Sinopsis Leh Nangfah Episode 25 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 25 - 2


Tee bingung kenapa Beauty tiba-tiba jadi begini. Mereka kan belum tahu siapa yang sudah menipu perusahaan. Beauty tak peduli, Tee kan presidennya, jadi Tee urus saja sendiri, pokoknya dia sudah memberitahu semuanya.

"Tapi kau juga co-presiden."

"Itu jabatan tidak tetap, tidak penting."

Tee tak percaya. Dia tahu betul betapa pentingnya masalah ini bagi Beauty. Dia kan sudah bilang kalau dia tidak akan membiarkan Beauty berjuang sendirian.

"Kau tidak sendirian, Beauty. Kau masih punya aku. Apa kau dengar? Kau masih punya aku."

Beauty sedih mendengarnya. Tapi dia terus berbohong kalau Thanabavorn bukan tempat yang cocok untuknya. Yang cocok untuknya hanyalah event-event kelas atas.


Tee benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa wanita kuat seperti Beauty, tiba-tiba berubah hanya dalam waktu semalam?

"Beauty, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu." Saat Beauty masih tidak menanggapinya, Tee akhirnya menyerah dan pergi.

"Aku hanyalah setengah manusia setengah binatang. Dan nantinya, aku akan menjadi burung selamanya. Aku hanya berharap, kau mengingatku hanya sebagai Beauty yang mempesona dan burung Beauty yang manis dan tidak mengetahui kebenarannya. Aku tidak akan tahan melihatmu membenciku."


Saat Tee keluar, Farang mendatanginya dan melapor kalau Beauty baru pulang pagi tadi dalam keadaan wajah lebam-lebam. Lalu tak lama setelah Beauty pulang, Pat datang dan mereka bertengkar.

Dia tidak tahu apa yang mereka pertengkarkan, tapi Pat tampak sangat amat marah. Kata Somcheng, Beauty mengurung diri di kamar setelah Pat pergi. Makanya Farang berpikir kalau lebam-lebam di wajah Beauty, kemungkinan karena ulahnya Pat.


Setelah mendapat informasi itu, Tee langsung mendatangi rumahnya Pat dan menuntut ada masalah apa sebenarnya antara dia dan Beauty.

"Apa dia mengadu?"

"Tidak. Dia tidak mengatakan apapun. Dia bahkan tidak mau melihatku. Dia bilang kalau dia mau mengundurkan diri tapi aku tidak tahu apa alasannya. Seseorang di rumah bilang kalau kau menemui Beauty."

"Apanya yang aneh? Memangnya sesama saudara tidak boleh saling mengunjungi?"

"Kalau kau berpikir kalian saudara, tidak seharusnya kau melakukan sesuatu terhadapnya."

Pat menyangkal. Tee tak percaya, lalu bagaimana bisa Beauty terluka bahkan sampai mengundurkan diri secara tiba-tiba?

"Masalah luka, kurasa dia mungkin habis melakukan sesuatu dengan seseorang di suatu tempat. Tapi masalah dia mengundurkan diri, aku tidak melihat ada yang aneh. Pasti ada batas bagi seseorang yang tidak pernah serius seperti Beauty."


"Tidak benar. Beauty bukan orang yang mudah menyerah."

"Tapi dia menyerah, kan?"

"Pat, apa yang kau bicarakan dengan Beauty? Jangan sampai aku tahu apa yang sudah kau lakukan pada Beauty. Jika tidak, kau bukan hanya akan diskors. Tidak ada pengecualian biarpun kau putrinya Paman Korn."

"Lebih baik kau cari tahu sendiri saja pada kekasihmu itu tentang rahasia apa yang dimilikinya."

"Rahasia apa?"

"Aku tidak akan memberitahumu. Kau harus tanya sendiri padanya. Tapi aku bisa memberitahumu satu hal. Jika kau tahu kebenaran tentang Lallalit-mu yang cantik itu, kau pasti tidak akan mencintainya lagi."


Beauty menulis surat untuk Tee. Dalam suratnya, Beauty tampaknya sudah benar-benar menyerah dengan nasibnya untuk menjadi burung selama-lamanya. Tapi pada akhirnya dia menyobek surat itu dan gelisah memikirkan ancaman Pat.

Bibi Jan datang tak lama kemudian dengan cemas, apalagi dia belum menyentuh makanannya sedikitpun. Dia berusaha membujuknya untuk menghubungi Tee. Tapi Beauty bersikeras menolak.


Seenuan dan Somcheng masuk tak lama kemudian untuk membawakan bajunya Beauty yang baru selesai mereka jahit. Tapi Beauty sudah menyerah dan menyuruh mereka berhenti membuatnya.

Segalanya sudah hancur. Entah apakah dia masih bisa bertahan untuk melihat hasil karyanya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depannya nanti. Dia sudah lelah dengan berbagai masalah yang menimpanya.

Sedih melihat Beauty seperti ini, Seenuan berusaha meminta Beauty mengatakan apa masalahnya agar dia bisa membantunya.

"Saya rela melakukan apapun demi anda. Bahkan nyawa saya sekalipun."

"Jangan, bi. Kalau bibi tahu, mungkin bibi takkan mau tinggal bersamaku lagi."


Mendengar itu, Somcheng akhirnya mengaku kalau dia dan ibunya sebenarnya sudah tahu kalau Beauty adalah burung. Tapi bagaimanapun, mereka masih menghormati dan menyayangi Beauty.

Beauty tercengang mendengarnya. "Kalian sudah tahu?"

"Saya tak sengaja melihat anda berubah. Tapi saya tidak memberitahu siapapun selain ibu saya."

"Kalian... apa kalian tidak jijik padaku?"

"Tidak, nona. Kami menyayangi dan bersimpati pada anda. Katakan saja, apa ada yang bisa saya bantu?"

"Satu-satunya yang bisa membantuku... mungkin tidak akan berpikir seperti kalian. Dia mungkin tidak akan menyukaiku jika dia tahu aku setengah manusia setengah binatang."


Lalita juga sedih melihat Beauty mulai menyerah. Bahkan kristalnya pun tampak mulai memudar yang menandakan bahwa kekuatannya untuk mematahkan kutukannya mulai menghilang. Sepertinya Beauty sudah benar-benar menerima takdirnya untuk menjadi burung selama-lamanya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membantunya mendapatkan keberaniannya kembali?"

"Lallalit sudah tidak takut lagi untuk menjadi burung. Yang dia takutkan adalah tidak disukai dan dihina. Dia takut semua orang akan berpikir seperti itu."


Mendengar Somcheng berkata kalau Beauty tidak ingin lagi membuat baju-bajunya, Bibi Jan yakin kalau Beauty cuma moody sesaat seperti biasanya. Dia pasti ada masalah sekarang ini, tapi dia pasti akan baik-baik saja sebentar lagi.

Jadi lebih baik mereka membantu Beauty membuat baju-bajunya sambil menunggu mood-nya kembali. Seenuan setuju lalu menyuruh Farang untuk membawakan barang-barang dari kamarnya Beauty.

Bibi Jan mengingatkannya untuk bergerak cepat karena Beauty biasanya tidak mau diganggu di malam hari dan sekarang sudah hampir petang. Pon dan Somcheng juga ikut untuk membantunya.


Tapi tepat saat mereka masuk ke kamarnya Beauty, matahari terbenam dan mereka melihatnya bersinar sangat terang lalu berubah jadi burung.

Pon dan Farang yang paling shock dan langsung jejeritan histeris mengira ada hantu. Somcheng sampai harus berteriak-teriak untuk menghentikan kehisterisan mereka dan menegaskan burung itu bukan hantu.

"Burung itu benar-benar Khun Beauty."

"Benar. Aku bukan hantu, tolong jangan takut padaku."


Teriakan mereka terdengar Bibi Jan dan Seenuan yang langsung bergegas datang. Farang dan Pon memberitahunya kalau Beauty baru saja berubah jadi burung, tapi tentu saja Bibi Jan tak percaya dan langsung memarahi mereka.

Mendengar itu, Somcheng meminta izin Beauty untuk memberitahukan kebenarannya pada semua orang.

"Karena kalian semua orang melihatnya, silahkan saja. Lakukan apapun yang kalian inginkan. Apapun yang akan terjadi, pasti akan terjadi. Aku tidak peduli apapun yang orang pikirkan."


Seolah memahami cuitan Beauty, Somcheng mengaku kalau dia pernah melihat Beauty berubah jadi burung. Dia akan berubah jadi burung setiap malam dan berubah kembali jadi manusia di siang hari.

Shock, Bibi Jan kontan menangis meratapi nasib nonanya yang malang hingga ia pingsan. Cemas, Beauty langsung terbang ke Bibi Jan.

"Bibi Jan, jangan menangis. Aku tidak menderita menjadi burung. Setidaknya, aku bisa tahu siapa saja yang benar-benar baik padaku, mencintaiku dengan tulus dan tak pernah meninggalkanku tak peduli apapun aku."


Berkat itu, kekuatan Beauty akhirnya kembali dan kristal pun kembali menguat. Sekarang Beauty pasti sudah menyadari bahwa orang-orang yang dia remehkan ternyata orang-orang yang mencintainya dengan tulus. Makanya sekarang dia mendapatkan kekuatannya kembali.


Tee terus berusaha menghubungi Beauty tanpa hasil. Saat dia melamun, burung Beauty datang. Tapi Tee memperhatikan dia tampak murung. Ada apa dengannya?

"Aku datang untuk mengucap selamat tinggal. Sepertinya kita tidak punya banyak waktu untuk bersama. Pat pasti akan membeberkan rahasiaku."

"Ada apa, Beauty? Kenapa kau menangis? Kau cengeng. Siapa yang membulimu?"

"Aku takut... kau akan membenciku hingga kau tidak mau lagi melihat wajahku jika kau tahu kalau aku setengah manusia setengah binatang."

"Hei, apa kau tahu kenapa aku menamaimu 'Beauty'? Itu karena kau bukan cuma arogan dan moody seperti Beauty-ku, tapi juga karena kau kuat dan tidak pernah menyerah seperti Beauty-ku. Tegarlah seperti biasanya, jangan cengeng."

"Kau pikir aku kuat?"


"Seandainya aku bisa memberitahunya, aku akan memberitahu bahwa masalahnya adalah masalahku juga. Aku ingin dia menjadi kuat lagi. Burung kecil, apa kau tahu, semangat juangnya lah membuatku jatuh cinta sebesar ini padanya."

"Jika kau tahu aku setengah manusia setengah binatang, apa kau masih akan mencintaiku? Apa kau masih akan mencintai Beauty, si burung?"

"Tapi aku masih tidak tahu dia marah karena apa. Kau kan burung yang pintar, jadi bisakah kau sampaikan padanya kalau aku sangat mencemaskannya?"

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Dan bilang padanya untuk bicara denganku kalau dia punya masalah, jangan menghindariku seperti ini."

"Baiklah. Aku akan bicara denganmu. Aku akan memberitahumu kebenarannya."


Tapi Tee yakin kalau si burung pasti tidak mengerti kata-katanya. Lupakan sajalah. "Besok akan kukatakan sendiri padanya bahwa..."

"Apa? Bahwa apa?"

Tapi Tee tidak bisa memberitahu si burung. Dia harus mengatakannya langsung pada Beauty. Baiklah, Beauty akan menunggu. Tapi bisakah dia meminta sesuatu?

"Jika suatu hari kau tahu kebenarannya, bisakah kau jangan membenciku?"

"Kau lihat apa, Beauty? Ada apa?"

"Mulai sekarang, apapun yang terjadi, aku akan menyimpan kenangan indah ini selamanya."


Beauty lalu mengecup pipi Tee, membuat Tee keheranan tapi suka juga, burung Beauty sangat imut. Tee balas mengecup kening Beauty lalu memeluknya.

Bersambung ke episode 26

1 komentar: