Sinopsis Unwilling Bride Episode 2 - 4

 Sinopsis Unwilling Bride Episode 2 - 4

Aku males kalau harus mengulang pesan yang sama berulang kali, udah berapa kali coba aku buat pengumuman ini? Tapi sepertinya masih ada yang belum tahu, atau belum baca pesan yang kutulis di bagian akhir postingan Bupphae Saniwaat Deleted Scene.

Jadi mohon klik postingan tersebut, dan baca pesan yang kutulis di bagian akhir postingan. Di situ sudah ada jawaban dari pertanyaan yang kalian ajukan. Dibaca, yah. Yang sudah pernah baca, boleh lewat. Terima kasih, happy reading ^^

 

Sudah sore sekarang dan foto-foto itu masih belum muncul di internet. Dugaan Kade memang tepat, tapi Acha yakin kalau si paparazzi itu tidak akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan mencari jalan lain untuk mendapatkan uang 10 juta itu. Tapi anehnya, si paparazzi itu belum menghubungi Kade lagi.
Kade berpikir kalau si paparazzi itu mungkin memutuskan untuk berganti target... yaitu May. Tapi gara-gara ucapan May kemari, sekarang Kade tidak mau lagi terlibat dengan masalah ini.


Ibu Pin baru selesai melayani tamu di luar, tapi saat ia berbalik ke restonya, dia malah langsung berhadapan dengan Ibu Ruth yang kontan membuatnya terkejut dan panik.

Ibu Ruth beralasan kalau dia mau beli, tapi Ibu Pin dengan cepat mencegahnya masuk. Ia tidak akan menjual apapun pada Ibu Ruth.

"Tolonglah jangan buat masalah di sini. Aku harus mencari nafkah."

"Jangan memohon padaku. Memohonlah pada putrimu. Berhentilah terlibat dengan putraku! Jangan macam-macam denganku! Aku kemari untuk menjemput putraku."

Ibu Pin sontak panik berusaha mencegahnya masuk. Dan jadilah kedua ibu itu dorong-dorongan yang elas saja menarik perhatian semua orang.


Pin melihat itu dan langsung bergegas ke belakang untuk menyuruh Ruth bersembunyi dari ibunya sekarang juga. Ruth jelas kaget, tapi dia juga mencemaskan Pin kalau harus pergi.

"Tidak usah mengkhawatirkanku. Pergi saja." Pin mendorong Ruth untuk kabur melompati pagar belakang.

Tepat setelah itu, Ibunya Ruth berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Ibu Pin dan langsung mendamprat Pin yang baru keluar dari dapur.

"Di mana putraku?!" Tuntut Ibu Ruth sambil mencengkeram kasar tangan Pin.

Ibu Pin tidak terima dan cepat-cepat melepaskan cengkeraman Ibu Ruth dari tangan putrinya. Pin mengklaim kalau dia tidak tahu, tapi tentu saja Ibu Ruth tak percaya.

"Kau begitu menginginkan putraku sampai kau merendahkan martabatmu sendiri untuk membawa pria tinggal di rumahmu. Tidak tahu malu!"

"Hentikan! Kau tidak punya hak untuk menghina putriku di restoranku."

"Kalau kau tidak mau didamprat, didik anakmu dengan benar dan bukannya membiarkannya melakukan hal memalukan semacam ini."

"Bagaimana kau tahu kalau aku aku tidak mendidik putriku?"

"Kalau kau mendidiknya, lalu kenapa dia membawa seorang pria untuk tinggal bersamanya seperti ini?!"


Ibu Pin kontan membisu dan tak bisa lagi melawannya. Masih juga belum mendapat jawaban akan keberadaan putranya, Ibu Ruth langsung saja menerobos ke belakang sambil meneriakkan nama Ruth, tapi tak mendapatinya ada di mana-mana. Ruth yang ketakutan, langsung kabur.

Kesal, Ibu Ruth sontak mendamprat Pin dan ibunya lagi dan terus menuntut keberadaan putranya. Saat mereka masih saja diam, Ibu Ruth mengancam akan mencari pemilik gedung ini, sebaiknya mereka berdua segera bersiap-siap untuk angkat kaki dari gedung ini.

Ia bersumpah tidak akan membiarkan mereka berdua hidup dengan tenang, akan ia tutup setiap restoran yang mereka buka di manapun mereka berada... sampai mereka mati kelaparan.


Wawancara hampir selesai, Lookaew mengucap terima kasih dengan gaya kecentilannya sekaligus memanfaatkan keadaan untuk mempromosikan hotelnya dengan cara mengundang kru TV itu untuk menginap di sana.

Dan tak lupa, dia juga memanfaatkan situasi untuk menyindir bisnis hotelnya May. Dia dengar kalau hotelnya May mau bangkrut. Opps! Nggak sengaja keceplosan.

"Biarkan dia bicara sendiri saja deh. Iya, kan?" Nyinyir Lookaew dengan menampilkan senyum manisnya.

May berkilah kalau hotelnya bukan bangkrut, hanya saja sekarang ini sedang melakukan renovasi. Dia janji akan mengundang mereka menginap di sana kalau sudah selesai nanti.


Saat May masuk toilet, Lookaew dengan muka sok polos meminta maaf atas kejadian tadi, dia keceplosan tentang hotelnya May yang hampir bangkrut. Sekarang hotelnya jadi tidak punya saingan deh.

"Jangan khawatir. Hotelmu akan segera memiliki saingan." May berusaha tetap tenang.

"Kapankah itu? Jangan biarkan aku menunggu lama dan jangan jual dulu bisnismu."

"Duh, kau bicara seolah kau mau membeli hotelnya saja?" Timpal Temannya Lookaew.

"Ih, ngapain juga aku menginginkan hotel cacat begitu? Sekarang ini aku tengah melebarkan bisnisku ke provinsi lain. Para tamu sudah pada mem-booking-nya loh. Menurutku, mending kau berhenti saja berbisnis hotel dan fokus pada mall-mu saja. Semangat, yah, teman. Aku sungguh mengkhawatirkanmu loh. Aku pergi, yah. Daaaah~~~"

Dan May bahkan tak tahu bagaimana harus melawannya, Lookaew-pun pergi dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
 

Sesuai dugaan Kade, si paparazzi sekarang gantian manerget May. Baru saja May keluar dari sana, si paparazzi itu dengan angkuhnya mendekati May dan berkata kalau dia ada urusan penting dengan May lalu menyodorkan amplopnya yang berisi foto-foto paparazzi itu.

May akhirnya percaya adanya si paparazzi itu. "Jadi kau si paparazzi itu."

"Ssst! Jangan keras-keras. Ada seorang reporter di dalam. Kalau dia sampai melihat ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Lebih baik kita mencari tempat sepi untuk membuat kesepakatan."


Jadilah mereka membicarakan masalah ini di dalam mobilnya si paparazzi. (Perasaanku nggak enak) Si paparazzi itu kesal merutuki Kade karena Kade tidak mau membayarnya sepeserpun.

"Karena itulah aku mendatangi Khun May yang cantik." Kata pria itu sambil terang-terangan menatap d*d* May.

May sontak menutupi belahan d*da-nya. "Kalau kau meminta uang 10, itu terlalu banyak."

"10 juta itu terlalu kecil mengingat reputasimu sebagai pewaris tunggal konglomerat Chalampu."

Coba pikirkan, jika foto-foto mesra May bersama lelaki yang bukan pacarnya tersebar di dunia maya, maka reputasi keluarga Chalumpu yang susah payah dibangun oleh Kakeknya May akan hancur.

"Kau!"

"Jangan bicara kasar, kau akan menghancurkan image-mu sebagai selebritis nomor satu Thailand."


Si paparazzi itu mulai semakin kurang ajar dengan mengelus lengan May dan jelas saja membuat May marah.

Si paparazzi itu makin sinis melihat reaksi May. Begini saja, dia akan mengurangi setengah tuntutan uangnya jadi 5 juta saja, asal... May mau tidur dengannya.

PLAK! May kontan menampar pria itu, dia tidak akan mau menyetujui apapun permintaan si paparazzi. Tapi itu malah membuat si paparazzi jadi semakin beringas menyerang May.


Panik, May berusaha membela diri dan menggampar pria itu hingga dia berhasil keluar dari mobilnya. Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil biru yang datang dari arah berlawanan.

May berusaha menghindar, tapi mobil biru itu sepertinya malah sengaja ingin menabrak May hingga membuat May oleng dan terantuk ke mobil lain dengan cukup keras.

Di mobil biru itu langsung melarikan diri, si paparazzi yang panik juga langsung melarikan diri saat melihat ada orang yang bergegas menolong May. Sekretarisnya May akhirnya muncul saat itu dan kontan panik melihat bosnya pingsan.


Dalam pingsannya, May memimpikan masa kecilnya sepeninggal sang ibu. Hari itu saat mereka pulang dari pemakanan Ibu May, May kecil menangis sedih sembari memeluk foto mendiang Ibu.

Demi menghibur cucu tunggalnya, Kakek meyakinkan May bahwa Ibu sekarang sudah pergi ke surga.

"Aku merindukan Ibu."

"Kau masih punya kakek. Kakek sangat menyayangimu. Kakek janji, kakek akan menjadi ibumu, temanmu, dan segalanya bagimu selamanya." Janji Kakek sembari memeluk May kecil. Duduk di belakang kemudi, Ayah May juga tampak sedih tapi ia diam saja.

Sejak hari itu, Kakek melimpahkan semua perhatian dan kasih sayangnya pada May kecil. Saat May sedih, Kakek meyakinkan May bahwa walaupun sekarang ibunya sudah tiada, tapi Kakek akan menjadi segalanya bagi May.

"Kakek akan selalu melindungimu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."


May menangis teringat kenangan itu. Nyatanya sekarang, Kakek sudah tidak ada di sini untuk melindunginya lagi. Tapi jangan khawatir, May janji akan melindungi reputasi keluarga mereka.

"Takkan ada seorangpun yang akan merendahkan martabat Kakek karena aku."


Sekretarisnya mendadak muncul dan mengusulkan untuk melaporkan si paparazzi cab*l itu ke polisi saja. Tapi May tidak setuju, melapor ke polisi sama saja mengekspos tentang hubungannya dengan Kade.

Terus harus bagaimana? Masa iya May mau membiarkannya begitu saja, si paparazzi itu pasti akan kembali untuk memerasnya lagi. Ah, bagaimana kalau mereka telepon Ayah May saja. Ayah May pasti bisa menangani masalah ini.

Tidak boleh! May tidak akan membiarkan ayahnya mengetahui masalah ini. Kalau kedua cara itu tidak bisa, berarti mereka hanya punya satu cara sekarang, yaitu membayar si paparazzi itu.

"Aku tidak sebodoh itu untuk membayarnya."

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Biarkan aku berpikir dulu."


Lookaew dan temannya - Pan, baru saja belanja gila-gilaan di mall Paradizo. Mereka lalu bertemu dengan Pong - Temannya Kade yang ternyata juga sepupunya Lookaew sekaligus pacarnya Pan, dan ternyata dia kenal dengan Nackarin.  (Pfft! nyambung-menyambung melalui satu orang)

Nackarin dengan senang hati berjanji akan membuatkan mereka kartu membership platinum untuk kedua wanita itu. Lookaew langsung tertarik padanya dan terang-terangan maju untuk mengucap terima kasih padanya sambil menatapnya penuh arti. Sebagai imbalan, Lookaew memberikan kartu namanya dan mengundang Nackarin ke hotelnya.


Setelah memikirkannya baik-baik, May akhirnya membuat keputusan. Dia akan meminta bantuan Kade dan menyuruh sekretarisnya untuk menghubungkannya dengan Kade sekarang juga.

Sekretarispun segera menghubungi Acha. Kade sendiri baru saja selesai meeting saat itu. Tapi saat Acha melaporkan hal ini, Kade menolak bicara dengan May.

"Bilang pada bosmu, aku menelepon bukan untuk memohon padanya. Tapi kurasa kita bisa mendiskusikan solusi lain untuk masalah ini."

"Maaf, Khun May. Tapi bos masih belum mau bicara."

"Baiklah. tidak masalah kalau dia tidak mau bicara denganku. Aku tidak akan mengganggunya lagi!" Kesal May lalu mematikan sambungannya.

Acha cemas, sepertinya si paparazzi itu sudah memeras May. Kade yang diam-diam tersenyum lebar saat mendengarkan percakapan telepon barusan, ngotot kalau dia itu pebisnis dan bukannya badan amal. Pokoknya dia tidak akan berinvestasi tanpa mendapatkan imbalan.

Bersambung ke part 5

3 komentar: