Wednesday, May 15, 2019

Sinopsis Leh Nangfah Episode 22 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 22 - 1


Setibanya kembali di kantor, Tee usil memayungi Beauty pakai jasnya lalu menjatuhkan jasnya ke kepala Beauty.

"Gendut mata empat! Rambutku berantakan, nih! Aku tidak akan kelihatan cantik saat bertemu Khun Grace nanti."


Mereka lalu berniat pergi lebih cepat. Tapi saat Beauty membuka laci mejanya, dokumen sketsanya menghilang. Somcheng baru kembali saat itu dan sama bingungnya dengan Beauty saat mendapati laci itu kosong.

Beauty jelas bingung. Dia yakin sekali tadi dia menaruh dokumen itu di laci, lalu dia menguncinya dan menyerahkan kuncinya ke Beauty. Lalu Beauty menaruh kunci laci itu di tasnya lalu... dia meninggalkan tasnya di meja saat pergi bersama Tee.

"Seseorang pasti mengambilnya."

"Menurutmu siapa?"


Kratua baru saja datang membawakan makan siang untuk Pat dan Piwara saat Beauty dan Tee menerobos masuk dan langsung menuntut Pat untuk mengembalikan design-nya.

Tentu saja Pat pura-pura tak tahu dan tidak terima dituduh. Beauty yakin sekali dialah pelakunya, Pat pasti tidak ingin dia menyerahkan pekerjaannya tepat waktu. Cuma Pat yang bisa memikirkan cara murahan seperti ini.

Beauty lalu menyuruh Somcheng untuk memanggil adiknya dan geledah tempat ini untuk mencari bukti. Pat tidak terima dan berusaha mengadu ke Tee. Tapi tentu saja Tee lebih memihak Beauty.

"Baik. Geledah saja kantorku sesukamu." Tantang Pat "Jika kau tidak bisa menemukannya, aku pasti akan membawa masalah ini ke rapat dewan kalau kau membuliku."

"Tapi jika aku menemukannya, aku juga akan menuntutmu."


Papa kesal saat Orn memberitahu kalau Tee tidak bisa datang lagi hari ini dan minta ditunda besok. Orn berusaha menjelaskan kalau Tee tidak bisa datang karena ada masalah di perusahaan.

Tapi Papa tidak mau tahu dan menegaskan bahwa jika besok Tee masih juga tidak datang, maka segalanya akan berakhir sampai di sini.

Mami setuju, biar Tee itu tahu kalau putri mereka tidak berada dalam genggamannya. Orn sontak panik berusaha menghubungi Tee, tapi Tee tidak bisa dihubungi sama sekali.

 

Somcheng dan Farang menggeledah dan mengobrak-abrik kantor itu. Tapi sketsa itu tak ada di mana-mana. Pat tambah nyinyir dan bersumpah akan menuntut Beauty dalam meeting dewan selanjutnya.

Walaupun dia tidak menemukan buktinya, Beauty tetap yakin kalau Pat terlibat dalam hal ini. Buktinya, Pat suka mencuri barang-barang miliknya sejak mereka kecil. Pat menyangkal, memangnya kapan dia pernah mencuri barangnya Beauty?

"Aku mengingatnya dengan jelas. Kau mencuri boneka beruangku, bunga pinkku, tas kitty-ku, boneka barbie-ku dan barbie ice skate!"

"Tidak benar. Ayahku yang membelikan semua itu. Jadi semua itu milikku! Kaulah yang selalu mencuri semua milikku, Beauty!"

Mereka terus saja saling tuduh mempermasalahkan hal itu sampai Tee harus melerai mereka. Kesal, Pat balik menuduh Beauty lah yang menyembunyikan sketsa itu untuk menuduhnya.


Tentu saja itu tidak mungkin karena Beauty selalu bersama Tee sedari tadi. Kalau begitu, pasti anak-anak buahnya Beauty yang melakukannya. Pasti mereka yang mencurinya dan menjualnya ke saingan mereka. Bukankah Beauty dan Jade sangat dekat satu sama lain.

"Hei! Kau yang salah dan kau malah menyalahkan orang lain. Akan kubuktikan padamu kalau itu tidak benar, CEWEK KUNO!"


Bertekad membuktikan tuduhan Pat salah, Beauty pun langsung pergi. Dia mau ke Jade Garment untuk membuktikan apakah benar ada yang mencurinya dan menjualnya ke saingan mereka atau tidak.

Tee berusaha mencegahnya dan mengingatkan kalau Jade Garment tidak akan mungkin membiarkan Beauty membuktikannya semudah yang dia pikirkan. Tapi Beauty meyakinkan kalau dia punya caranya sendiri.

"Baiklah. Tapi aku akan pergi bersamamu."

"Tidak bisa. Kalau kau ikut juga, dia pasti akan menyuruh para penjaga untuk menjaga dari pintu gerbang dan kita tidak akan mengetahui apapun."


"Kalau begitu kau tidak boleh pergi."

"Aku harus pergi. Dadah!"

"Tidak boleh! Apa yang akan dikatakan ayah dan pamanmu kalau aku membiarkanmu pergi?"

"Paman Korn tidak mengkhawatirkanku."

"Tapi aku (mengkhawatirkanmu)."

Beauty tersentuh mendengarnya. Tapi dia tetap bersikeras mau pergi karena inspirasi yang dia dapatkan untuk mendesign semua sketsa itu dia dapatkan dari cinta mendiang ibunya.

Karena itulah dia tidak boleh membiarkan siapapun mencurinya dengan mudah. Setidaknya dia harus melihatnya sendiri. Tee akhirnya mau mengalah dan membiarkannya pergi walaupun dengan setengah hati.

Beauty meyakinkan kalau dia akan mendapatkan design-nya kembali dan mengingatkan Tee untuk menunda pertemuan dengan Grace.


Lalita pun antusias menyemangati Beauty sampai Dewi harus mengingatkannya bahwa hubungan ibu dan anak mereka sudah berakhir.

Lalita bersikeras bahwa kasih sayang di antara mereka masih ada. Lagipula dia tidak melibatkan diri kok. Tapi, apa mereka tidak akan melakukan apapun?

"Tidak ada perbuatan yang sia-sia. Segalanya saling mempengaruhi satu sama lain. Tugas kita harus mengamati."

"Dan membantu jika dibutuhkan." Timpal Lalita penuh arti.

"Apa kau masih belum mengerti? Setiap kali kau membantu, pasti selalu ada akibat yang tak terduga."

"Saya akan berusaha menahan diri, Dewi."


Jade menyambut Beauty ke dalam kantornya. Beauty dengan manis beralasan kalau dia baru saja menyelesaikan design dan lagi nganggur, makanya dia datang untuk belajar bisnis dari Jade.

Jade menyetujuinya tanpa curiga, lalu departemen mana yang ingin Beauty lihat? Tanyanya. Tentu saja departemen design. Dia meyakinkan Jade kalau dia tidak akan mengintip design mereka kok.

"Aku tidak suka mencuri karya orang lain."

Tentu saja. Jade yakin kalau Beauty tidak akan melakukan itu. Tapi sekarang ini para designer mereka sedang cuti untuk mencari inspirasi. Cuma ada Mintra, kepala departemen design. Bagaimana kalau dia menyuruh Mintra kemari untuk berbincang dengan Beauty? Oke, Beauty setuju.


Tee gelisah berusaha menghubungi Beauty, tapi tidak diangkat. Sekarang dia menyesal sudah membiarkan Beauty pergi.


Di rumah, Bibi Jan dan Pon melihat Seenuan dan Somcheng hendak membebaskan burung dalam sangkar. Bibi Jan keberatan kalau mereka melepaskan burung di rumah, soalnya Beauty takut pada burung.

Pon yakin Beauty sudah tidak takut pada burung lagi sekarang. Kemarin saja Beauty menyuruhnya untuk membeli makanan burung dan belakangan ini Pon sering melihat ada burung melayang-layang di sekitar rumah. Pon rasa itu burung peliharaannya Beauty.

Lalu di mana Beauty sekarang? Tanya Bibi Jan. Somcheng memberitahunya kalau Beauty sedang mencari design-nya yang dicuri. Bibi Jan terkejut mendengarnya, kenapa Beauty sial sekali.

Karena itulah mereka berniat melepaskan burung demi kebaikan Beauty. Kalau begitu, Bibi Jan juga mau ke kuil untuk mendoakan Beauty.


Mintra masuk tak lama kemudian dengan membawa beberapa sketsa dan Beauty langsung bisa mengenali semuanya. Semua itu sketsa design-nya, bedanya cuma logo Thanabavorn diganti dengan logo Jade Garment.

Melihat apa yang dilihat Beauty, Mintra sontak menyembunyikan semua sketsa itu dan tampak tegang. Cuma Jade seorang yang tampaknya tak tahu menahu dan santai saja meminta mereka berdua duduk bersama untuk saling berbagi ilmu.


Beauty langsung to the point menyindir Mintra. Sebagai orang yang lulus dari jurusan design, Mintra pasti tahu betul bagaimana rasanya jika karya kita dicuri. Menurut Mintra, apa yang harus dia lakukan terhadap orang yang seperti itu?

"Kami punya tim hukum untuk mengurus masalah itu."

Tak nyaman dengan pembicaraan ini, Mintra pamit. Dia akan menunjukkan design-ya lain kali saja. Kalau begitu, Jade menyuruh Mintra untuk meletakkan design-nya di map, nanti akan dia lihat di rumah.

Sementara Mintra memasukkan sketsanya ke dalam map, Beauty pura-pura mengomentari interior kantornya Jade. Jade mengaku kalau ini adalah design-nya Mintra.

"Khun Mintra sangat berbakat dalam segala hal, yah." Nyinyir Beauty.


Setelah Mintra pergi, Beauty mencari kesempatan untuk melihat sketsa itu dengan mengajak Jade makan malam bersamanya.

Bagaimana kalau dia masak untuk Jade saja? Tapi rumahnya dia jauh dan sekarang dia sangat lapar. Kalau harus berkendara sejauh itu, dia bisa mati kelaparan.

Tanpa mencurigai apapun, Jade santai saja mengajak Beauty ke apartemen-nya. Ide bagus, Beauty langsung setuju. Ayo, pergi sekarang.


Di kantor, Pat mendatangi Tee dan berusaha menghasutnya kalau Beauty lah yang mengambil design itu dengan bekerja sama dengan Jade Garment.

Mereka melakukannya untuk merusak reputasinya sekaligus sebagai alasan agar tidak perlu menyerahkan design itu pada Grace agar Jade punya kesempatan.

"Pat, apa kau tahu kalau itu adalah alasan yang sangat tidak masuk akal?"

"Itu bukan tidak masuk akal, P'Tee. Semua orang tahu kalau Jade Garment sedang mendekati Beauty. Bagaimana kalau dia membujuk Beauty untuk bekerja sama dengannya?"

"Itu tidak mungkin. Beauty sangat mencintai Thanabavorn."

"P'Tee, Beauty tidak pernah mencintai apapun selain dirinya sendiri. Mereka pasti memberinya banyak sekali keuntungan. Karena itulah dia mencari-cari alasan untuk lari ke perusahaannya Jadecharn."

"Berhentilah menuduh adikmu, Pat."

"Aku tidak menuduh. Aku bicara kebenaran. Pria sepertimu tidak akan mengetahui kepura-puraannya Beauty. Aku wanita, jadi aku bisa melihatnya."

"Sebaiknya kau pulang saja dan istirahat. Carilah waktu luang untuk menyendiri dan renungkan segalanya. Kau tahu betul mana yang benar dan mana yang salah."


Hari sudah sore saat Jade dan Beauty tiba di apartemen. Beauty menolak dibantu masak... soalnya dia tidak mau Jade mencuri resep rahasia keluarganya. Jadi Jade duduk saja.

Jade akhirnya santai di sofa dan menaruh dokumennya di meja. Beauty langsung pura-pura lupa membeli oregano, apa ada supermarket terdekat di sini? Beauty ngotot harus pakai itu, kalau tidak nanti pastanya tidak enak.

Jade akhirnya beranjak pergi untuk membelikannya. Untuk memperlama Jade, Beauty sengaja menyuruhnya untuk membeli yang lain-lain juga. Tapi sialnya, Jade malah pergi dengan membawa file-nya.

Bersambung ke part 2

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^