Sinopsis Accidentally in Love Episode 1

Sinopsis Accidentally in Love Episode 1

Seorang wanita muda tergesa-gesa melarikan diri dari beberapa pria berjas putih yang tengah mengejarnya. Dia baru berhenti setelah cukup aman dari mereka dengan napas ngos-ngosan dan wajah coreng moreng.


Di depannya, dia melihat seseorang yang memakai rok panjang dan berambut berambut panjang, sedang ganti baju di depan umum. Yah, walaupun tempat itu sepi. Wanita itu sungguh tak percaya melihatnya, apa wanita dia daerah Yuncheng ini berjiwa sebebas itu?

Tapi kemudian wanita itu berbalik... dan membanting wignya. Wkwkwk! Cowok ternyata, tapi cantik euy. Si wanita jelas melongo saking kagetnya. Tapi dia tak punya waktu memikirkannya lebih jauh karena tepat saat itu juga, terdengar suara orang-orang yang mengejarnya semakin mendekat.


Panik, wanita itu sontak meminta pria itu untuk meminjamnya sebentar saja lalu melingkarkan tangan pria itu ke pinggangnya seolah mereka lagi bermesraan dan sukses mengecoh para pengejarnya.

Begitu para pria berjas putih itu pergi, mendadak muncul sekumpulan pria berjas hitam dan sepertinya mereka tengah mengejar si pria muda itu karena mendadak dia panik lalu menyudutkannya ke tembok.

Saat wanita itu protes, si pria sontak mengancam akan menciumnya kalau dia protes terus. Tapi saat sekumpulan pria berjas hitam itu lewat, seseorang di antara mereka tak sengaja menyenggol si pria dan chu~~~ bibirnya mendarat di bibir si wanita dan kontan membuat mereka berdua sama-sama melotot kaget.

"Namaku adalah Chen Qing Qing. Ini adalah hari pertamaku tiba di Yuncheng. Ini hari pertamaku... dan ciuman pertamaku dicuri oleh si bed*b*h ini!." Batin si wanita itu.

Oh, sebentar. Tentu saja dia harus bercerita dulu tentang awal mula kisah ini... sebelum penampilannya berubah jadi culun seperti ini.

Flashback satu hari yang lalu


Chen Qing Qing sebenarnya cucu seorang konglomerat yang rumahnya saja bak istana di daerah Jingchen dan penampilannya yang sebenarnya sangat cantik.

Malam itu, dia termenung menatap dirinya di cermin dengan gelisah karena besok adalah hari pernikahannya tapi dia tidak tampak bahagia.

Dia lalu mengeluarkan sebuah kotak yang didalamnya berisi buku diary almarhum ibunya. Ada foto-foto mendiang kedua orang tuanya juga di sana (ibunya mirip banget sama dia), dan salah satunya adalah sebuah foto di depan sebuah gedung universitas.


Saat dia dia hendak membaca buku diary itu, tiba-tiba saja buku itu bergetar dan meloncat dari tangannya hingga terjatuh ke lantai. Buku itu mendadak bersinar lalu bayangan kedua orang tuanya muncul dari dalamnya.

"Qing Qing, besok adalah hari pernikahanmu. Ayah dan Ibu ingin memberitahumu bahwa kau pintar dan cantik. Kami sangat bangga padamu. Tapi lebih dari itu, kami berharap kau bahagia dan menjadi gadis yang pemberani yang akan mengejar kehidupan yang kau inginkan."

"Tapi, aku masih belum tahu kehidupan seperti apa yang kuinginkan."

"Kau akan menemukan jawabannya... di kampus Ming De." Ujar sang ayah sebelum kemudian mereka menghilang... dan Qing Qing terbangun dari mimpinya. Tapi mimpi itu terasa begitu nyata hingga Qing Qing punya semangat baru hari ini.


Para tamu mulai berdatangan. Kakeknya Qing Qing sedang membangga-banggakan cucu satu-satunya itu pada para tamu, bahwa Qing Qing itu adalah kebanggaannya dan semua ini karena gen baik yang diturunkan dari leluhur keluarga Chen. Cucunya itu baik dan elegan.

Tapi yang tidak Kakek ketahui, Qing Qing justru sedang mengobrak-abrik semua kado pernikahannya yang semuanya barang-barang mewah. Tapi Qing Qing sungguh kecewa, dari sekian banyak kado pernikahan, tak satupun dia menemukan kado berisi uang.

"Memberikan uang itu kan tradisi baik, kapan menghilangnya tradisi itu?"

Tapi saat melihat para pelayan yang sedang sibuk kasak-kusuk menggosipkannya, Qing Qing mendadak punya ide bagus.

Sementara Kakek sibuk sumbar tentang segala macam bakat dan kehebatan cucunya dalam berbagai macam bidang, ia tak tahu kalau Qing Qing malah sedang sibuk memperdagangkan semua kado pernikahannya dengan diskon besar-besaran pada para pelayan.


Temannya datang tak lama kemudian untuk menjemputnya keluar, tapi Qing Qing malah menatapnya dengan senyum licik. "Kau teman baikku, kan? Susah mendapatkan teman baik, jadi kau tidak mungkin tidak akan membantuku, kan?"

Temannya mengiyakannya saja dengan kebingungan.


Acara pernikahan akhirnya dimulai, Kakek mengantarkan sang pengantin wanita yang wajahnya tertutup veil pada sang pengantin pria, Lu Jing Yang, sambil mendoakan semoga mereka berdua hidup bahagia.

Tapi saat pendeta tanya apakah sang pengantin wanita bersedia menerima Jing Yang sebagai suaminya, si pengantin wanita malah gemetar hebat. Tapi pendeta menganggap itu sebagai jawaban iya, maka ia pun mempersilahkan Jing Yang untuk mencium pengantinnya.


Jing Yang pun membuka tudung pengantinnya... tapi malah mendapati pengantinnya bukan Qing Qing melainkan temannya. Jelas saja semua orang terutama Kakek jadi kaget. Di mana Qing Qing?

Ia langsung mengedarkan pandangannya... hingga menemukan Qing Qing yang sedang berusaha menyelinap keluar dari sana. Kakek sontak menyuruh para pengawal untuk menangkap Qing Qing.

Qing Qing sontak kabur dan jadilah dia kejar-kejaran dengan para pria berjas putih itu. Mengecuh mereka dengan pura-pura jadi cutout dirinya sendiri. Bahkan merampas sepeda motor seorang pria bertampang sangar lalu membawa sepeda motor itu ke bandara.

 

Kakek pun bergerak cepat memblokir kartu kreditnya Qing Qing hingga dia kesulitan mendaftar di universitas Ming De. Mana uang tunainya tidak seberapa lagi. Dia harus bagaimana setelah membayar biaya kuliahnya nanti? Tapi Qing Qing tetap saja nekat pergi.


Sekretarisnya Kakek melapor bahwa dia sudah memblokir kartu kreditnya Qing Qing. Tapi Qing Qing sudah membeli tiket pesawat ke Yuncheng dan pesawat itu sudah lepas landas sekarang.

"Dia tetap pergi ke sana." Desah Kakek.

Flashback.


Sejak awal Qing Qing sudah ngotot menolak pernikahan ini karena dia tidak mencintai Lu Jing Yang. Tapi Kakek terus mendesaknya dan meyakinkan Qing Qing bahwa tidak ada yang namanya 'cinta sejati'.

Qing Qing tidak terima. "Apa orang tuaku yang Kakek sebut cinta sejati?"

"Sudah berapa kali Kakek bilang? Jangan sebut-sebut ayahmu itu lagi! Dia alasan ibumu mati!"

"Aku menolak mempercayainya. Kalau benar begitu, lalu kenapa ibuku sangat mencintainya?!"

"Diam!"

Flashback end.


Setibanya di Yuncheng, Qing Qing langsung naik taksi. Berhubung perutnya mendadak minta jatah, dia meminta Pak Supir untuk mengantarkannya ke tempat jajanan terkenal di kota ini.

Dia lalu mengganti bajunya, memoles makeup di wajahnya, memakai wig, kacamata besar... dan voila! Dia berubah jadi culun. Pak Supir sampai kaget melihat perubahannya, kenapa dia mengubah penampilannya?

"Aku... sudah bukan diriku yang dulu."


Dia lalu berjalan-jalan ke area ramai yang penuh dengan penjual makanan. Tak sengaja dia bertubrukan dengan seorang pria muda hingga membuat tasnya terjatuh.

Pria itu meminta maaf dengan sopan. Secara bersamaan, mereka sama-sama mengambil tas masing-masing yang terjatuh... yang bentuknya sama persis sebelum kemudian berpisah ke arah yang berlawanan. Hmm... jangan-jangan tas itu ketuker nih.

Benar saja. Saat Qing Qing hendak mengambil uang untuk membeli makanan, dia malah mendapati isi tas itu cuma sebuah buku dan pria tadi sudah menghilang entah ke mana.

 

Tak punya uang sepeserpun, terpaksalah Qing Qing bergabung bersama para pengemis jalanan. Pfft! Sayangnya tak ada seorangpun yang memberinya uang.

Bahkan saat ada seorang ibu yang hendak memberinya uang, anaknya langsung melarang dan meyakinkan ibunya kalau Qing Qing ini pengemis palsu. Lihatlah bajunya yang masih bagus, mana mungkin dia pengemis. Benar juga, si ibu langsung batal memberinya uang.


Tiba-tiba ada seorang pria berpenampilan compang-camping datang dan memberinya nasehat tentang cara mengemis yang baik dan benar. Dia tidak boleh mengemis pakai baju bagus begini. Mana ada orang yang akan percaya kalau dia pengemis. Si pengemis lalu mengambil tanah untuk mencoreng muka mulus Qing Qing biar kelihatan gembel.



Qing Qing lalu pergi mengemis ke tempat ramai... yang ternyata sebuah konser seorang artis bernama Si Tu Feng. Tapi para fans-nya menyebutnya 'Yang Mulia'.

Si artis Si Tu Feng itu tak lain tak bukan adalah pria yang nantinya akan berciuman dengan Qing Qing seperti yang kita lihat di bagian opening.

Sementara Feng sibuk menari dan memukau para fansnya, Qing Qing sukses mendapatkan beberapa receh dari para penonton. Tapi tiba-tiba para pria berjas putih muncul di sana.

Panik, Qing Qing berusaha menyembunyikan dirinya dengan pura-pura jadi penonton. Awalnya dia memang berhasil mengecoh mereka. Tapi saking paniknya ingin melarikan diri, dia jadi cepat ketahuan dan terpaksalah dia harus kabur secepatnya dari sana.


Feng selesai dengan satu lagu. Para penontonnya pada minta encore, tapi Feng langsung pergi dengan cuek. Dia jelas bukan artis yang ramah terhadap fans-nya, tidak pula pada para stafnya sendiri.

Dan sepertinya otaknya juga tidak cukup encer. Saat managernya, Daniel, sibuk nyerocos tentang perkiraan keuntungan yang akan mereka dapatkan dari penjualan album terbaru Feng, Feng mencoba ikutan menghitungnya tapi gagal.


Tapi saat mereka masuk ke ruang ganti, mereka malah menemukan beberapa pria berjas hitam menunggu Feng. Mereka adalah orang-orang suruhan ayahnya Feng dan mereka datang untuk menjemput Feng ke acara resepsi pernikahan Ayah.

"Aku tidak mau datang."

"Tuan, kalau anda seperti ini, kami tidak tahu harus bilang apa pada ayah anda. Kalau anda tidak mau bekerja sama, maka kami akan menggunakan kekerasan. Jika itu terjadi, tolong jangan salahkan kami."

Mendengar itu, Feng akhirnya setuju. Tapi dia meminta mereka untuk menunggu di luar dulu biar dia ganti baju dulu.


Tapi begitu para pria itu keluar, Feng tetap bertekad tidak mau datang. Jadi, dia mau kabur saja. Daniel tidak setuju kalau Feng harus menyamar lagi. Di luar ada banyak fans dan awak media. Feng ganti baju saja dulu, sementara dia akan keluar dan mencoba mengajak para pria itu ngobrol.

"Jadi, kau mau pergi atau tidak?" Tanya Stylist-nya.

"Tidak. Eh, aku bisa kabur lewat jendela saja."

"Kau sudah gila apa? Ini lantai 6."

Si stylist lalu memberikan tas untuknya berisi baju wanita untuknya menyamar. Tapi Feng menolak, dia tidak mau pakai pakaian wanita. Mending kabur lewat jendela saja.

 

Tapi tak lama kemudian, Stylist dibuat melongo melihat penampilan baru Feng... yang cantik banget. Wkwkwk!

"Kalau seperti ini, takkan ada seorangpun yang bisa mengenalimu." Yakin si Stylist.

Saat Feng keluar, benar-benar tak ada yang mengenalinya. Tidak pula Daniel, maka Feng pun jalan dengan santai. Tapi kemudian para pengawal itu mulai merasa familier dengannya dan akhirnya ngeh kalau dia adalah Feng. Mereka pun sontak mengejarnya.


Feng melarikan diri sampai ke gang sepi dan memutuskan untuk mengganti samarannya, dan saat itulah dia bertemu Qing Qing yang juga sedang dikejar-kejar para pengawalnya dan kita kembali melihat mereka pura-pura saling bermeraan hingga tak sengaja bibir Feng mendarat di bibir Qing Qing.

"C**man pertamaku... dicuri oleh orang asing ini?"

Bersambung ke episode 2

5 komentar: