Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 17 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 17 - 2

Keesokan paginya, Mo Mo terbangun lebih dulu dan langsung terpesona melihat wajah damai Wei Yi dalam tidurnya. Tapi saat dia melihat Wei Yi terbangun, dia refleks pura-pura tidur lagi. Dan sekarang dia bingung harus bagaimana. Ngapain dia merem lagi sih, terus kapan dia harus melek lagi kalau begini?


Wei Yi merasa lehernya pegal dan berusaha selembut mungkin menjauhkan kepala Mo Mo darinya. Seharusnya sih, saat ini adalah saat yang sempurna bagi Mo Mo untuk pura-pura bangun. Tapi Mo Mo malah pura-pura tidur terus yang jelas saja kelihatan aneh.

Wei Yi langsung sadar kalau dia lagi pura-pura tidur. "Si Tu Mo, berhentilah pura-pura. Apa kau tidak merasa lehermu sakit?"

Malu dan canggung, Mo Mo buru-buru bangkit dengan alasan mau bersiap berangkat kerja.


Saat dia keluar tak lama kemudian, Wei Yi masih saja terus menggodanya dengan menawarkan koyo. Mo Mo menolak dengan canggung.

Kalau begitu, Wei Yi menuntut Mo Mo untuk bantu dia nempelin koyo ke bahunya aja. Dia bahkan langsung menyodorkan bahu mulusnya ke Mo Mo. Kesal, Mo Mo langsung menghantamkan koyo itu ke bahu Wei Yi lalu bergegas keluar.
 

Wei Yi mengantarkannya sampai ke halte, bahkan menggenggam erat tangan Mo Mo selama menunggu bis datang.


Begitu tiba di kantor, Jie Er langsung memberitahunya tentang pengumuman di kantor. Pengumuman pertama adalah tentang kompetisi design iklan. Para pegawai tetap terlalu malas untuk mengikuti ajang itu, jadi mereka memberikan kesempatan pada para pegawai magang.

Mo Mo tidak merasa terlalu antusias untuk itu soalnya kerjaannya masih banyak. Tapi kemudian, Jie Er memberitahukan pengumuman kedua, yaitu pegawai magang diizinkan untuk libur selama liburan musim dingin. Yang ini baru menarik bagi Mo Mo, beneran?

Jie Er bercerita bahwa tahun kemarin ada seorang pegawai magang yang menyatakan bahwa libur musim dingin adalah hari libur resmi untuk para lulusan, terus dia menuntut kenaikan gaji tiga kali lipat pada pihak HRD.

"Terus?"

"Terus dia dipecat." (Pfft!)

"Ending yang tragis."

 

Tiba-tiba mereka melihat Sha Sha datang, sontak mereka langsung balik ke mode profesional mendiskusikan poster iklannya Zhi Cun. Sha Sha sekilas melihat poster buatan Mo Mo lalu menyuruh mereka untuk membuat proposal yang harus mereka serahkan setelah libur musim dingin nanti.


Di lab, Zhou Lei lagi-lagi merasa sakit hati gara-gara Yu Yin lebih memilih menyerahkan masalah kalkulasi data pada Wei Yi. Prof Jiang kembali saat itu dengan membawa seorang wanita. Dia adalah senior mereka yang dulu mendapat beasiswa kuliah di Jerman - Lu Jian Shi.

Zhou Lei langsung antusias memperkenalkan dirinya. Tapi Jian Shi lebih antusias dengan Wei Yi, soalnya dia pernah mendengar tentang Wei Yi sebelum dia pergi ke Jerman dan dia berharap mereka bisa ke Jerman bersama-sama.

Zhou Lei kontan protes, mengira mereka sudah menetapkan Wei Yi untuk pergi ke Jerman. Prof Jiang meralat, Jian Shi kembali karena dia ditugaskan untuk menilai mereka berdua.

Prof Jiang akan mulai menguji mereka setelah liburan musim dingin. Hasil ujian nanti dan juga prestasi penelitian adalah bagian dari penilaian.


Malam harinya, Fu Pei dan Shan Shan tanding tenis meja tapi Fu Pei tak sengaja melukai dirinya sendiri yang kontan membuat Shan Shan mencemaskannya.

Wei Yi datang tak lama kemudian untuk latihan. Tapi Fu Pei perlu tahu dulu tingkat kemampuan Wei Yi dalam tenis meja biar dia bisa memutuskan dari mana dia harus melatih Wei Yi.

"Tidak ada level."

"Tidak ada level?"

Baiklah. Kalau begitu, Fu Pei akan melatihnya secara sistematis dari level yang paling dasar. Dan Wei Yi benar-benar berlatih dengan serius.


Mo Mo baru saja selesai mengerjakan laporannya saat Wei Yi nge-chat dan tanya jam berapa dia akan pulang. Mo Mo bilang jam enam dan tanya apakah Wei Yi akan menjemputnya.

Dia sudah bersiap mau pulang saat Sha Sha mendadak muncul dan menyuruhnya ikut dengannya. Ternyata dia membawa Mo Mo menemui Zhi Cun yang datang bersama managernya. Matanya tampak lebam, tapi menurut si manager, ternyata itu cuma makeup.

Mereka datang untuk menawarkan kerja sama lagi dengan mereka, terutama Mo Mo. Apalagi Zhi Cun selalu memuji-muji kemampuan dan kehebatan Mo Mo biarpun Mo Mo cuma pegawai magang.

Selama Sha Sha dan si manager sibuk ngobrol, Mo Mo diam-diam mengecek ponselnya tapi malah mendapati Zhi Cun pindah ke belakangnya lalu ikutan mengintip ponselnya.


Saat Sha Sha menyudahi pertemuan mereka, Mo Mo asal saja mau melesat keluar saat itu juga yang jelas saja langsung mendapat tatapan aneh dari semua orang.

Mo Mo jadi canggung beralasan kalau dia cuma mau ke kamar kecil, sakit perut. Tapi Zhi Cun tiba-tiba berkata kalau dia mau melihat-lihat perusahaan ini dan menuntut Mo Mo untuk mengantarkannya keliling. Tapi begitu mereka keluar, Zhi Cun mendadak berbaik hati mengizinkan Mo Mo pulang.

"Hah? Kenapa?" Mo Mo bingung.

"Karena aku besar kepala."


Saat naik lift, Mo Mo lagi-lagi mengecek chatnya, mengharap ada balasan dari Wei Yi tapi ternyata tetap tidak ada. Malah kemudian dia menangkap basah Zhi Cun yang lagi-lagi sedang mengintip chat-nya.


Yang tidak dia ketahui, Wei Yi sebenarnya berada di luar. Sedang mondar-andir gelisah menanti Mo Mo keluar dan ujung-ujungnya malah mengagumi bayangan dirinya sendiri di kaca.


Zhi Cun menasehati Mo Mo untuk tidak menunggu, pria itu tidak akan datang untuk menjemput Mo Mo. Tidak membalas artinya tidak akan datang. Zhi Cun yakin itu karena dia juga cowok.

Kesal, Mo Mo dengan sengaja balas dendam dengan menutup pintu lift tepat saat Zhi Cun melangkah keluar dan kontan membuatnya terhimpit.

"Hei! Bisa-bisanya kau menggigit tangan yang memberimu makan?!"

"Katanya kau besar kepala?"

"Aku hanya mencoba menjadi besar kepala untuk membuat Linda (managernya) jengkel."

"Kau kekanakan."

"Fans-ku menamainya kontras yang indah."

Mo Mo lagi-lagi mengecek chatnya. Zhi Cun ngotot meyakinkannya kalau pria itu tidak akan datang menjemput Mo Mo.

"Dia tidak sama sepertimu."

"Kenapa? Dia tidak kekanakan?"

Mendengar kata itu malah membuat Mo Mo geli teringat betapa obsesif-nya Wei Yi terhadap mainannya, si Lingkaran. "Dia kontras yang indah."
 

Karena Mo Mo belum keluar-keluar juga, Wei Yi akhirnya masuk ke dalam lobi. Dia akhirnya melihat Mo Mo keluar dan langsung lari padanya.

Tapi tepat saat itu juga, senyum Wei Yi seketika sirna melihat Zhi Cun di belakangnya Mo Mo. Zhi Cun pun langsung mendengus sinis melihat Wei Yi benar-benar datang.

Epilog:


Saat Wei Yi hendak mengambil jaketnya di sofa, dia melihat bajunya juga tersampir di sana. Tiba-tiba dia punya ide kekanakan dengan menata kedua baju-baju mereka di sofa seolah mereka sedang duduk bersama sambil bergandengan tangan.

Dia lalu masuk kamar sekalian memanggil Mo Mo keluar untuk menunjukkan hasil karyanya itu. Sayangnya, Mo Mo tidak sadar sama sekali dan langsung saja mengambil bajunya sendiri sambil teriak-teriak meminta Wei Yi untuk memberinya uang buat ongkos naik bis.


Wei Yi menyuruhnya mengambil sendiri dari dompetnya yang ada di dalam jaket. Tapi saat Mo Mo membuka dompet itu, dia malah mendapati foto ID-nya ada di dalam dompet itu. Jelas saja Mo Mo langsung emosi menuntut dari mana Wei Yi mendapatkan foto ID-nya itu.

"Kucetak di depan restoran waktu itu."

"Dari mana kau mendapatkannya?!"

Wei Yi sontak pura-pura bodoh, merebut dompetnya dari tangan Mo Mo, memberikan uang yang Mo Mo minta, lalu bergegas kabur ke kamar tanpa mempedulikan protesnya Mo Mo.

Bersambung ke episode 18

2 komentar: