Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 8 - 2

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 8 - 2


Reung lalu membantu Janward berdiri dan dengan sopan menanyakan keadaannya. Kade geli melihat interaksi mereka berdua. Malu, Janward buru-buru menghindar dengan alasan mau mengambil lebih banyak pasir.

"Kenapa kau tidak menyuruh pelayanmu saja?" Heran Por Date.

"Saya ingin mengambilnya sendiri."

Mendengar itu, Por Date langsung menyuruh Reung untuk membantu Janward. Reung setuju dan langsung menyatakan niatannya itu pada Janward tanpa ragu.


Begitu mereka pergi, Por Date langsung mengajak Kade melihat-lihat tempat lain. Kade jelas setuju, tapi belum sempat mengajak para pelayan, Por Date melarangnya mengajak siapapun. 

Dia bahkan langsung menggenggam tangan Kade lalu menyeretnya pergi berdua saja, tanpa menyadari kalau Janward melihat itu dari kejauhan dengan sedih.

Por Date terus menggenggam tangan Kade saat mereka jalan-jalan mengelilingi pasar malam, dan selalu sigap menarik Kade setiap kali ada rintangan di depan. Pfft! Padahal cuma orang lewat doang loh, tapi Por Date protektif banget menarik Kade ke dalam dekapannya.


Bahkan saat Janward dan Reung kembali tak lama kemudian, Por Date dan kade masih juga belum kembali. Janward sedih. Reung sepertinya benar-benar mulai jatuh cinta pada Janward hingga sulit mengalihkan pandangannya dari Janward.


Langkah Por Date dan Kade terhenti saat mereka melihat ada pertunjukkan lakorn (Lakorn yang dimaksud di sini bukan drama TV yah, tapi kayak tarian tradisional gitu). Kade langsung tertarik untuk melihat acara itu.

Por Date berbisik mesra di telinga Kade, memberitahunya bahwa semua lakorn di luar istana, pemerannya adalah pria. Sedang lakorn dalam istana, semua pemerannya adalah wanita. Tapi ada beberapa lakorn yang tidak boleh dimainkan wanita.

Saat Kade berbalik menghadapinya, Kade sontak terperangah mendapati wajah Por Date sangaaaat dekat dengan wajahnya. Malu, Kade buru-buru menjauh dan tanya lakorn apa yang tidak boleh dimainkan wanita.

"Lakorn tradisional. Seperti Sung Tong, Manora... dan Kawin." Bisiknya mesra. Kade benar-benar malu dibuatnya.

Bahkan sepanjang perjalanan pulang, Por Date terus memandanginya tanpa bosan, walaupun sebenarnya dalam hatinya dia masih terus bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita yang berada di dalam diri Karakade itu.


Kade begitu bahagia sampai dia bermimpi berperahu bersama Por Date di kolam bunga lotus. Di dalam mimpinya, Por Date tanya siapa dia yang sebenarnya.

"Suatu hari... kau akan mengetahuinya sendiri." Hanya itulah jawaban Kade.


Keesokan harinya di tempat latihan bela dirinya, Por Date tengah melamun sembari menatap teman-temannya yang sedang berlatih bela diri.

Tuan Chieprakao awalnya tak ada di sana. Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba saja dia muncul entah bagaimana, seolah dia muncul secara gaib.

"Siapa dia?" Ujar Tuan Chieprakao mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran Por Date.

Por Date mengaku bahwa dia tahu wanita itu bukan Karakade. Sikap dan kepribadiannya jelas-jelas bukan Karakade. Dan lagi, dia pernah melihat sosok wanita lain dalam diri Karakade.

"Dia jauh lebih cantik karena hatinya, sikapnya, tutur katanya, dan pemikirannya. Segalanya berubah. Selain wajahnya, dia benar-benar orang yang berbeda."

"Kau melihatnya, tapi kau tidak tahu siapa dia?"

"Benar. Saya tahu dia bukan Mae Karakade, tapi saya tidak tahu siapa dia yang sebenarnya dan dari mana dia berasal dan kenapa dia berada di dalam diri Karakade."

"Karena kehidupan lampau dan karma lah yang membuat wanita ini masuk ke dalam diri Mae Karakade yang telah meninggal dunia."

"Berapa lama dia akan berada di dalam dirinya?"

"Tergantung derma dan karma. Kau tidak perlu mencurigai apapun. Dia bukan hantu ataupun iblis. Dia bukan raksasa ataupun peri. Dia manusia, dia manusia."

"Bolahkah saya bertanya langsung padanya?"

"Terserah kau saja."


Di rumah, Kade sedang bermain bersama anak-anak kecil dengan gembira tanpa menyadari Por Date yang diam-diam sedang mengintipnya dari balik pohon. Saat kedua pelayannya mengajaknya mandi, Kade penasaran mereka ini anak-anaknya siapa?

"Anak-anaknya para pelayan."

"Tapi kenapa beberapa dari mereka tidak seperti anak pelayan?"

"Anak-anak yang memakai hiasan bunga melati (di cepol rambutnya) adalah anak-anaknya Ork Ya Tun (dengan selir-selirnya)."

"Dan mereka tidak tinggal di rumah?"

"Mereka punya rumah di sekitar sini dan di belakang rumah, jao ka."


Lalu apakah mereka sekolah? Yam mengiyakannya, Tuan mengizinkan mereka sekolah. Lalu apakah para wanita juga sekolah? Tentu saja tidak, bagaimana bisa wanita sekolah.

"Mae Ying Janward bisa belajar."

"Mae Ying Janward adalah putri seorang pejabat tinggi kerajaan, jao ka."

"Dia punya guru pribadi di rumahnya."

Oh, begitu. Kade lalu pamit pada anak-anak di sana dan janji akan kembali lagi lain kali. Eh, tapi tunggu dulu. Di antara anak-anak itu, yang mana yang anaknya Por Date?

"Nona! Kenapa anda bicara begitu, jao ka? Apa anda benar-benar lupa sebesar ini, jao ka?"

"Mereka semua kan terlihat sama. Mana bisa aku ingat?"

Yam dan Pin meyakinkannya bahwa Por Date tidak pernah punya hubungan dengan para pelayan. Para wanita ini memang selalu menunggunya, tapi penantian mereka sia-sia. Por Date tidak pernah sekalipun melirik mereka. Pin dan Yam selalu mengawasi Por Date untuk Kade.


"Tidak aneh, sih. Bahkan saat bersamaku dia terasa jauh. Matanya bahkan tidak pernah melihatku. Dia pikir dia ganteng banget jadi dia bisa bebas memilih." Nyinyir Kade.

Tapi saat dia berbalik mau pergi, dia malah mendapati Por Date sudah ada di hadapannya. Waduh! Apa Por Date dengar tadi?

"Aku dengar."

"Kau menguping?"

"Nona!"

Kade kan cuma ingin tahu apakah Por Date menguping atau tidak. Soalnya Por Date sepertinya tahu betul kalau dirinyalah yang lagi digosipin.

"Aku tidak bisa membantahmu, karena kau tidak bicara Bahasa Ayutthaya."


Malas meladeninya, Kade menyuruhnya masuk rumah saja, dia mau mandi. Tapi Por Date malah mengusir kedua pelayannya Kade karena dia perlu bicara empat mata dengan Kade. 

Kade bisa menduga kalau Por Date pasti ingin bertanya padanya... tanya tentang siapa dia yang sebenarnya, iya kan?

Por Date tersenyum mendengarnya. Tapi dia menyangkal. Dia mengaku kalau sekarang dia sudah tidak ingin tahu lagi tentang siapa Kade yang sebenarnya. Kenapa?... Karena jika saatnya tiba, dia pasti akan mengetahuinya nanti.


Kade tersentuh mendengarnya dan langsung berterima kasih dengan melakukan Wai padanya. Tapi Por Date menolak Wai-nya dengan kebingungan, kenapa Kade melakukan Wai padanya?

"Aku ingin 'kop khun' (berterima kasih - modern) padamu karena tidak memaksaku untuk menjawab."

Por Date bingung. Apa itu 'Kop Khun'? Kade lebih heran lagi, apa mereka tidak menggunakan kata itu? Itu artinya sama seperti 'Kop Jai' (terima kasih).

"Lalu kenapa kau tidak bilang 'kop jai' saja?"

"Karena... itu terdengar seperti anak kecil bicara pada orang dewasa."

"Anak kecil tidak mengucap 'kop jai' pada orang dewasa."

"Lalu apa yang dilakukan anak kecil."

"Wai. Mereka mengucap 'Ka wai'."

"Oh. Eh, lalu kenapa barusan kau tidak membiarkanku melakukan 'wai' padamu?"

Karena Por Date kan tidak melakukan apapun, jadi Kade tidak perlu berterima kasih padanya. 

Baiklah, kalau begitu, Kade mau pergi. Tapi Por Date mendadak menghalanginya, dia belum selesai bicara.


Dia lalu mendekat dan memberitahu Kade. "Mataku tidak pernah melihat siapapun... Karena mataku hanya untuk satu orang."

"Siapa?"

"Aku belum tahu siapa dia." Ucap Por Date penuh arti.

Por Date langsung pergi setelah mengucap kata romantis itu dan sukses membuat Kade tersipu malu. "Dasar gila. Dia suka sekali bicara seperti ini. Kau tidak tahu... kalau hatiku bergetar."


Saat Maria ke gereja untuk bicara dengan Pastor, Phaulkon menunggu di altar dengan gelisah. Maria mengaku bahwa dia sudah menolak Phaulkon dan berharap Phaulkon bisa mengerti.

Pastor menduga kalau Maria pasti tidak punya perasaan pada Phaulkon, dia pasti memiliki perasaan pada orang lain. Maria jujur mengakuinya. Sayangnya, orang itu tidak membalas perasaannya.

Pastor memberitahu bahwa Phaulkon pernah mengaku kepada Tuhan Yesus bahwa dia sebenarnya tahu Maria memiliki perasaan pada orang lain. Tapi dia benar-benar mencintai Maria setulus hati. Dia bahkan berjanji pada Yesus bahwa dia tidak akan mencintai siapapun selain Maria.

Bersambung ke part 3

1 komentar: