Saturday, April 20, 2019

Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 3 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 3 - 1

Shan Shan hendak berangkat saat dia melihat ponselnya Mo Mo berdering dari Fu Pei. Dia langsung membangunkan Mo Mo, karena Fu Pei ternyata sudah menelepon sedari tadi pagi.


Tapi ada telepon lain yang masuk saat itu, dari sebuah firma akuntansi Pu Hua yang meminta Mo Mo untuk datang dan melakukan interview di perusahaan mereka sekarang. (Ya, akhirnya dapatnya sesuai jurusan juga)

Kepalanya pusing gara-gara semalam. Entah apakah dia ingat kejadian semalam atau tidak, tapi melihat misscall-nya Fu Pei membuatnya tampak resah.
 
 

Fu Pei sedang mondar-mandir di luar asrama perempuan saat Shan Shan keluar. Fu Pei langsung menghentikannya untuk meminta bantuannya memanggil Mo Mo di kamar 208.

Oh, Shan Shan bisa menduga kalau dia pasti Fu Pei. Mo Mo baru bangun barusan. Fu Pei menelepon sejak pagi dan membuat yang lain jadi terbangun gara-gara teleponnya. Dia tunggu saja, Mo Mo pasti akan turun sebentar lagi.


Mo Mo akhirnya turun tak lama kemudian, Fu Pei ngapain kemari? Dia buru-buru ada interview kerja soalnya. Fu Pei hendak membahas kejadian semalam, tapi Mo Mo secepat kilat menghindarinya dan mengklaim kalau dia tidak ingat apa-apa, apa dia melakukan hal yang memalukan? (Hmm, kayaknya dia bohong deh)

Mendengar itu, Fu Pei malah berbohong kalau Mo Mo semalam mabuk lalu melakukan hal-hal yang tidak senonoh padanya. Mo Mo memeluknya erat-erat, lalu pegang mukanya dan mau mnec*umnya. Mo Mo kontan kesal mengepalkan kedua tangannya erat-erat, tapi dia diam saja membiarkan Fu Pei mengoceh semaunya.


Wei Yi menemui Prof Jiang di lab-nya. Beliau sudah menilai hasil ujian Wei Yi dan karena itulah, sekarang ia memutuskan untuk merekrut Wei Yi ke dalam proyeknya. Prof Jiang rasa, Wei Yi akan sangat cocok.

Tapi Wei Yi malah keberatan karena ini tidak sesuai aturan, sudah ada orang lain yang mendapat nilai tertinggi di ujian seleksi waktu itu. Seharusnya orang itu yang direkrut ke dalam proyek itu.

"Kau kan tidak mengikuti ujian seleksi. Aku sudah mengecek levelmu. Seandainya kau mengikuti ujian seleksi, kau mungkin akan mendapat nilai tertinggi."


Prof Jiang lalu memperlihatkan laporan lainnya yang ternyata, ia bukan hanya mrekrut Wei Yi, dia juga merekrut seorang mahasiswa terbaik lain. Prof Jiang berharap mereka bisa bekerja sama.

"Anda merekrut dua orang?"

"Kalau penelitiannya butuh lebih banyak orang, maka aku bisa merekrut lebih banyak orang. Lagian kan aku tidak perlu membayar kalian. Kenapa? Tidak senang? Pikirkanlah, ini tim terbaik di kampus. Kau sungguh tidak mau bergabung dengan kami."

Saat Wei Yi masih saja ragu. Prof Jiang langsung menyalakan peralatan listriknya. Kalau sampai ada orang yang menggosipkan Wei Yi di belakangnya, Prof Jiang janji akan menyerang mereka pakai alat ini.

"Terima kasih, Prof."

"Jadi kau setuju untuk bergabung? Prof Xu bilang kau sangat rewel. Aku harus menyiapkan banyak alasan untuk membujukmu."

"Tidak perlu. Saya setuju untuk bergabung dengan tim terbaik."


Mo Mo diterima magang di firma akuntansi itu. Supervisor-nya memberitahu bahwa ada 10 pemagang yang mereka rekrut, tapi di departemen ini, pemagangnya hanya Mo Mo seorang. Jadi ia berharap Mo Mo akan berusaha yang terbaik agar dia bisa menjadi pegawai tetap.


Usai interview, Mo Mo makan siang di kantin kampus. Dia membawa nampan makannya sambil bicara di telepon dengan ibunya tentang pekerjaan magang barunya, jadi dia tidak akan pulang kampung.

Tapi Ibu malah ngoamel-ngomel tak setuju karena ia dan Ayah sebenarnya ingin Mo Mo pulang kampung dan kerja di sini saja. Lagian kerja di kampung halaman kan lebih enak, dia tidak perlu bayar uang sewa atau makan di luar.

Tapi Mo Mo ngotot mau kerja di sini. Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan dan hampir saja menjatuhkan makannya. Untung saja ada Wei Yi yang baru datang dan dengan sigap dia menangkap nampannya Mo Mo lalu membantunya meletakkan nampan itu di meja terdekat lalu pergi untuk mengambil makannya sendiri.

 

Mo Mo jadi terpana keheranan menatap Wei Yi sampai tidak mendengarkan ibunya yang masih mengoceh panjang lebar menuntutnya untuk pulang. Ibunya sampai harus teriak-teriak saat tidak mendapat jawaban.

Mo Mo ngotot mau tetap di sini dan mencoba magang dulu. Ibu tanya di mana lokasi perusahaan itu? Jauh dari kampus?

"Di daerah Guomao, agak jauh dari sini. Aku akan mencari kontrakan nanti."

"Teman ibu ada yang punya rumah di daerah itu, bagaimana kalau..."

"Bu! Aku akan menanganinya sendiri."


Ibu jelas kesal mendengarnya. Mo Mo malas berdebat lebih lama dan buru-buru mengakhiri teleponnya lalu melanjutkan makannya sambil memandang Wei Yi yang duduk di meja depan.

 

Mo Mo memulai kerja magang keesokan harinya. Mo Mo memperkenalkan dirinya, tapi para seniornya pada cuek. Selama beberapa hari kemudian, Mo Mo benar-benar sibuk mengerjakan berbagai macam dokumen, bahkan sampai harus lembur di asrama.


Suatu hari saat dia hendak pulang naik bis, dia malah didorong orang-orang yang juga rebutan naik abis. Mo Mo jadi tidak kebagian tepat. Dia berniat mau jalan kaki saja saat Ibunya menelepon untuk mengeceknya sudah pulang ke asrama atau belum.

Mendengar putrinya belum sampai asrama, Ibu jelas cemas dan sekali lagi memberitahu Mo Mo untuk tinggal saja di apartemen temannya Ibu, Bibi Xu. Lokasinya dekat kantornya Mo Mo dan apartemennya itu kosong, Mo Mo cuma perlu membersihkannya, kuncinya ada di kotak surat. Mo Mo akhirnya setuju.


Wei Yi memulai tugasnya di lab-nya Prof Jiang. Seniornya yang bernama Xie Yu Yin ada di sana saat dia masuk (dia wanita yang mengantarkan Mo Mo ke kantornya Prof Xu di episode sebelumnya).

Yu Yin tampak antusias bertemu Wei Yi dan memperkenalkan dirinya, juga saat dia membantu Wei Yi membenarkan kalkulasi-nya. Tapi Wei Yi hanya membalas sikapnya dengan ramah dan datar.


Mo Mo akhirnya pindah ke apartemen itu. Rumahnya cukup besar tapi interiornya terkesan kaku. Bahkan satu-satunya benda yang terlihat paling pelangi adalah sebuah bola basket warna putih yang dihiasi dengan gambar peta dunia warna-warni dan tulisan huruf FP.

"FP? FP?... Fang Pi (kentut)?" (Pfft!)

Mo Mo mulai bekerja mendekorasi tempat itu dengan terlebih dulu menyingkirkan foto-foto para ilmuwan yang terpajang di dinding, menata berbagai macam bumbu di dapur, menghias ruang tamu dengan beberapa tanaman pot, bahkan menempel beberapa stiker doraemon di dinding dan kulkas... dan voila! rumah yang awalnya terlihat kaku dan membosankan itu, sekarang berubah jadi lebih ceria dan cantik.


Keesokan harinya di kantor, Mo Mo mengira para seniornya sudah pergi makan siang semua, maka dia segera mengeluarkan bekal yang sudah dibawanya tanpa sadar kalau satu seniornya yang duduk di belakangnya masih belum pergi.

"Si Tu Mo." Sapa wanita itu dan kontan membuat Mo Mo panik menyembunyikan bekalnya. Wanita itu memperkenalkan dirinya adalah Xiao Lin dan bisa menduga dengan tepat kalau bekal yang Mo Mo bawa itu adalah Luosifen (mie bekicot) soalnya bau banget.

Masa Mo Mo tidak menyadari baunya sih? Semua orang pada heboh menggosipkannya di chat grup loh.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian tidak menyukainya."

Loh, memangnya Mo Mo tidak diundang di chat grup, yah? Dia kan sudah beberpa hari kerja. Maka Xiao Lin pun mengundangnya ke dalam chat grup mereka.

Xiao Lin lalu mengajak Mo Mo makan bersamanya. Enaknya makan apa yah? Mie bekicot? Oke, Mo Mo setuju banget dan langsung mengeceknya di internet. Err... tapi kemudian dia malah mendapati tempat yang biasa dia beli, sekarang ditutup karena masalah kebersihan. Wkwkwk! Dan Mo Mo suka makan di tempat kayak begitu?

"Perutmu kuat banget, yah." Nyinyir Xiao Lin.

 

Hari itu, hujan turun deras saat Mo Mo mencari buku-buku di perpus dan tak sengaja bertemu Wei Yi yang sedang membaca di salah satu rak. Dia langsung usil mengintip buku yang Wei Yi baca.

"Ramalan nasib? Ramal nasibku juga dong."

"Nggak lucu."

"Kudengar kau bergabung di lab-nya Prof Jiang."

"Kau kan yang membuatnya berhasil."


Tapi tiba-tiba ada bau-bau aneh yang menarik perhatiannya. Apa Mo Mo tidak memperhatikan ada bau busuk? Mo Mo mencoba mengendus-endus, nggak tuh.

Tapi Wei Yi yakin dan langsung mengendus-endus sumber bau busuk itu yang ternyata dari Mo Mo. Oh, Mo Mo tadi makan mie bekicot soalnya.

"Sebaiknya kau mandi dulu di asrama," saran Wei Yi.

"Aku sudah pindah dari asrama seminggu. Kalau aku balik, aku bakalan disuruh bayar tagihan. Aku lagi missqueen."

Mo Mo mendadak semangat cerita tentang rumah kontrakan barunya yang boring banget kayak kamar mayat, pemilik rumahnya tuh benar-benar aneh.

"Aku mau baca buku!" Tukas Wei Yi. Mo Mo jadi kesal dan langsung pergi.


Hujan masih turun dengan derasnya dan disertai petir yang menyambar-nyambar. Mo Mo lagi nyantai makan snack saat Ibunya menelepon tak lama kemudian untuk mengecek apakah Mo Mo mengotori rumah Bibi Xu?

Mo Mo mendadak terdiam canggung menatap tumpukan sampah makanan yang berserakan di meja dan lantai. (Pfft!)

"Nggak kok, bersih banget." Bohong Mo Mo

"Baguslah. Bibi Xu tadi bilang kalau anaknya mungkin akan tinggal di rumah itu selama beberapa hari."

Mo Mo kontan panik (rumahnya kan lagi kotor), kapan anaknya Bibi Xu mau datang? Ibu bilang besok. Mo Mo lega, bisa nyantai lagi deh. Ibu langsung ngomel-ngomel mengingatkan Mo Mo untuk menjaga kebersihan, jangan kotori rumah itu.



Hujan petir masih menderu-deru sampai malam. Mo Mo malah sengaja mematikan lampu sambil nonton film horor untuk menambah kesan seram. Para tokoh (di film) tegang menatap pintu, menanti entah apa yang akan muncul dari balik pintu itu.

Tiba-tiba kenop pintu (di film) terbuka... bersamaan dengan kenop pintu rumah Mo Mo yang mendadak juga terbuka dari luar. OMG! Ada orang yang mau masuk!


Mo Mo kontan ketakutan dan langsung menyambar pisau buah sebagai senjata saat dia melihat bayangan orang itu berjalan masuk dan langsung menjerit sekencan-kencangnya pada... err... Wei Yi? Hah? Ngapain dia di situ?

Mo Mo bingung melihatnya, tapi Wei Yi juga sama bingungnya. "Sedang apa kau di sini?"

Bersambung ke part 2

3 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^