong singkat saat ponselnya Jee berbunyi. Jee mengangkatnya tanpa banyak pikir, tapi ternyata Sitta yang menelepon dan tanya kapan Jee akan berterima kasih padanya. Kalau bukan karena dia, Jee pasti sudah dipenjara sekarang ini. Tak ingin Dao mengkhawatirkannya, Jee bergegas pergi ke balkon.

"Kau tidak melindungiku, kau hanya melindungi dirimu sendiri. Karena kau tahu kejadian itu terjadi karena kejahatanmu! Kau membiuskan dan menghancurkan nyawa orang yang tidak bersalah. Orang yang akan berakhir di penjara bukan aku, tapi kau!"

Sitta cuma geli mendengar ancamannya. Kalau dia tidak pintar, maka mungkin dia bertahan sampai sekarang. Sebaiknya Jee menyerah padanya dengan cara baik-baik.

"Jangan mimpi! Orang sepertiku tidak akan menyerah pada orang jahat! Lihat saja aku bisa memenjarakanmu atau tidak!"


Maka Jee pun bergegas pergi ke parkiran hotel tempat Sitta menyerangnya untuk mendapatkan bukti rekaman CCTV malam itu.

Sayangnya, petugas memberitahu bahwa berdasarkan letak parkir malam itu, hanya ada satu kamera yang mungkin merekamnya. Masalahnya, kamera itu sedang rusak sekarang.

Kalau begitu, di mana petugas yang mengurus mobilnya malam itu? Tanya Jee. Dia yakin ada dua petugas parkir malam itu. Dia sempat melihat mereka saat dia pergi.


Pada saat yang bersamaan, Thit dan polisi berhasil mengetahui mobil itu berasal dari hotel sebelum kecelakaan. Mereka pun bergegas ke hotel itu.

Berdasarkan keterangan Suki, Jee langsung pulang bersama Suki setelah acara fashion itu selesai. Tapi berdasarkan kesaksian Pim, dia melihat Jee menyetir sendiri malam itu. Kalau begitu, yang mereka perlukan sekarang adalah rekaman CCTV.

Tapi polisi mengingatkan bahwa semua CCTV di sekitar TKP sedang tidak berfungsi malam itu. Thit tidak percaya. Kamera sebanyak ini, mana mungkin tak ada yang berfungsi satu pun.


Saat mereka menanyakan petugas parkir yang bertugas malam itu, mereka malah diberitahu bahwa salah satu petugas sudah mengundurkan diri, sementara yang satunya baru saja mengambil gajinya dan baru saja pulang.

"Sudah berapa lama (dia pergi)?"

"Barusan, sebelum Khun Jeerawat datang."

"Jeerawat?"


Jee berusaha mengejar si petugas itu dan memohon-mohon padanya, tapi si petugas ngotot tidak melihat apapun malam itu. Jee jelas tak percaya, jelas-jelas dia melihat si petugas malam itu.

"Kumohon, hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku."

Tapi si petugas terus ngotot kalau dia tidak bisa membantu apapun. Thit keluar saat itu juga. Panik, si petugas parkir langsung kabur pakai ojek.


Jelas saja semua ini membuat Thit jadi berpikir kalau Jee datang kemari untuk menghalangi penyelidikan dan membantu si petugas itu kabur. Jee menyangkal.

Tapi tentu saja Thit tak percaya. Kalau dia datang bukan untuk menyembunyikan saksi dan bukti, lalu untuk apa dia datang kemari?

Emosi, Jee hampir saja mengatakan yang sebenarnya. Tapi dengan cepat dia menahan diri hingga membuat Thit semakin sinis. Jee pasti orang yang punya banyak kasus dan musuh, iya kan?

Kesal, Jee menantang Thit untuk menemukan bukti yang bisa memenjarakanya. Lakukan saja jika itu bisa membuat Thit senang tanpa peduli kebenarannya.


"Pasti kulakukan! Jangan tantang aku. Aku pasti akan melakukannya!"

Pak polisi sampai harus memegangi Thit sebelum dia melakukan sesuatu pada Jee dan cepat-cepat menyuruh Jee pergi. Jee pun pergi dengan tangan terkepal penuh amarah.

Bersambung ke episode 2... harap dimaklumi karena aku bagi jadi 5 part. Episodenya memang cuma 15, tapi durasi per episodenya hampir dua jam kayak film bioskop XD

0 komentar

Post a Comment