Sinopsis I Need Romance 3 episode 7 - part 2

 


Keesokan harinya, Joo Yeon terbangun dalam pelukan Joo Wan. Ia terkejut saat ia melihat tangannya sedang menggenggam jempol Joo Wan erat-erat. Joo Yeon cepat-cepat menarik tangannya dari jempol Joo Wan dan hal itu malah membuat Joo Wan terbangun.

Namun Joo Wan tetap tidak bergerak dan berkata dalam hatinya "Shing Shing sudah bangun. Aku yakin dia akan berteriak dan aku yakin dia akan memukuliku dengan bantal"



Saat Joo Yeon bangkit, Joo Wan cepat-cepat menutup matanya dan berpura-pura tidur. Joo Yeon lalu membelai rambutnya dan tindakan kecil itu langsung membuat Joo Wan bangkit dengan ketakutan. 


Joo Wan cepat-cepat meminta Joo Yeon untuk tidak marah-marah dulu.

"Kalau kau bertanya apa yang terjadi, kau tertidur dikursi dan kamarmu terlalu jauh dan kau berat. Jadi, aku membaringkanmu di kasur tapi... kau menggenggam jariku..." ujar Joo Wan


Joo Yeon langsung memotong pembicaraan Joo Wan dan berkata "Aku merasa takjub"

Joo Wan langsung kebingungan mendengarnya. Joo Yeon lalu menjelaskan bahwa sudah cukup lama dia tidak tidur dengan nyenyak tanpa terbangun sama sekali. Selama ini bahkan di hari minggu, Joo Yeon tidak pernah bisa tidur nyenyak.

"Aku... tidur dengan sangat nyaman" kata Joo Yeon sambil tersenyum pada Joo Wan


Joo Wan hanya memandangnya dengan bingung lalu ia cepat-cepat berkata bahwa ia merasa nyaman juga. Melihat sikap Joo Wan yang seperti itu, Joo Yeon langsung tersenyum meremehkan.

"Bagaimana bisa kau disebut pria. Kau itu cuma adik dan kau hanya ubi" ujar Joo Yeon sambil beranjak pergi meninggalkan kamarnya Joo Wan. 

Walaupun Joo Wan tidak puas dengan sikap Joo Yeon barusan namun ia memutuskan untuk menikmatinya saja saat ini. 


Joo Wan lalu mengejar Joo Yeon lalu memeluknya sampai membuat Joo Yeon langsung protes.

"Kau bilang kau merasa nyaman. Kau bilang aku bukan pria. Kalau begitu akan menjadi ubi saja"

Perkataan Joo Wan itu langsung membuat Joo Yeon tersenyum tetapi ia cepat-cepat minta dilepaskan.

"Mulai besok mari kita tidur bersama. Aku juga merasa sangat nyaman" ujar Joo Wan

Joo Yeon langsung protes keras dan melepaskan pelukan Joo Wan.


Sementara itu, di apartemennya Tae Yoon, Se Ryeong terbangun dengan wajah gatal karena alergi. Ia langsung meminta obat anti alergi pada Tae Yoon tetapi Tae Yoon langsung meminum obatnya sendirian lalu menggoda Se Ryeong dengan menjauhkan botol obatnya dari jangkauan Se Ryeong. 

Tae Yoon menyuruh Se Ryeong untuk tidak meminum obatnya saja karena Tae Yoon merasa Se Ryeong sangat cantik saat ia sedang alergi. Se Ryeong lalu mengejarnya sampai mereka berdua terbaring berpelukan di sofa.


Sementara itu Joo Wan juga mengejar Joo Yeon sampai Joo Wan berhasil menangkapnya dan akhirnya mereka berdua duduk menonton TV sambil berpelukan.

Joo Yeon bernarasi "Beberapa cerita dongeng berakhir disini. Ending yang mengatakan bahwa hanya akan ada kebahagiaan untuk kedua pasangan ini. Kita menyebutnya dengan happy ending. Tapi pada kenyataannya, momen itu hanyalah suatu momen dalam sebuah cerita tanpa akhir. Kita harus menjalani sisa bagian dari cerita itu dengan apa yang kita sebut sebagai kehidupan. Bukan sebagai pemain utama dalam cerita dongeng tapi sebagai pemain utama dalam dunia nyata. Tanpa mengetahui momen pasangan lain yang mungkin sedang menunggu kita"


Keesokan harinya, Joo Yeon dan timnya minus Min Jung pergi ke gudang untuk mengecek barang-barang mereka yang tak laku terjual. Hee Jae mengeluh karena ia merasa diperdaya oleh Se Ryeong.

"Tapi direktur masih percaya bahwa Oh Se Ryeong tidak ada maksud lain" kata Woo Young

Hee Jae bertanya pada Joo Yeon apakah Joo Yeon merasa marah dengan kejadian ini, Hee Jae meyakinkan Joo Yeon bahwa ia juga merasa sangat marah. 


Tetapi fokus perhatian Joo Yeon adalah barang-barang dagangan mereka yang masih utuh, hal seperti ini adalah yang pertama kalinya terjadi sejak ia bekerja di perusahaan itu.

"Ah, harga diriku terluka" keluh Joo Yeon

Joo Yeon lalu bertanya pada Hee Jae apakah masih belum ada kabar dari Min Jung.


Min Jung ternyata sedang pergi ke dokter lagi, tapi kali ini dokter yang berbeda yang memberi Min Jung diagnosis yang berbeda pula. 

Dokternya yang baru ini mengatakan pada Min Jung bahwa saat ini Min Jung sedang hamil. Min Jung langsung bingung karena yang selama ini Min Jung dengar adalah gejala yang dialaminya adalah gejala menopause dini. 

"Orang yang didiagnosis mengalami menopause dini masih bisa hamil. Walaupun jarang tapi tetap kasus seperti ini tetap ada. Seperti sebuah keajaiban. Kehamilan seperti ini biasanya sulit, bahkan sekalipun dengan melalui in-vitro fertilization (bayi tabung)" kata dokter


Dalam perjalanannya keluar rumah sakit, Min Jung teringat perkataan dokter yang mengatakan bahwa kehamilan Min Jung ini mungkin akan menjadi kehamilannya yang pertama dan terakhir karena Min Jung mengalami gejala menopause dan ada penurunan fungsi ovarium sehingga resiko terjadinya keguguran akan cukup besar, dokter menyarankan Min Jung untuk membicarakan masalah ini baik-baik dengan ayah sang bayi.

Min Jung berjalan keluar dengan langkah lemas, saat ia melihat wanita yang sedang hamil besar lewat didepannya, ia langsung menggumam tak percaya dengan kehamilannya. Namun saat ada 2 anak yang tak sengaja mendorong perutnya Min Jung langsung ketakutan dan melindungi perutnya.


Joo Yeon mendatangi apartemen Min Jung. Ia mencoba memencet bel pintunya berkali-kali dan Min Jung ternyata malah muncul dari belakangnya dengan memakai kerudung yang dibalutkan ke wajahnya (untuk penyamaran). 

"Siapa ini? $200 per menit?" sindir Min Jung

"Apa kau baru kembali dari belanja? Kau pasti sangat bersenang-senang"

"Aku senang tidak harus melihat wajahmu"

"Sepertinya sudah cukup lama kita sependapat"

"Untuk apa kau datang?"

"Apa kau pikir aku datang karena merindukanmu?"


Saat itu, tiba-tiba pintu apartemen Min Seok terbuka. Min Jung cepat-cepat membuka pintunya dan menarik Joo Yeon masuk sebelum Min Seok benar-benar keluar dari apartemennya, namun Min Seok masih sempat mendengar pintu tetangganya tertutup yang membuatnya tahu bahwa tetangganya ada di rumah.

Min Seok lalu mengetuk pintu apartemennya Min Jung karena ia ingin memberikan sesuatu untuk Min Jung semenatara didalam Min Jung menyuruh Joo Yeon untuk diam. 

Saat Min Jung masih juga belum mau keluar, Min Seok langsung kesal menggedor pintunya, karena hal seperti ini bukan yang pertama ataupun yang kedua kalinya ia diacuhkan tetangganya yang satu ini.

"Aku ini bukan orang aneh" ujar Min Seok


Tiba-tiba pintu apartemen Min Jung terbuka dan yang keluar menemuinya adalah Joo Yeon. Min Seok langsung terpesona melihat Joo Yeon.

"Lee Min Jung-Ssi?" tanya Min Seok

"Benar, aku Lee Min Jung" kata Joo Yeon


Min Seok lalu memberi Joo Yeon sebuah paket yang berisi buku.

"Terima kasih. Tapi, kudengar anda memanggilku warga negara senior yang hidup sendirian" ujar Joo Yeon

Saat Min Seok berusaha memberi penjelasan, Joo Yeon langsung memotong pembicaraannya dan bertanya "Bagian mana dariku yang terlihat seperti warga negara senior yang hidup sendirian?"

"Anda benar-benar tidak terlihat seperti itu" ujar Min Seok

Joo Yeon langsung meminta Min Seok untuk pergi dan mengatakan pada semua orang dengan benar bahwa yang tinggal di apartemen itu adalah wanita single, cantik dan mempesona. Dan Min Seok langsung menurut. 


Didalam, Joo Yeon mengatakan pada Min Jung yang bersembunyi di belakang pintu bahwa ia sudah melakukan apa yang Min Jung suruh, jadi Min Jung harus kembali bekerja besok. 


"Tapi pria itu, kelihatannya cukup normal lebih dari yang kukira. Sepertinya dia pria yang sopan" kata Joo Yeon

Min Jung lalu mengeluarkan buku pemberian Min Seok yang ternyata ditulis sendiri oleh Min Seok. Joo Yeon langsung membaca biodatanya Min Seok dari buku itu dan ternyata Min Seok lebih muda 3 tahun dari Min Jung dan lulusan universitas bergengsi.

"Dia bagus kan?" tanya Min Jung

"Iya, sangat"


"Bagaimana menurutmu jika dia adalah ayah dari bayiku?"

Joo Yeon tidak mengerti apa maksudnya Min Jung. Maka Min Jung langsung memberitahu Joo Yeon bahwa ia sedang hamil dan mungkin akan menjadi kehamilannya yang terakhir. Joo Yeon langsung melotot ketakutan mendengar perkataan Min Jung itu.

Dan saat Min Jung ingin bercerita lebih jauh, Joo Yeon cepat-cepat menghentikannya karena ia merasa tidak ingin mendengar percakapan yang terlalu personal semacam ini. 


Saat Joo Yeon melihat Min Jung menangis, ia cepat-cepat menjelaskan bahwa ia mengerti bahwa Min Jung pasti sedang sedih tetapi Joo Yeon merasa bahwa ia tidak perlu mengetahui hal-hal semacam ini dan Joo Yeon juga merasa bahwa ia tidak akan bisa membantu Min Jung.

Joo Yeon benar-benar merasa bingung dengan situasi ini dan lebih bingung lagi saat ia melihat air mata Min Jung, maka ia langsung cepat-cepat pamit pergi meninggalkan Min Jung yang hanya bisa menangis sendirian.


Sesampainya di rumah, Joo Yeon langsung menceritakan masalah Min Jung ini pada Joo Wan yang sedang menyiram tanaman. Joo Yeon mengatakan bahwa ia sangat tidak menyukai perasaan tak nyaman yang dirasakannya dengan situasi Min Jung itu.

"Kami bekerja bersama dan hal ini sangat membuatku cemas. Di kantor, rumor pasti akan beredar apalagi karena dia belum menikah. Dan juga, memminta izin cuti melahirkanpun akan cukup sulit"

Mendengar ocehan Joo Yeon yang kejam itu, Joo Wan langsung menyemprotkan air pada Joo Yeon dengan kesal.

"Kau tidak boleh bersikap seperti itu" kata Joo Wan


Joo Yeon langsung protes, memangnya apa yang harus ia katakan. Apakah ia harus mengatakan pada Min Jung untuk melahirkan bayinya atau menggugurkannya. Ini bukan hidupnya, bagaimana ia harus bertanggung jawab nantinya.

"Memangnya dia memintamu untuk bertanggung jawab?" protes Joo Wan

"Jika bukan seperti itu, lalu kenapa kau terus ngotot tentang apa yang harus kukatakan padanya?"

"Dia hanya ingin kau mendengarkannya! Dia hanya ingin kau menemaninya"


Joo Yeon malah semakin bingung, jika ia menemani Min Jung apakah masalahnya akan selesai, bukankah hal itu hanya akan membuat hati mereka menjadi lebih sakit.

"Temanilah dia sejenak. Dengarkanlah dia sejenak, lalu kau hanya harus mengatakan satu hal saja 'apapun keputusan yang kau buat, aku akan selalu medukungmu'" Joo Wan memberi Joo Yeon nasehat

Joo Yeon malah semakin bingung dan bertanya-tanya bagaimana sebuah dukungan bisa membantu. Joo Wan langsung mengeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Joo Yeon itu. 


Joo Wan langsung berlalu pergi dan Joo Yeon langsung mengejarnya sampai ke kamar mandi.

"Jika kau bilang aku ini satu-satunya yang jahat dan bersalah, maka aku pasti akan marah. Kau mengatakan semua itu karena kau tidak tahu seperti apa kantor itu. Kau tidak tahu betapa kejamnya sebuah tempat kerja" protes Joo Yeon

"Aku tidak mau mendengar alasanmu. Karena inilah kau mendengar orang mengataimu crustasea" ujar Joo Wan sambil berlalu keluar dari kamar mandi


Joo Yeon langsung mengejarnya lagi sambil protes karena Joo Wan mengatainya crustasea. Joo Yeon mengikuti Joo Wan sampai ke kamarnya dan langsung mengoceh lagi sementara Joo Wan asyik sendiri memainkan gitarnya dan tidak mempedulikan ocehan Joo Yeon sama sekali. Saat Joo Wan masih saja mengacuhkannya, Joo Yeon langsung berteriak marah. 


"Kau merasa marah karena aku mengataimu jahat kan? Kau merasa sedih kan?" tanya Joo Wan

Joo Wan langsung memberitahu Joo Yeon bahwa Min Jung mungkin merasakan suatu perasaan yang jauh lebih buruk daripada yang Joo Yeon rasakan saat ini. Joo Yeon langsung terdiam mendengar perkataan Joo Wan itu.


Setelah itu, mereka berbaring berdua di kasur. Joo Wan mengajari Joo Yeon untuk mengirim pesan penyesalan dan permintaan maaf pada Min Jung. Joo Yeon sebenarnya tidak merasa seperti itu, tetapi ia tetap menurut pada Joo Wan lalu mengetik permintaan maaf di poselnya. 

Namun saat Joo Yeon ingin mengirimnya, ia malah merasa tak sanggup mengirim pesan semacam itu karena Joo Yeon merasa tidak bisa mempertanggung jawabkan pesan itu.


"Kalau begitu aku saja yang mengirimnya" kata Joo Wan sambil mnekan tombol kirim.

Joo Yeon langsung kaget dan panik saat pesan itu benar-benar sudah terkirim. Ia langsung berteriak pada Joo Wan "Kau yang harus bertanggung jawab"

Sikap Joo Yeon itu malah membuat Joo Wan merasa Joo Yeon sangat manis. Joo Wan langsung memeluk Joo Yeon erat-erat sampai membuat Joo Yeon langsung protes minta dilepaskan.


Min Jung menerima pesan dari Joo Yeon yang berbunyi: Maaf atas yang tadi, apapun yang keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu.

Dan setelah membaca pesan itu, Min Jung malah merasa bulu kuduknya merinding karena pesan Joo Yeon itu terasa lebih menakutkan.


Keesokan harinya di kantor. Joo Yeon dan timnya sedang sangat sibuk melayani telepon komplain dari pelanggan yang ingin mengembalikan barang-barang yang mereka beli dari timnya Se Ryeong, karena produk dari Se Ryeong itu ternyata tidak sesuai untuk mereka.


Saat sedang makan siang bersama timnya, Joo Yeon mendengar beberapa rekan kerja mereka mengejek kegagalannya. Joo Yeon tidak tahan mendengarnya, maka ia langsung menghampiri orang-orang itu dengan senyum manis lalu duduk bersama mereka. 

Rekan-rekan kerjanya itu langsung menawarkan simpati tidak tulus dengan cara menawari Joo Yeon slot siaran mereka agar Joo Yeon bisa menjual barang-barangnya yang tak laku terjual.


Joo Yeon tersenyum dan berterima kasih atas kepedulian mereka tetapi Joo Yeon langsung menyatakan dengan tegas bahwa ia dan timnya akan menjual habis semua barang-barang mereka dengan usaha mereka sendiri. Anggota timnya Joo Yeon yang duduk di meja lain langsung terkejut mendengar pembicaraan Joo Yeon itu.

"Daripada menggunakan taktik menyedihkan seperti tim kalian. Kami akan menggunakan metode yang kreatif dan agresif yang pasti akan membuat perusahaan ini terkejut"


Joo Yeon menegaskan bahwa tim mereka pasti akan menjadi legenda yang akan berhasil menjual barang-barang tak laku. 

Perkataan Joo Yeon itu serta merta membuat anggota timnya Joo Yeon malah menjadi panik karena mereka sama sekali tak tahu menahu tentang metode apa yang dimaksud Joo Yeon.


Dan ternyata metode yang dimaksud Joo Yeon adalah menjual barang-barang mereka di kios pinggir jalan. Dengan memakai jaket yang seragam, semua anggota timnya langsung protes.

"Kau sangat kreatif sampai membuatku khawatir akan ada rumor yang beredar" sindir Min Jung

Joo Yeon mengatakan bahwa ia tidak mau berang-barangnya itu menjadi produk 'free gift' yang akan digunakan oleh tim lain karena hal itu hanya akan melukai harga dirinya, karena itulah ia melakukan hal ini. 


Joo Yeon lalu mencoba membujuk beberapa pembeli tetapi mereka langsung kabur ke kios sebelah, Min Jung benar-benar merasa malu sampai ia langsung menutup wajahnya dengan hoodie jaketnya.


Saat itu tiba-tiba Hee Jae melihat Se Ryeong dan semua anggota timnya datang dengan memakai pakaian yang lebih tipis dan lebih fashionable dari timnya Joo Yeon. 

"Apa kau tidak kedinginan?" tanya Joo Yeon sinis

"Kami profesional" ujar Se Ryeong

Para pejalan kaki mengenali Se Ryeong dan dengan segera semua barang jualan mereka langsung diserbu pembeli.


Malam harinya. Setelah mereka berhasil menjual habis semua barang yang mereka jual, Joo Yeon, Se Ryeong dan semua anggota tim mereka pergi makan bersama di sebuah restoran. 

Joo Yeon lalu menceritakannya pada Tae Yoon lewat telepon. Joo Yeon mengatakan bahwa ia pantas mendapat pujian lalu meminta Tae Yoon untuk merenungkan kembali sikap dinginnya pada Joo Yeon waktu itu.


Setelah selesai menelepon, Joo Yeon langsung kembali ke duduk bersama semua orang. Se Ryeong mengatakan bahwa ia sudah memenuhi janjinya yang bersedia bertanggung jawab jika terjadi pengembalian barang. 

Tetapi Joo Yeon langsung menuduh timnya Se Ryeong sebagai sebagian penyebab kegagalan mereka, jadi tentu saja timnya Se Ryeong harus bertanggung jawab.

"Lagipula, jika dipikir lagi, tanggung jawabmu sebenarnya tidak cuma sebagian. Jaket yang kujual kan kau yang pilih" tuduh Joo Yeon


Mendengar perkataan Joo Yeon itu, Se Ryeong langsung tersenyum sinis sambil memandang Hee Jae dan Woo Young.

"Sepertinya aku cukup hebat. Jadi kau menuduhku bahwa waktu aku memberi Jung Hee Jae pakaian itu, aku akan yakin 100% bahwa kalian akan langsung menyukai pakaian itu dan menyiarkannya?"


"Waktu itu mata kami terlalu fokus untuk mencari produk baru" ujar Min Jung

Se Ryeong langsung protes karena Min Jung menggunakan bahasa tidak formal saat bicara dengannya dan Min Jung langsung mengingatkan Se Ryeong bahwa Se Ryeong sendiri bicara tidak formal padanya. 

Se Ryeong mengatakan bahwa ia bicara tidak formal pada Joo Yeon tapi Min Jung langsung mengingatkannya bahwa saat ini Se Ryeong sedang bicara padanya bukan pada Joo Yeon. Se Ryeong langsung tersenyum manis dan mengatakan bahwa ia baru saja bicara dengan dirinya sendiri. 


Min Jung benar-benar heran bagaimana Joo Yeon bisa berteman dengan orang semacam Se Ryeong.

"Karena itulah kami tidak bertahan lama, karena dia sangat kasar"


"Kau juga orang yang sulit" ujar Se Ryeong

Se Ryeong lalu berpaling pada Woo Young dan Hee Jae dan memberitahu mereka berdua bahwa ia tahu mereka bicara buruk tentang Se Ryeong setelah bicara ditelepon dengan Joo Yeon, Woo Young dan Hee Jae langsung membela diri bahwa mereka tidak melakukannya.


"Penyihir, sedingin es, pembawa sial dan... crustasea, iya kan?" ujar Se Ryeong

Joo Yeon langsung memandangi timnya dengan pandangan kesal.


Se Ryeong lalu memberitahu Joo Yeon bahwa ia tidak pernah mendengar hal-hal buruk semacam itu dari timnya. Timnya Se Ryeong langsung memuji bos mereka.


Saat mereka keluar dari restoran, mereka melihat Tae Yoon muncul didepan restoran. Tae Yoon melambaikan tangannya dan Joo Yeon langsung menyapanya dengan ceria tetapi Se Ryeong langsung mengejutkan semua orang dengan memberitahu mereka bahwa Tae Yoon datang menjemputnya. 


Se Ryeong lalu menghampiri Tae Yoon dan Tae Yoon langsung membantu Se Ryeong memakaikan jaketnya lalu menuntunnya ke mobil.

Min Jung bertanya-tanya apakah mereka berdua sudah balikan. Hee Jae dan Woo Young langsung mengerti kenapa waktu itu Tae Yoon lebih membela Se Ryeong. Saat melihat mereka berdua pergi, tiba-tiba Joo Yeon merasa dadanya kesakitan.


Sementara itu di rumah, Joo Wan sedang memasak makan malam. Ia lalu menelepon Joo Yeon untuk menanyakan keberadaannya. Joo Yeon mengejutkan Joo Wan saat ia memberitahu Joo Wan bahwa saat ini ia sedang di apotik untuk membeli obat.

Joo Wan langsung panik dan bertanya dimana sakitnya. Joo Yeon mengatakan bahwa ia merasa dadanya terasa nyeri terbakar. Joo Wan langsung cepat-cepat berlari keluar rumah.


Di luar, ia melihat Joo Yeon telah sampai di depan rumah. Joo Wan bertanya dengan panik kenapa Joo Yeon tiba-tiba merada dadanya nyeri terbakar. Joo Yeon langsung terduduk kesakitan karena dadanya terasa sangat sakit.

"Apa kau sudah minum obat? Apa tidak masalah jika tidak ke rumah sakit?"

"Sudah, tadi aku mengalami refluks asam (gangguan dimana cairan asam lambung terdorong ke kerongkongan). Kurasa sekarang sudah agak membaik"


Joo Yeon bertanya-tanya kenapa dia bisa mengalami penyakit ini, apa karena stres. Joo Wan bertanya apakah yang sakit di bagian dadanya. Joo Yeon membenarkannya, ia merasa ada sesuatu yang menghambat di bagian dadanya yang membuatnya merasa sesak dan sakit.

"Sejak kapan sakitnya?" tanya Joo Wan


Joo Yeon mengatakan bahwa ia mengalami rasa sakit itu sejak ia melihat Tae Yoon dan Se Ryeong ternyata sudah balikan lagi. Joo Yeon mengira Tae Yoon datang untuk menjemputnya tapi ternyata ia datang untuk menjemput Oh Se Ryeong.

"Sunbae seperti orang bodoh. Se Ryeong akan segera masuk ke mobilnya, untuk apa dia memakaikan jaketnya Se Ryeong? Semua orang sedang melihanya tapi dia bahkan tidak merasa malu bahkan tidak memperhatikan juga. Bagaimana bisa dia sebodoh itu?"


Tiba-tiba Joo Yeon merasa dadanya sakit lagi maka ia ingin minum obat lagi tapi Joo Wan langsung menjauhkan obatnya dari jangkauan Joo Yeon. 

Joo Wan bernarasi "Sesaat aku merasa ragu. Aku tidak mau memberitahumu bahwa rasa sakit itu bukan di tubuhmu tapi di hatimu. Aku tidak mau memberitahu alasan kenapa hatimu terasa sakit. Akan tetapi, saat kau berumur 13 tahun kau pernah mengatakan padaku..."


Joo Wan teringat saat ia kecil ia bertanya pada Joo Yeon tentang apa itu cinta. Joo Yeon mengatakan bahwa cinta adalah senyuman, cahaya, kilauan dan tidak berbohong.


Sekarang, Joo Wan melanjutkan narasinya "Karena itulah, aku harus memberitahumu. Jika aku tidak memberitahumu. Kau akan selalu memakan obat yang tak berguna. Kau akan selalu tersesat dan terus mengembara dengan sia-sia. Aku yakin bahwa cinta bukan tentang berpura-pura tidak memperhatikan bahwa kau sedang tersesat dan mengembara"

Joo Wan lalu berpaling pada Joo Yeon yang langsung protes karena dia merasa sakit.


 Joo Wan akhirnya memberitahu Joo Yeon bahwa dadanya sakit bukan karena nyeri terbakar.

"Hatimulah yang sakit. Alasan kenapa hatimu sakit adalah karena kau menyukai seseorang"

"Aku?... Siapa yang kusukai?"


Bersambung ke episode 8

Post a Comment

0 Comments